
Tap....tap......!!!!!
Langkah kaki Nadia begitu tergesa. Menyusuri koridor menuju taman bermain di belakang sekolah.
Matanya menyapu sekitar taman, mencari sesuatu. Tapi yang dia cari sepertinya tidak ada di taman.
Tadi dia juga sudah melihat ke tengah lapangan tidak ada.Ternyata di taman belakang juga sama.
Nadia terlambat masuk gegara adiknya demam. Jadi dia sama sekali belum bertemu Om Felix. Padahal ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan.
Nadia berbalik arah, hendak kembali ke ruang kelasnya.
Dan ia melihat pak Agus berjalan menuju arah gudang. Nadia mengejarnya. Dengan nafas ngos- ngosan Nadia berhasil menyusul langkah pak Agus.
" Pak Agus!" panggil Nadia setelah tiba di belaka
ng pak Agus. Pak Agus terkejut dan keheranan. Tumben Nadia mencarinya.
" Ada apa, Nadia?
" Om Felix mana ? Kok gak keliatan?"
" Om Felix siapa maksudnya, nak?" kernyit pak Agus heran.
"Satpam baru kita, pak." seru Nadia .
" Hari ini tidak masuk nak. Memang mau perlu apa, sama Om Felix?:
" Ada deh," tukas Nadia ketus. Langsung balik lagi
dengan langkah gontai.
Pak Agus menatap Nadia sedih. Bocah kecil yang akrab dengan Rey, beberapa hari ini.
Sama sekali tidak menyadari kalau satpam yang ia cari itu adalah ayahnya sendiri. Ayah yang telah
terpisah darinya tiga tahun lalu.
Mungkin karena ikatan darah diantara keduanya, yang seolah menuntun Nadia akrab dengan satpam sekolahnya.
Kalau saja Nadia tau siapa sebenarnya satpam Felix, Nadia tidak akan pernah mau di sapa oleh Rey.
Karena itulah dia menyembunyikan identitasnya pada Nadia. Dan selalu memakai masker, agar Nadia tidk mengenalinya
Kemarin Rey telah bercerita tentang hubungan
nya dengan Nadia. Nadia adalah putrinya yang ia sia- siakan hidupnya.
Pak Agus sama sekali tak menduga kisah yang di tuturkan oleh Rey. Persis seperti kesalahan yang ia lakukan di masa lalunya, dulu.
Pak Agus juga kehilangan seluruh keluarganya akibat perbuatannya dulu.
Tadi Rey menelepon kalau hari ini tidak masuk kerja karena ibunya sakit. Sejak Rani isrti Rey kabur dai rumah, keadaan rumah tangganya makin kacau.
Ke esokan harinya di sekolah Nadia,
TK ST BERNADETTA.
Tanpa menunggu papanya membukakan pintu seperti biasanya. Nadia langsung berlari menghampiri Rey, yang telah berjaga di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Reno dan Tika saling tukar pandang. Merasa aneh dengan polah Nadia yang tidak seperti biasanya.
Setelah tiba di gerbang, Nadia langsung menyapa Rey, dan menyalaminya. Reno dan Tika mengikuti dari belakang.
" Om Felix kenapa tidak datang semalam? Sakit ya?" seru Nadia. Dengan kerjab mata seindah kejora di mata Rey.
"Tidak Nana, Om ada urusan kemarin," Rey melihat langkah Tika dan Reno semakin dekat ke arah mereka.
Rey tak ingin Tika dan Reno curiga padanya. Rey bersikap wajajr seperti biasanya. Karena Rey juga kaget ketika melihat Nadia yang tergopoh berlari menemuinya.
Tika melempar senyumnya, membuat hati Rey tercekat.
"Duh, Nana . Segitu gak sabarannya mau menyapa bapak," ucap Tika. Rey menganggukkan kepalanya.
" Katanya bapak sering mendongeng sama Nadia,
baru sehari saja tak cerita Nadia sudah heboh," celetuk Reno.
" Iya pak." Rey hanya bisa berucap itu. Takut mereka mengenalinya. Jadi dia harus menjaga sikap.
" Terima kasih ya, pak. Telah menjadi teman Nadia di sini. Saban hari Nadia selalu cerita soal bapak" timpal Tika.
Rey menatap mantan istrinya itu sekilas. Lalu mengalihkan matanya ke arah anak- anak yang telah berdatangan.
Kali ini penampilan Tika agak berbeda. Biasanya Tika selalu memakai pakaian meskipun tidak ketat. Tapi memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Wajah Tika nampak lebih berisi dengan pipinya yang ranum. Baju yang ia kenakan agak longgar dan di bagian perutnya agak menonjol.
Tika memang tengah hamil!
" Kami permisi ya, pak. Nana, masuk ke kelas nak." Nadia berlari menuju kelas di ikuti pandangan mata Reno dan Tika.
Mendadak Bimo meronta hendak turun dari gendongan Reno. Reno menurunkan Bimo. Begitu menjejak tanah, Bimo lari ke arah Rey yang masih berdiri di gerbang.
Rey tersentak kaget karena tiba- tiba saja Bimo telah berdiri di depannya.
" Celamat pagi, Om." Bimo mengulurkan tangannya dan dengan ragu Rey menyambut uluran tangan itu.
Rey merasakan seolah di aliri listrik saat menyentuh tangan Bimo untuk pertama kalinya.
Dia coba bertahan sekuatnya agar tak limbung.
