Entahlah

Entahlah
BAHAYA


__ADS_3

Jam 4.30 pagi alarm dari hp Clary berbunyi dan membangunkannya. Segera dia keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri . Setelah itu dia segera kedapur untuk menyiapkan sarapannya dengan Rudi karena mereka akan kembali kekota untuk kerja.


" Rud bangun woy... Kebo banget si ni anak. Woy kebakaran!!!" teriakan Clary sukses membangunkan Rudi.


" Brisik lu"


" Buruan bangun. Gak kerja lu?"


Setelah mandi dan sarapan Rudi dan Clary segera berpamitan pada semua orang dirumah. Mereka memang sudah membawa baju kantor agar tidak perlu kembali lagi ke apartemen untuk berganti baju.


****


Didepan area parkir seperti biasa gadis cantik dengan rambut hitam panjang sudah setia menunggu pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Melisa yang sedang menunggu Rudi. Memang seperti itulah kebiasaan mereka sejak jadian, saling menunggu dengan setia. Tapi entahlah dengan kondisi saat ini apa mereka berdua siap untuk saling menunggu lagi.


Rudi segera berlari menghampiri Melisa. Sedangkan Clary diberi tugas memarkirkan motornya karena tadi Rudi sudah memboncengnya. Itu juga kebiasaan mereka dari dulu.


" Hai kak Mel" Sapa Clary


" Gimana kemaren?" tanya Melisa


" Aman bos" jawab Clary sambil memberi hormat.


" Dih apaan si lu.. BTW yayang gue gak lu apa- apain kan?" melisa tersenyum menggoda Clary.


" Gak mungkin lah. Yang ada dia tuh yg bikin gue jatuh sampe siku gue memar"


Mendengar jawaban dari Clary, Melisa langsung memelototkan matanya ke arah Rudi.


" Eitsss jangan salah faham dulu kak. Ni luka gara- gara dia jalan gak pake mata sampe gue jatuh kek disenggol pesawat" Clary memahami perasaan Melisa dan berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya.


" Dasar tukang ngadu lu" Rudi menjitak kepala Clary sampai sobatnya itu meringis dan menggosok- gosok kepalanya karna kesakitan.


***


Hari- hari Clary dan Rudi berjalan seperti sebelum ada pernikahan. Hanya saja sekarang mereka tinggal di satu atap. Begitupun dengan Melisa yang semakin hari semakin akrab dengan Clary. Melisa sering datang dan menginap di apartemen mereka atas permintaan Clary. Saat berangkat kerja pun Clary memilih menggunakan sepeda gayungnya seperti dulu dan Rudi tetap setia menjemput Melisa. Bisa saja sebenarnya Clary membeli motor atau berangkat bareng sama Rudi. Tapi mereka tidak akan melakukan itu karena takut ketahuan pihak kantor.


Pernah suatu saat orang tua Rudi berkunjung tanpa memberi kabar dan saat itu juga kebetulan Melisa sedang berada di dalam kamar bersama Rudi. Clary yang membukakan pintu untuk mertuanya segera mengarahkan mertuanya itu untuk masuk dan beristirahat di kamar tamu. Kamar dimana setiap hari menjadi kamar Clary dan bukan kamar tamu. Clary beralasan akan memanggilkan Rudi karena dia sedang mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar Rudi.


" Upss... sorry sorry.." Clary salah tingkah saat mendapati Rudi dan Melisa sedang melakukan ciuman panas.


" Gak sopan banget si l..." bentakan Rudi jengkel terhenti karena Clary segera membungkam mulutnya dengan tangan.


" Diem lu. Di kamar sebelah ada mami sama papi." Clary memelototkan matanya.


" What???!!!" Rudi tersentak kaget.


" Lu temuin mereka di kamar. Gue bakal ngajak kak Mel keluar."


" Ya udah aku pulang dulu yang" pamit Melisa dengan senyum manisnya.


Sementara Rudi menemui kedua orang tuanya di kamar tamu. Clary secara diam- diam mengantar Melisa untuk pulang. Tapi naasnya saat mereka akan menuju pintun keluar, mami tidak sengaja keluar kamar dan melihat mereka.


" Loh ada nak Melisa ya" sapa mami Rina


" Ehmm iya tan" jawab Melisa gugup.


" Kak Mel tadi dikamar mandi dan sekarang udah mau pulang kok mi." jawab Clary.


" Sering- sering main kesini ya biar Clary ada temen ngobrol" pinta mamai pada Melisa.


" Ya iye lah mi" batin Clary dan Melisa.


Mami Rina sudah mengenal Melisa karena seringnya dia memergoki Melisa saat berkunjung ke apartemen Rudi. Clary bilang ke mami kalau dia adalah sahabat sekaligus seniornya di kantor.


