Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
28


__ADS_3

Meskipun perut Tika semakin buncit, karena usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke delapan.


Tapi aktifitasnya ke luar rumah masih di lakukan. Seperti siang ini dengan naik taxi, Tika berencana ke pusat perbelajaan untuk membeli peralatan


beberapa peralatan bayi.


Tuuuttt...


Suara panggilan terdengar dari benda pipih di kantongnya. Tika meraba kantongnya dan membuka aplikasi wa.


" Halo...," seru Tika saat melihat nama Reno tertera di layar aplikasi berlambang telepon hijau itu.


" Hai, bagaimana kabarmu hari ini, maniez," seru suara di seberang sana.


Gleekk..!


Tika menahan senyumnya mendengar sebutan itu. Kemarin panggil say, besok panggil apa lagi ya.


" Baik, sudah sarapan belum," ofs, Tika merasa lidahnya keseleo saat mengucap kata itu.


Siapa pula yang belum sarapan di siang hari begini. Hadeuh...!


" Belum," jawaban datar terdengar lagi. Reno dongkol karena ucapan Tika. " Ini udah jam sebelas siang, Tik. Apa kamu baru bangun tidur,


sesiang ini nanya apa aku udah sarapan. Jangan - jangan kamu yang belum sarapan!" cecar Reno, posesifnya kambuh lagi deh.


" Udah kok, ini aku lagi di dalam taxi,"


"Taxi? Kamu mau kemana Tika. Kenapa gak bilang- bilang biar aku yang ngantar."


" Cuma sebentar aja, kok. Mau beli peralatan bayi.


Kamu kan lagi kerja,"


" Kamu lebih penting dari semua itu, Tika. Tunggu beritahu aku lokasimu. Aku segera kesana," Tika menyebut tempat tujuannya.


Belum sempat Tika melarangnya untuk datang, panggilan sudah terputus. Tika mendengus kesal. Kok gak bohong saja tadi, bilangin lagi di rumah. Monolog hati Tika.


Begitu sampai di tujuan, Tika sudah melihat mobil Reno parkir. Hem! Secepat itu kamu sampe, Ren.


Setelah membayar argo, Tika keluar dari taxi. Reno yang sudah melihat dari jauh bergegas menemui Tika.


Melihat langkah panjang Reno menghampirinya, Tika yang hendak memperlihatkan wajah kesal. Jadi urung.


"Cepat banget nyampenya?"


" Pake sihir," jawab Reno ketus.


Eh..malah dia yang ngerajuk! cebik Tika dalam hati.


" Kamu itu loh, Tik. Ingat keadaan kamu. Kamu kan lagi hamil tua. Malah keliaran. Gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu,"


" Jangan posesif gitu dong, Reno. Aku baik- baik


saja, Reno." kusentuh tangannya untuk meyakin-


nya.

__ADS_1


Aku tau semua ini dia lakukan adalah wujud dari kasih sayangnya.Walau terkadang perhatiannya begitu berlebihan.Rasa cemasnya tidak pada tempatnya.


Tapi aku merasakan Reno adalah orang yang tulus adanya. Hanya karena kematian istrinyalah


yang membuatnya seperti itu.


Begitu juga denganku yang terkadang risih menerima perhatiannya karena perlakuan mantan suamiku.


Karena itulah aku menolak lamarannya, sementara ini. Aku tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.


Aku butuh waktu untuk menegaskan hatiku menentukan pilihan hidupku.


Aku tidak ingin gagal lagi!


" Ya, sudah. Ayo masuk ke dalam mobil," Reno menggamit tanganku dan menuntunku ke mobil.


" Lho! Bukannya udah sampe?"


" Di sini terlalu berdesakan, Tika. Aku tidak ingin ada orang yang tak sengaja bersentuhan denganmu. Kita ke tempat yang lebih nyaman, ya." lalu Reno memasang sabuk pengamanku.


" Kamu gapapa kan?" tatapnya dengan teduh, karena aku diam saja. " Tika, aku minta maaf ya, aku hanya ingin menjaga kamu," tangan Reno menyentuh belakang leherku. Dan memijat di sana. Membuat tubuhku rileks.


Aku tersenyum, seraya mengangguk. Tau aja dia kalau leherku terasa kaku begini. Aku menikmati pijatannya. Sungguh terasa nyaman.


" Enak ya?"


" Hem, lumayan." kubuka mataku. Aku terkesiap saat jarak antara kami begitu dekat. Helaan nafasnya begitu hangat menyapu wajahku.