Untunglah Reno menyusul dan kembali menggendong Bimo.
"Maaf ya pak, Bimo telah mengganggu," ucap Reno.
" Eh, tidak apa- apa, pak. Mungkin dia heran saja dan ingin tahu," sahut Rey sedatar mungkin. Dan susah payah tertawa.
"Iya pak, maklum anak kecil." Reno bergegas pergi. Dan menyusul Tika, yang sudah berdiri di dekat mobil.
"Aduh, Bimo. Kok ikutan nyalam. Pengen sekolah ya ,kayak kak Nana."
" Iya ma, Bim mau cekolah," ucap Bimo lucu. Tika dan Reno tertawa.
"Sabar ya sayang. Tunggu Bimo besar dulu,"
"Iya ma"
" Yuk kita pulang. Hati- hati sayang" Reno membukakan pintu untuk Tika. Meletakkan tangannya di atas kepala Tika, melidunginya. Dan masih sempat juga mengelus bagian perut Tika, yang membuat senyum Tika berderai.
__ADS_1
Semua adengan itu di lihat Rey dari kejauhan. Terpaksa ia harus melihat kemesraan mantan istrinya Tika, setiap pagi.
Karena merekalah yang mengantar Nadia setiap harinya. Kalau pulang sekolah, Nadia di antar bus sekolah.
Sepertinya ini menjadi karma baginya. Karena harus menyaksikan kebahagian mereka, karena telah ia sakiti dulu.
Anaknya sekolah di tempat ia bekerja. Dan setiap hari bersamanya tapi harus menyembunyikan keberadaan dirinya.
Saat jam istirahat.
Seperti biasanya, Nadia main ayunan di belakang posko satpam. Memudahkan Rey menjumpainya tanpa harus meninggalkan poskonya.
Tempat bermain sebenarnya ada di tengah lapangan. Tapi suasananya sangat ramai. Nadia hanya sekali- kali bermain ke sana. Kalau ada temannya yang mengajak.
Sepertinya Nadia sifatnya pendiam dan suka menyendiri. Dia jarang bermain bersama teman teman sekelasnya.
Seperti siang ini, Nadia lebih memeilih main ayunan lagi di sana. Rey datang menghampirinya.
" Selamat siang Nana,"
" Eh, om Felix." Nadia kegirangan melihat Rey.
"Kenapa gak main di sana, di sini kan sepi," tegur Rey.
" Di sana berisik om. Nana gak suka. Nana.lebih suka di sini. Adem!" tempat Nadia bermain memang terasa sejuk karena di bawah naungan pohon tua, yang rindang.
Hanya karena letaknya di pojok anak-anak lebih suka main di tengah lapangan.
" Om mau lihat gak. Gambar Nana,"
" Gambar apaan, om jadi penasaran," Rey duduk di ayunan di sisi Nadia. Nadia mengeluarkan kertas dari kantong rok nya. Di berikannya lembar kertas itu.
Rey menerimanya dengan penasaran. Rey melihat gambar itu dengan wajah muram. Bukan karena iri saat melihat gambar itu adalah gambaran keluarga utuh Nadia.
Dia sangat, sangat sedih ketika di pojok kertas ada gambar hitam yang di beri namanya, Rey.
Seperti gambar inikah keberadaan dirinya di hati Nadia. Itu memang sudah sepantasnya!
"Bagus gak Om," tanya Nadia karena Om Felix terlalu lama memandang gambar itu. Tanpa memberi komentar.
" Bagus Nana, sangat bagus. Pintar juga kamu menggambar ya. Ini kenapa ada satu di sini," tanya Rey menujuk gambar yang di warnai hitam.
Rey begitu penasaran akan jawaban Nadia!
"Itu papa Rey! Papa yang selalu buat mama nangis. Tapi sekarang sudah ada papa Reno. Papa Reno sangat sayang sama mama. Dan selalu buat mama tertawa.
Papa Reno juga sayang Nana dan Bimo. Nana juga sayang papa Reno." bak ada berjuta jarum menusuk hati Rey. Saat melihat ekspresi Nadia bercerita.
Saat menyebut namanya dengan Reno, jauh sekali perbedaan bahasa tubuh yang ia tunjukkan.
" Papa Rey nya ke mana?" pertanyaan yang amat Rey sesalkan kemudian. Karena akan menyeret ingatan Nadia pada kenangan masa kecilnya. Tapi terlanjur sudah. Jawaban Nadia sangat menohok jantungnya.
" Papa Rey pergi, bersama tante Rani. Papa jahat, memukul mama. Untung ada papa Reno. Kami pindah dan papa Rey hilang," bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Buru- buru Nadia beranjak.
" Udahan dulu ceritanya ya, Om. Nana masuk dulu," Rey menatap punggung Nadia dengan mata berkabut. Di usapnya wajahnya dengan pikiran yang tak tentu arah.
"Tuhan sedemikian dalamnya aku telah menyakiti hati anakku. Anak yang seharusnya ceria tanpa di benani sebuah cerita kelam yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
Dengan apakah aku bisa menebus ke salahan yang telah aku perbuat itu. Aku rela seandainya nyawaku jadi tebusan atas kesalahanku itu." ****
__ADS_1
Hai pembaca setiaku, apa kabar semuanya. Mohon like dan sharenya. Juga komennya. Yang banyak- banyak ya. Biar thor makin semangat up nya.
Sehat" kita semua ya. Horas.....!!!