Entahlah

Entahlah
TERANCAM


__ADS_3

Mike hanya tersenyum kecil sambil duduk di sofa bersama Tuan Carlos "Sudahlah. Aku hanya tak ingin dia semakin kesal padaku. Aku hanya ingin melihat ekspresi senangnya saat bisa mengalahkanku seperti dulu." kalimat Mike terjedah, dia mengambil nafas dalam - dalam. "Gadis kecil yang manis dan berisik bukan landak dingin yang tak berprasaan dengan wajah datarnya."


"Yah..aku sudah menganggapnya anakku. Aku juga merindukan saat dimana dia memelukku erat karena ketakutan dan rasa bersalah sudah menghabisi orang." Tuan Carlos tersenyum kecut mendapati fakta gadis kecil yang dulu berubah menjadi wanita dingin dan mesin pembunuh yang kejam.


Mereka berdua duduk disofa menikmati kopi yang baru saja dibawakan oleh pelayan sambil terus memperhatikan Clary yang sedang berlatih sampai dia kelelahan dan menghentikan latihannya.


Clary berjalan ke arah sofa tempat kedua pria itu duduk lalu meraih sebotol air dan meminumnya sampai habis sambil duduk di kursi yang ada didekat kedua pria tadi.


"Apakah akan ada misi berat ayah?" tanya Clary. Yah, sejak dia memutuskan menetap disana Tuan Carlos memintanya untuk memanggilnya ayah.


"Ya. Tapi kali ini Mike akan pergi dengan yang lain. Kau tetaplah disini. " kata Tuan Carlos sembari membuang nafasnya kasar.


Clary mengankat salah satu alisnya menandakan ingin sebuah penjelasan.


"Kau keberatan?" tanya Tuan Carlos lagi yang hanya dijawab dengan kerutan dahi Clary. "Apa kau menghawatirkan Mike?" Tuan Carlos mulai tersenyum jail.


"Cih! Pria tua itu takkan mudah mati. " jawab Clary sinis sambil melirik Mike.


"Kau yakin aku setua itu?" Mike menyunggingkan senyum penuh arti.


"Apa ini menyangkut identitasku?" Clary sudah berhasil menangkap arah pembicaraan mereka. Entah mengapa sejak bergabung kembali dengan dunia bawah feeling Clary menjadi lebih tajam.


"Seseorang mulai curiga dan mencari tahu siapa dibalik senapan yang selalu melindungi Mike." Tuan Carlos menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Mohon bantuannya. Aku tak ingin membahayakan kluargaku. Mereka hanya orang biasa." tampak kekhawatiran jelas diwajah Clary. "Haruskah aku pulang sekarang?"


"Jangan. Aku takut mereka mengikutimu dan menemukan kluargamu. Aku sudah menyiapkan sebuah guest house sederhana untukmu. Biasanya wisatawan bagpacker selalu menyewanya karena harganya yang murah. Itu hanya untuk mengelabui mereka." jelas Mike yg menampilkan wajah sama khawatirnya.


"Mike sudah mengatur penerbanga palsu untukmu agar kau tercatat kalau baru sampai disini. Bersiap- siaplah nanti akan ada yang mengantarmu." jelas Tuan Carlos.


Clary mengangguk dan segera keluar ruangan untuk menyiapkan semua pakaian yang ia bawa dari negaranya dan uang cash yang telah disiapkan Tuan Carlos untuknya. Sementara dia tidak boleh menggunakan kartu apapun sebagai alat bayar karena takut kalau dia terlacak dari kartu tersebut.


*****


Clary sekarang merasakan hidup sebagai pelancong di negara T. Setiap hari yang dia lakukan hanya jalan - jalan mengunjungi tempat wisata sendirian. Tidak ada satupun dari kluarga Tuan Carlos ataupun anggota geng yang menemaninya. Mereka hanya mengintai dari jauh dan memastikan semua aman.


Clary menikmati me timenya, senyum selalu terukir di bibirnya seakan dia adalah manusia normal yang sedang menikmati liburan. Sebisa mungkin dia menampilkan kesan natural dalam diriny untuk mengecoh orang yang selalu membuntutinya.

__ADS_1


Seorang pria dengan tubuh tinggi dan rambut berwarna coklat sering tanpa sengaja tertangkap oleh pandangan Clary selalu mengikutinya. Clary berusaha untuk tidak mempedulikannya agar pria itu tidak curiga.


Clary masuk ke sebuah toko dessert yang cukup terkenal di kota J. Dia memesan beberapa macam dessert dan 2 cup jumbo minuman dengan rasa yang berbeda. Dia memang suka kue dan sangat betah berlama - lama duduk di cafe walaupun sendiri. Karena itu dia memesan banyak makanan sekaligus. Dia tidak ingin waktunya mager terganggu kalau makanannya habis.


Setelah membayar di kasir, Clary menuju rooftop toko tersebut. Dia menuju sebuah bangku yang menghadap ke sebuah danau buatan dipinggir kota. Suasananya nyaman, semua bangku dan meja ditata dengan rapi dan design ruangan terbuka yang memungkinkan mata mengakses pemandangan diluar.


