
9
Pov Rani
Aku sangat terkejut atas kedatangan Tika, di rum
ah Mama mertua. Apa lagi saat itu Bang Rey juga
datang ke rumah sepulang kerja. Kedatangan Tika yang tanpa pemberitahuan, benar- benar membuat
aku, Mama mertua dan Bang Rey kaget setengah mati.
Bagaimana tidak kaget, saat Tika datang aku dan Bang Rey sedang ngobrol santai dengan Mama mertua. Saking asyiknya sampai kami tidak mendengar suara motor, Tika.
Tiba- tiba saja dia sudah muncul di ambang pintu
dan memberi salam. Aku yang sedang duduk rapat
dengan Bang Rey, sontak kaget dan dengan gerak
refleks menjauh dari sisi Bang Rey. Entahlah apa Tika sempat memergokiku saat duduk berdekatan dengan Bang Rey. Tapi jantungku tak urung berdegup kencang dan merasa tak nyaman
Untuk menghilangkan rasa gugupku, aku segera ke dapur untuk menyiapkan teh. Dan aku mencuri dengar percakapan mereka di ruang tamu. Kupikir Tika akan marah dan curiga kenapa sepulang kerja
Bang Rey bukannya ke rumah mereka, malah mampir ke rumah ibunya.
Mama mertua dan Bang Rey memang lihay bersilat
lidah. Sekilas Tika memang curiga, buktinya dia sempat menyindir dan Mama mertua mematahkan kecurigaannya. Apalagi saat Bang Rey sempat keceplosan
Entahlah apa Tika itu naif atau terlalu polos. Atau
Tika memang bodoh, karena hampir tiga tahun aku menikah secara diam- diam dengan suaminya, Bang Rey! Tak pernah sekalipun dia menaruh curiga. Ataukah karena kami yang terlalu pandai menyimpan rahasia. Hingga sejauh ini statusku yang menjadi istri ke dua Bang Rey, tetap aman.
Sebegitu percayanyakah Tika pada suaminya, saat
aku di perkenalkan sebagai saudara sepupunya Bang Rey, dia telan saja mentah- mentah kata itu.
Masak sebagai istri dia tak memiliki naluri, kalau suaminya tengah telah membohonginya dengan telak di bawah hidungnya. Bahkan ibu mertuanya sendiri serta kakak dan adik iparnya turut bekerja sama, setali tiga uang menyimpan rahasia itu.
Sementara pengorbanan Tika untuk keluarga mertuanya tidaklah sedikit. Tapi Bang Rey dan keluarganya sebegitu tega menghianatinya.
__ADS_1
Lumayan lama juga aku menyiapkan teh, karena aku merasa tak nyaman. Tapi bila aku tidak turut bergabung, bisa menimbulkan kecurigaan Tika padaku. Setelah aku rasa suasana di ruang tamu hanya biasa saja, akhirnya kuberanikan juga mengidangkan teh. Meski dengan perasaan gugup aku berusaha bersikap tenang.
Tapi saat ku saksikan sikap mesra Tika, yang sepertinya sengaja ia pertontonkan. Tak urung membuat hatiku cemburu juga. Jelas aku merasa cemburu karena aku juga adalah istri Bang Rey. Tapi aku cukup sadar juga tak mungkin aku protes
karena itu akan membuka rahasia kami sendiri.
Dengan rasa dongkol, terpaksa aku bersikap biasa saja. Sebisa mungkin aku abaikan kemesraan mereka. Berkali-kali aku melihat Mama mertua memberi isyarat lewat matanya, agar aku tidak terpancing.
Berat sekali untuk bersikap biasa saja, terlebih saat di meja makan tingkah Tika makin lebay saja. Belum lagi Bang Rey meladeni saja ulah istrinya itu. Gak cukup sampe di situ hatiku semakin di bakar saja rasanya. Saat Tika mengumumkan kehamilan
nya yang ke dua.
Reaksi Mama mertua dan Bang Rey sungguh di luar dugaanku. Terlebih Mama mertua yang berharap semoga calon cucunya itu, laki-laki. Aku merasa terpuruk, karena selama ini aku juga berharap supaya hamil. Tapi tak kunjung juga harapan itu terkabul.
Ingin rasanya aku pergi meninggalkan mereka yang tengah di selimuti rasa bahagia. Tapi aku masih cukup waras untuk tidak pergi. Mengingat Tika akan curiga sikapku. Akhirnya dengan senyum yang sengaja ku stel sewajar mungkin, kuucapkan kata selamat baginya. Dan saat Tika membalas senyumku, aku merasa itu adalah senyum ejekan ke kalahanku.
