
12
Pov Author
Tika bergegas keluar dari kamar karena tak ingin tersulut emosi. Sehingga nantinya bisa menggagal
kan rencanaya. Tapi sebagai manusia, dia merasa lelah juga berpura- pura seolah tak ada yang terjadi dalam rumah tangganya.
Bersikap seolah semua baik- baik saja. Tentu butuh hati dan kekuatan extra. Hati perempuan mana yang bisa
bahu tempatnya bersandar telah terbagi.
Dan ironisnya, orang-orang terdekatnya yang seharusnya menjaga dan melindungi hati dan perasaanya, justru yang tega menusuknya dari belakang.
Hampir saja tadi Tika keceplosan membongkar kebusukan hati suaminya. Ingin sekali tadi ia tumpahkan sumpah serapahnya untuk memuas
kan emosinya. Tapi, untunglah Tika masih kuat bertahan. Kalau tidak, semua rencana yang telah ia susun akan hancur berantakan.
Jadi tidak ada pilihan lain baginya, selain bersikap seolah tidak tau apa-apa. Dan berdamai dengan luka hatinya untuk sementara. Hingga waktunya nanti tiba, pembalasan itu terlaksana.
Ketika Rey suaminya menyusulnya ke kamar Nadia
temperatur suhu emosinya, perlahan turun. Sehingga dia dapat menguasai kembali emosinya.
Rambut Nadia telah selesai di kepang, lalu mengambil boneka guk-guknya dan membawanya ke ruang tamu.
" Dek, maafkan abang yang terlalu mudah terpicu emosi. Bukan maksud abang untuk berucap kasar.
Tapi adek juga telah membuat abang merasa bingung, akan sikap adek akhir- akhir ini."
"Aku memang kesal sama abang. Karena tidak peka.' sungut Tika kesal.
"Maksud adek, gak peka gimana."
" Aku kan lagi hamil, bang. Tri mester pertama. Tapi abang selalu saja menggodaku. Aku tak suka di sentuh-sentuh. Aroma abang saja aku tak suka, bikin mual,"ujar Tika menumpahkan uneg-unegnya, bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.
"Oh, astaga dek. Itu rupanya masalahnya! Abang kirain ada apa. Segitunya, ya dek. Duh, nakal juga
anak Papah, sudah nge prank."tawa Rey berderai karena lega. Tadinya perasaan sudak kecut, mikirin
sikap Istrinya. Tanpa curiga apa- apa, Rey ngeh saja ucapan Tika istrinya.
Sekarang hatinya lega, karena ternyata dia hanya salah faham. Oke tak masalah, soal itu, masih ada Rani yang akan memenuhi kebutuhannya. Itu berarti rahasianya masih aman. Ah, ternyata semudah ini masalahnya selesai. Padahal aku sudah sempat sport jantung tadi. Saat Tika meng
atakan dia sudah lelah dengan kebohonganku. Rey asyik bermonolog dengan dirinya.
__ADS_1
"Tidak apa- apa dek, Abang bisa maklum. Sementara ini abang akan berpuasa dulu, sampai adek siap lagi."
"Betul tidak apa- apa. Apa abang akan kuat ?"
"Demi kesehatanmu dek, abang akan bertahan,"
" Abang tidak akan selingkuhin aku kan?"
"Oh, tidak akan dek. Kamu adalah satu- satunya ratu di hatiku,"
Hem, dengus batin Tika. Memang benar- benar licik kamu bang. Tentu saja kamu tidak akan keberatan
karena selama ini kamu telah simpan maduku di rumah mama. Dan di bawah hidungnya kamu selalu tuntaskan semua hasratmu, bang.
"Dek, apa kehamilanmu ini juga, sehingga butik kamu tutup beberapa hari ini." tanya Rey mengalih
kan pokok pembicaraan.
" Butik memang aku tutup, bang. Seorang pelangganku telah menipuku. Aku mengalami kerugian, jutaan rupiah," Tika sesegukan saat menceritakan perihal nasib butiknya
" Apa dek, butik kamu bangkrut. Kamu kena tipu, kok bisa sih."
" Nasibku lagi apes ,bang."
Rey tidak tau mau bilang apa. Pikirannya langsung kalut. Jika Tika bangkrut itu akan berimbas kepadanya. Secara finansial, Tika tidak akan mungkin lagi di andalkan. Itu berarti akan ada beberapa titik posko yang yang terganggu.
" Kok baru ini kamu bicarakan dek, itupun karena abang singgung."
" Saat itu abang lagi di luar kota, aku tidak ingin pekerjaan abang terganggu."
