
Empat bulan berlalu setelah kejadian malam itu. Clary pun tak pernah berpikir tentang kejadian itu lagi bahkan terkesan seperti angin lalu untuknya.
Seperti biasa dengan celana jeans dan atasan T-shirt biru yang dipadukan dengan hem lengan panjang yang dibuka kancingnya serta sepatu andalanya dia pergi ke kampus untuk menimba ilmu(bukan air ya).
"Tugas dari dosen kemaren da kelar?" Rudi yang tiba-tiba datang langsung nyrocos.
"Hemmm" jawabnya sambil menganggukan kepala.
"Ntar malem jalan yuk" rudi memasang tampang sok cute.
"Ogah" jawabnya singkat.
"Lu kenapa si susah bener diajak jalan?"
"Gue mo cari duit"
"Judi online lagi?" tanya Rudi kesal.
"Heem" jawabnya singkat sambil meninggalkan sobat kentalnya itu.
"Clar..tungguin napa" Rudi berlari mengejarnya.
-----------
Waktu pun berlalu, materi perkuliahan selesai. Clary merenggangkan otot-ototnya yang sedari tadi sudah merasa lelah.
"Basket yuk" ajak rudi lagi-lagi nylonong.
"Yok..udah pegel juga gue duduk trus"
Mereka berdua pun akhirnya pergi kelapangan komplek perumahan dekat kampus. Mereka memang sering main basket bareng sejak SMA. Karena memang dulunya mereka adalah tim inti di sekolah. Kedekatan mereka sudah seperti sepasang kekasih, tapi itu hanya dimata orang kebanyakan. Karna sebenarnya mereka sering bertengkar sampe adu jotos. Walaupun Rudi hanya menghindar dan tidak pernah berniat membalas Clary.
"Boleh gabung?" seseorang tiba-tiba menyela di tengah permainan.
"Boleh si.. Tapi kita kan cuma bertiga trus gimana mainnya?" tanya Rudi.
"Yodah kita gantian jadi wasit aja jadi mainnya tetap batle 1x1" jawab Clary santai.
" Sekarang hompimpa dulu yang beda jadi wasit" sambungnya lagi.
__ADS_1
Ternyata yang dapat giliran pertama adalah Clary dan orang asing itu.
"Namamu siapa? Aku Clarisa tapi temen temen biasa panggil Clary"
"Aku Jonatan. Panggil aja Joan"
"Btw ada taruhanya gak ni?" tanya Clary lagi.
"Dihhhh dasar penjudi lu" cletuk Rudi.
"Yada taruhannya yang kalah ngundang makan dirumah dan masakin makanan aja" jawab Joan menengahi.
Permainanpun dimulai Clary menang dengan mudah dari Joan. Begitu pula Rudi yang menang 2 kali dari Joan dan Clary.
"Fix yang kalah paling banyak Joan. Jadi kamu masak buat kita dirumahmu. Kebetulan perut udah laper ni" Rudi dengan bangga karna menang telak.
Akhirnya merekapun pergi kerumah Joan. Rumah minimalis tapi memiliki halaman yang luas. Saat memasuki rumah, Rudi dan Clary dikagetkan dengan sebuah lukisan hitam putih yang mereka pikir itu sangat familiar.
Tak butuh waktu lama untuk Joan menyiapkan makanan mereka karna mungkin Joan memang pandai memasak.
"Ehm.. Joan lukisan didepan kok keyaknya familiar banget ya" tanya Rudi yang emang tukang kepo.
"Tapi aku liat kek mirip dia" Rudi menunjukan jarinya ke arah Clary.
"Ish...kok gue dibawa-bawa si. Ketemu juga baru tadi" jawab Clary jutek sambil tetap mengunyah makanannya.
"Iya" Joan memandang Clary dengan tatapan penuh makna.
Rudi dan Clary yang sadar dengan tatapan aneh Joan saling memandang yang menyiratkan rasa penasaran mereka.
