Entahlah

Entahlah
ketemu


__ADS_3

" Oh Clary sudah pulang baru saja. Ada yang perlu saya bantu untuk Tuan?" tanya resepsionis itu sopan.


" Apa kamu tau dia tinggal dimana?" tanya Joan lagi. Dia merasa senang bahwa dia benar - benar Clarisa.


" Maaf apa dia melakukan kesalahan tuan?" resepsionis itu takut Clary melakukan kesalahan yang menyebabkan tamu hotelnya komplain.


" Oh gak. Dia temen saya udah 4 tahunan gak ketemu jadi saya pingin reuni lagi gitu. Boleh saya tau alamat rumahnya atau nomer hp nya?" tanya Joan lagi.


" Maaf Tuan kami tidak berhak memberikan data karyawan disini."


" Oh ok ok. Gak masalah. Oh iya. tolong bantu reservasi lagi ya buat 1 minggu. Saya gak jadi cekout besok." senyum Joan mengembang.


" Tunggu aku Clary.. kita buat perhitungan besok" gumam Joan dalam hati


Joan tak bisa tidur, dia tak sabar menunggu hari berganti. Matanya benar- benar enggan terpejam. Berulang kali dia menatap jam dan melihat keluar jendela hotel yang masih gelap. Memang masih gelap karena baru jam 3 dini hari.


Perlahan mata Joan mulai berat. Dia mulai terlelap dalam mimpi indahnya. Mungkin saat ini dia bermimpi bertemu Clarisa.


Tak lama kemudian sinar matahari mulai masuk memenuhi kamar hotel melalui jendela yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Joan. Dia menggeliat diatas tempat tidur, enggan untuk bangun. Karena memang dia baru saja terlelap saat subuh tadi.


....


Sekarang sudah tengah hari , matahari sangat terik. Joan pun bangun dari mimpi indahnya. Dia mengucek matanya sambil memulihkan kesadarannya.


" Jam berapa nih?" Joan melihat jam diding di kamar hotel itu.


" Astaga da siang banget dah."


Joan segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Lalu bersiap - siap untuk makan siang di restoran hotel sambil menunggu Clary.


Telolet telolet dor dor dor


Dering hp Joan berbunyi. Dia segera meraih benda pipih itu dan menggeser tanda hijau di hp nya.


" Ya" kata Joan saat mengankat hp nya.


" Maaf bos apa benar anda akan stay di Bali untuk 1 minggu kedepan" tanya orang kepercayaan Joan diujung telp sana.


" Iya. Apa ada yang penting?" tanya Joan datar.


" Bukankah lusa kita ada meeting dengan cilent dari perusahaan kosmetik?" orang kepercayaan Joan berusaha mengingatkan.


" Tolong kamu handle dulu ya. Saya ada urusan mendesak disini. Kamu kan jagonya kakakku yang manis." jawab Joan santai


" Heh curut. Yang dapet warisan papa kan lu yang dapet posisi direktur juga lu. Kenapa apa- apa masih gue" seorang diujung telp sana tiba - tiba nyolot gak ada sopan - sopannya.


" Dih... marah dia. Kalo lu mau ya ambil noh posisi direktur sama perusahaannya sekalian. Emang lu pikir gue bahagia? Pusing otak gue." dengan santainya Joan menyerahkan semua pada abangnya yang juga dia percaya untuk segala urusannya.


" Untung gue sayang ama lu dek dan perusahaan gue lebih gede dari punya lu, kalo kagak udah beneran gue rampok miskin lu!!!" celotehnya sebal karena Joan yang selalu bertindak seenaknya.


Joan memang tidak tau kalau abangnya juga memiliki perusahaan sendiri dan lebih sukses dari pada dia karena abangnya memang orang yang sangat ulet dan pekerja keras.


" Udah - udah gue matiin dulu kak. Calon adik ipar lu dateng." Joan segera mematikan telponya tanpa menunggu jawaban dari abangnya.