Sampai saat ini rencana mereka masih berjalan mulus. Tak ada seorangpun yang curiga pada mereka.


Malam itu pun seperti saat malam-malam dimana orang tua mereka menginap, Clary tidur sekamar dengan Rudi. Seranjang juga tepatnya. Entahlah Rudi pria yang memang tipe setia pada wanitanya ( melisa maksutnya) atau dia gak normal, atau saking udah deketnya dengan Clary jadi dia sudah tidak punya nafsu pada istri sahnya itu jadi walaupun mereka tidur bersama tetap tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


" Clair.." Rudi menggoyangkan pelan tubuh istrinya agar bangun.


" Hemm" Clary tetap memejamkan matanya.

__ADS_1


" Lu gak ambil minum tadi?" tanya Rudi


" Lu haus?" Clary mencoba membuka matanya


" Iya" jawab Rudi singkat.


" Bentar gue ambilin" Clari hendak beranjak dari tempat tidur namun nyawanya yang belum sempurna membuat dia galfok alhasil kakinyapun terjerat selimut hingga jatuh menimpa tubuh Rudi karena dia harus melewati rudi saat akan turun dari ranjang. Rudi pun reflek mendekap tubuh Clary agar tidak terjatuh ke lantai.


" Emmm... ah...aduh maaf Rud." ucap Clary sambil berusaha bangkit dan melepaskan diri dari dekapan Rudi.


Deg..


Mata mereka tak sengaja beradu. Entah mengapa tiba- tiba jantung mereka seakan berdisko ria didalam sana. Clary segera memalingkan wajahnya dan berusaha bangkit lagi dari posisi itu. Namun entah apa yang terjadi dengan Rudi. Dia tidak berniat melepaskan dekapannya dan tetap memandangi wajah Clary.


" Clair" suara Rudi seakan berat.


" Hemm" jawab clary singkat tetap tidak mau memandang Rudi.


" Gua boleh nyium lu gak?"


Clary yang masih berada diatas tubuh Rudi dengan bertupu pada ke dua tangannya agar tidak menempel pada dada suaminya itu segera menoleh ke arah Rudi dan menatapnya penuh selidik. Jantung Clary terasa benar-benar ingin keluar dari tempatnya. Walaupun mereka sahabat dekat memang baru kali ini Clary menatap intens pada Rudi.


" Inget Melisa Rud " Clary mencoba menguasai dirinya tak ingin terbawa suasana.


" Kita suami istri " ucap Rudi dengan suara lemah dan sedikit berat.


" Tapi gak bisa Rud"


" Pliss Cair, sekali ini aja. Gue janji gak akan ngelakuin lebih " wajah Rudi tampak penuh harap.


" Udah hak lu Rud. Sejak ijab kabul " Clary bergumam dalam hati.


Tapi perlakuan Rudi kali ini sangat membuat Clary sedih. Dia berada dalam dilema antara peran menjadi istri atau sahabat untuk Rudi. Sebagai istri dia tidak boleh menolak Rudi, akan tetapi sebagai sahabat dia juga tidak mau Rudi menyesali perbuatannya kelak.


Rudi mengalihkan tangannya ke leher Clary mencoba menariknya pelan agar dia bisa menggapai bibir Clary. Clary yang masih bertarung dengan pikirannya sendiri reflek mengikuti arahan tangan Rudi.


Cup..


Jantung Clary berdetak tak karuan. Otaknya seakan berhenti untuk berfikir. Tubuhnya seakan membatu tak bisa digerakan. Dia hanya pasrah menerima perlakuan Rudi yang mencium lembut bibirnya. Semakin lama ciuman Rudi seakan menuntut untuk mendapat balasan. Tapi nihil, Clary yang masih syok tetap mengatupkan bibirnya. 'Jengkel' mungkin itu yang Rudi rasakan saat ini karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Naluri laki-lakinya memuncak mengalahkan akal sehatnya. Dia ******* kasar bibir istrinya itu.


" Emmp.. mmmm..." Clary mencoba mendorong tubuh Rudi. Ciuman kasar Rudi membuatnya kehabisan oksigen.


Rudi yang sadar akan hal itu segera melepaskan ciumannya. Clary pun sesaat merasa tenang terbebas dari Rudi. Tapi sialnya setelah melepas ciuman di bibir Clary, Rudi malah asik mencumbu leher istrinya itu.


" Ah.." suara desahan itu lolos keluar dari bibir Clary. " Rudi stop.. ah.. Rudi sadar Rud..". Mendengar kata-kata itu bukannya menghentikan aktifitasnya, Rudi malah semakin menggila dengan terus men***** leher Clary dan meninggalkan beberapa kissmark.


" Ah... Sakit Rud..empp.. emmpp" kalimat Clary terhenti karena Rudi membungkam mulut Clary dengan salah satu tangannya.


