
Tika memeriksa kembali satu persatu barang yang di kemas oleh karyawan butik nya. hari ini adalah pengiriman barang pesanan beberapa toko langgananya.
Setelah yakin bahwa semua sesuai dengan catatan pesanan. Tika menyuruh pekerjanya untuk memberi label alamat sesuai tujuan.
Sekarang tinggal menunggu jasa pengiriman paket langganan nya untuk menjemput barang.
Tiba- tiba sepasang suami istri datangbke butik.
Mereka melihat beberapa jenis pakaian yang di pajang. Sang istri begitu tertarik pada salah satu model baju yang di pajang pada manekin
" Dek yang ini berapa ya?" seraya mengusap baju yang di manekin.
" 700 k, bu" sahut Rita.
" Kok mahal amat sih, gak kurang lagi dek,"
" Maaf bu, udah harga pas itu. Sudah diskon itu bu, karena lagi promo. Harga normal 1 jt, bu."
"Ambil ini aja ya, bang. Aku suka bahan dan modelnya.," bisik perempuan itu sama suaminya.
" Kemahalan itu, dek. cari yang lebih murah kenapa. Makanya abang nolak kau ajak ke sini." bakas suaminya. Sang istri kesal mendengar jawaban suaminya.
" Gimana bu, gaunnya jadi gak?" ujar Rita ramah. Sang suami terdiam sejenak, kalau gak di ambil istrinya bakal ngajak perang kalau permintaanya di tolak.
Tapi di penuhi, akan menguras isi kantongnya.. Trus mamanya juga akan menuntut untuk di belikan juga.
" Masih bisa kurang lagi gak dek," tawar si suami.
" Aduh maaf ya pak, sudah harga pas itu.,"
Tawar menawar itu terdengar oleh Tika, yang ruangannya cuma di sekat oleh gorden tipis transparan.
Tubuh ke dua calon pembelinya posisi membelakanginya. Sehingga Tika kurang jelas melihat wajah mereka.
Rita datang menghampiri Tika
"Bu, harga gaun ini masih bisa kurang gak?" menunjuk foto gaun dalam katalog.
"Itu kan udah harga discon, Rit."
" Iya bu, udah Rita jelasin. Tapi istrinya ngotot mau gaun ini. Suaminya kayaknya keberatan." bisik Rita. Takut terdengar pembeli.
Tika berdiri dari kursinya, hendak melihat calon pembelinya. Tapi alangkah terkejutnya Tika karena calon pembelinya adalah, Rey dan istrinya Rani.
Reaksi yang sama dengan Rey dan Rani. Hanya saja berbeda ekspresi.
Tika cepat menguasai keadaan. Seolah tak kenal dia menyapa dengan ramah. Itu sudah tuntutan pekerjaannya. Harus tetap meladeni setiap pembeli.
"Ada apa ya, pak. Apa ada masalah dengan harga produk kami." ucapnya dingin penuh penekanan.
Rey dan Rani yang tak menduga bahwa pemilik butik terkenal adalah Tika, mantan istrinya. Terkesiap!
Penampilan Tika yang elegant, cantik dan nampak segar. Setelah bercerai dengannya sungguh di luar dugaanya.
__ADS_1
Rani juga gak kalah kaget, plus malu karena suaminya ngotot minta potongan harga. Hingga pemilik butik turun tangan.
" Tika.." seru Rey dengan hati tercekat. Susah payah Rey menelan salivanya.
" Apa kabar Rey, dan kamu juga Rani?" decik Tika seraya melipat kedua tangannya di dada. Senyumnya makin melebar, ketika melihat ke dua mahkluk itu terlihat gugup.
"Ba.. baik. Kami baik- baik saja. Seperti yang kamu lihat." tukas Rani pongah. Rani memeluk lengan Rey seolah hendak melecehkan. Karena telah berhasil menghancurkan rumah tangga Tika.
Tika tersenyum sinis, dan tertawa.
" Aduh, dua tahun lebih tak jumpa, kok wajahmu begitu banyak berubah, bang Rey!" tohok Tika membuat pucat wajah Rani.
Di banding dua tahun lalu keadaan Rey memang jauh berubah. Lebih kurus dan sepertinya tak terurus. Tentu saja, Rey sekarang bukan Rey yang dulu!
"Itu gegera kau, yang mengambil semua harta suami aku."
" What? ha..ha...ha.. Kamu sangat lucu, Rani!
Aku ambil apa yang menjadi hak ku. Tapi kamu adalah seorang pencuri yang tak tahu malu.
" Ini ambil gaun ini, aku kasih gratis. Karena tiga tahun mengenalmu, kamu hidup dari hasil mencuri!" tubuh Rani bergetar mendengar ucapan sarkas Tika.
Tapi mulutnya tak bisa membalas karena Rey yang masih terpana memandangi Tika. Ternyata semua ucapannya Tika lewat begitu saja .
" Abang kenapa sih!" sentak Rani kasar karena suaminya tak membelanya sama sekali.
" Egh!
Tiba-tiba Rey ingat rekaman cctv di cafe dua tahun yang lalu. Yang sempat menyulut kemarahan dan dendam di hatinya.
