Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
24


__ADS_3

Tika berdiri di jendela, menghadap ke hijaunya hamparan sawah. Ucapan Nadia begitu dalam menusuk hatinya. Dia merasa begitu egois karena telah merampas dunia anaknya.


Sekuat hati Tika menahan tangisnya, sampai dia merasa bibir bawahnya sakit karena di tekan giginya.


Tiba- tiba terdengar suara ketukan pintu. Tika mengusap air matanya. Dia tak ingin orang lain melihatnya menangis.


" Boleh aku masuk, Tika?"


Deg! Itu suara Reno? Pintu memang tidak di kunci, ketika Tika menoleh ke arah sumber suara.


Sosok Reno terbingkai di pintu kamar. Tika menganggukkan kepalanya. Lalu pandangannya kembali ia arahkan keluar jendela.


"Ada apa Tika? Pertanyaan Nadia adalah hal yang wajar. Seharusnya kamu jawab apa adanya, sehingga Nadia tidak bingung."


"Maafkan aku Pak Reno. Aku hanya belum siap saja."


" Aku mengerti perasaan kamu. Kamu dan Nadia butuh waktu beradaptasi. Dan percayalah semua ini pasti berlalu, oke. Kamu harus kuat untuk anak-anakmu. Aku percaya kamu pasti bisa!" dengan lembut Reno memberi semangat untuk Tika. Tika menunduk meresapi kata demi kata yang di ucapkan Reno.


"Tika, " panggil Reno lirih. Tika menoleh ke arah Reno. Kembali pandangan mereka bertaut. Buru- buru Tika mengalihkan pandangannya. Karena ia tak mampu menatap mata itu. Mata yang selalu teduh setiap kali memandangnya.


Selalu mencoba memberinya kekuatan. Terkadang ia malah ingin berenang di keteduhan mata itu, melupakan sejenak semua ke sedihan di


hatinya. Tapi...


Tiba- tiba saja tangan Tika telah ada dalam genggaman tangan Reno.Tika kaget dan berusaha melepas tangannya dengan halus. Tapi genggaman tangan Reno makin kuat. Terpaksa Tika kembali memandang mata Reno, dengan sorot mata pertanyaan.


" Aku siap menjadi pengganti ayah untuk Nadia.


Juga untuk anak yang masih dalam kandungan


mu. Terus terang kehadiran kalianlah yang memberiku kekuatan bertahan. Kita akan saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.


" Egh..A..ku," kata- kata Tika tercekat di tenggorok


kannya. Dia tak menyangka Reno akan mengungkapkan perasaannya secepat itu.


" Kamu tak perlu menjawabnya sekarang ,Tika. Aku hanya ingin kamu tau, perasaanku selama ini


padamu." tatap Reno penuh harap.


" Maafkan aku, pak Reno,"


" Tika, tidak bisakah kamu panggil namaku saja. Tanpa embel- embel kata pak!" seru Reno agak kesal.Tika jadi tersenyum melihat tingkah Reno yang merajuk.Reno senang melihat senyum itu.


" Maafkan aku Reno, aku masih butuh banyak waktu untuk semua itu."


"Tidak apa, aku akan menunggumu, Tika. Sampai kamu yakin untuk membuka hatimu untukku. Aku hanya ingin kamu mau memberiku kesempatan untuk menunjukkan perasaanku padamu."

__ADS_1


"Terima kasih, untuk semua kebaikanmu, ya. Aku telah banyak membebanimu, selama ini,"


" Jangan berucap seperti itu, Tika. Justru aku yang begitu bersyukur, telah bertemu kamu. Karena aku merasa hidup lagi, setelah mengenalmu. Bolehkah aku memelukmu, Tika," belum sempat Tika menjawab, tiba-tiba tubuhnya


telah berada dalam dekapan Reno.


Tika merasakan degug jantung Reno yang berde-


tak kencang saat dalam pelukannya. Kehangatan tubuhnya, seolah memberi kekuatan pada Tika. Setelah beberapa menit, mereka dalam posisi berpelukan, Tika mengurai pelukan Reno.


Tika tak ingin Nadia tiba- tiba melihat mereka.


" Sekarang kita sarapan, ya. Aku takut Nadia menghabiskan jatahku," kelakar Reno membuat tawa Tika berderai. "Aku suka mendengar tawamu itu, Tika. Aku berharap sejak sekarang tawa itu selalu hadir menemaniku," tatap Reno lekat ke wajahTika. Membuat semburat merah mewarnai pipinya yang ranum.


"Iya, aku juga takut. Soalnya Nadiakan memang doyan arsik ikan mas, ha..ha.." sahut Tika mengalihkan suasana. Tika tak menyangka kalau Reno sebucin itu. Lama-lama aku bisa lumer kayak es krim, siapa yang tahan!


Berdua mereka jalan beriringan kembali ke meja makan. Kelakar Reno terbukti, Nadia sudah duluan makan, di suap bi Risma.