" Berisik!" bisik Rudi ditelinga Clari penuh penekanan, lalu melanjutkan aktifitasnya dileher Clary hingga dia bosan dan akhira mereka tertidur degang posisi rudi masih menindih tubuh Clary.


Saat pagi menjelang Clary merasakan ada sesuatu yang berat menindihnya. Perlahan dia buka matanya dan mendapati Rudi mendekapnya erat. Benar saja semalam dia sebenarnya bukan tertidur tapi pingsan karena tangan Rudi ternyata tak hanya menutupi mulutnya tapi hidungnya juga. Untunglah saat dia pingsan Rudi yang merasa tak ada perlawanan lagi melepas tangannya.


Clary meliha tubuh mereka masih berpakaian lengkap dan berusaha merasakan area kewanitaannya. Tidak ada tanda-tanda rasa sakit disitu. Clary merasa yakin bahwa semalam tidak terjadi hal yang tidak diingainkan pada mereka.


Clary menyingkirkan tubuh Rudi dengan kasar. Yah.. Clary memang masih sangat jengkel pada sahabat sekaligus suaminya itu. Rudi yang merasakan perlakuan kasar Clary segera bangun karena kaget.


" Apaan si lu?? gangguin orang tidur aja!" Terdengar suara Rudi masih dengan mata yang terpejam.


" Bangun lu breng***" Clary mendorong tubuh Rudi


" Lu tuh nyebelin banget jadi orang" Rudi sangat jengkel pasa Clary karena tak biasanya Clary sekasar itu padanya. Mungkin dia belum sadar dengan yang dia lakukan pada Clary semalam.


Clary pun memilih pergi dan tak menanggapi ocehan Rudi. Dia segera mandi dan mempersiapkan masakan untuk sarapan. Sejak menikah walaupun pura-pura saja Clary setiap hari tetap melakukan tugasnya sebagai istri kecuali masalah ranjang karena tidak ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Begitupun Rudi yang tak pernah melewatkan kewajibannya menafkahi Clary. Bisa dibilang hubungan ini mutualisme saling menguntungkan.


Disisi lain, Rudi dan papinya yang sudah rapi duduk santai dimeja makan menunggu sarapan dihidangkan. Sedangkan mami masih asik berdandan dikamar tamu.


" Ehemm.." papi berdehem saat Clary menyuguhkan sarapan untuk mereka.


" Eh bocah , kamu apain menantu kesayangan papi?" tanya papi pada Rudi sambil mengarahkan dagunya kepada Clary.


" Ngelakuin apa si pi?" tanya Rudi yang tak mengerti arah ucapan papinya.

__ADS_1


" Kamu mau belajar jadi drakula atau sengaja mau pamer ke papi sama mami?" pernyataan papi itu sukses membuat wajah Clary memerah menahan malu. Dia lupa kalau pasti akan ada bekas ciuman Rudi dilehernya. Begitupun Rudi yang langsung sadar dan ingat perbuatannya semalam segera melayangkan pandanga ke leher Clary.


Clary hanya terdiam tak berani bersuara sangking malunya. Dia berusaha secepat mungkin menghabiskan sarapannya dan segera berpamitan untuk mengganti pakaian kantor.


Clary menatap ke arah cermin disalah satu pintu lemari dikamar Rudi sebelum dia berganti pakaian. Terlihat banyak tanda merah dilehernya. Kekesalannya pun semakin bertambah pada Rudi.


" Clair sorry" Rudi tiba- tiba masuk dan memeluknya dari belakang.


Pandangan mereka saling bertemu melalui pantulan cermin. Sorot mata kebencian jelas terlihat dari mata Clary. Dia sangat kecewa dengan Rudi.


" Lepasin. Gue mau ganti baju" Clary berusaha melepas pelukan Rudi. Sedangkan Rudi malah mempererat pelukannya.


" Rudi pliss..gue gak pengen berantem sepagi ini" mendengar kalimat itu Rudipun melepaskan pelukannya dari Clary.


Hari ini terpaksa mereka berdua harus berangkat bersama ke kantor karena ada mami dan papi Rudi. Disepanjang jalan menuju kantor Clary hanya mendiamkan Rudi. Setiap pertanyaan dari Rudi dijawabnya singkat. Hingga sampai dikantorpun Clary selalu menghindari Rudi.


***


Tiga hari berselang, mami dan papi sudah pulang kerumah mereka. Tapi bekas kemerahan di leher Clary masih tampak walaupun sedikit memudar. Selama tiga hari itu pula Clary hanya mau beramah- tamah kepada Rudi saat didepan papi dan mami. Selebihnya dia selalu mengacuhkan Rudi. Rudi pun tak berani membahas itu saat orang tuanya ada.


