Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
41


__ADS_3

Setelah kepergian Sherly, Reno menatap istrinya dengan penuh pertanyaan. Dia tau istrinya cemburu atau curiga sehingga mendatangi ke kantor saat jam kerja.


"Mama meragukan papa, ya?" yang di tatap menunduk sambil memainkan jemarinya. Sejujurnya Tika tak ingin melakukan semua itu.


Dia yakin kalau suaminya tidak akan berpaling. Tapi nalurinya yang berkata, dia tak boleh percaya begitu saja.


Mengingat masa lalu yang dia alami, Tika tak ingin semua itu terulang lagi. Dia harus lebih peka. Mengendus apa suaminya ada main di luaran atau sebaliknya apa ada orang yang mengincar suaminya.


Ternyata saat dia selidiki, informasi yang ia terima. Ada seseorang dari masa lalu suaminya. Yang mencoba hadir kembali dalam kehidupan suaminya.


Sungguh suatu kebetulan. Suaminya menangani


kasus perceraian, mantan pacarnya. Dan gelagat dari sang mantan sangat mencurigakan.


Hal itu terbukti saat saat Tika mampir ke kantor suaminya. Dia melihat suaminya ada dalam ruangan bersama mantannya itu.


Memang sih mereka gak ngapa- ngapain saat Tika hadir. Sita juga lapor, kalo suaminya lagi sibuk dengan laptopnya.


Tapi kan, mau apa coba niatnya. Kalau bukan mau menggoda. Sudah tau calon janda, datang ke kantor suaminya dengan dandanan seksi. Lebih tepat di sebut kurang bahan.


Badannya aja sudah sesak mau keluar dari pakaian yang ia kenakan.


Sita tadi sempat menyinggung tanda di leher suaminya.Dan Sherly menanyakan tanda itu secara vulgar pada suaminya.


Apa sopan ya, menanyakan hal privasi begitu. Secara ia sudah wanita dewasa dan pasti faham urusan ranjang.


Itulah latar kenapa saat tiba tadi, Tika langsung mencium bibir suaminya sekilas. Hanya untuk menunjukkan rasa kepemilikannya pada suaminya. Di hadapan Sherly!


Meski terasa tak sopan, Tika merasa berhak melakukan itu. Buktinya, Sherly ke buru pamit. Entah dengan pikiran apa berkecamuk di benaknya.


" Hem, di tanya malah meng halu," sentuh Reno pada jemari istrinya. " Mama cemburu ya? Aduh, gimana ini." Reno menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.


" Papa gak selingkuh kan, sama Sherly?!" tatap Tika mencari kejujuran di mata suaminya.


" Sayang, dia itu cuma masa lalu papa. Hanya sebuah kebetulan saja aku yang dia tunjuk menangani kasus perceraiannya. Tadinya aku bahkan tak kenal sama sekali. Karena nama dan wajahnya sudah jauh berbeda dari yang aku kenal dulu."


" Lagi pula istriku nih, jauh lebih segalanya dari dia. Papa itu udah cinta mati deh sama mama,"


" Ih, lebay. Gombal!" Tika melengoskan pandangannya ke luar ruangan. Mulutnya sengaja di buat mengerucut. Reno tau sikap manja istrinya.Dia tersenyum menanggapi tingkahnya.


"Sita....!" teriak Reno tiba-tiba. Tak butuh tempo banyak, Sita sudah muncul.


" Iya pak, ada apa apa?" Sita tampak kaget, takut terjadi sesuatu pada pasangan ini.


" Tolong bawa Bimo keluar. Dan kalian istrihat dulu. Tapi ingat, jaga Bimo ya, jangan sampai lecet." hardik Reno pura- pura.


Untunglah Sita tanggap. Sita langsung mengajak Bimo ke luar. Tak perlu ada drama pembujukan, Bimo langsung lengket sama Sita. Karena memang sudah akrab.

__ADS_1


Sita faham pasti bosnya ada urusan dengan istrinya makanya mereka di ungsikan. Hem, seperti ini ya, drama rumah tangga. Ha.. ha...Sita tertawa dalam hati.


Reno mengunci pintu ruangannya. Melepas dasi dasi dari lehernya. Dan membuka kancing kemejanya . Tika melongo, melihat suaminya karena mengosongkan ruang kantor.


Mau apa coba! Apa suaminya mau marah. Karena ulahnya tadi. Kok suaminya melepas jas, dasi dan kancing kemejanya.


Reno menghampiri istrinya dengan wajah yang di stel sesangar mungkin. Tentu saja Tika kaget. Selama ia kenal suaminya, belum pernah menampakkan mimik seperti itu.


Tika beringsut di sofa. Menatap wajah Reno yang jaraknya beberapa inci saja dari wajahnya. Deru nafas Reno menyapu seluruh wajah Tika.


Pandangan mata Reno kian meredup, tanpa ba bi bu, langsung mema*** bib** istrinya. Tika kaget dan tak bisa mengelak dari hukuman suaminya.


Tika tersenggal hampir kehabisan nafas saat melepas ci**an suaminya yang dalam menuntut.


"Ih, apa- apaan sih ,pap." lenguh Tika saat terlepas dari hukuman itu.


" Masih meragukan papa kah, ma? Papa cuma cuma sayang dan cinta sama mama," Reno merahup tubuh istrinya dalam rangkulannya.


Tika tersenyum manis, sangat manis malah. Di tatapnya wajah suaminya dan turun ke leher. Tika melihat tanda merah di leher suaminya.


