
Tika tengah membereskan peralatan sekolah Nadia. Yang berserakan di kamarnya. Sementara Nadia tertidur di antara tumpukan alat tulisnya.
Tika mengumpulkan kertas yang berserakan. Bererapa sudah di tulis dan di gambar. Saat mengumpulkan kertas-kertas itu. Ada sebuah kertas hasil gambar yang menarik perhatian Tika.
Dalam kertas itu Nadia menggambar sebuah keluarga utuh. Dua orang dewasa dan dua orang anak.
Nadia memberi nama ke empat gambar itu. Mama Tika, papa Reno, Nadia dan dedek Bimo. Keempat gambar itu sedang berpegangan tangan. Dengan ekspresi tertawa, karena ke empat gambar itu mulutnya terbuka.
Tika tak menyangka kalau putrinya punya bakat mengambar seperti itu. Tika kembali mengamati gambar itu. Agak terpisah dari ke empat gambar itu.
Ada sebuah gambar lagi di sudut kertas. Tika tersentak, karena gambar yang terpisah itu di beri nama " papa Rey".
Gambar itu di warnai hitam semua. Beda dengan gambar satunya, yang di beri warna warni. Tika terpaku menatap gambar itu.
Apakah maksud Nadia membuat gambar itu?
Tika meninggalkan kamar Nadia, lalau masuk ke kamarnya.Tika memoto dan menyimpannya dalam galeri.
Reno yang baru keluar dari kamar mandi di ruang kamar mereka, merasa heran dengan ulah Tika.
Dia menghampiri istrinya, dan memeluknya dari belakang.
" Lagi ngapain sih ma?" bisiknya di belakang telinga Tika. Tentu saja Tika kaget atas ulah Reno suaminya.
" Aduh papa, ngagetin saja," lonjak Tika. Hampir saja gawainya terlepas dari tangannya. Reno tertawa melihat eskpresi istrinya.
" Sorry mommy, " Reno menggoda istrinya dengan mengelitik pinggangnya. Tapi Tika tak merespon perbuatan Reno. Biasanya Tika akan mengelinjang geli dan membalas perbuatan suaminya.
" Gambar apa sih itu, ma?" Tika menyerahkan kertas itu ke tangan Reno. Reno mengamati gambar itu dan terseyum.
" Ini gambar Nadia, ya? Bagus juga, sepertinya Nadia ada bakat melukis." puji Reno. Detik berikutnya kening Reno mengernyit dengan sebuah gambar yang terpisah dan di beri warna hitam.
" Yang ini maksudnya apa ya, sayang."
" Aku juga gak tau, pa. Apakah maksudnya itu dia tak ingat papanya lagi? Atau Nadia menganggap
nya sebagai orang jahat?" isak Tika sedih.
" Sayang, jangan sedih begitu dong." Reno memeluk istrinya. Mendekapnya dengan hangat.
" Mungkin saja itu tak berarti apa- apa. Cuma coretan biasa. Jangan terlalu di pikirkan sayang,"
" Aku takut Nadia trauma dan ..." Tika makin terisak.
__ADS_1
" Dan apa sayang. Kamu tuh jangan berprasangk
a buruk dulu. Kita tanya saja Nadia, apa arti gambarnya itu." Reno mengecup kening istrinya lembut. Mengusap air mata itu.
Dibalik sikap Tika yang mandiri dan tangguh, Tika adalah sosok yang rapuh bila berurusan dengan Nadia dan Bimo.
Reno sangat faham itu. Karena Reno juga selalu berusaha menjaga mereka dan berbuat yang terbaik. Meski dia hanya papa sambung bagi kedua anak Tika.
Tapi dia memang sangat mencintai ke tiganya. Mereka adalah semangat hidupnya. Reno ingin selalu mereka tersenyum.
" Sayang," bisik Reno di telinga Tika. Tika mendongak menatap wajah suaminya.
" Maafkan mama ya, pa. Terkadang aku sangat rapuh. Trimakasih telah menjadi sandaran hidup ku." Tika mengusap sisa air mata di pipinya. Dan tersenyum manis. Tika tak ingin suaminya resah.
" Nah, gitu dong sayang." Reno menatap manik mata istrinya lembut. Tika jengah dan menunduk malu. Lalu Reno membisikkan sesuatu di telinga Tika. Membuat pipi Tika semakin merona.
" Ih, papa genit ah. Gak mau!" tolak Tika pura - pura. Dan berusaha lepas dari pelukan suaminya. Tapi terlambat bagi Tika, Reno telah mengunci tubuh Tika di bawahnya.
Tangan Reno bergerilya di tubuh istrinya, membuat Tika mend**ah tak berdaya. Penyatuan tubuh mereka, malam itu. Dalam hangatnya cinta mereka yang dari hari ke hari semakin merekah.
