Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
51


__ADS_3

" Halo pak Reno, nanti jam empat bapak sudah antarkan uang tebusan itu. Ingat jangan coba- coba libatkan polisi. Kalau tidak, anak bapak akan


celaka!"


Reno menerima telepon dari penculik putrinya.


Reno mengiyakan sesuai arahan pak Vincent. Karena lokasi penyekapan Nadia telah di ketahui oleh polisi.


Polisi telah, mengerahkan orang-orang nya berjaga di sekitar lokasi. Dan mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan.


Rencananya akan di lakukan penyergapan sebelum mereka bergerak keluar.


Pak Vincent sendiri yang akan memimpin penyergapan itu. Reno dan Rey juga turut serta.


Rey ingin membuktikan bahwa ia tidak terlibat dengan penculikan Nadia seperti yang di tuduhkan oleh Reno.


Tadinya pak Vincent tidak bersedia Rey ikut. Karena takut nantinya Rey akan emosional. Sehingga bisa menggangu penyergapan.


Semua petugas telah berada dalam posisi masing- masing.


Dan sepertinya Rani dan kelompoknya belum menyadari bahwa mereka telah terkepung dari segala arah.


Mereka tengah berbincang menyusun rencana selanjutnya apabila uang tebusan yang mereka minta berhasil mereka dapatkan.


" Setelah ini aku akan bebas dari mami Zita." senyum Rani merekah membayangkan dirinya yang akan hidup bebas. Dan akan menikmati uang itu sesukanya.


" Bagus juga kalau aku bisa menikah dengan Tian. Hidupku akan lebih bahagia lagi," monolog hati Rani. Halunya makin melambung. Tanpa sadar Rani senyum- senyum.


" Hei, ngapain lo sedari tadi senyum- senyum terus," sentak Tian membuyarkan hayalan Rani.


"Huh! Dasar kamu gak suka liat orang bahagia." lengos Rani kaget.


"Ini bukan saatnya berhayal. Dan hayalaanmu jangan kelewat tinggi."


" Ah,itu urusanku."


" Sana periksa dulu anak itu. Kita harus siap- siap


berangkat." perintah Tian pada Rani. Rani pergi menengok Nadia yang ketiduran. Rani membangunkan Nadia.


Dengan malas Nadia bangun. Badannya terasa lemas karena sudah beberapa hari dia tidur dan makan tak teratur. Sepertinya tubuhnya juga meriang.


" Tante, pulangkan Nana pada mama dan papa. Nana gak enak badannya," rengek Nadia seraya menagis


" Heh! Kamu jangan cengeng ya. Sikit- sikit nangis." bentak Rani. Lantas di seretnya Nadia ke luar dari kamar.


" Kamu kenapa tu, Rani. Kasar kali oerlakuanmu sama anak itu." sergah Alex."


" Anaknya saja yang cengeng. Hei, diam lo. Berisik tau!" sergah Rani lagi. Tangis Nadia makin kencang, hingga Rey dan Reno mendengarnya.


Mendengar suara tangisan Nadia, darah Rey mendidih. Ingin rasanya dia masuk ke dalam gedung itu. Menyelamatkan putrinya dari tangan Rani.


" Bagaimana ini, pak. Sepertinya anak saya telah di sakiti ," ungkap Reno.

__ADS_1


" Sabar pak Reno. Kita jangan bertindak gegabah,


kita tunggu waktu yang tepat." lalu pak Vincent memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk merapat ke gedung.


" Tunggu aba- aba dari saya selanjutnya." perintah nya pada anak buahnya.


" Siap pak!" terdengar jawab di seberang.


Suasana di dalam gedung.


Nadia masih terisak, walau Rani telah membujuk


nya.


" Kamu bisa gak kebih lembut sama anak itu, Rani." umpat Tian kesal. Selalu saja dia membuat Nadia menangis.


" Kamu salalu saja nyalahin aku, dasar anaknya yang cengeng." balas Rani tak mau kalah.


" Sudah, sudah! Dari tadi ribut, terus." timpal Dody. Gak ada habisnya mereka meributkan soal Nadia.


Yah, wajar saja Nadia selalu nangis.


Dia ketakutan, karena telah di culik. Sudah beberapa hari terpisah dari orang tuanya.


Tapi Rani keterlaluan juga!


"Peringatan! Siapa saja yang berada dalam gedung. Harap ke luar dengan tangan di atas!


Sontak saja semua yang berada dalam gedung kaget.Mereka saling berpandangan satu sama lain.


"Apa- apaan ini?" seru Tian panik. Dia langsung menarik tangan Nadia, dan menjadikannya sandera. Tian membawa Nadia ke luar dari gedung.


