Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
Bukti penghianatan


__ADS_3

8


Melihat reaksi dari Bang Rey, Mama juga Rani saat aku datang ke rumah Mama mertua sore ini. Membuatku semakin yakin untuk menyusun rencana pembalasanku. Biarlah mereka pikir aku adalah wanita atau istri serta menantu yang bodoh


saat ini.


Cuaca mendadak mendung di luar, bahkan gerimis sudah turun. Perlahan mulai deras. Bang buru-buru


memasukkan sepeda motorku ke teras.


" Sepertinya mau hujan deras ya, Bang!" seruku setelalh menyusulnya du teras.


" Iya dek, semoga saja tidak badai,"


"Duarrrrr!!!" tiba-tiba saja suara petir menggele


gar. Aku sangat kaget dan buru-buru masuk ke rumah.Kuhampiri Nadia. Dia paling takut mendengar suara petir. Untunglah Mama mertua telah mendekapnya dalam pelukan. Begitu Nadia melihatku, dia langsung pindah ke pelukanku.


" Kalau hujannya nanti lama, menginap sajalah


di sini." usul Mama mertua.


" Lihat nanti sajalah, Ma." tiba-tiba Bang Rey sudah menyahuti ucapan Mama.


"Iya, Ma baiknya kami nginap sajalah. Rani pasti gak keberatan kan, kami tidur di kamarnya,"


" Eh, siapa yang keberatan. Aku malah senang kok," sahut Rani. Tapi dengan nada terpaksa. Aku dapat lihat dengan jelas, kalau dia sedari tadi merasa tidak nyaman.


" Ya sudah, ayo kita makan malam, Mama sudah lapar." lantas Mama mertua beranjak dari duduknya


menuju arah ruang makan.


Aku membantu Rani menyiapkan hidangan di meja


lalu menyendokkan nasi untuk suamiku dan Nadia. Aku duduk di tengah, antara Nadia dan Bang Rey.


Saat aku hendak menyendokkan nasi buat Mama mertua, beliau menolak.


"Biar Mama saja yang ambil, Tika." ucap Mama.


Aku akhirnya mengambil untukku saja. Lalu aku ambil lauk untuk Bang Rey dan Nadi.


" Makasih ya ,sayang," ucaonya tersenyum mesra. Aku mengangguk membalas ucapannya. Setelah mengucap doa tanda bersyukur, kamipun makan bersama.


" Bang, ini aku suapkan ya," aku mengulurkan tanganku memberi sesuap nasi untuk Bang Rey dari piringku. Bang Rey mengernyitkan keningnya. Tapi dia membuka mulutnya juga, lalu ku suap.


"Hem, makasih ya, Dek!. Nah, abang juga suap kamu, ya," dengan ekor mataku aku menangkap seraut wajah yang menahan amarah cemburu.


Persetan dengan kamu, aku tersenyum puas.


" Oh ya, Ma. Sebenaranya aku datang ke sini karena mau ngasih tau, Mama sesuatu." seyumku oenuh misteri.


" Oh, ya. Soal apa?" tanya Mama mertua penasaran. Bukan hanya Mama mertua saja yang merasa penasaran, Rani smpai mentapku curiga. Terlebih Bang Rey, sampai menghentikan makannya, menunggu lanjutan ucapanku.


" Ih, kok jadi pada tegang semuanya," aku tertawa.


" Aduh, kamu ini Dek, sudah buat kita semua penasaran. Mau ngomong apa sih," desaknya tak sabar.

__ADS_1


" Aku hamil lagi, Bang. Mama, mau punya cucu lagi," seruku.


" A..apa!?" seru Bang Rey dan Mama mertua serempak. Nampak wajah mereka berbinar bahagia. Wajah Rani makin kelam saja ku tengok. Dia hanya menunduk diam. Dan berusaha bertahan. Tiga tahun diam- diam jadi maduku kok kamu belum hamil juga. cibirku dalam hati.