Tatap matanya begitu intens memerangkapku. Ada sesuatu di sana.


" Oke, kita jalan ya," kulihat wajah Reno memerah. Geraknya mendadak gugup. Aku mengalihkan pandangku.


Reno melajukan mobil ke arah utara. Cuma lima menit kami telah sampai, di toko perlengkapan anak dan baby.


R eno membukakan pintu untukku, dan menggandengku masuk ke toko. Tempatnya memang luas dan terasa nyaman sekali.


Mungkin Reno tau tempat ini, karena pernah ke sini bersama mendiang istrinya. Buktinya begitu kami sampai sang pemilik toko tersenyum dan menyapa ramah.


" Hai, pak Reno, ya, selamat datang pak." Reno membalas sapaan itu. Lalu Reno membawaku


ke beberapa rak berisi peralatan baby. Yang di pajang rapi.


" Mau butuh yang mana, Tika. Kita berkeliling atau tinggal mesan saja,"


"Aku mau liat- liat dulu ,bang." seruku. Membuat Reno tersenyum nakal. Aku mengernyit heran.


" Kenapa sih, kok senyum-senyum,"


" Gak ada. Lagi baper aja, efek di panggil, abang," kekehnya lucu.


" Gitu aja udah baper." aku mencubit pinggangnya


membuat Reno mengaduh sakit. Beberapa penjaga toko, senyum- senyum melirik ke arah kami.


Selesai juga kami belanja. Makan waktu yang lumayan lama juga. Kalau saja tak ingat kalau Nadia di titip sama Rita. Bisa saja aku sehariaan belanja.


Reno juga sih, aku yang rencananya cuma

__ADS_1


mau beli beberapa saja, karena bekas Nadia masih bagus. Tapi Reno tak henti mengisi keranjang.


"Sepertinya kita mau buka, toko nih," sindirku melihat bagasi yang penuh.


" Siap- siap aja ,Tika. Setelah ini kita akan belanja lebih banyak lagi,"


"What?!" seruku


" Setelah kita menikah, kamu akan melahirkan anak kembar, kembar enam. Ha...aa..,"


" Memangnya aku kelinci, lahirin anak kembar enam," seruku ngeri. Walaupun aku pernah baca ada seorang ibu melahirkan anak kembar enam.


" Amit- amit deh, jabang bayi!" Reno makin melebarkan tawanya.


" Kita ke cafe seberang, yuk. Haus nih," ajak Reno. Aku mengangguk karena aku merasakan tengorokan ku kering.


" Mau pesan apa sayang,"


" Jus jeruk aja, ya." Reno melambaikan tangannya memanggil pelayan cafe.


Aku membuka gawaiku, mengirim chat ke Rita, tentang Nadia.


" Aman bu, Nadia lagi tidur," balas Rita asisten butik ku. Rita mengirimkan foto Nadia yang tidur pulas memeluk, boneka dogginya.


"Tika, ini jusnya," aku menerima jus yang di sodorkan Reno, menyeruputnya hingga separuh.


Dahagaku langsung hilang.


" Segitu, hausnya," goda Reno.


" He eh," anggukku. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe. Tiba- tiba mataku menangkap sesosok tubuh wanita separuh baya yang hendak memasuki cafe.


Deg, itu mama mertua. Eh, mantan, ralatku.


Sepertinya merasa ada yang memperhatikan, beliau menatap ke arah ku. Sejenak mata itu membulat. Kaget, melihatku.


Sama seperti aku yang kaget melihat penampilannya. Ku pikir beliau akan pergi, atau pura- pura tak melihat ku.


Tapi malah datang menghampiri ku. Sejenak aku tertegun. Reno kaget melihat reaksi ku. Dan mengikuti arah mataku.


" Ada apa, Tika?" bisik nya lirih. Karena melihat ku yang tegang. Langkah itu makin mendekat.


" Nak Tika, ya?!" serunya girang. Sebaliknya aku tegang, ketika ingat semua perlakuannya.


"Ya, ada apa bu?" sahutku datar. Menurutku sungguh tak tahu malu berani menghampiriku.


" I..ibu senang melihat mu , nak,"


" Nak?!" betapa geli telingaku mendengar panggilan itu.


" Kita pulang, yuk!" ajak ku pada Reno. Aku merasa tak perlu berbasa- basi dengan beliau.


Reno manut saja, dan membantuku berdiri.


"Nak Tika, maafkan ibu, ya," ****


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2