
Sinar mentari perlahan mulai masuk kedalam kamar melalui celah-celah fentilasi jendela. Clary mengerjap pelan dan mulai mengumpulkan segenap ingatannya. Dia tersenyum melihat kedua bocah lucu yang masih tertidur pulas. Tidak ada yang rewel tadi malam sehingga Clary juga bisa tidur dengan nyenyak.
Dia mulai beranjak pergi kekamarmandi. Dia melewati dapur dan melihat ibunya sedang berkutat membuat sarapan dengan istri Alan.
"Nduk apa Mike nanti kesini?" tanya ibu.
"Mungkin, soalnya nanti sore Tuan Carlos mau balik buat nyiapin nikahan kami bu. Mungkin akan kesini siang buat pamitan."
"Kamu dapet jodohnya jauh banget sih nduk. Nanti kalau ibu kangen gimana?" ibu memegang kedua bahu Clary menatapnya sendu.
"Biasanya juga ibu gak pernah nyariin Clarisa. Kan anak kesayangan ibu cuma mas Alan." Clary mulai memancing ibunya dan ibunyapun mendengus kesal sambil melanjutkan memasak.
"Gendis belom bangun mbak?" tanya Clary pada istri Alan, kakak iparnya.
"Belum, masih ngorok dikelonin papanya." Clary dan kakak iparnya memang tidal terlalu akrab karena hanye beberapa kali bertemu dan itupun hanya sebentar. Namun Siren adalah wanita yang ramah.
"Yodah aku mau mandi dulu keburu bangun para bocah." Clary melangkahkan kakinya ke kamarmandi.
Skip..
Siang hari yang terik Clary berdiri memperhatikan ketiga bocah yang asik bermain di terasnya dikejutkan dengan kedatangan Tuan Carlos, Mike, Joan dan Kimberly. Mereka datang hendak berpamitan untuk kembali terlebih dahulu guna mempersiapkan acara pernikahan Mike dan Clary.
Clary mempersilagkan mereka masuk keruang tamu yang imut didalam rumahnya. Kimberly bertahan diluar menemani putriinya yang bermain dengan balita lainnya.
Clary memanggilkan ibunya dan Alan karena ayahnya pagi tadi sudah berangkat ke kantor. Clary segera meninggalkan mereka ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil beberapa kue untuk suguhan.
Clary berkutat dengan beberapa gelas dan es batu didapur. Entah dia terlalu fokus atau melamun saat mengerjakannya sehingga dia tak menyadari jika Mike sudah berada dibelakanggnya.
Clary terkejut saat tangan kekar Mike melingkan di pinggangnya. Dia membungkuk membenamkan wajahnya diantara bahu dan leher Clary. Dia menghirup dalam-dalam wangi leher calin istrinya. Mike juga menggesek-gesekkan hidung mancungnya dileher Clary sambil mengecupnya beberapa kali.
Clary risih dengan perlakuan Mike. Dia berusaha menghentikan kegiatan Mike dengan beberapa kali menyentakkan bahunya. "Mike stop it." suara Clary pelan takut membuat keributan.
"No" jawab Mike tetap pada posisinya. " You are mine."
"Nanti setelah menikah kau bisa melakukan apapun padaku. Sekarang bantu aku membawa minuman itu kedepan." Clary menyikut perut Mike untuk menjauh. Sebenarnya ada perasaan yang aneh saat dia mengatakan kalimat tadi. Seakan ada yang tidak terima dihatinya jika harus menjadi milik Mike seutuhnya.
Merekapun mambawa makanan membawa makanan dan minuman keruang tamu dan ikut berkumpul dengan yang lainnya. Disana lagi-lagi Alan menarik Clary untuk duduk disampingnya dan menghalangi Mike yang ingin selalu dekat dengan adiknya itu.
"Kami kemari hanya akan berpamitan kepada nyonya. Kami akan mempersiapkan pernikahan mereka secepatnya. Clary dan Mike akan menyusul kamu besok karena saya yakin anda masih merindukan putri anda begitupun dia." ucap Tuan Carlos ramah.
"Kami sangat berterimakasi kepada anda karena telah bersusah payah sendiri menangani pernikahan putri kami. Dan kami sangat beruntung adik anda menjadi calon suami bagi putri kami yang sangat tengil ini. Semoga semua berjalan lancar sampai pada harinya." Ibu Clary sedikit berkaca-kaca. Bagaimanapun dia sangat menyayangi putrinya walaupun sering dibuat naik darah oleh Clary.