" Benarkah dek, kamu tidak bercandakan," tiba-tiba saja aku sudah tenggelam dalam pelukan Bang Rey. Berkali-kali dia mencium pucuk kepalaku. Tapi, jauh di dalam sana. Di lubuk hatiku aku terbahak! Ya, aku menertawakan semua sikap Mama mertua dan suamiku.


"Mama turut berbahagia untukmu, Tika. Sejak sekarang kamu itu harus jaga kesehatan kamu, ya."


Kamu juga, Rey. Jaga Tika baik- baik. Semoga nanti


cucu Mama laki- laki," binar mata penuh haru. Aku tidak yakin apakah ucapan itu tulus adanya.


" Selamat ya ,Tika. Semoga sehat, ya,"


" Makasih ya, Rani," ujarku denga senyum sumringah. Hello, aku tau kamu tak tulus mengucapknya. Sehancur apakah hatimu di dalam sana. Itu tidak akan pernah sebanding dengan hancurnya hatiku akibat kau ambil suamiku. Tapi tak apa, aku ikhlas melepasnya untukmu. Tapi tunggu dulu, tidak semudah itu.


Kalian harus hancur dulu, ya. Biar tau seperti apa itu arti sebuah luka.


" Yuk kita lanjutkan lagi makannya, maaf ya , acara makannya jadi terganggu"


" Kamu memang hebat, sayang. Sukses buat kejutan sama kami. Tadi Abang udah sempat sport jantung, lo"


" Tadi Abang sempat mikir, apa?" kutatap Bang Rey penuh selidik.


" Gak mikir apa- apa sih, cuma penasaran saja," kilahnya.


Tadi aku memang sempat merasakan reaksi Mama mertua dan Bang Rey soal kejutan apa yang hendak kusampaikan.


" Oh, ya Dek! Apakah karena kondisimu yang membuat kamu pingsan kemarin itu?"


" Bisa saja Bang, Soalnya aku gak menyadari kalo aku sudah terlambat bulan. Baru siang tadi aku cek, ternyata positif," jelasku. Bang Rey manggut- manggut mendengar penjelasanku dan sekilas mereka bertiga saling tukar pandang.


lihat pandangan mereka yang penuh arti. Entah apalah yang ada di benak mereka saat ini, saat aku


menyatakan kehamilanku.


*******


Hujannya ternyata awet! Saat jam di dingding me


nunjukkan angka sembilan, belum juga reda. Bahkan sesekali tedengar suara petir. Setelah hampir satu jam menunggu hujan reda, akhirnya Bang Rey memutuskan ubtuk menginap saja di ru


mah Mama mertua.


Aku dan Nadia undur diri mau tidur. Karena tempat tidur Mama mertua tidak muat untuk kami bertiga, jadinya kami tidur di kamarnya Rani.


" Maaf ya, Ran. Jadi merepotkan," ucapku basa basi.


" Ah, gak apa- apa, kok."


" Bang, kami duluan tidur ya. Abang tidurnya di lotengkan? Atau di sofa aja?"


" Gak, masalah Dek, Abang mau tidur di mana. Kamu istirahat ya," sambil memelukku dari belaka


ng, Bang Rey mengusap perutku yang masih datar.


" Aih, Abang ini gimana sih. Malu, ah." rungutku manja. " Gak enak sama Rani," bisikku. Lalu aku tersenyum sama Rani, pura- pura peduli. Padahal pamer.

__ADS_1


" Rani pasti ngerti itu, secara kita kan suami istri,"


bisiknya lagi.


"Ah Abang, tetap gak enak hatilah. Udah deh, Nadia mau bobok nih," aku mendorong halus tubuh


Bang Rey, agar lepas dari pelukannya.


Aku tau dan mengerti, semua itu hanya untuk menutupi kebohongnnya. Melengkapi sandiwara


nya. Bang Rey, mengorbankan perasaan Rani di hadapanku. Hanya agar aku mungkin tak curiga, saja. Kenapa sepulang kerja dua lebih dulu mampir ke rumah ibunya, bukannya langsung pulang ke keluarganya.


