
Rey menghampiri Nadia yang tengah main ayunan seorang diri. Hati nya bergetar. Langkah nya terasa kaku dan begitu berat. Lidah nya juga begitu kelu untuk berbicara.
Hampir saja dia mau balik kagi, mengurungkan niatnya semula. Tapi terlambat!. Kehadiran nya telah di lihat Nadia.
"Om satpam mau ke mana. Sini yuk, main ayunan." ajak Nadia seraya menunjuk ayunan kosong di sisi nya.
Rey tersenyum dan perlahan menghampiri Nadia.
"Nama Om siapa? Namaku Nadia Om," Nadia mengulurkan tangannya untuk menyalami Rey. Hati Rey tercekat, haruskah ia sebut namanya yang sebenarnya.
" Panggil saja om Felix, " Rey menyambut uluran tangan mungil itu. Hampir saja Rey tak bisa menguasai emosinya. Dia ingin memeluk dan mencium putrinya yang telah ia sia- siakan selama ini.
" Om Felix sakit ya? Kok tangannya dingin?" Nadia menatap wajah Rey penasaran. Rey mengalihkan pandangannya. Dia tak mampu membalas tatapan polos itu.
Untunglah wajahnya terlindung masker, jadi Nadia tak begitu kenal wajahnya. Atau memang sudah tak mengenalnya lagi, batin Rey pilu.
Saat perceraian itu usia Nadia masih tiga tahun lebih.
" Eh, om gak sakit kok," duduk di ayunan di depan Nadia.
" Om Felix, satpam baru ya?" selidik Nadia masuh memandang wajah Rey.
"Iya, baru beberapa hari om kerja di sini."
" Om sudah punya anak?" cecar Nadia. Membuat Rey kewalahan juga dengan pertanyaan Nadia.
" Sudah, dia seusia Nadia. Namanya juga sama,"
" Oh, ya. Pasti anak om cantik dong," mata Nadia mengerjab indah membuat hati Rey makin tersayat.
" Iya benar, putri Om sangat cantik. Secantik Nadia." ucap Rey serak. Ada kabut di sudut matanya yang dengan susah payah di tahannya. untuk tak jatuh.
" Om kok sedih, kalau putri om secantik Nadia. Om harus senang dong. Sepeti mamah dan papah Nana, selalu senang karena Nana cantik," celoteh Nadia polos.
" Om gak sedih kok. Om malah senang sekali. Tadi Om terharu, karena senang kenal Nadia yang cantik dan baik hati. Om pergi dulu ya." bergegas Rey menuju toilet.
Nadia sempat bingung melihat sikap Om Felix yang misterius. Satpam baru di sekolahnya.
Sementara Rey tak kuasa menguasai emosinya.
Dia menangis di toilet, memukul tembok berkali- kali ungkapan atas sesalnya.
Dia tak menyangka pertemuan dengan Nadia sebegini menyakitkannya. Putri kecilnya dulu yang selalu meminta perhatiannya tapi jarang ia perhatikan.
__ADS_1
Setiap senyum dan kata yang ia ungkapkan, bagai ribuan jarum menusuk hatinya. Betapa sumringah ekspresi senyumnya saat menyebut kata " papah". Sebutan yang juga ia sematkan padanya dulu.
Mungkin, dia sudah lupa papah nya Rey, tergantikan oleh kehadiran Papah nya Reno. Yang memberinya limpahan kasih sayang.
Rey merutuk dirinya sendiri berkali- kali. Sesal itu makin menggerogoti. Karena setiap harinya dia akan bertemu dan menyaksikan adengan demi adengan kemesraan mantan istrinya. Tanpa bisa berbuat apa- apa.
Karena seincipun dia tak berhak untuk mendekat, sekedar menyapa. Dia malah terpaksa harus bersembunyi di balik topi dan maskernya.
Sekali Tika tau kalau dia adalah satpam di sekolah nya Nadia, kalau bukan diri nya yang berhenti. Mungkin Nadia lah yang akan pindah.
Rey benar- benar tak punya pilihan. Selain bertahan. Karena ia memang butuh pekerjaan ini.
Selama ia bisa menyimpan rahasia dirinya, selama itu mungkin dia bekerja di sini.
" Halo Om Felix, selamat pagi," sapa Nadia tiba- tiba saat masuk sekolah. Rey yang tidak menyadari kehadiran Nadia, terkejut mendengar sapaan itu.
" Selamat pagi juga, Nadia," sahut Rey menunduk menyambut tangan Nadia, yang memberi salam. Saat dia menegakkan tubuhnya, Tika dan Reno telah berdiri di belakang Nadia.
Mendadak Rey gugup dan sekuat mungkin mecoba bersikap normal. Tika dan Reno tersenyum ramah. Rey sangat terkejut melihat bocah lelaki dalam gendongan Reno.