"Permisi, apakah bangku ini kosong?" suara seseorang dengan menggunakan bahasa asli negara T tiba- tiba membuyarkan lamunan Clary.


"I'm so sorry. I can't speak your language." jawab Clary berpura- pura tak mengerti bahasa saat dia lihat ternyata suara itu adalah suara pria yang selalu membuntutinya.


"Oh im sorry is that free." pria itu menunjuk bangku didepan Clary.


"Yes sure" jawab Clary sambil tersenyum.


Pria itupun duduk didepan Clary dan meketakkan secangkir kopi dan sepotong blulerry cake.


"Apa semua ini pesananmu?" tanya pria tadi dengan menunjuk semua hidangan dimeja.


"Ya Tuan. Ada yang salah?" tanya Clary masih dengan senyum polosnya.


"Maaf apa kita dekat?" jawab Clary yang mulai terusik.


"Maaf aku tidak bermaksud." pria itupun salah tingkah dengan ucapan Clary.


"Tidak apa-apa. Aku suka makan. Saat makan semua terasa menyenangkan. Kau boleh ambil yang kau mau. Aku akan berbaik hati kali ini karena kau telah mengajakku ngobrol." Clary berbicara sambil mengunya kue dimulutnya.


Pria itu tersenyum melihat tingkah konyol dan polos Clary yang membiarkan mulut dan tangannya belepotan dengan krim. "Apa dia sebodoh itu. Benar-benar wanita unik."


Merekapun saling berkenalan dan berbincang ringan. Sesekali terdengar gelak tawa mereka saat sedang mengeluarkan kalimat konyolnya.


Pria itu mengaku kalau dia adalah warga lokal yang tinggal di apartemen dekat area guest house. Dia juga bilang bahwa beberapa hari ini sering melihat Clary dan heran karena dia bepergian sendiri tanpa teman. Karena itu dia tertarik untuk menjadi teman Clary.


****


Haripun terus berganti, hubungan Clary dan pria berambut coklat itu semakin akrab. Bahkan pria itu sering menjemput Clary di guest house dan mengajaknya jalan- jalan.


Seperti malam ini. Clary bersiap-siap untuk pergi mengunjungi sebuah wahana bermain yang hanya di buka pada malam hari. Sebenarnya Clary sudah pernah mengunjunginya dengan Kimberly dulu. Hanya saja dia masih dalam mode sebagai gadis pelancong biasa. Jadi dia berpura-pura ini pertama kalinya. Karena dia masih curiga kalau pria yang baru dikenalnya adalah mata-mata.

__ADS_1


"Hai dimana jaketmu?" tanya pria itu saat Clary membuka pintu rumah untuknya.


"Ah iya sebentar aku ambil. Aku baru membelinya tadi." jawab Clary sambil menunjukan sebuah paper bag.


"Apa kau sengaja membelinya saat kau akan pergi denganku?"


"Hahaha...apa kau sungguh berpikir seperti itu Will ? Aku tidak tau cuaca malam sangat dingin dan jaket yang aku bawa dari negaraku tidak cukup hangat. Lagi pula aku bisa flu saat kedinginan." Clary memakai jaket barunya. Tentu semua kalimat Clary adalah tipuan.


Merekapun berkendara selama kurang lebih 30 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Sesekali Will/ Willyam nama pria berambut coklat itu mencuri pandang pada Clary yang sedang asik menikmati pemandangan dari jendela mobil.


CKIIIIIITTTTT...


Willyam mendadak menghentikan mobilnya karena tiba-tiba ada sebuab minibus yang menghadang perjalanan mereka.


Beberapa pria bertampang sangar keluar dari minibus dan menggedor kaca mobil Willyam.


"KELUAR!!!" triak salah satu pria sambil menodongkan pistolnya.


Willyam dan Clarypun keluar mobil. Willyam dengan cepat meraih tangan Clary sesaat setelah berada diluar mobil. Dilihatnya wajah pucat Clary yang ketakutan. Dirasakannya telapak tangan Clary yang bergetar dan mulai basah.


Willyam semakin erat menggenggam tangan Clary berusaha menenangkan wanita itu.


BUGH...!!!


Sebuah pukulan mendarat tepat diperut Willyam menbuatnya megerang kesakitan lalu tersungmur di jalan.


"Aaaaaaaa......!!!!" triak Clary sambil menutup matanya berpura-pura kaget dan ketakutan. "Will...!!" Clary berteriak dan mendekap tubuh Willyam saat dia lihat seseorang dari penjahat itu hendak menendang tubuh Willyam yang hendak bangkit.


"Aaahhhhrrggg..." Clary menahan sakit saat tendangan orang itu mengenai pingganggnya. Air mata Clary pun keluar. Dia menangis menahan sakit. Padahal sih air mata buaya. Dia tidak benar-benar merasakan sakit karena sudah terlatih fisiknya.


Willyampun segera bangkit dan balik memeluk Clary untuk melindunginya. "Katakan apa yang kalian inginkan" kata Willyam seraya membantu Clary berdiri.


"Uang dan mobil." jawab salah seorang dari mereka.


Willyam segera mengeluarkan semua uangnya dan memberikan kunci mobilnya kepada mereka.


Sangat konyol. Dasar penjahat amatir. Pikir Clary dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2