Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
46


__ADS_3

Bimo tengah bermain bola di halaman, sendirian. Bu Nita mengawasi dari teras. Sementara itu dua orang tengah mengawasi gerak gerik, Bimo yangbtengah bermain bola sendirian. Mereka adalah orang suruhan Rani. Alex dan Dody


Sekali, bola Bimo menggelinding ke arah pintu gerbang. Bimo mengejar bolanya itu. Hingga ke pintu gerbang.


Bu Nita tak menyadari kalau Bimo telah mengejar bolanya ke pintu gerbang.


Kedua orang yang berada di balik pintu gerbang menyapa Bimo.


" Hai nak sini. Mau permen gak," tawar salah satu dari mereka. Bimo mendekat ke pintu gerbang sambil memegang bolanya.


" Ayo sini nak, lebih dekat." bujuk mereka. Bimo yang merasa tak kenal menjadi bingung.


" Oppung....! Ada olang di lual," teriak Bimo dengan logat cadelnya. Bu Nita yang mendengar teriakan Bimo bergegas mendekati pintu gerbang.


Kedua orang suruhan Rani, kaget. Saat mendengar teriakan Bimo. Mereka bersembunyi di balik tembok.


"Bim.., sini!" seru Bu Nita seraya melambaikan tangannya. Bimo berlari ke arah Bu Nita.


" Ada olang di lual, mau kasih pelmen, ama Bim," rajuk Bimo.


" Siapa?" Bu Nita bergegas ke arah pintu gerbang yang terkunci. Bu Nita memeriksa sekeliling, tapi tak ada orang sama sekali.


" Gak ada siapa- siapa Bimo. Ayo, masuk ke rumah." ajak bu Nita pada cucunya. Bu Nita heran dengan ucapan Bimo.


Dan merasa khawatir!


Malam harinya Bu Nita menceritakan kejadian siang tadi pada Reno.


" Reno, baiknya di rumah ini di pasang aja cctv. Juga satpam. Untuk menjaga keamanan rumah ini."


" Bukannya lingkungan kita cukup aman,ma. Kan ada satpam yang jaga di gerbang komplek," Reno merasa heran mendengar saran mamanya.


" Apa ada yang terjadi di komplek kita ini, ma?" timpal Tika serius.


" Gak ada juga, sih. Hanya saja tadi siang, Bimo bilang ada orang asing yang mau ngasih permen samanya. Untung Bimo gak mau. Bimo langsung


lapor sama, mama. Cobab kalo Bimo mau dan menerima ajakan mereka.


Mama curiga pasti niatnya gak baik. Saat mama periksa orangnya gak ada." jelas Bu Nita.


" Aduh, gitu ya ma. Gimana ini pa?" Tika menatap suaminya Reno dengan cemas.


" Saran mama bagus juga. Untuk keamanan rumah kita, sudah sebaiknya di pasang cctv." angguk Reno.

__ADS_1


" Iya lho pa, saat sekarang penculikan anak- anak lagi marak. Mama jadi khawatir sama Nadia."


" Ma, mama jangan terlalu khawatir. Gak bagus untuk kandungan mama. Tapi kita memang harus waspada. Besok papa akan suruh orang masang cctv. Dan mencari satpam.


Mama juga harus lebih banyak di rumah. Biar Rita aja yang ngurus butik, sementara ini."


" Baik pa. Mama akan nurut kata papa. Sekalian mama mengawasi anak- anak."


" Oke, makasih ya ma."


Sudah seminggu sejak kejadian di rumah Tika.


Cctv telah di pasang di setiap area rumah. Dan pos satpam juga telah ada. Dua orang satpam bertugas bergiliran setiap dua puluh empat jam. Keamanan terkendali, tak ada gerak gerik di luar yang mencurigakan yang di tangkap kamera cctv.


Dua orang suruhan Rani yang mengawasi pergerakan di rumah Tika, memang tak berani lagi mendekati rumah.


Mereka masih memantau dari jarak yang tidak bisa di jangkau kamera cctv. Mereka tidak berani mendekat, karena sudah ada satpam yang bertugas di rumah itu. Sepertinya mereka juga tau kalau cctv sudah di pasang. Jadi mereka takut wajah mereka terekam kamera cctv.


Kalau tadinya mereka fokus sama Bimo. Tapi saat mereka lihat masih ada anak lain yang kerap keluar rumah, karena pergi sekolah.


Mereka jadi mengubah sasaran!


Saat ini mereka ke sekolah, mengintai Nadia yang lebih memiliki peluang untuk di culik.


Orang tua yang yang mengantar hanya sampai pintu gerbang saja. Dan itupun harus melewati dua penjaga sekolah yang berdiri di kedua sisi pintu gerbang.