Baru kali ini jarak mereka sedekat ini. Sehingga wajahnya nampak jelas di mata Rey. Rey seperti melihat diri nya saat kecil, pada wajah bocah itu.
Rey merasa jantungnya tertohok! Selangkah ia mundur terhuyung! Untunglah dia masih sempat memegang pagar dan bersandar.
" Bapak tidak apa- apa?" tanya Tika seraya meng hampiri Rey di ikuti langkah Reno.
" Oh, syukurlah kalau bapak tidak apa- apa. Nana cepat masuk nak ke kelas mu.,"
" Iya, ma. Dadah mama, papah. Dedek Bimo!" Nadia bergegas pergi setelah mencium mama dan papa nya.
Tika merogoh dompetnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah. Di gulungnya uang itu lalu di sodorkannya ke tangan Rey.
Rey sangat terkejut dan menolak pemberian itu.
" Bapak pergilah berobat, bapak harus jaga kesehatan biar bisa bekerja," ucap Tika lembut. Lalu permisi.
Rey tak mampu berkata apa. Baginya lebih baik saja lenyap dari muka bumi ini, dari pada harus menerima perlakuan Tika. Tika yang tetap lembut dan berjiwa sosial. Pada siapapun!
Tapi apa jadinya kalau Tika tau siapa dirinya sebernarnya. Mungkin murka lah yang akan dia terima!
Sebegitu jauhnya kah perubahan penampilanku karena seragam yang ku pakai ini. Sampai Tika dan Reno tak mengenali ku?
Dan mereka berbelas kasihan padaku karena mengira aku adalah orang lain. Padahal tadi aku merasa terpukul karena bocah kecil yang di gendong Reno.
__ADS_1
Apakah dia anakku, anak yang tak pernah ku ketahui kelahirannya.? Tadi Nadia menyebutnya Bimo. Lenguh hati Rey.
Bergegas Rey menutup pintu gerbang, karena tak ada lagi anak- anak yang datang. Rey masuk ke posko bergabung dengan pak Agus.
Pak Agus memperhatikan Rey yang sepertinya lesu.
" Kamu kenapa lesu begitu. Belum juga jam sembilan. Sudah seperti orang gak makan tiga hari," sindir pak Agus. Yang di sindir malah acuh dengan piliran yang melayang.
" Hei, malah bengong!" seru pak Agus lagi melemparkan topinya ke arah Rey. Rey terkejut.
" Maaf pak akh baik- baik saja,"
" Bohongmu selangit. Dari wajah mu saja terlihat kamu itu sedang tidak baik- baik saja. Terutama kalau lihat si Nadia. Apa kamu ada hubungan dengan si Nadia itu. Dia anakmu, ya?" cecar pak Agus membuat Rey tersedak, karena barusan menyeruput kopi.
Pak Agus menatap Rey lekat. Sepertinya Rey menyimpan rahasia soal Nadia. Apa mungkin Nadia ada hubungan darah dengan Rey. Karena setelah di perrhatikan wajah mereka memang ada kemiripan. Terutama di dagu dan matanya.
" Bapak ngomong apaan sih. Bagaimana aku ada hub...." belum sempat Rey menyelesaikan omongannya. Tiba- tiba gawai Rey berbunyi.
Rey meraba kantongnya lalu melihat ke layar. Panggilan dari mamanya.
" Halo ada apa ,Ma?" sapanya heran karena tak biasanya mama nya menghubungi saat kerja.
"Rani nak, istrimu kabur!"
" Hah! Kok bisa. Mama berantam lagi sama Rani."
sentak Rey kesal. Dia sangat pusing karena mama dan istrinya yang tidak pernah akur.
" Istrimu itu benar- benar udah gak sopan sama mama! Beraninya menghina mama,"
" Yah udah! Sekarang Rani sudah di mana, ma,"
" Barusan pergi. Mana mama tau dia mau kemana."
"Harusnya kan mama cegah, bukannya membiarkannya pergi begitu saja." sesal Rey.
" Ah, mama kesal dengan ancamannya yang selalu mau pergi. Biar saja dia pergi, biar tau rasa!
jawab bu Hesti kesal.
Rey memutus telepon sepihak. Hatinya makin tak tentu arah. Pak Agus yang menyimak percakapan itu, setidaknya bisa meraba persoalan yang di hadapi Rey.
Sepertinya Rey punya masa lalu seperti dirinya dulu, semasa muda. Tapi pak Agus tak ingin menyudutkan Rey. Atau sekedar bertanya. Biarlah dia menunggu Rey berbicara. *****
__ADS_1
bersamabung
Mohon like dan dukungannya ya. Mohon di share biar semangat upnya🙏🙏🙏