" WHAT??? Jo..halo JOANNNNNN!!! Sialan dimatiin. Haduhhh.. cewek mana lagi nih yang dipacarin sama playboy gila itu. Semoga papa gak tau masalah ini atau dia bakalan kena semprot gas air mata dari papa." abang Joan merasa kesal menghadapi adiknya itu.


...


Joan melangkahkan kakinya menuju resepsionis saat dia lihat Clary sudah ada disana. Dengan hati yang bergetar dan jantung yang berdebar dia memantapkan langkahnya menuju kekasih yang lama dia tinggalkan.


" Clary" Joan memanggil dengan sedikit ragu.


" Ya" jawab Clary spontan sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arang orang yang memanggilnya dari depan meja resepsionis.


DEG..DEG..DEG..


Mata mereka saling bertemu. Jantung mereka sama - sama berdetak tak karuan. Didetik berikutnya Clary mulai sadar lalu mengalihkan pandangannya seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf Tuan apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap Clary formal dan sopan. Dia bersikap senatural mungkin sebagai pegawai disana.


" Kamu Clarisa kan?" tanya joan dengan menggebu - gebu


" Iya benar saya Clarisa. Ada yang perlu saya bantu Tuan?" tanya Clari sesopan mungkin karena ini di area kerjanya.


" Ikut aku sekarang!" kata Joan tanpa melihat situasi.


" Maaf Tuan kalau anda ada perlu dengan saya selain mengenai hotel ini silahkan Tuan temui saya di jam pulang kerja nanti." jawab Clary sopan sambil tersenyum lembut sehingga Joan pun menyetujuinya lalu pergi.

__ADS_1


" Siapa itu tadi Clary? Bagus ajan nok" tanya Arini teman satu shift Clary


*** bagus ajan nok \= gateng banget si****


" Iya Clair kenalin dong" jawab teman yang lain


" Cih kalian ini masih kurang apa ada cowok ganteng sedunia didekat kalian ini" salah satu resepsionis pria menunjuk dirinya sendiri.


" Huweeekkkkk" 3 perempuan itu kompak pura - pura muntah.


...


Waktu berlalu, Clary memacu motornya kembali kerumahnya karena dia merasa lelah dan mengantuk setelah bekerja tadi. Dia lupa kalau dia ada janji dengan Joan.


Disisi lain Joan mengendarai mobilnya mengikuti motor Clary. Dia menahan emosi yang memanas didadanya karena Clary tidak menemuinya sepulang dia kerja seperti yang dia janjikan tadi sore.


Sejak bertemu dengan Clary tadi dia terus mengawasinya dan sengaja mencari tau jam berapa dia pulang kerja agar dia bisa langsung mendatangi Clary saat itu juga.


Sampai tiba saat pulang kerja, dilihatnya Clary meninggalkan meja resepsionis tadi. Joan tak tau kemana dia pergi. Lalu dia berinisiatif menunggu Clary di jalan raya dengan mobilnya karena khawatir jika Clary sengaja kabur darinya.


Benar saja setelah beberapa saat dilihatnya Clary memacu sepeda motornya keluar dari hotel. Tanpa pikir panjang Joan segera mengikutinya hingga sampai didepan sebuah rumah minimalis di area perumahan.


Clary turun dari motor dan membuka gembok dan pintu gerbang lalu memasukan motornya. Sedangkan rudi memarkir mobilnya rapi disisi jalan didepan gerbang rumah Clary.


" Clarisa!" teriak Joan mengagetkan perempuan itu saat dia akan mengunci gerbangnya lagi.


" Kamu?" Clarisa mulai mengingat kalau tadi dia janji akan menemui Joan sepulang kerja.


" Boleh aku masuk?" tanya Joan yang langsung nyelonong masuk tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik rumah.


Clarisa mengajak Joan masuk dan mempersilahkannya duduk di sofa minimalis diruang tamu. Lalu dia meninggalkan lelaki itu untuk mengambilkan minum.


