Entahlah

Entahlah
MENIKAH


__ADS_3

"Bagaimana jika saat kau temukan ternyata dia sudah jatuh cinta pada Willyam. Kau tau dia suka pria muda yang hangat seperti Jason, dan itu ada pada Willyam." Tuan Carlos kini tak ubahnya seperti tabung gas LPG 3kg yang bisa menghasilkan api yang memanaskan suasana.


"Mengikatnya dan mengurungnya agar dia tak bisa pergi." jawab Mike sambil mengepalkan tangannya.


"Cobalah kalau kau bisa. Hahaha." Tuan Carlos semakin menertawakan Mike yang berjibaku dengan obsesinya.


*******


Dua bulan sedah berlalu. Mike terus mencari keberadaan Clary hingga hampir gila. Tuan Carlos sampai tak bisa memberikannya misi apapun. Begitupun orang-orang kakak Willyam yang tak hentinya mencari keberadaan mereka.


"Kau berhasil mendapatkannya Will. Aku akan mengampuni nyawanya agar bisa kau gunakan sebagai mainanmu." ucap pria yang tak lain adalah kakak kandung Willyam.


Sedangkan ditempat lain nan jauh disana seorang pria tengah sibuk berlarian mengejar seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 6tahun. Dia adalah Willyam yang sedang bermain dengan anak dari seorang janda yang bernama Jenifer.


Jenifer adalah wanita yang kini rumahnya sedang disewa oleh Clary dan Willyam. Dia seorang pekerja keras karena menjadi single parent sejak suaminya meninggal karena kanker otak 2 tahun lalu.


"Will.. Archie.. berhentilah bermain. Kemarilah makan." teriak Jenifer pada mereka.


"Kau menyukainya?" tanya Clary pada Jenifer.


"Siapa?" pipi jenifer memerah seketika.


"Kakakku." jawab Clary. Mereka mengaku sebagai saudara tiri saat datang ke desa itu karena perbedaan ciri fisik yang mencolok diantara mereka.


"Kau bercanda? A.. aku hanya suka melihat Archie bahagia. Archie menganggapnya sebagai ayahnya." Jenifer malu-malu mengatakannya.


"Sayang sekali. Padahal kakakku sangat menyukaimu dan anakmu. Dia berencana menikahimu saat masalah kami selesai." Clary menampilkan waja menyesal yang sengaja dibuat-buat.


"Hai mengapa serius? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Will yang datang dengan menggendong Archie.


"Bukan masalah besar." jawab Jenifer cepat.


"Memang bukan masalah besar. Aku hanya bilang padanya kalau kau akan menikahinya saat masalah kita selesai." jawab Clary santai sambil memasukan biskuit kedalam mulutnya.


"What?!!!" Jenifer dan Will menjawab secara bersamaan.


"Sudahlah kalian saling menyukai kenapa harus malu. Menikah saja secepatnya. Toh dia juga sudah tau latar belakangmu Will." kalimat Clary terjeda sejenak. "Aku pikir Jeny juga tak mempermasalahkan itu alaskan Archie menerimamu. Dan faktanya bocah kecil ini sudah sayang padamu." Clary pun meneguk soda dinginnya.

__ADS_1


Sedang Jenifer dan Willyam hanya bisa saling memandang dengan canggung.


Clary yang tak sabar dengan tingkah konyol kedua orang itu segera menyodorkan sebuah box imut berisi cincin mutiara kepada Will. "Berikan ini padanya. Lamar dia sekarang."


Kedua orang didepan Clary semakin tercengan dengan kelakuan tak terduga yang dia lakukan. Sesuatu yang berantakan tapi sangat manis. Clary memang selalu berbakat menjodohkan orang seperti yang dia lakukan pada sahabatnya yaitu Rudi dan Melisa dulu. Tapi bakat itu tidak berlaku untuk dirinya sendiri.


"Aku harus bicara dengan kakakku dulu saat kita pulang." Will ingin menghindari suasana canggung ini.


"Sampai kapan kau berbohong padaku. Aku tau kau diam-diam menghubunginya beberapa minggu ini." pandangan tajam Clary sangat terasa didada Will.


"Clair.." Will mencoba menjelaskan pada Clary.


"Sudahlah, mungkin sudah waktunya kita pulang dan menerima hukuman atas kekacauan yang kita perbuat." ajak Clary.


"Kalian akan segera pergi?" Jenifer menatap Willyam.


"Ya. Kami akan segera pergi dan kau juga ikut agar segera dapat melangsungkan pernikahan dengan Will." cetus Clary santai.


