Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
32


__ADS_3

Bergegas Rey memisah kedua wanita dalam kehidupannya. Tapi mantu sama mertua itu tak mau saling memisah diri.


Malah ngotot saling mau menyerang.


"Cukup, apa- apaan kamu Rani. Beraninya berantam sama mama.!" teriak Rey keras. Sehingga keduanya terdiam.


" Mama! Kok bisa sampe gini, sama menantu sendiri." Rey manggaruk kepalanya yang benar- benar gatal. Pusing dia melihat tingkah mama dan istrinya.


" Istrimu itu gak ada sopan sama, mama."


" Emang ibu juga udah sopan sama aku. Ngomong gak mikir, apa gak sakit hatiku,"


" Emang benarkan kamu mandul, buktinya sampe sekarang kamu gak hamil- hamil. Pantesan di cerai dulu sama suami kamu."


" Eh, Ibu.. kira-kira dong bicaranya. Ibu gak berhak menghinaku." teriak Rani lantang.


"Memang mama ngomong yang benar, kenapa.


Kamu sakit hati ya?" dengus Rey tanpa perasaan. Mata Rani terbeliak kaget. Tak menyangka kalau suaminya juga tega berucap seperti itu.


"Kamu itu memang jahat, bang. Sama seperti mama kamu. Kalau memang benar aku mandul. Lantas kenapa Tika yang lebih dari aku juga kamu campakkan!"


" Kalian memang keluarga toxic. Tidak tau bersyukur. Masih mending aku mau bertahan. Karena kamu itu sudah gak punya apa- apa."


" Penghinaan ini aku gak terima. Aku bukan Tika yang lembut yang bisa diam saja melihat kezoliman kalian," ceracau Rani histeris.


Rey terhenyak dengan kata - kata Rani. Benar, aku memang suami yang tak tahu untung. Serakah! Seperti kata Rani.


" Aku keluar keluar dulu. Kalau mama dan Rani mau lanjut ronde ke dua. Ring nya di halaman saja, biar banyak yang nonton," Rey menghempas pintu dengan kasar.


" Rey..!! Mau kemana kamu," teriak bu Hesti dongkol. Rani bergegas masuk kamar. Menghempas pintunya. Lalu menguncinya dari dalam.


Tak ia perdulikan saat mertuanya teriak, agar membereskan barang- barang yang berantakan akibat ulahnya.


Hampir setiap hari di rumah itu selalu rusuh. Kalau bukan mamanya Rey yang bertingkah, dipastikan Rani yang bikin ulah.


Ada-ada saja yang menjadi pemicu masalah. Terkadang masalah sepele bisa melebar ke mana


- mana.


Sehingga membuat Rey tidak betah di rumah. Seperti kejadian tadi, benar- benar membuat suntuk pikiran Rey.


Karena itulah, dia memilih keluar. Kalau tidak debat kusir akan lebih lama dari pagelaran wayang. Keduanya pasti saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar.


Mending keluar meninggalkan mereka, nantinya juga akan diam seperti biasanya. Terkadang Rey heran sendiri kok suasana rumahnya tak pernah adem.


Bila sudah begini, Rey akan teringat suasana rumah tangganya dulu. Ketika masih bersama Tika.


Berbeda dengan Rani kalau marah suka meledak- ledak. Tika lebih memilih diam kalau ada masalah. Diamnya bisa berhari- hari. Tergantung


kadar emosinya.

__ADS_1


Ah! membandingkan kedua wanita itu tak akan pernah ada ujungnya.


Rey teringat pertemuanya dengan Tika tadi. Rey sungguh tak menyangka perubahan penampilan


Tika setelah bercerai dengannya.


Beda dengan dirinya yang agak lusuh, membuat Rey seakan menciut.


.Bagaimana Tika bisa bangkit dan bertahan dengan semua tantangan dalam hidupnya. Telah membuktikan seberapa tangguh dia menjalani hidupnya.


Tidak seperti dirinya yang hancur begitu saja tanpa mampu menemukan sandaran. Telah membuktikan bahwa dia memang seorang lelaki pecundang.


Sejatinya Tika adalah tulang rusuknya yang hilang. Tikalah yang selama ini membuat hidupnya berarti. Tapi semua itu baru ia sadari setelah wanita itu, pergi dari sisinya.


Pergi dengan luka hatinya yang ia sulam dengan sebuah penghianatan!


Entah dengan apa ia akan bisa mengobati luka itu . Mungkin selamanya dia tidak akan pernah mampu. Karena pintu itu telah ia tutup sendiri. Dengan anak kunci yang tertinggal patah di dalamnya.


Jadi selamanya pula ia tak akan bisa pulang. seseorang telah mengantikan dirinya dengan sebuah janji yang lebih indah.


Rey menyusuri sepanjang jalan menuju rumahnya. Dalam keadaan mabuk. Semua rasa sesal di hatinya. Ia benamkan dalam minuman alkohol.


Rey menggedor pintu rumahnya. Eh, tepatnya rumah kontrakannya. Rumah yang setiap hari suasananya seperti neraka saja.


