
Tika telah mencari tau tentang siapa- siapa yang menjadi klien suaminya di kantor. Dan juga kasus yang tengah di tangani suaminya saat ini.
Dari sekian banyak daftar kasus yang menjadi agenda suaminya. Hanya satu kasus yang membuatnya tertarik untuk di selidiki.
Yaitu kasus perceraian seorang pengusaha tajir dan istrinya yang sedang viral di medsos. Banyak kalangan yang menyorot kasus itu.
Dan menyesalkan perceraian itu. Dan tidak sedikit pula yang mencibir. Karena si perempuan katanya hanya menginginkan harta dari suaminya.
Semua informasi itu di peroleh Tika dari asisten suaminya, Sita. Sita malah ngasih bocoran kalau ada ulat bulu yang mau nempel ke suaminya.
Bukan bermaksud mau memfitnah. Sita hanya tak ingin rumah tangga si bos nya hancur hanya karena ulah Sherly, yang selalu berusaha merayu dan menggoda bosnya.
Sita sangat kagum pada bos nya. Dan juga istri si bos yang lembut dan cantik. Keluarga yang cukup harmonis itu, selalu membuatnya iri dan ingin memilki keluarga seperti bosnya kalau ia menikah kelak.
Belum lagi karena ia tau dengan jelas, kalau Tika pernah di khianati mantan suaminya. Hingga mereka bercerai. Dan bosnyalah yang memberi bantuan hukum pada Tika. Dan dari sanalah kisah mereka berawal, hingga akhirnya mereka menikah dan bahagia.
Jadi, Sita sungguh tak rela kalau orang seperti Sherly mencoba hadir di antara mereka.
Tadi diam- diam Sita mengirim chat ke Tika kalau si ulat bulu. Julukan untuk Sherly mau mampir ke kantor. Tika ingin melihat langsung seperti apa rupa Sherly.
Maka, rencananya hari ini tanpa setau Reno, Tika mampir ke kantor suaminya.
Sementara si calon janda, Sherly sudah tiba di kantor Reno. Dengan dandanan, alamak begitu seksinya. Saat turun dari mobil mewahnya suitan panjang rame menggoda.
Sherlynya sih cuek aja, dengan langkah pede dia masuk ke kantor Reno.
Aga yang pas mau ke luar. Diam- diam mau jemput Tika di butik. Mereka bertiga, Sita dan Murni kompak tanpa sepengetahuan Reno. Membantu memuluskan rencana Tika.
Tadi Aga minta ijin minjem mobil bos nya. Dengan kening berlipat tiga, membuat wajah bos nya makin tampan saja dengan ekspresi begitu. coba kalo keningnya yang berkerut.
Pasti di lempari slop sama istrinya di kirain mau nerkam. Ha...ha......
" Buat apa, Ga? Kan lu punya motor?" delik Reno, heran . Gak biasanya dia minjem apa lagi minjem mobilnya.
" Alah, bos. Bentar aja! Gak bakalan lecet aku buat." pasang muka memelas biar di kasihani. Ntar dalam hati dia membatin.
" Buat jemput anak istri bos, biar Sherly gak ke ganjenan godain, Bos.!"
" Ya, udah! Betul ya, jangan sampe lecet." Reno melempar kunci mobilnya. Aga menangkap dengan sigap.
Begitu kunci mobil di tangan, Aga keluar dari ruangan bos. Mengedipkan.matanya ke Murni dan Sita. Di balas acungan ke dua jempol Sita dan Murni.
" Aga, sini bentar!" wajah Aga jadi pucat pias. Takut rencana mereka batal.
" Ya, siap. Ada apa bos,"
" Tolong belikan aku sebungkus rokok, ya." menyebutkan merk rokok.
" Sejak kapan bos, merokok?" tanya Aga lancang.
" Sejak kapan pula kamu kepo, Aga!" bentak Reno kesal. Sepertinya Reno agak steres mungkin Karena pekerjaannya. Sampai dasi yang mengikat lehernya tanpa sengaja dia longgarkan. Seraya matanya tetap fokus pada layar laptop.
