
Pov author
Saat Tika berhenti di jembatan dan memandang aliran sungai ,di bawahnya. Menarik perhatian seseorang yang kebetulan lagi berteduh di bawah pohon rindang, tak jauh dari jembatan. Sembari menikmati es kelapa. Kebetulan di dekat jembatan ada warung penjual es kelapa.
Karena hari yang cukup panas, dia sengaja singgah di warung itu untuk melepas dahaga. Karena masih jam kerja, warung itu masih sepi. Sehingga lekaki itu leluasa memilih tempat duduk. Pilihannya adalah tempat duduk yang langsung menghadap sungai. Terasa lebih teduh dan nyaman karena dinaungi pohon tua yang umurnya sudah puluhan tahun.
Selagi asyik menyeruput es kelapa kesukaanya, tiba- tiba perhatiannya teralih pada sosok tubuh mungil, yang memarkir sepeda motornya di pinggir jembatan. Sosok itu adalah Tika. Yang tengah dalam perjalanan pulang kerumahnya. Hatinya sangat terguncang dengan kejadian di rumah mertuanya.
Padahal jelas ada tanda larangan parkir di lokasi itu. Dan yang membuatnya lebih heran, wanita itu lalu menangis hebat. Tubuhnya nampak bergun
cang karena berusaha menahan tangis.
Dari jauh lelaki itu terus mengamati sosok wanita itu. Dia khawatir jikalau nanti wanita itu nekad ber
buat sesuatu, melihat dari kondisinya. Yang sepertinya sedang tidak baik- baik saja.
Lelaki itu adalah Reno, Reno saat ini masih dalam suasana berkabung karena tiga bulan lalu, istrinya meninggal saat melahirkan anak pertama mereka.
Istri dan anaknya meninggal, karena pendarahan yang hebat. Sementara anaknya karena terlalu lama di jalan lahir, kondisinya buruk karena sempat meminum air ketuban. Sehari setelah istrinya meninggal, putranyapun menyusul.
Melihat gerak gerik Tika yang mencurigakan, Reno menghampirinya perlahan dari belakang. Saat itu posisi Tika sedang menarik nafas panjang dan menghembusnya secara perlahan. Kedua matanya terpejam!
Membuat Reno semakin yakin, bahwa Tika hendak berbuat nekad. Reno semakin panik, bayang wajah istrinya yang telah meniggal membuat dadanya terasa perih.
Lalu tiba- tiba, Reno menahan bahu Tika. Membuat Tika kaget luar biasa. Tika tak menduga perlakuan itu.Spontan Tika berontak, mencoba melepaskan diriù dari tangan yang menahan tubuhnya.
Semakin Tika berontak, semakin kuat pegangan itu.. Akhirnya Tika tak sadarkan diri. Membuat Reno jadi kalang kabut.
Berkali-kali Reno mencoba membangunkan Tika, dengan menepuk wajahnya. Tapi tak ada respon. Buru- buru Reno membawa Tika ke Rumah Sakit.
Setiba di Rumah sakit Tika di bawa ke ruang UGD.
Paramedis segera menangani Tika. Mereka berusaha membuat Tika sadar.
Selang beberapa saat Tika siuman. Tika heran mendapati dirinya yang berada di Rumah Sakit.
" Apa yang terjadi dengan saya, " tanya Tika kepada perawat.
" Tadi ibu pingsan, jadi suami ibu membawa ibu ke sini.,"
Deg!
Suamiku?
Tika mencoba mengingat kejadian sebelum pingsan. Seingatnya ia berda di jembatan lalu ada seseorang memegang bahunya. Saat ia berontak pegangan itupun semakin kuat, sehingga ia lemas.
Entah siapa seseorang itu, tadi perawat mengatakan suamiku yang membawanya ke Rumah Sakit. Apakah Bang Rey membuntutiku sepulang dari rumah mertua. Karena ingin merebut kembali surat- surat itu.
__ADS_1
Astaga! Mana tasku? Surat- surat itu tak boleh jatuh ke tangan Bang Rey lagi.
" Suster, di manakah suami saya?" tanyaku penasaran.
" Lagi di ruangan dokter, bu,"
Aku berusaha bangkit dari tempat tidur. Aku mencari tas selempangku yang ku pakai tadi pagi.
"Eh, Ibu! Ibu jangan bangkit dulu. Tubuh Ibu masih lemah,"
"Saya tidak apa- apa, suster. Saya harus pulang, anak saya nanti menangis. Dia sendirian di rumah."
"Tunggulah dulu ,Bu. Sampai suami ibu kembali. Nah, itu suami ibu sudah datang."
