
" Oek...oek..." jerit tangis bayi memecah ketegangan yang telah memerangkap beberapa jam yang lalu.
Semua bernafas lega, mendengar suara tangis bayi itu.
" Selamat ya, kamu sudah lahirin seorang bayi tampan." seru Reno dengan pandangan berkaca- kaca. Reno sangat takjub, melihat proses melahirkan yang penuh drama itu.
Tika juga menangis haru. Ingat semua perjuang
annya. Sembilan bulan tanpa kehadiran seorang suami.
" Makasih juga ya, karena telah mendampingiku selama ini," ucap Tika lirih.
" Kamu yang terbaik sayang. Aku bangga sama kamu. Dia bayi yang sangat tampan," seru Reno tercekat ketika Bu dokter memberikan bayi merah itu, untuk di susu i.
" Aku ajak Nadia dulu ya, biar dia tengok dede bayinya," Reno permisi karena ingin memberi ruang pada Tika untuk menyusui. Reno melihat Tika canggung untuk menyusui putranya, di depan Reno.
Bagaimanapun, mereka bukanlah suami istri. Selama ini Reno sangat menghormati Tika. Dia tak pernah menyentuh Tika, kecuali hanya sebatas tangan atau memeluknya.
Bukan berarti Reno tak pernah punya hasrat. Sebagai lelaki normal ke inginan itu pasti selalu datang menggoda.
Apa lagi dia seorang duda.
Tapi semua keinginan itu, selalu mampu ia redam. Dia ingin menikahi Tika nanti, bila Tika sudah mau menyerahkan hatinya untuknya.
Reno, melihat Nadia masih tidur di pangkuan Rita. Sepertinya dia belum mengerti apa yang tengah terjadi.
" Sini aku gantikan menggendong, Nana," ujar Reno pada Rita. Sedari tadi Rita menjaga Nana, dia pasti sudah kelelahan.
"Tak apa kok, pak. Nanti Nana malah bangun," tolak Rita halus.
" Kamu bantu ibu Tika saja dulu. Siapa tau butuh sesuatu," akhirnya Rita menyerahkan Nana yang masih terlelap. Dan Ia masuk ke kamar tempat Tika di rawat.
Baru beberapa menit, Nadia membuka matanya.
Dan melihat bahwa om Renolah yang meng
menggendongnya..
" Om Reno, aku mau sama mama." rajuk Nadia. Reno membawa Nadìa bertemu Tika.
" Ayo ma, pa. Kita sama- sama ke ruangan Tika." Pak David dan bu Nita mengikuti langkah Reno ke ruang rawat, Tika.
"Selamat ya nak, Tika. Atas kelahiran bayinya," ucap bu Nita penuh haru. " Bayinya sehat dan.ganteng. Ih.. bikin gemas." bu Nita tak mampu menyembunyikan suasana hatinya yang bahagia.
Beliau juga sayang samaTika, sekalipun Reno belum menikahi Tika. Dia sudah menganggap kalau Tika itu adalah menantunya.
"Makasih ya ,bu." Tika berucap haru, Tika sangat beruntung bertemu keluarga Reno yang begitu baik dan menghargainya.
__ADS_1
Sangat jauh beda dengan mantan mertuanya.
"Sebaiknya nak Tika lekas menikah sama, Reno. Biar Bapak sama Ibu, leluasa menimang cucu- -cucu. Tunggu apa lagi sih, Ren. Apa bapak harus bantu kamu membujuk nak, Tika." kelakar pak David menimpali.
" Eh, papa ngomong apaan sih. Kok melantur. Tuh, kamu sudah liatkan. Kalo papa dan mamaku lebih gila dari aku." bisik Reno di telinga Tika.
Tika tertawa lucu.
"Bapak sama ibu boleh kok, setiap hari menimang cucu." ucap Tika.
" Iya, akan lebih bagus kalau kalian segera menikah. Mama sudah gak sabar kamu jadi menantu ibu. " seru bu Nita seraya memegangi tangan Tika.
" Makasih ya bu, ibu mau menerima Tika apa adanya. Padahal Tika sudah punya dua anak." tangis Tika penuh haru.
"Eh, justru karena kamu punya anak, ibu mau menerima kamu jadi mantu ibu. Dapat menantu, trus dapat cucu sekaligus."
Betapa Tika, sangat bersyukur. Ucapan bu Nita ibunya Reno. Karena begitu menginginkannya jadi mantu. Padahal ketika memutuskan bercerai dulu dari Rey. Tika tak pernah lagi berharap untuk memiliki keluarga utuh.
Dia sudah bertekad akan menjadi orang tua tunggal bagi ke dua anak- anak nya. Tidak menyangka, Tuhan mempertemukannya dengan Reno dan keluarganya.
Melihat ketulusan dari mereka, perlahan keraguan hati Tika mencair. Jika Tuhan memang berkenan, dan Ia pantas menerima berkat itu.
Tika masih ingin merahup kebahagian itu seutuhnya.
Dua tahun kemudian
Pesta telah usai para tamu telah pulang. Tinggal beberapa orang kerabat dekat Reno yang rumahnya di luar kota, masih belum pulang.
" Oppung, Bim mau mimi," celoteh Bimo yang sudah berumur dua tahun. Bocah lanang dengan tubuh gempal itu menarik- narik ujung kebaya bu Nita opungnya.
