Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
49


__ADS_3

Reno kembali ke kamar menemui Tika istrinya. Ternyata Tika masih terjaga.


" Apa kata mereka pa. Bagaimana kabar Nadia?"


" Tadi papa sempat ngomong sama Nadia."


"Trus apa katanya. Gimana keadaanya, Pa? Apakah dia baik- baik saja?" cecar Tika. Hatinya begitu was- was.


" Nadia baik- -baik saja. Besok penyerahan uang tebusan itu. Tapi mereka belum menyebut lokasinya, "


" Ya Tuhan, lindungilah anakku Nadia." Reno merengkuh tubuh istrinya. Mencoba memberi kekuatan agar istrinya tetap tenang.


Reno benar- benar cemas, kejadian itu akan memicu tekanan darah istrinya.


Untunglah sejauh ini, keadaan istrinya baik- baik saja.


Di tempat penyekapan Nadia.


Alex membangunkan Dody saat matahari sudah makin tinggi.


"Hei Dody, ayo bangun. Huh! Dasar tukang tidur." Alex menendang kaki Dody, hingga akhirnya Dody terjaga.


"Apaan sih? Orang masih enak tidur, di gangguin." dengus Dody kesal. Tapi tak urung juga dia gegas ke kamar mandi.


Alex mencoba menghubungi Rani, tapi tidak tersambung. Di cobanya beberapa kali tapi tetap gagal


Alex mencoba sekali lagi dan kini tersambung tapi yang menjawab adalah Tian.


"Halo pak, gimana ini. Kenapa bapak belum datang juga. Bukannya hari ini adalah penyerahan uang tebusan itu?" seru Alex kesal.


" Bentar lagi kami mau ke sana," sahut Tian di seberang.


" Ok, kami tunggu. Jangan lupa bawa sarapan untuk kami. Kami bukan robot," protes Alex karena uang untuk makan mereka sudah habis kemarin.


Alex memeriksa Nadia di kamar yang masih tertidur. Semalaman Nadia menangis terus. Karena dia rindu pada keluarganya.


Tak berapa lama Tian dan Rani muncul di tempat persembunyian Alex dan Dody.


Tian memberikan sekantong makanan untuk Alex.


" Mana anak itu?" tanya Alex.


" Tuh, lagi tidur." Dody menunjuk ke arah kamar dengan dagunya. Tian memeriksa dan melihT Nadia masih tertidur.

__ADS_1


" Apa dia baik- baik saja," tanya Rani.


" Kamu pikir anak yang di culik akan baik- baik saja?" balik bertanya Alex. "Semalaman dia menangis. Makan pun dia tak mau."


"Sttt...!" Tian memberi kode untuk diam, karena ia tengah menelepon seseorang.


" Halo pak Reno. Bagaimana dengan permintaan kami. Apakah sudah anda siapkan? Uangnya taruh dalam dua tempat." lalu Tian menyebutkan dua lokasi penyerahan uang tebusan. Uangnya di taruh dalam dua koper.


" Baik pak, saya faham." sahut Reno tanda setuju. Lokasi penyerahan uang pertama di lakukan di dekat komplek pekuburan. Dan lokasi ke dua di lakukan dekat bekas gudang penyimpanan karet.


Reno kenal betul ke dua lokasi itu. Tempat yang cukup strategis bagi penculik untuk melarikan diri setelah transaksi selesai.


Tapi Reno gak bodoh, dia telah menyiapkan beberapa orang di beberapa titik, untuk melakukan penyergapan. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan.


Di saat pembicaraan berlangsung, Nadia terjaga dari tidurnya. Tadi dia mendengar nama papa Reno di sebut. Tadinya, Nadia pikir papanya datang menjemputnya. Jadi dia bangun dan menyimak pembicaraan itu.


Saat itulah Nadia melihat Rani ada di antara para penculiknya. Nadia seperti kenal siapa itu Rani, ingatannya samar dia adalah tante yang tinggal bersama opungnya.


Dan mereka sudah lama tak bertemu. Nadia senangnya bukan main karena merasa aman. Nadia mendekati Rani dan Tian.


" Tante Rani," serunya riang seraya memeluk Rani dari belakang. Rani kaget setengah mati. Tian juga kaget dan buru- buru menon aktifkan hand phonenya.


Di seberang Reno juga kaget, karena mendengar suara Nadia yang menyebut nama seseorang.


Rani adalah istrinya Rey. Peremluan yang telah menghancurkan rumah tangganya Tika. Yangnkini telah menjadi istrinya.


Jadi, Rey terlibat dengan penculikan itu ya? Jadi benar kecurigaan istrinya bahwa dia tak percaya pada mantan suaminya itu.


Alangkah bodohnya dirinya telah tertipu dengan sikap Rey. Yang ada dalam pikiran Reno selama ini adalah, kebahagiaan Nadia. Nadia berhak untuk mendapatkan kasih sayang ayahnya. sekalipun kini Reno adalah papa sambungnya.


