
Tiba- tiba saja datang tamu berkunjung, ke villa tempat dimana Tika dan Nadia, mengungsi sementara.
Tika yang sedang terhubung dengan Rita soal pengurusan butik, merasa heran oleh suara klakson mobil yang bersahutan.
Tin.....tinnnn. Tin.......tin..nn
Tadinya suara klakson itu dia pikir, mungkin ada mobil orang tengah memutar arah di jalan depan villa. Tapi karena klaksonnya yang panjang dan di ulang terus, membuat Tika keluar kamar.
Mana sudah jam 21;00. Siapa pula yang bertamu malam- malam begini.
Dan sepertinya Bi Risma, sudah tidur. Jadi tidak mendengar suara klakson mobil itu.
Saat itulah bi Risma jalan tergopoh hendak membukakan pintu.
" Ada tamu ya, Bi?"
" Sepertinya iya nak Tika. kalo nak Reno datang gak seribut ini. Karena dia punya kunci sendiri,"
" Trus, itu siapa Bi. Hati-hati , jangan asal buka, pintunya, Bi." peringat ku, karena sudah banyak kejadian tragis, dengan berbagai modus kejahatan.
" Iya nak, Bibi intip dulu lewat jendela." lalu Bi Risma menyingkap sedikit tirai jendela kaca.
" Aduh, itu Pak David dan Bu Nita!" seru Bi Risma kaget. Gegas Bi Risma membuka pintu.
Tika juga mendadak gugup, tak menyangka orang tua Reno akan datang.
" Gimana ini, Bi," seru Tika tak kalah bingung. Takut orang tua Reno akan salah faham nanti.
"Sudah, gak usyah khawatir. Nanti Bibi akan bilang siapa kamu," ucap Bi Risma menenangkan hati Tika.
" Aduh, kok lama kali Bi, pintunya di buka." tanya Bu Nita, kedua tangannya penuh dengan bawaan. " Tolong bawakan ini ,Bi," Bu Nita menyerahkan dua kantong kresek besar penuh dengan barang.
" Saya udah tidur, bu. Jadi gak dengar. Tumben ibu gak ngasih kabar kalau mau datang ke sini,"
" Tuh, si Bapak yang sabaran. Buru- buru mau ke sini."
" Eh, ibu kok ngomong gitu. Bukannya situ yang maksa datang malam ini." protes pak David saat dengar omongan istrinya.
" Udahlah pak, ayo masuk. Di luar sangat dingin."
"Selamat malam pak, bu." Tika memberi salam dengan ramah, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Pandangan Pak David dan Bu Nita, serta merta tertuju ke arah Tika. Melihat Tika yang mengenak
an daster dan bagian perutnya yang mulai menonjol.
Di padangi seperti itu, membuat Tika semakin nervous.
"Eh, nak Tika ya?" sebut Bu Nita ramah. Mencairkan suasana yang mendadak kaku.
Bi Risma dan Tika saling tukar pandang. Kok, Bu Nita bisa menebak dengan tepat.
"Iya, Bu. " Tika mengulurkan tangannya untuk menyalami kedua orang tuanya, Reno.
"Ibu sudah kenal dengan Tika, ya?"
" Gak, Bi. Tapi Reno tiap hari selalu ngomongin mereka. Makanya Ibu penasaran dan datang ke sini."
Mata Tika membulat, tak mampu menyembunyik
__ADS_1
an rasa kagetnya. Bu Nita tersenyum melihat reaksi itu.
" Gak papa kok nak Tika. Reno cerita yang baik- baik tentang nak Tika. Iya kan Pak? " diangguki pak David dengan seulas senyum.
Tapi dalam hati, Tika merasa gemas juga. Ntah apa dan sejauh mana Reno cerita tentang dirinya sama orang tuanya.
Melihat respon kedua orang tua Reno, sepertinya mereka tak menaruh buruk sangka padanya.
" Sudah, duduk aja nak Tika. Oh ya, mana si kecil Nadia," kedua netra bu Nita jelalatan mengitari ruang tamu.
" Nadia sudah tidur, bu," timpal Tika.
" Mama..." tiba- tiba Nadia sudah ada di pintu kamar. Nadia terjaga dan mencari mamanya.
Tika menghampiri anaknya dan membawanya duduk di sofa.
" Halo Nadia, selamat malam," Bu Nita begitu senang melihat Nadia.
"Celamat malam juga, Opung,"
" Sini, mari sini sama Opung! Opung ada hadiah untuk kamu," ajak Bu Nita biar Nadia mendekat padanya. Nadia menatap mamanya, seolah minta izin
Tika mengangguk, Nadia mendekat ke arah orang tua Reno.
"Ini hadiah untukmu, Selamat ultah ya, sayang
panjang umur dan sehat selalu." dua kantong kresek ukuran besar tadi, ternyata adalah hadia untuk Nadia.
Tika terlonjak kaget, karena lupa bahwa hari ini adalah ultah putrinya yang ke empat.
" Aduh, maafkan Mama ya , sayang. Kok bisa- bisanaya Mama lupa hari spesialmu. Makasih ya Pak, Bu. Karena telah datang jauh-jauh malam ini."
" Tak apa kok nak, Tika. Tadi Reno yang telepon biar kami sekalian bawa hadiah itu, untuk Nadia."
Tika sangat terharu mendapat perhatian itu. Terlebih sikap kedua orang Reno yang begitu hangat memperlakukannya seolah keluarganya sendiri.