"Hey kau jangan seenaknya. Aku belum setuju" kata Will.


"It's okay Will." Jenifer mencoba menengahi agar tak terjadi pertengkaran.


"Tidak. Clary benar. Kau harus ikut bersama kami agar aku bisa menjelaskan semua pada kakakku." Will membuka kotak imut dan mengeluarkan cicin lalu memasangkannya dijari manis Jenifer. "Kau harus menikah denganku. Aku tidak menerima penolakan."


Jeniferpun tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu mereka berdua berciuman tanpa memikirkan perasaan si jones Clary yang sudah jadi makcomblang mereka.


*****


Keesokan harinya mereka berempat kembali kekota asal Willyam dengan mobil Jenifer. Mereka langsung menuju mansion kakak Will.


Setelah hampir 8 jam perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Mereka berempat disambut oleh beberapa pengawal saat masuk kedalam mansion.


Tanpa banyak basa-basi mereka melangkahkan kaki menuju ruang kerja kaka Willyam.


"Kak." Will memanggil kakaknya yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Apa dia yang akan kau nikahi?" tanya Alberto kakak Will yang dijawab anggukan oleh Will. "Jadi sesuai kesepakatan kita, kau atau aku yang membunuhnya (Clary)?" suara Alberto penuh ancaman dan menatap tajam pada Clary.

__ADS_1


"Kak sudahlah. Kami sudah menjalani pelarian bersama. Aku menyayanginya. Bisakah kau melepasnya?" Willyam mencoba membujuk kakaknya.


"Bagaimana denganmu?" tanya Alberto pada Clary.


"Entahlah. Aku hanya merasa cocok dan memahami satu sama lain. Jika memang kau menginginkan nyawaku, kau bisa mengambilnya sekarang. Lagi pula Will sudah menemukan hatinya dan aku juga sudah cukup lelah hidup yang seperti ini." jawab Clary datar tanpa rasa takut.


"Jadilah pendamping pengantin wanita. Lusa mereka akan menikah. Kau bisa tinggal disini beberapa hari dengan tenang sebelum Mike menemukanmu dan mencincangmu." Alberto menyunggingkan senyumnya. "Setidaknya aku berhasil membuat maniak itu (Mike) hampir gila mencarimu. Hahahaha." Alberto tertawa puas dengan derita Mike.


Willyam memeluk Clary dengan erat. Kekhawatirannya akan nyawa Clary yang berada ditangan Alberto sudah lenyap. Dia tersenyum bahagia tanpa melepas pelukannya pada Clary.


Aku senang melihat senyummu kembali. Setelah sekian lama kau menghukum dirimu sendiri atas kematian Brenda (saudara kembar Willyam yang meninggal karena kehabisan darah saat mengalami kecelakaan bersama Will).


Alberto menyunggingkan senyumya tipis melihat kebahagiaan adik kesayangannya.


*****


Dimarkas Tuan Alberto, Mike yang menerima kabar bahwa Clary telah kembali ke kota itu segera memerintahkan semua anak buahya untuk menyusuri setiap inci kota agar menemukannya. Tapi itu semua nihil. Clary tidak terlacak karena dia berada dalam pengawasan Alberto.


Tuan Carlos prihatin melihat orang kepercayaannya menjadi setengah gila. Dia segera memberi tahu Mike bahwa mereka mendapatkan undangan pernikahan Willyam dari Alberto.


Mike semakin geram. Dia berencana merebut Clary dari Willyam saat upacara pernikahan mereka.


Tuan Carlos hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah Mike yang semakin tidak rasional sejak kepergian Clary. Dia bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi antara Mike dan Clary hingga membuat Mike hampir gila saat Clary menghilang. Tidak seperti dulu Mike sangat tenang saat Clary memutuskan berhenti dari dunia bawah dan pergi karena marah atas kematian Jason.


***


Saat pernikahan pun tiba. Semua tamu undangan sudah hadir. Tampak juga Tuan Carlos disana bersama Mike dengan sejuta rencananya.


Mata Mike memindai setiap sudut aula tersebut berharap segera melihat wanitanya. Lalu segera membawanya pulang sebelum pernikahan.


Sedang di belakang altar, Clary dan Alberto tersenyum melihat tingkah Mike.


"Kau akan mati ditangan maniak itu jika kau sampai tertangkap." kata Alberto sambil tersenyum mengejek.


"Tidak mungkin. Kau lihat betapa cintanya dia padaku." jawab Clary sombong.


"Karena cintanya padamu dia tidak akan segan-segan mengurungmu. Hahahaha.." Alberto tetawa puas.

__ADS_1


__ADS_2