"Iya lukisan itu emang dia" imbuh Joan seakan tau yang ada diotak mereka. "Dia udah nyelametin aku pas malem aku dikejar-kejar geng motor" Joan menatap Clary dengan pandangan teduh.
Sontak saja penjelasan Joan membuat Clary sangat terkejut dan kembali flash back ke kejadian empat bulan lalu. Dia berpikir keras kenapa sampai tidak mengenali laki-laki eneh ini.
"Kok bisa Clary nyelametin kamu?" Rudi kembali bertanya dengan segala kekepoanya.
Joan pun tak segan-segan menceritakan kejadian yang menimpanya malam itu sampai berakhir dikamar kos Clary.
"Tapi kalian semaleman cuman tidur doang kan gak ngapa-ngapain?" celoteh Rudi mulai ngawur.
__ADS_1
"Mulut lu gada akhlak Rud mau gue tampol lu" Clary mengacungkan bogemnya didepan wajah Rudi.
"Ya bukan gitu, maksud gue kamu gak diapa-apain kan sama Clary? Secara aku tau banget nih lampir paling gak bisa ngeliat yang bening kek kamu" jelas Rudi panjang lebar dengan muka tak bersalah.
PLAKKKK
Yes..akhirnya pukulan keras mendarat tepat dikepala belakang Rudi sampai dia mengaduh kesakitan.
"Mulut lu ya bener-bener minta ditampol kaos kaki kang maman" Clary yang sudah sangat jengkel karna celotehan sahabatnya.
Joan pun tersenyum melihat drama pertengkaran mereka dan dia pun angkat bicara untuk melerai pertengkaran rumah tangga itu "Aku aman kok gak diapa-apain sama Clary. Malem itu beneran cuman tidur doang kecuali kita sempet ci..."
Belum selesai kalimat dari mulut Joan, secepat kilat Clary menutup mulut Joan dengan menyuapinya lauk yang ada didepanya.
Rudi yang melihat tingkah aneh Clary segera memahami situasi dan memilih untuk terus menggoda Clary dengan keusilannya. "Sempet apa? Ciuman? Wah asik nih keknya ada yang modus ngasi napas buatan" senyum usil rudi mengembang sambil menjauhkan diri dari Clary yang dia tau pasti akan memukulnya habis-habisan.
Clary yang mulai geram dengan tingkah kedua makhluk bernama laki-laki itu segera berdiri dari tempat duduknya. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang mulai memerah. Sejenak dia tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya kasar. "Yada terserah kalian mo ngomong apa" Clary hanya berpikir bahwa dengan berkata seperti itu Rudi akan berhenti mengejeknya.
"Wah jadi bener kalian ciuman?" tanya Tudi spontan yg merasa tidak ada kemarahan lagi diwajah Clary.
"Iya"
"Nggak"
Joan dan Clary manjawab bersamaan dengan jawaban berbeda. Hingga akhirnya mereka bertatapan.
"Bukanya kita emang ciuman"
"Eh gak ada ya yang kek gitu yang ada lu maksa gue" teriak Clary.
"Tapi kamu nikmatin juga kan" senyum kemenangan Joan mengembang seakan nencibir.
"Ya jelas lah lu cakep" kaliman spontan Clary sukses membuat dua lelaki itu ternganga tak percaya bahwa dia akan seblak-blakan itu.
"Ishhhh... Astaga mulut gue kenapa gada filternya si" gumamnya dalam hati seakan menyesali kebodohanya.
--------
Setelah hari itu entah sengaja atau hanya kebetulan Clary dan Joan sering bertemu. Entah itu minimarket atau dijalan raya. Seperti semua sudah direncanakan. Tapi tetap perasaan jengkel masih menggelayut diotak Clary. Sebenarnya dia sangat enggan menyapa saat bertemu. Tetapi Joan selalu tersenyum manis yang bisa membuat gadis itu benar-benar kehilangan akal.
__ADS_1