Kontan saja Aga melihat tanda merah di leher bosnya. Aga senyum-senyum.
" Ngapain senyum- senyum, gih pergi cepetan."
Aga langsung ambil langkah seribu.
Dan huff! Hampir saja menabrak tubuh Sherly di pintu masuk.
__ADS_1
" Aih, ngapain sih buru- buru Ga! Hati- hati dong jalannya," Aga menelan liurnya. Calon janda ini memang keterlaluan.
Buat apa coba datang ke kantor mereka dengan dandanan seksi begitu. Selain mau goda si bos!
Untung si bos lelaki tangguh, selalu bersikap dingin menanggapi tingkah Sherly.
Bukannya kapok, malah makin penasaran saja dia akan sikap si bos. Mentang- mentang mantan pacar, ngerasa ada hak mau menggoda.
Lama- lama begitu, apakah si bos bisa bertahan ya. Aduh, bisa gawat kalo si bos sampe jatuh ke tangan ulet bulu itu. Aga bergidik geli!
Aga langsung tancap gas jemput istri si bos.
"Hai...selamat siang semua," sapa Sherly dengan suara yang di stel serenyah mungkin. Reno yang asyik dengan laptop nya tak mengalihkan pandangannya sama sekali.
" Halo Reno, apa kabar,"
" Baik Sherly. Silahkan duduk." ucap Reno tapi matanya masih fokus ke layar laptopnya. Sherly mendehem, menarik perhatian Reno.
Dalam hati dia kesal dengan sikap tak peduli Reno. Urusan kasusnya sih di tangani dengan baik.
Tapi, masak sih Reno gak faham gelagatnya yang masih menaruh hati pada mantan pacarnya itu.
Sherly nyesal banget pernah meninggalkan Reno.
Dia tak menyangka Reno akan jadi pengacara sukses dan hidupnya kini, mapan.
Ih, dasar! Sherly memang cewek matre. Saat Reno belum apa- apa di tinggalin. Kini setelah jadi sukses di keker dengan berbagai cara.
" Oh, maaf ya Sher. Lagi sibuk dengan data, nih." Reno akhirnya mengalihkan matanya ke arah Sherly. Dan matanya kaget melihat penampilan Sherly yang begitu berani.
Sementara mata Sherly menatap leher Reno dan melihat tanda merah di sana. Makin membuat hatinya kesal. Dan dia tak tahan untuk tidak melepas ke kesalannya.
Astaga!.
Sita dan Murni dengan jelas menangkap percakapan itu. Ke duanya berpandangan dan saling mengendikkan bahu.
" Apa, kenapa dengan leher saya? balik tanya Reno dan berdiri dari kursinya. Reno menghampiri Sita.
" Sita, pinjam cerminmu. Ada apa dengan leher saya?" ungkapnya membuat Sita dan Murni malah tersenyum mesem.
" Gak apa- apa kok, bos. Sepertinya itu bekas..." Sita tak melanjutkan ucapannya. Dan bersamaan Reno melihat tanda merah itu di lehernya.
" Aduh! Tika....." seru Reno menahan malu. Bisa-bisanya dia tak melihat itu tadi. Tentu saja, tak lihat. Karena dia fokus memandikan anak - anaknya.
" Ngapain senyum- senyum. Yang ngasih tanda pasangan halal ku kok." delik Reno ke arah anak buahnya. Membuat Sita dan Murni cekikikan.
" Gak papa kok, bos. Itu artinya si bos..." Murni mengacungkan jari jempolnya. Reno memang bos yang familiar.
Dia akrab dengan anak buahnya. Makanya kalau ngomong seperti ke sahabat saja. Mereka suka saling melempar canda.
Bila ada masalah pun pasti berembug cari solusi.
Saling menjaga dengan ikatan ke keluargaan.
Jadi tak heran, kenapa anak buahnya ngomong kek sahabatan saja.
Reno merapikan kembali dasinya yang ke dodor- an. Dan kembali ke ruangannya.