" Pak Reno, ini anakmu. Selangkah saja kalian maju, anak ini akan mati," teriak Tian. Seraya mengacungkan sebuah pistol.


Hati Reno dan Rey tercekat, melihat penculik Nadia yang menodongkan senjata ke Nadia.


" Papa, tolong Nana pa!" teriak Nadia ketakutan.


Sekalipun dia tidak melihat papanya, dia yakin papanya ada di sekitarnya.


Setelah berdialog dengan pak Vincent, Reno keluar dari tempatnya.


" Jangan sakiti anak saya pak! Ini uang tebusan yang kalian minta. Serahkan anak saya," teriak Reno.


" Bapak telah ingkar janji. Sekarang serahkan semua uang itu," teriak Tian.


" Ini uangnya, dan serahkan anak saya," Reno melangkah maju, dengan menyeret tas besar berisi uang tebusan. Tian menyuruh Rani menjemput uang dan mencek isinya.


Rani memberi tanda jempol bahwa isi tas itu benar uang. Mata Rani nanar melihat jumlah uang sebanyak itu. Dan pikiran jahatnya timbul ingin memiliki semua uang itu.


Rani hendak pergi, menyeret tas besar itu untuk di bawa ke hadapan Tian. Tapi tiba- tiba Reno menyergap Rani dari belakang dan menjadikan-


nya sandera.

__ADS_1


Rani yang tak menduga serangan itu, menjerit kesakitan saat tangannya di tarik ke belakang oleh Reno.


" Serahkan anak saya, baru akan saya serahkan wanita ini!" teriak Reno.


" Sialan! Kurang ajar kamu ya, Reno!" hardiknya. Tapi dia tak punya pilihan selain menyerahkan Nadia. Sementara petugas yang bersembunyi telah siaga untuk melumpuhkan Rani Cs kalau ada gelagat yang membahayakan.


Tian berjalan mengantar Nadia, sementara matanya tetap awas, ke sekeliling kalau- kalau ada pergerakan yang mencurigakannya.


" Papa!" teriak Nadia menghambur ke pelukan Reno. Reno memeluk putrinya dengan perasaan tak tentu arah.


Tian mengambil alih tas besar berisi uang dan memberi kode, pada Alex dan Dody. Untuk masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir di depan gedung.


Saat itulah, tiba- tiba saja Rey muncul dari balik mobil dan menerjang Tian. Tian yang tidak menduga serangan gelap itu, jatuh terjengkang.


Tapi Tian langsung berdiri dan mebalas serangan Rey. Pertarungan tak terelakkan! Rey dan Tian bergumul dan saling menyerang.


Melihat situasi memburuk, Rani buru- buru menyeret tas itu ke mobil dengan susah payah.


Sebuah tembakan peringatan meletus. Rani terkejut!


Tian juga kaget!


" Angkat tangan pak! Dan menyerahlah!" pak Vincent memperingatkan.


Tapi Tian malah menodong balik pistolnya. Dan di arahkan pada Rey. Tian langsung menembak Rey di bagian perutnya.


Tak menduga serangan Tian, Rey jatuh tersung - kur ke tanah. Bersamaan juga dengan jatuhnya Tian karena tembakan pak Vincent.


Petugas yang lain langsung menangkap Alex dan Dody tanpa perlawanan.


Sementara Rani masih berusaha menyeret tas dan mencoba melarikan diri. Melihat Rani yang masih berusaha lari. Tian, yang masih sadar juga menembak ke arah Rani dan mengenai kakinya.


Rani menjerit kesakitan dan tersungkur jatuh.


Tian tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya!


Saat Nadia melihat Rey, papanya terjatuh dengan luka tembak. Nadia bergegas ke arah Rey.


" Papa! Papa jangan pergi. Jangan tinggalkan Nadia pa. Papa.....!Jerit tangis Nadia begitu pilu.


Rey tersenyum saat mendengar teriakan Nadia. Dia berusaha bertahan dan memeluk putrinya. Tapi karena lukanya terlalu banyak keluar, membuat kesadaran Rey hilang.


Rey pingsan saat berusaha hendak memeluk putrinya.


Melihat Rey yang tergeletak jatuh di tanah, Rani juga menjerit menyebut nama Rey. Tapi luka tembakan di kakinya membuatnya tak bisa berjalan. Akhirnya Rani juga jatuh pingsan.


Pak Vincent menyuruh anak buahnya untuk memanggil ambulans, karena ada yang terluka.


Lalu dia memeriksa nadi Rey. Rey masih hidup.


Sementara Tian sudah meninggal!


Dalam hitungan menit, tempat yang tadinya sepi kini ramai oleh raungan sirene ambulans yang membawa mayat Tian. ****

__ADS_1


__ADS_2