" Maksud abang, kalau kamu cepat kasih tau abang
kan bisa kita cari solusinya."
" Sudahlah bang, aku sudah ikhlas kok."
" Ya iyalah, mau ngomong apa lagi kalau sudah begini."
"Trus, bagaimana dengan aset yang lain." tanya Rey beruntun. Padahal selama ini dia tidak pernah mau tau soal butik. Ketara sekali kalau dia merasa kehilangan.
" Semua sudah aku jual bang, untuk menutupi
beberapa hutangku. "
Rey mengusap lehernya yang mendadak kaku. Ucapan istrinya benar-benar membuatnya kaget
__ADS_1
Terbayang di benaknya efek yang harus dia terima.
Tentu, nantinya Tika akan mengandalkannya. Sekalipun Tika tidak akan tinggal diam, tapi dengan kondisinya yang hamil, tidak akan mungkin diandalkan lagi.
Terbayang di matanya, cicilan kredit rumah baru yang akan terganggu bila hanya mengandalkan
penghasilannya. Memang sih dari gajinya yang sudah diatas sepuluh juta, sudah lebih dari cukup, untuk keluarganya..
Tapi dia kan punya dua istri. Ditambah dua adeknya yang masih kuliah. Butuh biaya yang tidak sedikit.
Belum lagi kebutuhan Mama yang komsumtif. Juga Rani istri keduanya.
"Abang kenapa sih, kok malah ngelamun dari tadi." sentak Tika. Karena suaminya diam dari tadi, entah apa yang berkecamuk di dalam hati suaminya. Yang jelas dia tidak sedang baik- baik saja.
" Ah.. eh gak mikirin apa- apa ko dek" Tika tersenyum penuh misteri. Tika dapat menerka pikiran suaminya yang kini mendadak kalut. Apa coba, kalau bukan soal uang.
Dengan bangkrutnya usaha butikku, tentu aku tidak akan menggulirkan lagi uang setiap bulannya. Untuk kebutuhan, mama. Juga biaya kuliah adik- adiknya.
Ahai...asem gak bang, eh pahit maksudnya. Selamat jungkir baliklah, melaksanakan
tanggung jawabmu sebagai kepala rumah tangga bagi kedua istrimu. Sorak hati Tika
"Apa abang akan menganggap adek sebagai beban, karena telah bangkrut?"
" Aduh dek, kok mikir sampe kesana sih, Kamu jangan terlalu sensi ya. Sudah tanggung jawab abang memperjuangkan hidup kalian."
" Aku merasa tak enak hati, bang. Padahal kita masih banyak kebutuhan. Mana aku lagi hamil lagi," mata Tika berkabut dan bergulirlah air mata, pelengkap sandiwaranya.
" Adek jangan ngomong begitu. Kamu itu harus kuat ya. Mana sosok Tika abang yang tangguh."
Rey mengusap air mata istrinya yang membasahi pipi. Lalu di raihnya tubuh mungil istrinya itu, kedalam pelukannya.
" Makasih bang, telah menjadi sandaranku. Aku akan kuat demi Nadia dan anak ini."Tika menarik dirinya dari pelukan suaminya. Lalu Tika berdiri pamit mau menyiapkan makan malam mereka.
Saat tiba di pintu, Tika menoleh ke belakang melihat suaminya yang tertunduk lesu. Tika tersenyum sumringah.
Permainan kita mulai bang! Maaf aku harus berbohong mengikuti permainan kalian. Kebohongan di balas kebohongan. Siapa bertahan dialah pemenang.
Sepeninggal Tika, Rey masih tergugu di kamar Nadia. Dia merasa curiga kok begitu tiba- tiba usaha butik istrinya bangkrut.
Katanya dia telah menjual semua aset butiknya. Untuk menutupi hutangnya. Yang katanya jumlahnya cukup besar juga. Tabungannya telah ludes, sehingga tak punya modal lagi untuk buka
usaha baru.
Katanya dia fokus dulu untuk kehamilannya, hingga melahirkan nanti. Itu berarti minimal dua tahun kedepan. Bukan waktu yang singkat untuk berjuang sendiri menghidupi keluarganya. Karena selama ini sudah terbiasa istrinya yang menjadi tulang punggung.
__ADS_1
Hadeh! Dasar laki- laki pencundang. Tak tau mengucap syukur. Punya istri baik dan mandiri, bukannya di hargai, di kasihi, malah cari masalah memberinya madu.
Merasa telah menjadi lelaki yang hebat, karena telah mendustai sang istri.. Sepandai- pandai tupai melompat sekali- kali dia jatuh juga!