****
Tika telah kembali ke aktifitasnya seperti semula.
Beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Rey. Tika telah menjual rumahnya dan beberapa aset lainnya. Termasuk rumah yang ya di Medan.
Rumah yang menjadi penyebab terbongkarnya dusta suaminya selama ini. Akibat ke isengan Dira sahabatnya. Yang menayangkan vidio siaran langsung waktu peresmian rumah itu.
Dan terkuak juga, bahwa pengirim foto- foto saat liburan di Parapat adalah Dira. Karena penasaran, Dira mengikuti mereka sampai ke Parapat.
Semua terungkap, saat Tika meminta bantuan Dira untuk menjual rumah itu.
Hasil penjualan rumah, Tika kembali membangun rumah di daerah pinggiran kota. Prediksi Tika, lima tahun ke depan, lokasi itu akan ramai.
Dan akan menjadi pusat bisnis menginngat letaknya yang stategis. Posisinya tepat di tengah dari empat arah daerah kecamatan yang pemekaran.
Geliat pembangunan sedang berlangsung. Pembangunan perumahan dan Ruko juga sudah
di mulai.
Semua usaha kerja kerasnya itu tak luput dari dukungan Reno. Reno benar- benar kagum cara Tika berikteraksi dengan lingkungannya.
Caranya berpikir mencari peluang untuk usaha butiknya. Tika memang perempuan cerdas, pintar dan mandiri.
__ADS_1
Hanya saja ada sisi lain ysng menjadi kelemahan
nya. Tika mudah jatuh iba dan percaya sama orang lain.
Sehingga orang- orang yang punya niat buruk padanya akan mudah memperdaya nya.
Tika tengah menyuap Nadia makan, ketika sebuah mobil Off - road, metalik parkir di halaman rumahnya.
Tika heran karena tak mengenalinya. Sesosok tubuh jangkung turun, dengan beberapa paper bag di tangannya.
Kaca mata dan topi serta jacket yang ia kenakan sangat mengubah penampilannya. Bebeda dengan kesehariannya yang lebih sering mengenakan stelan jas atau kemeja.
" Hei, mata itu bisa di jaga gak. Bisa lumer aku nih kayak ice cream." kekehnya yang tak lain adalah Reno.
" Om Reno,!" seru Nadia begitu dia dengar suara khas Reno. Dengan susah payah Tika berdiri, perut buncitnya kadang membuat nafasnya tersenggal.
" Kamu tidak apa- apa, Tika." Reno mengulurkan tangannya untuk membantunya."
" Tidak apa, Ren. Hanya saja, augh...! tiba- tiba Tika mengaduh perutnya sakit.
"Kamu kenapa?" seru Reno cemas. Tika malah tertawa, ngakak. Tadi dia merasakan tendangan yang keras di perutnya. " Lha kok malah tertawa,"
" Bayiku, beberapa hari ini suka nendang. Lagi main bola, kali," gurau Tika. Reno jadi terbahak.
" Boleh aku menyapanya, Tik. Biar dia gak lasak. Main bolanya nanti aja sama om, setelah dia lahir. timpal Reno gak kalah gokil.
Tika mengangguk memberi izin. Lalu Reno mendekatkan wajahnya ke perut Tika, belum lagi Reno sempat ngomong, dia udah merasakan tendangan di wajahnya.
Tika dan Reno sama-sama kaget! Keduanya tertawa bersamaan pula.
"Sakit gak?" tanya Reno lirih. Waktu istrinya hamil dulu, tidak ada antraksi seperti yang di rasakan Tika. " Sepertinya dia itu jagoan, ya?"
" Dia memang lelaki," Tika mengusap perutnya bekas tendangan anaknya. Tanpa sadar, karena terbawa perasaan Reno ikut mengusap perut Tika.
"Sepertinya dia sudah tidur, " seru Tika lucu.
" Ah, yang benar?" Reno juga merasakan tak ada lagi tendangan. " Apa karena aku ikut mengusap
nya?"
" Mungkin saja, dia senang kamu datang,"
" Oh, ya." tatap mata Reno, begitu lembut pada Tika. Dia sudah tak sabar akan kehadiran si kecil.
Tapi dia was- was juga bila teringat istrinya yang meninggal melahirkan.
" Tika, kamu harus kuat ya. Kamu harus jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa kamu harus kasih tau aku. Apa aku tinggal di sini saja sampai kamu lahiran," sikap posesif Reno, kambuh lagi. Duh!.
Tika bisa mengerti, mengingat masa lalu Reno yang kehilangan istrinya.
" Tidak apa, Ren. Aku akan baik- baik saja. Doakan aku, ya.
" Atau kalian ke rumah orang tua saja , Tika. Biar ada yang selalu menjaga kalian."
" Biar kami di sini saja, kita kan belum menikah. Aku tidak ingin tetangga curiga. Kamu itu harus tenang dong. Katanya mau menjaga kami. "
" Maafkan aku ,Tika. Tapi janji ya, kamu harus kuat."
Reno merahup tubuh Tika dalam pelukannya. Seolah mau memindahkan separuh tenaganya. Jadinya nafas Tika sesak di perlakuakan seperti itu."
__ADS_1
"Sudah sayang, kami akan baik- baik saja." aku malah jadi sesak di peluk seperti ini," akhirnya Reno mengurai pelukannya. Di hapusnya air yang mengenang di sudut matanya.*****(
bersambung