" Sabar ya sayang. Ntar opung buat dulu." bu Nita menuju arah dapur untuk membuatkan susu untuk Bimo. Cucu kesayangannya. Setelah men test suhunya kembali bu Nita mencari Bimo.
"Bim, sini sayang. Ini miminya." bocah itu berlari ke arah opungnya. " Hati- hati Bim!" teriak bu Nita melihat lari Bimo yang kencang.
Bimo memang sangat lasak. Gak pernah diam. Seperti gurauan ibu nya semasih dalam kandungan. Yang menyebut Bimo lagi main bola, setiap kali ia menendang perut,Tika.
Nyatanya memang main bola adalah kesukaan- nya. Bu Nita sama Pak David selalu kewalahan mengikuti gerakan cucunya itu. Saat tidur sajapun lasaknya minta ampun.
Dalam hitungan detik, susu dalam botol itu sudah tandas. Mata Bimo sudah sepuluh waat, mungkin efek kecapean karena bermain seharian.
"Hem, cuma sama susu ini, jagoan opung kalah. Habis minum susu, langsung bobo." bu Nita mengusap keringat di kening Bimo. Menganti pakaian Bimo yang basah oleh keringat, sehingga tidurnya nyaman.
"Sudah tidur ya, sini biar di pindah ke kamar. Nanti jatuh lagi dari sofa, ma," Pak David hendak menggendong Bimo dari sofa.
"Bentar lagi, pa. Tunggu pulas dulu. Biar gak ngamuk seperti kemarin."
Pernah kemarin, karena tidurnya belum pulas Bimo di pindah. Eh, langsung melek dan nangis karena merasa di ganggu. Jadinya gagal tidur dan nangis hampir satu jam.
__ADS_1
Semua kelabakan gak ada yang bisa membujuk. Tapi begitu mendengar suara Reno, Bimo diam. Dan ngadu kalau opungnya jahat, gangguin tidur Bimo.
Untung Tika ingat menelepon. Siapa tau Reno bisa membujuk. Benar saja Bimo manut, begitu di suruh diam. Tika geleng kepala, ikatan batin Bimo sama Reno begitu kuat.
"Pa, Nadia ke mana. Sedari tadi gak nampak,"
" Sama bi Risma, ke pasar. Tadi Nadia minta ikut,"
Sementara di kamar sang pengantin.
Reno tak henti menatap Tika yang telah resmi menjadi istrinya. Wajah Tika bersemu merah tak tahan di tatap seperti itu. Tika menunduk, malu.
"Sayang..," desah Reno di telinga Tika. Membuat bulu kuduk Tika meremang. Reno mengecup pipinya, yang masih mulus.
Merapikan anak rambut Tika, yang jatuh di keningnya.
" Kamu sangat cantik, sayang. Abang gak sabar lagi untuk meresapi nikmat t****mu," perlahan Reno mema**t b***r ranum Tika. Tika memejam matanya. Menikmati setiap sentuhan yang dilakukan suaminya. Terkadang dia juga membalas, mengimbangi gairah suaminya.
Sentuhan demi sentuhan yang memacu bi**hi. Mencari ke nikmatan dari setiap sisi. Penyatuan tubuh,setiap hentakan yang mengguncang hingga terhempas bersama peluh.
Dahaga yang terpuaskan, setelah selama ini kehausan.
Reno mengecup pucuk kepala Tika, setelah penyatuan tubuh mereka.
" Makasih ya, sayang. telah memberiku kebahagian yang tiada tara. Semoga benihku bersemayam di rahimmu." bisik Reno saat melihat Tika yang tertidur kelelahan.
Reno tersenyum puas. Bangga karena telah menaklukan istrinya. Sama seperti dirinya, istrinya juga begitu total melayaninya.
Reno bangkit dari tempat tidur, membersihkan dirinya di kamar mandi. Suara air yang beradu di lantai. membuat mata Tika, terbuka.
Dia melirik ke samping dan suaminya, tak ada.
Tika mencoba bangun, duduk di tempat tidur. Dia bermaksud hendak mandi juga.
Tika merasa bagian bawahnya ngilu. Sekujur tubuhnya remuk. Ingat beberapa jam lalu mereka yang bergelut. Sampai tubuhnya lemas.
Klik, suara pintu kamar mandi terbuka. Nampak tubuh Reno yang masih basah, hanya berbalut handuk.
Tubuh Reno nampak kekar walau tak berotot. Tika malu, ingat betapa tubuh itu telah memberinya kenikmatan luar biasa.
" Kamu sudah bangun sayang," Reno tanpa canggung mendekati Tika. " Ngapain senyum- senyum pasti fikirannya, ngenes ya.
"Ih, sok baper," cebik Tika. Mengalihkan pandangannya.
" Ngaku aja kalo masih pengen. Nanti kita sambung lagi, ya. Beberapa ronde," goda Reno pada istrinya sambil menggelitik pinggangnya.
"Udah deh bang, bercandanya. Geli ah! Aku mau mandi," kelit Tika saat melihat gelagat Reno.
__ADS_1
Dengan langkah tertatih, Tika menuju kamar mandi.
Gawat! bisa remuk seluruh badanku kalau menuruti keinginan, suamiku.****