" Gila banget. Kalo gini terus, aku bisa stres mengintai." dengus Alex salah satu dari mereka. Saat itu mereka berjarak beberapa meter dari pintu gerbang.


" Ternyata tak semudah rencana, Rani. Tau seribet ini mèmantau dan cari peluang, mending aku nolak saja." keluh rekannya, Dody.


"Iya juga sih, tapi mengingat bayaran yang akan kita terima, siapa yang gak ngiler." seru Alex lagi.


" Yuk bubar, haus nich." seru Dody membuyarkan angan Alex soal bayaran mereka. Sementara proses mengintai saja sudah sedemikian ribetnya. Belum lagi drama penculikannya tentu akan lebih seru dan melelahkan lagi.


" Ayo, cabut!" Alex menyalakan mesin motornya. Rey yang kebetulan hendak menutup pintu gerbang, merasa curiga saat melihat pengendara motor itu.


Beberapa hari ini, dia melihat pengendara motor itu parkir dekat sekolah. Entah apa yang mereka lakukan. Tapi gerak gerik mereka cukup mencurigakan bagi ,Rey.


Rey segera memeriksa kamera cctv. Dan dia menemukan rekaman pengendara motor yang mencurigakan itu.


Hanya saja gerakan mereka cuma duduk di sepeda motor mereka dan mengamati ke arah pintu gerbang.


Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Sebagai satpam yang bertugs menjaga keamanan sekolah, mereka patut di curigai dan diwaspadai melihat gelagat mereka yang mencurigakan.

__ADS_1


" Ada apa nak Rey?" tanya pak Agus saat melihat Rey memeriksa beberapa rekaman cctv.


" Ini lo pak. Ternyata sudah hampir seminggu ini ada dua orang pengendara motor. Mereka selalu parkir di tempat yang sama dan waktu yang sama. Mereka selalu melihat ke arah pintu gerbang. Sepertinya mereka sedang menhamati seseorang." pak Agus turut mengamati rekaman cctv.


" Menurutmu apa yang mereka lakukan di sana?"


" Entahlah pak, tapi cukup mencurigakan juga. Apa mereka di suruh seseorang mengawasi saya, pak." cetus Rey.


" Maksudmu apa, ngomong begitu?"


" Siapa tau itu suruhan Tika atau Reno. Mereka takut atau masih meragukan saya soal Nadia, pak."


" Ah, gak mungkinlah nak ,Rey. Jika mereka punya pikiran seperti itu. Pasti Nadia sudah pindah sekolah."


" Iya juga sih. Lalu siapa mereka dan apa tujuan mereka mengintai di sana." timpal Rey kebingungan.


" Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Mungkin saja memang mereka itu di tugaskan seseorang mengawasi sesuatu. Kita waspada saja. Semoga saja mereka tak berniat hendak menculik salah satu siswa di sini."


" Apa pak, menculik? Kok bisa- bisanya bapak menduga begitu?" Rey kaget, tapi patut dipikirkan juga perkataan pak Agus, monolog hatinya.


" Segala sesuatu bisa saja terjadi, nak Rey. Kita harus lebih waspada mengawasi, anak-anak. Karena itu tanggung jawab kita sebagai petugas keamanan di sekolah ini."


" Baiklah pak." Rey merenungi ucapan pak Agus. Entah kenapa ia merasa was- was akan Nadia.


Mengingat akhir- akhir ini marak peristiwa penculikan anak. Jujur saja Rey ngeri mendengarnya. Karena para penculik tidak segan


untuk membunuh korbannya. Apabila tebusan yang mereka minta tidak di penuhi oleh orang tua korban.


Bahkan sudah di penuhipun mereka tetap nekad membunuh korbannya untuk menghilangkan jejak.


Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Rey dan pak Agus makin meningkatkan pengawasan. Terhadap siswa yang di antar jemput oleh orang tua.


Karena tidak semua siswa memakai jas bus sekolah untuk mengantar pulang para murid. Ada sebagian orang tualah yang mengantar jemput sekolah anaknya.


Dan sebagian lagi orang tua hanya mengantar saja. Dan saat pulang di antar bus sekolah.


Nadia salah satu yang di antar bus sekolah, saat pulang.


Selama ini memang keamanan di sekolah TK Bernadetta, cukup aman. Belum pernah ada kasus siswa yang di culik. Atau kasus lainnya yang membuat nama sekolah itu kehilangan citranya.


Jadi sudah menjadi kewajiban Rey dan pak Agus untuk menjaga keamanan di sekolah itu tetap kondusif. ********


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2