
Tika dan Bimo sedang belanja di sebuah mini market tak jauh dari rumah kediaman mereka. Persediaan susu dan camilan Bimo sudah habis.
Tika memilih beberapa snack dan setelah ia merasa belannjaanya sudah cukup, Tika menuju kasir.
Tanpa Tika sadari sepasang mata sedari tadi mengawasinya dengan tajam. Tatapan mata yang menyiratkan dendam!
Setelah selesai membayar semua belanjaannya. Tika keluar dari mini market seraya membimbing Bimo. Mereka berjalan santai .
Orang yang mengawasi Tika itu adalah Rani. Dia dan pelangganya tadi mampir ke mini market tempat Tika belanja.
Dan tanpa sengaja bertemu Tika dan Bimo. Rani sempat kaget saat melihat Tika. Apalagi ketika melihat Bimo yang begitu mirip wajahnya dengan suaminya. Tapi Tika tidak menyadari kehadiran Rani di mini market itu.
Sejak kabur dari rumah beberapa bulan yang lalu. Meninggalkan suaminya Rey dan mertuanya. Hidup Rani makin tak karuan.
Rani kabur karena di bujuk oleh tetangganya untuk berkerja di imingi gaji yang cukup menggiurkan hatinya.
Tanpa pikir panjang, Rani mengikuti saja ajakan itu. Temannya itu ternyata menipunya. Rani di bawanya bekerja ke sebuah salon. Yang menyediakan layanan plus plus.
Salon itu hanya kedok saja yang menyaru menjadi penyedia jasa prostusi.
Rani tak berkutik, karena ia telah menanda tangani selembar surat kosong kesediannya bekerja di tempat itu dengan suka rela.
Pernah Rani mencoba kabur saat keluar bersama pelanggannya. Tapi berhasil di tangkap anak buah Mami Zita, yang menjadi mucikarinya.
Ternyata setiap gerak geriknya selalu di awasi oleh anak buah mami Zita. Mami Zita sangat sadis dan kejam. Setiap anak asuhnya yang membangkang akan di habisi!
Rani sudah menyaksikan sendiri ke kejaman mami Zita. Lisa teman sekamarnya pernah mencoba menyembunyikan uang hasil kerjanya.
Dibuat babak belur oleh anak buah mami Zita. Juga Neni temannya yang ketahuan hamil dan berusaha melarikan diri. Di suruh menenggak racun di depan mereka semua.
Neni meregang nyawa! Dan jasadnya di buang entah kemana. Kengerian itu yang membuat Rani tak berani lagi melarikan diri. Dan pasrah saja jadi seorang PSK.
Mereka yang bekerja di luar malayani pelanggan
nya selalu ada yang mengawasi. Teror yang di ciptakan mami Zita membuat nyali mereka kecut.
Tadi tanpa sengaja Rani bertemu di mini market, dengan Tika. Mengikuti langkah Tika, hingga tiba di rumah. Tika yang tak menaruh curiga tetap santai hingga tiba ke rumah.
__ADS_1
Rumahnya Tika yang terbilang cukup mewah di kawasan itu. Membuat hati Rani makin di lilit rasa dendam.
" Rumah siapa sih, Ran. Kok kita mengikuti perempuan itu?" tanya Tian yang menjadi pelanggan tetapnya.
Bahkan Rani memiliki hubungan khusus dengan, Tian. Bukan hanya sebatas pelanggan, tapi dia juga pacarnya.
" Perempuan itu adalah mantan istri suamiku. Dia yang membuat hidupku seperti ini. Keserakahan- nya menyebabkan kami terusir dari rumah mertuaku. Dia begitu licik." ucap Tika penuh dendam.
" Trus dia menikah lagi, ya? Siapa suaminya?" tanya Tian penasaran.
" Coba tebak, dia menikah dengan siapa. Tika menikah denganpengacaranya! Pastinya dia sudah rencanakan itu. Mau menguasai harga benda perempuan itu. Makanya pengacara itu menikahi, Tika. Kan dia sudah menguasai semua aset suami saya. Mereka pasti sudah sekongkol selama ini." gemeletuk Rani geram.
" Siapa nama suaminya?"
"Reno Ardian kalau gak salah. Kenapa? Kamu kenal ya sama pengacara itu?" delik Rani melirik ke arah Tian.