Tapi kesinilah dia bisa pulang. Tempat yang pantas untuk orang seperti dirinya. Ha...ha...


" Brukkk...bruuukk, Tika buka pintunya sayang. Abang mau masuk. Di luar sangat dingin. Tolong


" Hei! Siapa yang berisik di sana. Mengganggu tidur orang saja!" hardik tetangganya.


"Maaf pak! Huek..., Rey melambaikan tangannya. Membuat kesal tetangganya. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Rani muncul dan terkejut melihat Rey, yang mabuk.


" Abang mabuk ya?" cecar Rani saat mencium aroma alkohol dari nafas Rey.


" Hai, Tika sayang. Akhirnya kamu buka juga pintu rumahnya. Kamu sangat cantik malam ini, sayang. Aku butuh kehangatan dirimu, huek" dengan langkah hoyong Rey masuk seraya menceracau tak tentu arah.


Mata Rani mendelik mendengar ceracauan suaminya. Meski dalam pengaruh alkohol, Rani tak terima suaminya menyebut nama perempuan lain. Apalagi nama Tika, mantan istri suaminya.


Dengan geram Rani menyiram wajah suaminya dengan air. Tubuh Rey yang terbaring di sofa, terlonjak kaget.


Dalam keadaan setengah sadar ia membuka matanya. Dan melihat wajah jutek Rani. Rey mengibaskan tangannya. Mengusap wajahnya yang basah.


Seketika emosinya meluap.


Plakk!!


"Jangan kurang ajar kamu, ya. Dasar wanita iblis."


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Rani. Tubuh Rani terjatuh di lantai, karena tak menduga perlakuan itu.


Rani meringis kesakitan, sudut bibirnya berdarah. Dengan sorot mata penuh kebencian, dia tatap suaminya yang belum sepenuhnya sadar.

__ADS_1


Lima tahun hidup bersama Rey, baru kali ini suaminya memperlakukannya kasar seperti ini.


Pertemuan dengan Tika di butik itulah pemicu suaminya bertingkah seperti ini.


" Kamu benar- benar keterlaluan, bang!" jerit Rani.


Rani berlari ke kamar, mengambil tas dari atas lemari.


Dengan kasar ia membuka lemari dan mengambil


beberapa pakaiannya lalu dimasukkan ke tas.


Kali ini tekadnya adalah pergi dari rumah. Rani sudah tak tahan dengan perlakuan suami dan mertuanya. Yang selalu menyalahkan dirinya dan memperlakukannya dengan buruk. Sejak perceraian itu.


Rani juga menyimpan dendam pada Tika, karena semua kekacauan ini adalah perbuatannya.


" Hem, aku akan buat perhitungan dengan kamu ,Tika. Kalau saja bukan karena keserakahan mu. Aku tidak akan menderita seperti ini.


Rani keluar dari kamar dengan menyeret tas tempat pakaiannya. Bersamaan dengan itu, bu Hesti juga keluar kamar karena mendengar suara ribut.


Padahal ini sudah tengah malam. Dan bu Hesti terkejut ketika melihat Rani dengan tas besar itu.


" Mau kemana kamu malam- malam begini? Mau


minggat ya!" seru bu Hesti heran plus curiga.


"Ya! Aku mau pergi dari rumah ini. Aku sudah tak tahan hidup menderita di sini."


" Pergi sana, kalau mau pergi. Tunggu apa lagi. Biar aku saja yang ngomong pada Rey, kalo kamu itu udah minggat." timpal bu Hesti. Lalu hendak menutup pintu kamarnya lagi.


Ketika mendengar suara gaduh dari ruang tamu, bu Hesti urung masuk dan berjalan ke arah, ruang tamu.


Bu Hesti kaget melihat kondisi putranya yang basah. Matanya mendelik ke arah Rani.


"Rani...! Apa yang kamu lakukan pada Rey?" bentak bu Hesti geram.


" Ibu tanya sendiri, anaknya kenapa. Jangan asal tuduh," balas Rani sengit. Dengan kesal bu Hesti menghampiri Rey. Bu Hesti mendadak mual saat mencium aroma tak sedap dari, tubuh Rey.


" Rey! Kamu sadar nak. Kamu ini kenapa sih kok sampe mabuk begini,"


" Kenapa lagi, kalau bukan karena gak bisa move on dari Tika. Mantan istrinya itu. Sedari tadi nama Tika saja yang dia panggil. Makanya kusiram biar cepat sadar." pungkas Rani geram.


" Diam kamu. Makanya jadi istri itu harus pandai membahagiakan suaminya. Tidak seperti kau, jadi parasit terus." kecam bu Hesti.


" Apa, aku jadi parasit! Apa ibu gak salah ngomong. Selama ini Ibulah yang jadi parasit dalam rumah tanggaku. Ibu terlalu turut campur dengan semua hal.


Bang Rey menghianati Tika, itu berkat peran serta


ibu. Ibu jugalah yang jadi parasit dalam rumah tangga mereka. ****


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2