Dan Reno telah melihat usaha Rey untuk menebus kesalahannya. Ternyata semua itu adalah sandiwara!


Reno justru telah mendorong anaknya untuk ke jurang. Betapa naifnya dia! Reno merutuk dirinya sendiri. Geram ,kesal dan aneka rasa lain campur aduk di hati Reno.


Reno menarik napas dalam- dalam, menghelanya perlahan. Bagaimanapun juga dia tak boleh gegabah bertindak. Dia akan ikuti permainan Rey, kalau dia memang benar terlibat dengan penculikan Nadia.


" Ada apa pak Reno?" tepukan pak Vincent di bahunya membuyarkan kecamuk pikiran Reno.


" Eh, gapapa kok pak. Aku hanya kalut, karena memikirkan anakku." jelas Reno.


" Yang sabar ya pak. Masalah ini akan kita tuntaskan hari ini. Semoga semua rencana kita bisa berjalan lancar."


" Baik pak. Saya ingin bicara berdua dengan bapak, sebentar." lalu Reno keluar dari ruangan di ikuti pak Vincent.

__ADS_1


" Ada apa pak Reno. Apa ada hal yang mencurigakan bapak?"


" Sepertinya saya tau siapa dalang di balik penculikan anak saya pak." Reno menceritakan apa yang ia dengar di menit terakhir pembicaraannya dengan si penculik.


" Memangnya Rani itu siapa, pak Reno?"


" Dia adalah istrinya dari mantan suami istri saya pak. Tak lain adalah pak Rey. Petugas satpam di sekolahnya Nadia."


" Jadi maksud bapak pak Rey itu terlibat dengan penculikan anak bapak, gitu?"


" Ini masih dugaan saya, pak. Saya belum yakin kalau kalau pak Rey terlibat. Bisa saja nama itu nama orang lain. Tapi kok Nadia menyebutnya, namanya. Berarti Nadia kenal dengannya." Reno menjelaskan secara singkat tentang hubungan Rey dan Nadia adlah ayah dan anak kandung.


" Ceritanaya makin menarik, pak. Sepertinya saya bisa menarik benang biru dari kasus ini. Apa Rani dan Rey masih hidup bersama, sebagai suami istri. Atau sudah berpisah?"


" Saya tidak tau jelasnya pak, soalnya sejak perceraian itu. Saya tak pernah bertemu Rani lagi. Sedang dengan Rey, baru beberapa bulan lalu pak. Karena kebetulan dia bekerja sebagai satpam di sekolahnya Nadia.


" Baiklah. Tidak ada salahnya kita mengawasi Rey. Siapa tau dia terlibat. Sementara ini kita bersikap biasa saja. Jangan sampai Rey mencurigai kita." Reno mengangguk setuju saat pak Vincent menjelaskan beberapa rencana yang akan merek lakukan nantinya.


***


Rani sangat terkejut saat Nadia menyebut namanya. Ternyata Nadia masih kenal padanya meski mereka sudah berpisah tiga tahun lebih.


Begitu juga Tian, karena di menit terakhir ia berbicara dengan Reno. Nadia menyebut nama Rani. Entahlah, apa Reno menyimak panggilan Nadia yang menyebut nama Rani.


Tian benar- benar takut kalau jati diri mereka di ketahui.Dia menubggu beberapa saat siapa tau Reno menelepon balik, kalai Reno mendengar teriakan Nadia yang memanggil Rani. Tapi tidak ada respon dari Reno. Sehingga Tian merasa lega. Itu berarti Reno tidak mendengar ucapan Nadia.


" Tante datang mau jemput Nadia, ya. Mana mama Nadia tan?" dengan polos Nadia bertanya.


" Aku bukan tantemu, tau. Dengar baik- baik Nana. Akulah yang menyuruh om- om ini menculikmu. Biar tau rasa mamau yang serakah itu,ha....ha....," tawa Rani bergaung di gedung tua itu.


" Cukup Rani. Kamu jangan ngaco ya. Tingkah mu itu bisan menarik perhatian orang lain," gertak Alex yang tidak suka tingkah Rani.


" Hei...jangan ikut campur urusan saya ya!" gertak Rani tak kalah keras. Membuat Tian jadi kesal juga karena suasana jadi rusuh.


" Apa-apaan ini ribut, mulu. Jaga sikap kamu Rani. Kalau kau tidak ingin posisi kita di ketahui."


" Tante Rani jahat! Papa akan menjemput Nadia. Papa akan menagkap kalian," teriak Nadia.


" Heh bocah tengik! Jangan banyak tingkah kamu, ya. Justru papamu akan ..." Rani tidsk melanjutkan ucapannya, sebaliknya membuat gerakan memotong di lehernya dengan jari tangannya. ****


bersambung.


Pembaca setiaku.

__ADS_1


Minta maaf ya, karena gak up beberapa hari karena ada halangan. 🙏🙏


__ADS_2