" Sepertinya nama itu begitu familiar.Tapi aku lupa kenal di mana. Oh! Aku ingat sekarang. Dia adalah pengacara yang telah memenjarakan abangku dulu, lima tahun yang lalu." mendadak Tian ingat tentang Reno.
" Hmmmm ternyata kita sama-sama punya dendam pada keluarga itu," mata Rani nanar menatap ke rumah mewah itu.
" Aku akan membalaskan dendamku pada mereka. Aku ingin keluarga itu hancur!" kilat mata Rani semakin nyalang. Membuat Tian merinding sejenak.
" Hancur gimana. Kamu mau membom rumah itu, ya? Ngaco aja kamu," ledek Tian seraya menarik tangan Rani.
Tian tidak ingin orang menjadi curiga melihat gelagat mereka, yang sedari tadi mengamati rumah kediaman Tika.
Rani manut saja saat tangannya di tarik Tian dsn berlalu dari tempat itu.
Dalam benak Rani, timbul rencana jahat untuk menculik Bimo dan meminta tebusan. Dengan punya uang banyak ia akan menebus dirinya sendiri, agar kepas dari mami Zita.
Syukur-syukur bisa menikah lagi dengan Tian. Tapi bagaimana caranya merealisasikan rencana jahatnya agar berjalan mulus.
Tentu dia butuh bantuan orang lain. Tapi kira- kira siapa yang mau ia ajak mewujudkan rencana jahatnya itu.
Bagaimana kalau Tian saja yang dia ajak. Bukan kah Tian juga punya dendam sama Reno di masa lalu.
" Kamu kenapa sih, kok bengonga aja dari tadi?"
__ADS_1
" Kamu mau bantu aku gak, say." tatap Rani ke arah Tian.
" Tergantung," jawab Tian sekenanya.
" Bagaimana kalau kita menculik anak yang tadi?"
" Apa..?!" sentak Tian mengerem motornya tiba-tiba. Kaget saat mendengar rencana Rani.
" Kamu jangan ngaco! Mau cari mati, ya!"
" Apa susahnya sih. Tinggal menculiknya, minta tebusan. Perkara selesai."
"Ha...ha kamu kira culik menculik itu, segampang curi ayam. Ambil lalu jual, gitu aja. Naif sekali kamu Rani," cemooh Tian.
" Ya sudah, kalau kamu gak mau, aku akan cari orang lain saja," dengus Rani kesal karena merasa di remehkan.
" Kamu mau cari siapa lagi. Kamu itu selalu dalam pengawasan mami Zita. Kamu itu bebas keluar karena aku." ucap Tian pongah.
"Kamu meremehkan aku ya. Kamu pikir cuma kamu pria yang aku kenal."
" Justru kamu yang meremehkan orang lain, Rani. Kamu pikir Reno itu siapa, hah! Berurusan dengan Reno sama halnya menggali kubur sendiri. Yah, kecuali kamu sudah bosan hidup. Itu sih perkara lain. Aku cuma memperingatkan kau. Jangan coba- coba berurusan dengan si Reno."
" Alah, bilang saja kamu gak punya nyali. Dasar pengecut!
Aku memang sudah bosan, menjadi sapi perah mami Zita. Aku ingin hidup bebas. Uang itu akan ku gunakan sebagai penebus diriku sama mami Zita."
Tian tak terima di sebut pengecut. Apa lagi oleh Rani wanita yang telah ia kencani beberapa bulan ini.
Setelah merenung beberapa saat, Tian akhirnya setuju usul Rani untuk menculik Bimo. Rani menyebut uang tebusan satu milyar dan akan di bagi dua. Tian tergiur dengan nominal uang yang ďi sebutkan Rani.
Sejak itu, Rani dan Tian selalu membahas rencana penculikan Bimo. Di bantu dua anak buah mami Zita, yang berhasil di rayu Rani.
Mereka selalu mengamati kebiasaan keluarga Reno. Mencari peluang yang tepat untuk malaksanakan rencana mereka.
Segala rencana yang mereka susun mulai dari saat penculikan hingga ke penebusan nanti. Semua sudah matang di rencanakan. Tinggal menunggu hari H nya saja. *****
bersambung.
__ADS_1