Malam setelah kepulangan mertuanya, Clary kembali tidur dikamar tamu. Dia sengaja masuk kamar lebih awal karena dia menghindari konfrontasi dengan Rudi.


BRAKKK ...


Terdengar pintu kamar Clarisa dibuka paksa. Terlihat Rudi sudah berdiri diambang pintu dengan wajahnya yang memerah menahan emosi.


" Apa- apaan sikap lu ngediemin gue?!" tanya Rudi dengan penuh emosi bersendekap disamping ranjang Clary.


Clary bangkit dari ranjangnya dan hendak meninggalkan Rudi karena malas berdebat. Belum dua langkah Clary menjauhi ranjangnya, Rudi dengan sigap dan kasar menarik dan membanting tubuh Clary ke ranjangnya. Sekarang Clary sudah berada dibawah kungkungan tubuh Rudi.


"Lu mau kita ngomong baik- baik atau gue bakal ngelakuin hal yang lebih dari malam itu?" sorot mata Rudi sangat menancam.


" Oke lu minggir. Kita ngomong baik-baik" ucap Clary sedikit gemetar. Akhirnya mereka berduapun duduk ditepi ranjang.


" Lu ngapain ngediemin gue?"


" Wajar ya lu nanya kek gitu ke gue. Lu nyadar gak si apa yang lu lakuin kemarin bisa berakibat fatal?"


" Apa lu pikir hubungan kita juga wajar?"


" Pliss gak usah balikin pertanyaan gue. Gue ingetin lagi sama lu kalau kita bertiga sudah sepakat dengan keadaan ini sebelum menikah."


" Oke gue inget itu. Tapi lu juga jangan lupa kalau lu istri sah gue dan gue berhak ngelakuin itu ke lu" kalimat rudi penuh penekanan.


" Apa lu minta hak lu sebagai suami? Gimana kalau gue juga melakukan apa yang seharusnya semua istri lakukan kepada suami yang memiliki wanita lain?" Clary menghembuskan nafasnya kasar. " Lu musti inget alasan kita nikah" tambah Clary


" Gue gak peduli lagi alasan dan kesepakatan kita nikah. Yang jelas sekarang lu istri gue. Lu harus ngehormatin gue sebagai suami."


" Apa lu merasa bahwa lu yang jadi korban dari pernikahan ini? Lu lupa apa yang gue korbanin demi orang tua kita dan demi papi lu yang dulu sakit karna lu?"


" Oh jadi sekarang lu nyalahin gue atas sakitnya papi? Lu lupa kalau dulu lu juga nolak perjodohan kita?" suara Rudi mulai meninggi.


" Gue gak ngerti jalan pikiran lu sekarang Rud. Gue mau berbohong sama orang tua kita karna gue sayang sama mereka dan gue juga gak mau lu kehilangan cinta Melisa yang lu kejar mati- matian "


" Apa lu tulus ngelakuin itu cuma demi keluarga ,gue dan Melisa?" Clary hanya mengangguk atas pertanyaan Rudi. " Trus apa alasan lu ngediemin gue setelah gumalem itu?"


" Lu nyadar gak si Rud kalau apa yang lu lakuin itu bisa berakibat fatal. Kita sama-sama dewasa Rud. Kita juga sudah terikat dalam pernikahan yang sah. Apa lu pikir kita bakalan bisa nahan diri biar gak berbuat lebih dari sekedar ciuman? Kita manusia normal Rud. Gimana kalau sampai kita ngelakuin itu trus gue hamil? Lu gak mikir perasaan kak Mel?"


" Apa lu sendiri pernah mikirin perasaa lu? perasaan gue?" Rudi menatap manik hitam Clary penuh makna.


" Maksud lu?" Clary bingung dengan ucapan Rudi.


" Selama hampir 4 bulan kita nikah apa kamu gak pernah sama sekali berpikir untuk melanjutkan pernikahan kita?"


" Sejak kapan lu suka sama gue?" pertanyaan Clary to the point membuat Rudi tersentak, karena ternyata dia memang mulai nyaman dan tertarik pada Clary.


" Gue.. ah.." Rudi menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena sulit untuk menjawab pertanyaan Clary.


" Jangan lupa lu punya kak Melisa dan lu dulu yang bersi keras melarang dia saat akan menyerah pada hubungan kalian."


" Aaaargggg!!!" Rudi berteriak keras meluapkan rasa frustasinya. Lalu dia mendorong paksa tubuh Clary di ranjang dan mulai ******* kasar bibir istrinya itu. Tak sampai disitu, ulah Rudi yang menggila karena perlawanan Clary membuatnya hilang akal. Dirobeknya pakaian Clary dan mengikat tangan Clary dengan robekan kain tadi.

__ADS_1


__ADS_2