Sontak bola mataku membulat, ketika melihat dua sosok pria mendatangiku. Pria yang di lihat daru baju yang dia kenakan, mungkin itulah dokter yang telah memeriksaku.
Sedang pria satu lagi, kira-kira seumuran denganku
sama sekali tak kukenal. Tersenyum ramah dan menatapku lembut.
" Itu suami ibu, sudah datang," bisik suster yang merawatku lirih. Aku terbatuk karena kaget.
Apa-apan ini, jelas lelaki itu bukan suami aku, kok bisa-bisanya suster itu bilang bahwa lelaki itu suamiku.
"Oh ya, ibu sudah sadar," ucap dokter Heru, karena itulah yang kubaca di papan namanya.Seraya memeriksa tekanan darahku.
" Saya permisi dulu. Kalau ada hal penting, silahkan temui saya di ruang kerja saya,"
" Baiklah dokter. Terima kasih,"
Dokter itu pamit dan oergi. Tinggal aku dengan pria yang tak kukenal itu. Sejuta tanya berputar di benakku. Siapakah lelaki ini, bisa- bisanya dia mengaku sebagai suamiku.
" Saya, Reno, Sayalah yang membawa ibu ke sini." ucapnya sebelum kutanya.
" Kenapa kamu bilang aku istrimu."
"Oh, masalah itu. Saya minta maaf ya. Tadi dokter menanyakan siapa keluarga ibu. Karena ada hal yang hendak beliau bicarakan. Mungkin perawat itu mendengar. Jadi mereka juga latah, bilang saya suami ibu.,"
" Apa yang di bicarakan dokter, tentang saya,"
" Sebenarnya sih ngucapin selamat saja. Katanya Ibu, hamil."
"Nama saya Tika, "
"Apa , ibu.. eh Tika sudah tau kalau sedang hamil?"
" Iya,"
__ADS_1
" Maaf kalau saya akan banyak bertanya. Apakah yang hendak Tika lakukan tadi di jembatan?"
"Maksudnya?" Tika jadi kebingungan.
"Sekali lagi saya minta maaf ya. Tadi saya sempat berpikir buruk soal Tika. Saya pikir Tika hendak melakukan sesuatu hal yang nekad.Saya panik.
Sayalah yang telah menarik tubuh Tika. Karena saya pikir Tika akan melompat ke bawah jembatan."
Astaga! Lelaki posesif ini, seru Tika membatin.
" Saya tidak akan melakukan tindakan, bodoh itu.
Sekalipun hidupku penuh cobaan," guman Tika tak lampias. Tapi masih terdengar jelas oleh Reno.
Dari sorot matanya, sepertinya wanita berparas ayu ini tengah mengalami goncangan dalam hidupnya.
Padahal ada kehidupan yang baru, bersemayam di rahimnya.
Apapun yang telah terjadi padanya, Tuhan tolong kuatkan dia.
Seorang perawat datang memberi kertas kwitansi kepada Reno. Bahwa Tika telah boleh pulang.
"Sebaiknya kita pulang, saya akan antar Tika ke rumah."
" Trimakasih, tapi saya bisa pulang sendiri. Saya tak ßzingin merepotkan lagi,"
" TidK apa-apa. Saya senang kok, bisa membantu.
Oh, ya. Motornya Tika saya titip ke penjual es kelapa. Kalau tasnya ada di dalam mobil saya. Mari saya antar kesana."
Akhirnya mereka sampai di tempat penjual es kelapa. Dan bebar saja motor Tika terparkir di depan warung itu.
Lalu Tika bergegas pulang ke rumah, Tika sangat khawatir Nadia akan menangis karena kelamaan di tinggal. Tika juga sudah merasa tak enak karena sudah terlalu lama menitip , Nadia.
Sesampai di rumah, benar saja Nadia wajahnya sudah sembab, bekas menagis. Tika memeluk putrinya, erat.
" Maafkan Mama ya sayang, karena terlalu lama meninggalkanmu." berkali-kali Tika mengecup puncak kepala Nadia, membenamkan rasa bersalahnya karena setelah hari ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.
Semoga Nadia kuat dan juga anak dalam kandungannya walaupun tanpa kehadiran papah mereka lagi mengawal hari-hari mereka dan masa tumbuh kembang mereka.
Semoga untuk hari- hari mendatang, kehidupanku
akan lebih baik lagi.Walau harus menjadi single parents. Itu lebih baik dari pada hidup dengan keluarga utuh akan tetapi menjadi keluarga toxic.
Hai...hai...pembaca setiaku, yang suka dengan tulisanku mohon like n komen n sharenya ya.
Biar up terus . Salam sehat buat kita semua❤❤
__ADS_1