__ADS_1
Rombongan Tuan Carlos pun segera berpamitan setelah menyelesaikan obrolan hangat mereka. Dia akan kembali bersama putrinya Kimberly dan menantunya Jonatan serta tak lupa kali ini membawa pulang juga Katrine. Balita lucu yang entah mengapa selalu menempel pada Clary.
Mike dan Clary ikut mengantarkan mereka ke bandara. Lagi-lagi mereka berada dalam satu mobil dengan Tuan Carlos. Seperti sebelumnya juga, Clari duduk disebelah ayah angkatnya dan mengabaikan Mike.
"Mommy are you sad?" tanya Katrine yang segera menghampiri Clary setibanya mereka dibandara.
"No sweety. You can go with you Mom and Dad. Tomorro I will back with uncle Mike." Clary menciumi pipi bulat gadis kecil itu berharà p dia mau tidah lagi menempel padanya dan mau ikut kembali bersama rombongan.
"Hemmm" balita itu mengangguk lalu kembali pada ibunya sambil melambaikan tangan pada Clary.
Kini Clary dan Mike sudah berada didalam mobil yang tadi mereka tumpangi bersama Tuan Carlos. Mereka memang tidak kesulitan saat tinggal di sini karena Tuan Carlos juga memiliki beberapa perusahaan di negara Clary. Jadi tak heran jika anak buahnya segera siaga saat mereka datang.
Mike menekan tombol didalam mobil yang berfungsi menutup pembatas antara sopir yang berada didepan dengan bangku penumpang dibelakan. Tak lupa juga dia memberikan kode untuk kembali kehotel dan bukan ke rumah Clary.
Grab
Mike segera menarik Clary kepangkuannya setelah pembatas tertutup sempurna.
"Mmmppp emmmppp. Mike.. ah.." suara Clary tertahan oleh bibir Mike yang mengekspos dalam bibirnya.
PLAKK
"Apa yang kau lakukan?" tanya Clary kesal.
"Mengapa kau menamparku itu?" Mike balik bertanya.
"Apakah salah jika mencium calon istriku?" tanya Mike dengan tatapan mengintimidasi.
"Sudah kubilang kau bisa melakukannya nanti saat kita menikah."
"Kau boleh membayangkan aku adalah Jason agar kau dapat menerimaku." ucap Mike dengan suara bergetar menahan gemuruh dihatinya. Dia sadar bahwa Clary menerimanya bukan karena cinta tapi karena Mike sudah melakukan itu padanya.
Clary terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria yang sebetar lagi akan menjadi suaminya itu. Dia tak menyangka Mike akan merelakan perasaan dan harga dirinya demi bisa memilikinya. Karena pada dasarnya tak ada satupun manusia yang suka saat pasangannya mengingat mantannkekasih saat bersamanya..
Mobilpun berhenti didepan loby hotel. Clary segera turun dari pangkuan Mike dan keluar dari mobil. Dia terkejut karena dia pikir dia sampai dirumahnya tapi ternyata dia ada didepan lobby hotel.
Mike merangkulnya dan setengah memaksa Clary mengikuti langkahnya masuk kedalam lift dan menekan tombol menuju lantai dimana kamarnya berada.
"Menueutlah. Jangan membuat keributan ditempat umum. Ini negaramu. Kau tau betul apa yang terjadi jika kau nekat." bisik Mike saat berada didalam lift.
Pintu lift pun terbuka. Mike masih setia merangkulkan tangannya pada bahu Clary. Itu memudahkannya mendorong tubuh Clary mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Mike menempelkan kartu pada alat sensor yang menempel ditembok tepat disebelah pintu kamar hotel untuk membuka kuncinya.
Mike segera menutup kamar hotel dan menguncinya lagi tanpa melepas pelukannya pada Clary.
Dia segara menghadapkan Clary padanya dan langsung men**** bibir wanita itu dengan rakus seakan meluapkan semua emosinya disana.
Mike mendorong tubuh Clary keranjang dan segera menghimpit dan menindihnya. Salah satu tangannya menahan wajah Clary agar tetep menghadap padanya, sedangkan tangan lainnya menahan salah satu tangan Clary yang masih merusaha meronta.