Tengah malam, aku terjaga saat mendengar suara panggilan dari hape. Tadinya suara itu aku kira dari gawaiku. Tapi saat kudengar suara Rani berbisik, aku tak jadi memeriksa gawaiku, yang ku letakkan diatas bufet kecil di kamar Rani.


"Sepertinya sudah tidur, Bang," samar, aku mendengar suara itu. Siapa yang tengah malam begini menelepon. Dugaanku pasti Bang Rey!


Mungkin saja, ini giliran untuk Rani di hibur, mengin


ngat sepanjang kami di sini Rani telah sengaja di acuhkan.


Aku merasakan springbed bergoyang, karena Rani turun dari ranjang. Ia menatap ke arahku sekilas. Memastikan bahwa aku tidak terjaga. Aku pura-pu


ra tidur. Setelah Rani merasa bahwa semuanya aman, dia membuka pintu dengan pelan. Lalu menutupnya kembali.


Aku mendengar suara langkah naik ke loteng. Tepat dugaanku bahwa Bang Rey lah yang menel


eponnya.


Aku segera bankit dari ranjang, dan memastikan bahwa Rani tidak kembali. Mataku nanar menatap sekitar kamar. Kira-kira tempat mana yang lebih dulu ku periksa. Tak mungkin lemari, karena terlihat


dikunci.


Dengan nafas gugup aku mencari- cari. Tiba- tiba mataku melihat tumpukan album di sudut kamar. Dan disana aku melihat ada rak sepatu. Dan antara


banyaknya sepatu wanita dari berbagai jenis dan model. Aku melihat ada juga sepatu pria.


Ada beberapa pasang! Hem..seoatu siapa lagi ini kalau bukan sepatunya Bang Rey. Soalnya pas ukuran sepatunya.Dan bukankah ini aku yang belinya. Aku ingat betul sepatu warna coklat itu aku yang membelinya saat ulang tahunnya Bang Rey tahun lalu. Aku segera memoto sepatu itu


Lalu perhatianku teralih pada tumpukan album. Siapa tau di sini juga ada bukti kudapatkan.


Diantara album itu ada album yang paling besar dan lebih bagus. Aku membukanya dan benar saja di sana aku lihat foto pernikahan Bang Rey dan Rani. Mataku membola melihat foto- foto itu.


Dan sekujur tubuhku serasa di siram dengan air es. Membekukan hati dan jiwaku. Gugup, aku membuka satu persatu lembar album itu. Ada foto Mama mertua dan semua ipar- iparku yang tersenyum sumringah.


Buru-buru aku mengembalikan kembali album itu, ke tempat semula. Setelah aku pindahkan beberapa foto itu di galeri.


Dengan hati yang masih gemetar, aku kembali ke ranjang. Aku teringat, kalau Rani tadi pergi ke atas


Entah, kekuatan dari mana aku keluar dari kamar. Pelan- pelan aku menaiki anak tangga. Seingatku kamar di atas ada dua. Saat aku sampai di atas, aku lihat cuna satu kamar yang lampunya menyala.


Aku mendekati kamar itu. Aku mendengar suara ******* dari sana. Suara yang membuat hatiku bagai di rajam. Aku kenal dan faham suara itu. Dan apa yang tengah terjadi saat ini di kamar itu.


Aku bermaksud turun, tapi rasa penasaranku mengalahkan sakit hati ini. Kebetulan pintu tidak tertutup rapat, sehingga ada celah untukku melihat kedua makhluk berlainan jenis itu sedang, bergelut menuntaskan hasratnya.


Aku memvidiokan momen penghianatan itu. Lalu aku turun dengan langkah kaki seperti melayang.


Setiba di kamar aku mengatur nafasku, yang menderu. Nanar mataku memandang sekeliling kamar.

__ADS_1


Kamar ini adalah tempat mereka memburai hasrat dan nafsu mereka. Tempat tidur yang aku tiduri ini juga yang menampung peluh saat mereka bergulat mencapai kepuasan


Kalau saja, yah.! Kalau saja bukan untuk mencari bukti atas penghianatan Bang Rey, aku tidak sudi sedetik sajapun untuk merebahkan tubuhku di tempat menjijikan ini..


__ADS_2