" Sayang, aku ingin Bimo punya dedek lagi," desah Reno diantara g**rahnya yang memuncak.
*****
" Mama....teriak Nadia pagi itu." membuat kaget Tika yang tengah menyiapkan sarapan.
" Oppung ada liat gambar Nana gak! Gambar Nana hilang. Nana udah capek gambarnya,"
" Gambar apa sayang. Oppung gak liat apa-apa. Nana simpan di mana?"
" Mama kok yang simpan sayang." timpal Tika mengahampiri Nana. "Semalam kak Nana ketiduran. Jadi mama beresin alat tulis Nana. Mama kasih tunjuk sama papa. Papa suka liat gambar Nana."
" Itu bukan gambar buat papa!" sentak Nana kesal. Reno yang baru keluar dari kamar, tertegun mendengar nada ucapan Nadia. Tika dan Reno beradu pandang.
Reno memberi isyarat pada Tika untuk tak menanggapi ucapan Nadia.
"Oh, jadi gambar cantik itu, bukan buat papa ya?
Trus buat siapa dong," Reno menyentuh bahu Nadia. Nadia mendadak gugup.
" Mama, ambil dong gambar Nana itu. Harusnya mama permisi dulu kalo mau liat gambar Nadia."
Tika segera pergi ke kamar dan keluar kembali dengan kertas gambar Nadia.
__ADS_1
" Mama minta maaf ya sayang, karena mengambil gambar Nana tanpa ijin." Tika merasa bodoh dengan keteledorannya semalam. Dan sangat kaget akan reaksi Nadia karena barang privasinya di sentuh tanpa seijinnya.
"Nana gak marah tapi Nana marah kenapa mama kasih tunjuk Papa." isak Nadia pecah.
Semua saling berpandangan heran. Bu Nita yang baru keluar dari kamar juga bingung kenapa Nadia tiba- tiba menangis.
"Ada apa ini, kenapa cucu oppung pagi- pagi udah nangis,"
" Mama jahat, ngambil gambar Nana lalu di kasih tunjuk sama papa," isak Nadia makin keras dan berlari ke bu Nita.
Tika sangat kaget mendengar kata- kata Nadia. Dia makin berasa salah karena meyepelekan perasaan Nadia. Tak menyangka anaknya begitu sensitif.
" Coba Oppung tengok gambarnya, sayang. Boleh gak?" bujuk bu Nita. Nadia menyerahkan gambar di tangannya. " Gambar Nana sangat cantik, Oppung suka melihatnya. Ternyata cucu oppung pintar sekali,"
"Tapi mama udah tunjukkan sama papa, nanti papa gak sayang lagi sama, Nana. Reno kaget dan buru- buru menghampiri Nadia.
" Nana, kenapa papa jadi gak sayang Nana kalo liat gambar mu ini. Gambarmu bagus kok sayang. Papa bangga sama Nadia." Reno menarik tubuh Nadia dalam dekapannya.
Dia sangat bingung dengan ucapan Nadia. Tapi bagaimana cara mengorek penjelasan dari Nadia soal gambar itu.?
" Papa tidak marah sama Nana?"
" Kenapa papa jadi marah sayang?"
" Karena Nana sertakan juga gambar papa Rey. Tapi papa jangan marah ya, gambar papa Rey Nana buat hitam. Nana lebih sayang papa Reno." Nadia memeluk Reno kuat. Seolah Nadia takut terlepas dari pelukan Reno.
Astaga! Semua jadi tergugu diam. Jadi itukah yang di takutkan Nadia. Hatinya yang masih lugu dan polos itu sebegitu takutnya kehilangan kasih sayang papa Reno-nya.
Karena bayangan rasa sakitnya telah ke hilangan papa Rey - nya.
Tika tak kuasa menahan tangisnya, Di peluknya putrinya dengan perasaan yang sulit di ungkapkan.
Ternyata rasa sakitnya tak lebih sakit dari hati putrinya. Membuka mata Tika kalau selama ini anaknya juga menyimpan diam-diam semua cerita itu.
Perceraian itu memang sangat menyakitkan!
Ada banyak hati yanga terluka dan butuh waktu yang lama menyembuhkan luka itu.
Reno juga tak kuasa berkata apa. Di rengkuhnya tubuh keduanya dalam pelukannya. Reno sangat, sangat mengerti luka di hati mereka.
Karena Reno juga merasakan sakit yang sama saat kehilangan anak dan istrinya.
"Papa sayang padamu Nana. Dan akan tetap sayang padamu, selamanya, sayang." Reno mencium pipi Nadia berkali- kali. Menghapus air mata Nadia dan juga Tika.
__ADS_1
Pak David dan bu Nita juga tak bisa menahan haru suasana. Mereka sangat bangga pada anak Reno karena telah menunjukkan kasih sayangnya tulus pada Tika dan anak" nya.
Semoga tetap seperti itu adanya. ******