" Maaf nak Reno, Nadia minta makan duluan."


" Gak apa- apa bi, "


"Tapi..." bi Risma tak melanjutkan ucapannya. Membuat Reno dan Tika merasa heran.


"Itu lo nak Reno, Nadia sudah ngabisin, telor ikan masnya,"


yang keheranan.


" Mamah sama Om Reno napa tawa," cebik Nadia. Tapi Bibi Risma senang melihat mereka bisa tertawa lepas. Dan berharap semoga di suatu hari keduanya menjadi pasangan suami istri.


" Gak apa-apa kok sayang, Om senang lihat Nadia makannya lahap." jelas Reno masih dengan tawanya, hanya saja tidak sekeras tadi. Dia merasa lucu, kelakarnya sama Tika jadi kenyataan. Reno memang paling suka sama arsik ikan mas yang ada telornya.


Makanya dia selalu meminta Bi Risma kalau masak arsik ikan mas, ikannya sudah bertelur. Tak di sangka ternyata Nadia juga doyan..


" Tadi ikannya yang bertelor cuma satu, nak Reno."


" Gak apa- apa kok Bi. Selama ini saya gak ada lawan. Sekali dapat lawan gak tanggung- tanggung." semuanya jadi tertawa.


" Oh, ya. Aku berangkat dulu. Mungkin dua tiga hari aku balik lagi kesini," pamit Reno setelah mereka selesai sarapan. Tika mengantar sampai


pintu. Reno senang saat Tika mau mengantarnya sampai pintu.


Dengan bersiul kecil, Reno masuk ke dalam mobil


nya. Lalu melambaikan tangannya. Tika membala


s lambaian itu. Rasa bahagia itu terus terbawa hingga Reno berada di kantornya.

__ADS_1


Sehingga anak buahnya berbisik- bisik di belaka- ngnya. Karena sejak kematian istrinya, baru kali ini mereka melihat atasannya begitu bahagia.


" Sepertinya pak Reno sedang jatuh cinta nih,"


bisik Sinta pada rekannya Murni.


" Iya juga kali. Aku jadi penasaran seperti apa perempuan yang bisa memikat pak Reno." balas Murni.


" Hei pada ngapain bisik- bisik" celetuk Aga, saat


melihat rekan- rekannya bergossip.


"Tuh liat, pak Reno gak seperti biasanya," unjuk Sinta ke ruangan Reno.


" Apanya yang gak seperti biasanya. Perasaan si Bos baik- baik saja." tukas Aga, dia justru merasa heran kenapa rekannya membicarakan si Bos.


" Dasar gak peka." cebik Murni kesal. Aga jadi makin heran melihat tingkah rekannya.


" Masak kamu gak tau sih membedakannya." Sinta juga ikutan kesal karena Aga telat mikir.


" Hem..Apa karena si Bos bersiul- siul, apa salahnya?" beliak Aga makin heran. membuat Sinta dan Murni juga makin gondok.


" Ya udah sana, jangan suka nimbrung pembicaraan orang kalau gak nyambung," Sinta mendorong Aga biar pergi ke mejanya. Susah banget ngajak orang bicara tapi gak nyambung.


Aga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang aneh kalau nimbrung sama cewek- cewek. Salah sedikit langsung kena bully.


Tapi Aga malah jadi kepikiran, memang apa yang aneh dengan si Bos.


Hari sudah gelap ketika Reno keluar dari ruangannya. Reno melirik jam di atas mejanya, 19;30. Reno kaget karena lupa waktu. Reno sedang menyelesaikan beberapa berkas penting. Sekarang baru terasa lehernya kaku.


Tadi anak buahnya sudah pada pamit, tapi Reno gak sadar kalau jam kerja sudah berakhir. Sempat tadi Sinta mengingatkan. Tapi di acuhkannya.


Reno mengambil gawainya yang tergeletak di atas meja kursi tamu dalam ruanganya. Saat dia membuka aplikasi berlogo telepon hijau, berpuluh notifikasi masuk. Reno memfilter notif yang masuk. Ada beberapa dari Tika.


" Jangan lupa makan siang, biarpun telat." disertai emotion senyum.


" Kalau bang Reno balik lagi, tolong belikan mangga arum manis ya,"


" Bang Reno," Reno tersenyum membaca kedua kata itu. Kata itu telah menerbangkan angannya melantur lebih jauh.


" Maaf ya, baru buka wa. Makan siangnya udah telat, dobel ke makan malam saja, 🤣"


" Makasih ya, telah memberiku panggilan spesial, nanti akan kubawa mangganya se struk, 🤣😍"


Kutunggu beberapa menit balasannya tak ada. Karena memang wa tak aktif. Tak apalah nanti juga pasti dia lihat.


Aku bergegas meninggalkan kantor. Menuju rumah ke dua orang tuaku. Sudah hampir satu bulan aku tak pernah pulang, karena kesibukan

__ADS_1


ku mengurus kasus Tika. *****


__ADS_2