Dan aku semakin tersiksa saja sepanjang malam, karena mereka menginap. Sebab hujan yang turun sepanjang malam, Mama mertua menyuruh Tika menginap saja. Dan aku dan Tika juga Nadia tidur seranjang malam itu.
Aku terjaga terus, benar- benar tak bisa tidur! Bayangan kemesraan yang di pamerkan Tika dan Bang Rey terus menggangguku. Meski aku merasa bahwa Bang Rey sengaja berbuat begitu, untuk memupus kecurigaan Tika. Tapi hatiku sakit juga.
Hem..bagaimana dengan hati Tika, jika dia tau bahwa aku adalah madunya. Pasti lebih sakit dari yang kurasakan.
Tiba- tiba gawaiku berbunyi, dan kulihat Bang Reylah yang menghubungiku. Aku melirik ke arah Tika yang tertidur pulas. Lalu aku diam- diam keluar dari kamar menuju loteng. Dimana Bang Rey tidur malam itu.
n kekesalan hatiku. Bukan Bang Rey kalau tidak bisa membujukku. Meredam kemarahanku. Yang akhirnya malam itu aku luruh dalam pelukannya. Dan diantara rasa marahku yang masih terpendam
bersama kami mengayuh kenikmatan.
Dan pagi harinya, sebelum Tika pulang ke rumah
nya, Mama mertua memaksa untuk sarapan dulu.
Ternyata Mama mertua memasak makanan spesial
katanya untuk Tika.
" Ayo Tika, sarapan dulu. Ini sudah Mama masak makanan untukmu. Biar bayimu sehat," seru Mama
mertua dengan senyum sumringah.
" Aduh makasih ya, Ma. Mama kom jadi repot,"
__ADS_1
"Ah, gak kok. Mama senang melakukannya. Demi cucu Mama."
"Makasih juga ya, Ma. Mama perhatian banget sama, Tika," ucap Bang Rey menimpali.
" Ya, udah. Yuk sarapan. Ayo Nadia, yang banyak makannya ya. Biar cepat besar," ucap Mama sambil mengelus kepala Nadia.
" Oh, ya Ra, maaf ya soal semalam. Nadia memang lasak tidurnya. Membuatmu tak nyaman." ucap Tika tiba- tiba. Nasi suapan pertama di mulutku terhambur keluar, aku tersedak. Buru- buru aku minum. Mama mertua mendelim ke arahku, tak suka.
" Memangnya kenapa, Tika?" tanya Mama heran.
" Itu lho, Ma. Mungkin karena Nadia lasak tidur. Rani pindah ya ke kamar, Mama," kali ini Bang Rey yang terbatuk mendengar ucapan Tika. Mama menajamkan pandangannya bergantian ke arahku dan Bang Rey. Aku menunduk, sementara Bang Rey mengalihkan landangannya.
" Oh, iya. Mama lupa. Semalam mama kaget juga Rani mengetuk pintu kamar, Mama.Katanya gak bisa tidur. Rupanya gara-gara Nadia yang lasak."
sorot mata Mama mertua makin tajam ke arahku.
" Aku juga kaget ,Ma. Saat terjaga tengah malam, Rani gak ada di kamar.Tapi karena masih ngantuk
aku tidur lagi,"
Aku menghela nafas lega saat Mama mertua meng
iyakan ucapan,Tika. Aku yakin benak Mama mertua
tengah berkecamuk penuh tanda tanya.
Setelah Bang Rey pulang kerumahnya bersam Tika dan Nadia. Mama mertua menjumpaiku ke kamar.
Aku yang tengah merapikan rambutku, terkejut melihat kehadiran Mama mertua.
" Kamu tidur di kamar Rey, Ya? Tak bisakah kamu menahan diri untuk semalam saja.!" hardik Mama
mertua. Membuat hatiku kecut.
"Bang Rey yang menyuruhku naik, Ma."
" Tapi setidaknya kamu bisa menolakkan. Bagaimana kalau Tika curiga. Untung saja Mama cepat tanggap. Kalau tidak, semua rencana kita akan berantakan. Lain kali jangan bertindak bodoh
lagi!" dengan kesal Mama mertua pergi.
Nyaris saja memang rahasia itu terbongkar. Untung saja Tika tidak memergoki aku dan Bang Rey malam itu. Bisa sajakan rahasia itu terbongkar, semisal Tika naik ke loteng menjumpai Bang Rey.
__ADS_1
Aku memang gegabah, karena terpicu rasa cemburu.