Dia tersenyum geli ingat melakukan tanda itu saat suaminya tertidur. Tika mengulurkan tangannya, mengelus tanda itu. Kini dia malu telah melakukan itu.


" Mama terlalu ya pa?" ucap Tika dengan wajah memerah.


" Hem, karena itu papa menghukum mama."


" Bukan, memang sudah waktunya kok jam istrihat. Ayo, mam. Papa udah lapar nih."


"Bukannya udah kenyang?" goda Tika.


" Kenyang apaan, hukuman mama yang sebenar


nya nanti, ya." gelak Reno menatap istrinya mesra. Hampir saja Reno tadi melahap habis istrinya kalau saja tak ingat lagi di kantor.


***


Siang itu di sekolahnya Nadia.


Cuaca sangat panas! Hampir satu bulan hujan tak turun. Gerah dan kepanasan Rey membuka topi dan maskernya.


Beberapa menit lagi sekolah akan bubar. Bus sekolah sudah parkir di pintu gerbang. Rey mengipas tubuhnya dengan topi.


Rey tak menyadari kalau sedari tadi Nadia telah berdiri di belakangnya. Menatap tubuhnya dengan tatapan tak percaya. Langkahnya mundur seketika.


Tadi, Nadia bermaksud memberi salam sama om Felix. Tapi sangat terkejut saat melihat sosok itu seperti seseorang yang ia kenali.


Langkah Nadia mendekat, memastikan kalau dia tidak salah lihat. Saat itulah Rey menoleh ke arah Nadia.

__ADS_1


" Papa Rey?" beliak Nadia kaget dan langsung berbalik arah. Sekujur tubuhnya gemetaran. Papanya ternyata om Felix? Papanya gang selama ini menghilang entah ke mana. Ternyata ada bersamanya menyaru sebagai orang lain.


" Nadia!" suara Rey tercekat saat melihat langkah kaki Nadia berlari ke arah bus sekolah. Rey mengejarnya tapi langkahnya terhenti begitu dia melihat anak- anak lain sudah bubar.


Dan tugasnya menuntun mereka masuk satu per satu ke dalam bus. Supaya tidak terjadi rebutan kursi dan saling dorong.


Sambil menuntun anak-anak masuk, mata Rey mencari sosok Nadia. Iya yakin Nadia tidak sedang baik- baik saja. Rey sangat mencemaskan itu. Nadia pasti sangat terpukul,


Saat ia tau kalau om Felix yang ia kenal selama ini sebagai satpam di sekolahnya. Ternyata adalah papanya sendiri.


Rey menemukan Nadia di kursi paling depan, di belakang supir. Dia melihat putrinya menangis. Ingin rasanya dia menghampiri putrinya, meminta maaf dan memeluknya.


" Pak, semua sudah bereskan," tanya pak supir pada Rey. Rey mengacungkan jari jempolnya. Dan menatap sekali lagi ke arah Nadia, sebelum turun dari bus.


Bus bergerak pergi, membawa Nadia dan teman lainnya ke rumah masing-masing. Perasaan Rey tak menentu. Dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dia membayangkan, besok Tika akan muncul di sekolah dengan wajah murka. Mengusirnya dan memberhentikan pekerjaanya.


Rey tidak takut bila harus kehilangan pekerjaan nya. Yang paling ia takutkan adalah bila tak sempat menyapa Nadia lagi. Menjelaskan semua


nya. Dan terlebih meminta maaf padanya.


Rey tak akan bisa memaafkan dirinya bila terjadi sesuatu pada Nadia.


Pak Agus sangat heran melihat sikap Rey tiba- tiba berubah. Pak Agus tidak melihat kejadian tadi karena tengah menutup ruang kelas.


" Ada apa nak Rey. Kok tiba-tiba lemas begitu?"


" Nadia pak. Nadia telah tau siapa saya yang sebernarnya." Rey mengusap wajahnya dengan pikiran kalut.


"Apa yang harus saya lakukan pak. Aku takut Nadia tak mau melihatku lagi. Atau ia akan pindah dari sekolah ini,"


" Sabar nak Rey, semoga apa yqng kamu takutkan itu tidak terjadi. Pasrahkan semuanya pada Tuhan." ucap pak Agus seraya menepuk bahu Rey, seolah mau memberi kekuatan.


Pak Agus seolah melihat dirinya semasa muda dalam diri, Rey. Kesalahan sama yang ia lakukan dulu. Menghianati istri dan keluarganya.


Yang berujung sangat fatal. Dia harus kehilangan anak dan istrinya dalam kecelakan itu, tiga puluh tahun yang lalu.


Istrinya memergokinya selingkuh, dan pergi meninggalkan rumah. Dengan pikiran kalut dan terluka, saat itu istrinya mengendarai sepeda motor. Dan kecelakaan itupun terjadi.


Semua gara- gara ulahnya yang tidak setia. Sebuah penyesalan yang ia sesali seumur hidupnya. Dia tak sempat meminta maaf. Hatinya hancur saat melihat orang yang sangat ia cintai pergi dengan cara seperti itu.


Sejak kejadian itu, pak Agus tak oernah nenikah lagi. Ia ibgin menebus semua kesalahannya itu, denga hidup sebatang kara.


Dan kini dengan cerita yang sama tapi versi yang berbeda, pak Agus melihat lagi cerita itu. Cerita tentang ke tak setiaan seorang suami.***


bersambung.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, 🙏🙏


__ADS_2