Ternyata setelah dia selidiki, ternyat Tika belum menikah dengan Reni. Kedekatan mereka hanya sebatas teman. Atau bisa saja kekasih.
Mungkinkah sampai sekarang hubungan mereka masih seperti itu. Melihat aura kebahagiaan yang terpancar dari wajah Tika. Bahkan semasa mereka masih hidup bersama, Rey tak pernah melihat wajah Tika sebahagia ini.
Apakah Tika telah menemukan kebahagiaannya dengan lelaki lain. Siapa?" berbagai tanya mencecar benak Rey. Rasa sesal itu, makin melilit.
Dan bagaimanakah kabar kedua anaknya. Nadia dan si kecil yang kelahirannya tak pernah ia lihat.
Anakku lakikah, atau perempuan? Seperti siapa wajahnya?
Dua tahun lalu tak pernah bertemu. Tiba sekarang mereka di pertemukan dalam situasi seperti ini.
Dia yang dulu begitu pongah, berdusta dan menghianati istrinya. Benar- benar telah kehilangan harga dirinya.
"Bang ayo pergi dari sini," seret Rani ketika melihat suaminya yang tak hentj menatap Tika.
Rani mengerti tatapan itu adalah sebuah sesal, dan harga diri yang hancur.
Seperti kerbau di cocok hidungnya, Rey menurut saja saat Rani membawanya keluar dari toko butik itu.
" Bang! Kamu ini kenapa sih. Nyesel ya, bercerai dengan istrimu itu. Masih cinta ya, jangan harap dia mau balik sama kamu lagi!"cerocos Rani keki.
"Kamu bisa diam gak! Dasar mulut bawel," maki Rey meninggalkan Rani dengan langkah panjang.
__ADS_1
" Bang! Tunggu bang." teriak Rani kesal. Sambil berlari mengejar langkah suaminya.
Huh! benar -benar sial, gaunnya gak jadi kebeli.
Malah ketemu mantan istrinya. Rutuk hati Rani.
Kok bisa- bisanya tadi masuk ke butik itu. Tau itu butik si Tika, gak sudi masuk ke sana.
Sesampai di rumah Rani masih saja merutuk oanjang pendek. Karena acara belanjanya jadi kacau gegara pertemuan dengan Tika.
Padahal semua ini sudah lama dia rencanakan. Rey selalu mengulur waktu, karena memang tidak punya uang. Sekalinya suaminya mau, eh malah kejadian ini yang terjadi.
Melihat kepulangan mereka yang lebih cepat bu Hesti mengernyitkan keningnya, heran.
Heran melihat anaknya Rey yang langsung masuk kamar. Sementara Ranj uring- uringan.
" Kalian itu kenapa, pulang kok seperti orang kecopetan,"
" Anak ibu yang kecopetan, oleh mantan istrinya!"
sembur Rani meradang.
" Eh, ngomong yang sopan sama orang tua, ya," sentak bu Hesti yang tidak suka nada bicara Rani.
Rani cuek saja, memasang wajah juteknya.
" Kamu itu cerita yang jelas, bukan marah gak tentu arah," lalu Rani cerita tentang kejadian di butiknya Tika.
" Apa? Kalian bertemu Tika. Di mana. Bagaimana kabarnya sekarang?" Rani terkejut melihat reaksi mertuanya.
Dia tak menyangka mertuanya akan senang mendengar kabar itu. Padahal Rey sudah bercerai dengan Tika.
Dan Tikalah penyebab mereka hidup menderita, karena menang di pengadilan. Semua harta suaminya jatuh ke tangan Tika.
Sama seperti reaksi suaminya, yang menatap Tika tanpa berkedip telah membuat hatinya di landa cemburu.
Apa suami dan mertuanya, merencanakan sesuatu, di belakang Rani. Eist! Tunggu dulu! Tak semudah itu ya, bermain di bekakangku.
Aku bukan Tika, yang begitu mudah kalian cekoki. Aku Rani, aku akan membalas kalian jika berani menghianatiku. Lihat saja nanti!
" Mama kok, bahagia sekali mendengar kabar itu. Tanpa peduli perasaan , Rani,"
" Tika itu memang mantan menantu mama. Tapi anak- anaknya adalah cucuku. Aku kecewa sama kamu. Lima tahun pernikahanmu dengan Rey gak juga ngasih mama, cucu. Kamu itu perempuan, mandul!"
"Harusnya kamu itu yang cerai dengan Rey, bukan Tika!"
Deg! Jantung Rani seolah berhenti berdenyut. Kata itu terlalu tajam menusuk tepat di ulu hatinya.
" Oh, jadi sekarang mama nyesal ya, punya mantu seperti aku. Bukannya Mama juga sekongkol, menyembunyikan pernikahan kami. Dasar orang tua serakah. Tak tahu malu" ceracau Rani melempar apa saja yang dia lihat di atas meja.
Rey yang tengah merenung di kamar. Terkejut mendengar keributan di ruang tamu. Bergegas ia keluar dan alangkah terkejutnya, saat dia lihat mama dan istrinya bergumul di lantai.***
bersambung
__ADS_1