Mulut Sherly mengerucut, melihat Reno yang muncul kembali. Dan sudah merapikan dasinya
__ADS_1
Ekhem....Reno terbatuk. Mengalihkan suasana.
Tak urung hatinya penuh tanya juga, kok bisa- bisanya tanda itu ada di lehernya. Karena pas saat bercinta dengan istrinya seingatnya Tika tak memberi tanda itu.
Akhirnya Reno teringat, saat ia terbangun. Dia merasa lehernya seperti di gigit semut.Dan melihat istrinya yang tersenyum puas saat menatapnya.
Awas kamu nanti, ya!.Reno merencanakan sesuatu kalau sudah di rumah nanti.
" Papa...!" teriakan itu membuat kaget Reno. Baru saja membayangkan istrinya kok sudah ada di depan matanya.
" Itukan suara Bimo!?" serunya kaget. Itu berarti ada Tika di sini. Tumben istrinya mampir?
" Siapa Reno? " tanya Sherly heran melihat sikap Reno.
" Itu suara anak dan istriku," seru Reno girang. Dan hendak beranjak dari kursi. Belum sempat Reno berdiri Bimo dan Tika sudah masuk. Bimo langsung merangsek ke pelukan Reno.
" Mama! Kok tiba- tiba mampir. Mana gak bilang- bilang lagi." seru Reno kaget. Sungguh dia cemas, karena Sherly kebetulan ada di ruangannya.
Reno takut istrinya salah faham!.
" Sengaja pap, mau ngasih suprise," Tika menghampiri suaminya. Lantas memberi kecupan selintas di b***rnya. Membuat Reno kaget. Terlebih Sherly, karena di anggap seolah tak ada di ruangan itu.
Nah! ini sinyal cemburu. Lagi-lagi Reno kena hukuman! Seperti dugaannya Tika pasti sudah salah faham.
" Eh, maaf ya mbak! Tika memandang ke arah Sherly. Kenalkan saya Tika istrinya bang Reno," Tika mengulurkan tangannya ke arah Sherly.
Sherly menyambut uluran tangan itu, dengan perasaan kikuk. Dan balik menyebut namanya.
Pantasan Reno kebal godaanya. Ternyata dia punya istri yang begitu cantik alami. Apalagi karena ia sedang hamil, aura kecantikannya begitu berbinar.
Duh!
" Mama ke sini naik taxi, ya? Kok gak ngomong sih biar papa jemput tadi." sikap Reno yang begitu mesra pada istrinya membuat Sherly panas dingin.
" Kalo di bilang, gak suprise lagi tu, Pa. Mama mau ngantar makan siang. Lauk kesukaan papa."
"Ikan mas arsik, ya" tebak Reno tepat.
" Tau aja si papa,"
" Eh, oya pak Reno! Saya pulang dulu ya. Ada urusan mendadak! Saya tunggu kabar dari bapak jadwal sidangnya." buru- buru Sherly pamit
Sungguh ia tak tahan melihat tingkah Tika yang menurutnya lebay. Bucin dan entah apalah. Membuat sesak nafasnya saja.
Padahal aslinya dia cemburu, melihat kemesraan itu! Susah payah ia berdandan tadi, hanya untuk menarik perhatian Reno.
Jangankan mendapat pujian, dipandang sebelah matapun tidak. Sebal!.
Tika menatap kepergian Sherly dengan puas!
Puas rasanya melihatnya gerah dan buru- buru pergi. Semoga kamu berpikir seribu kali untuk mendekati suamiku. Karena dia adalah milikku!
Dan kamu pa, tak akan kubiarkan terseret oleh godaan ulat bulu itu. Juga ulat bulu lain yang mencoba menggodamu!
Kita akan saling menjaga! ******
Buat pembacaku yang setia. Ada yang mau ngasih saran gak, kelanjutan cerita ku ini.
Mohon tinggalkan jejaknya ya, like, konen n sharenya. Biar thor makin semangat upnya.🙏🙏
__ADS_1