Walaupun Clary sudah lebih kuat sekarang bukan berarti tenaganya bisa melampaui Mike yang dari postur tubuh saja sedah sangat terlihat jelas perbedaannya.
Clary menangis dia masih meronta, memukul dan menjambak Mike denga salah satu tangannya yang bebas.
"Mike lepas. Kumohon hentikan."
Mike tidak menggubris permintaan Clary. Dia semakin liarnya menjelajahi bibir, leher dan bahu Clary yang bagian terekspos karena bajunya sobek oleh ulah Mike
Clary terus meronta dan menangis mendapat perlakuan kasar dari calon suaminya. Dia berteriak meminta Mike melepaskannya. Sampai tanpa sadar dia menyebutkan kalimat yang sukses membuat Mike menghentikan aktifitasnya.
"Jason tolong aku." Mike terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita yang tengah berada dalam kungkungannya.
Dia membulatkan matanya. Ditatap lekat-lekat wajah Clary yang basah oleh air mata. Wanita itu tampak sangat ketakutan. Ini pertama kalinya dia melihat ekspresi begitu yang begitu menyakitkan.
Bagaimana tidak? Dia harus menyaksikan wanita yang dicintainya sangat takut padanya hingga menutup rapat kedua matanya seakan tak sudi melihatnya. Belum lagi wanita itu sampai berucap meminta tolong pada orang yang kelas-jelas sudah meninggal.
Mike bangun dan berjalan mundur menjauh dari tubuh Clary yang masih tergeletak diranjang. Dia mengutuki semua perlakuannya pada wanita itu. Dia sangat menyesal karena mementingkan egonya dan lupa dengan tujuan utamanya untuk mendapatkan hati dan cinta Clarisa.
Clary mulai bangkit dan duduk ditepi ranjang sambil mengusap airmatanya. Ditatapnya lelaki yang nerdiri didepannya dengan penuh kebencian. Wajah ketakutan yang tadi telah lenyap berganti dengan aura membunuh yang begitu kuat.
Mike menyadari perubahan Clary. Dia segera bersiap menerima apapun yang akan dilakukan wanita itu terhadapnya. Dia rela dihukum asal wanita itu tidak pergi darinya hanya itu yang terlintas dalam pikirannya kini.
Clary menghelanafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. Dia menundukan wajahnya sejenak sebelum kembali menegakkannya untung menatap laki-laki didepannya.
Clary berdiri dan tersenyum dengan hangat pada Mike. Raut wajahnya juga sudah berubah jauh lebih tenang dan hangat. Tampak senyum lembut dan tulus terukir jelas diwajahnya seakan dia sedang menatap orang yang sangat dia cintai dan kejadian tadi seakan tak pernah terjadi.
Clarisa berjalan perlahan kearah Mike mengikis jarak diantara keduanya. Dia menjinjitkan kakinya dan mengalungkan tangannya pada leher Mike yang sedang membatu karena bingung dengan perubahan Clarysa yang hanya hitungan menit. Wanita itu menatap lembut mata coklat Mike. "Maafkan aku. Harusnya aku lebih bisa mengerti dirimu." Clarisa mengusap lembut pipi Mike dengan salah satu telapak tangannya.
Mike diam membatu. Dia tercengang dengan sikap Clarisa yang mudah berubah. Seakan ada lebih dari satu jiwa yang berada dalam tubuh wanita itu. Beberapa saat lalu dia nampak sangat ketakutan dan semenit kemudian wajahnya berubah menyiratkan kemarahan dan ancaman, namun dimenit berikutnya dia sudah berubah menjadi pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang.
Clarysa mengalungkan lengannya lagi pada leher Mike. Dia setengah menekannya agar menunduk lalu mengecup bibir pria itu dengan lembut dan penuh cinta. Ditatapnya lagi manik coklat Mike dengan sayang dan hangat lalu kembali menyatukan bibir mereka dengan lembut dan hangat dan berlangsung cukup lama karena Mike tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya mendapatkan perlakuan hangat dari Clary.
Setelah beberapa lama Clary melepaskan penyatus bibir mereka dan tersenyum lembut pada Mike. Dia memeluk Mike dengan erat lalu membisikan sesuatu ditelinga Mike.
__ADS_1