" Sorry cuman jahe hangat" Clarisa meletakkan dua buah cangkir berisi minuman jahe hangat di atas meja. Lalu dia duduk disofa dan menghadap Joan. " Minum dulu biar gak masuk angin. secara ni da malem banget." Clary memperlsilahkan Joan meminumnya.


" Kenapa kamu bohong?" tanya Joan to the poin


" Maksudmu?"


" Kamu janji mau menemuiku setelah kerja"


" Oh itu.. maaf tadi aku lupa." jawab Clary santai padahal hatinya sangat gugup.


" Gak. Aku beneran lupa tadi. " Clary masih dengan nada santainya.


" Kamu bohong. Kamu sengaja menghindar kan?!" suara Joan meninggi.


" Terserah kalo kamu gak percaya. Kamu bisa pergi sekarang. Lagi pula ini sudah lewat tengah malam. Aku mau istirahat." Clary bediri dari tempat duduknya hendak beranjak menuju pintu.


Joan yang melihat itu segera berdiri dan menarik lengan Clary dengan kasar. Dia menatap dalam ke wajah wanita didepannya . Kecurigaan dan emosi masih menyelimutinya.


Clary hanya meringis menahan sakit.saat merasakan cengkraman tangan Joan semakin erat. " Joan sakit. Lepasin!!" teriak Clary.


" Dasar pembohong!" bentak Joan.


Sejenak Clary terdiam mematung karena kaget atas bentakan pria didepannya yang tak lain adalah Joan.


" Kamu bilang aku pembohong? Cuma karna aku lupa gak nemui kamu tadi. Trus apa yang kamu lakuin selama 4 tahun ini? Apa yang pernah kamu bilang dulu kamu pergi cuma 2 minggu." mata Clary memanas menahan buliran bening yang akan menerobos keluar.


" Kamu nunggu aku selama ini?" tanya Joan tak percaya.


" Sayangnya gak" jawab Clari sambil tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirmya seakan mengejek.


" Oh aku ngerti sekarang. Rupanya benar pasti selama ini kamu berhubungan dengan Rudi." Joan memastikan karena penasaran dengan data pembayaran booking hotel atas nama Rudi.


" Gakda urusan sama kamu dan ini aku kembalikan. Maaf aku udah pakai uang kamu buat beli rumah ini dan motor yang ada didepan." Clary mengambil kartu debet yang ada di saku celananya. Karena tadi sengaja dia letakkan disitu agar tida lupa mengembalikannya saat bertemu dengan Joan.


" Cuman buat dua benda itu?" tanya Joan menahan marah.


" Uang untuk bayar hotel aku kembaliin cash. Rumah dan motor bisa kamu ambil sekarang." Clary hendak mengambil uang dalam dompet ditasnya tapi tangannya ditahan oleh Joan.


" Kamu mau nikah sama Rudi?" tanya Joan dengan aura membunuh


" Nikah??? Telat lu bro. Gue dah cerai kali ama dia. Bahkan udah diprawanin sama dia...hahaha" gumam Clary dalam hati dengan tertawa miris.


" Kenapa diam? Jawab pertanyaanku? Kamu mau nikah sama dia kan? kamu punya hubungan sama dia kan?!!" Joan terlihat semakin marah.


Clary hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Joan. Sedang Joan yang masih diselimuti emosi tetap menatap Clary tak percaya.

__ADS_1


" Nikah apa gak aku sama Rudi itu bukan urusan kamu. Kamu siapa? Apa hubunganku sama kamu? Apa perlu aku ingatkan kalau yang pergi itu kamu bukan aku." jawab Clary sesantai mungkin sambil tersenyum pahit.


" Kamu itu milikku sampai kapanpun!!" Joan mendorong Clary hingga jatuh ke sofa lalu mengunci pergerakan Clary. Akan tetapi kaki Clary yang bebas bisa menendang Joan hingga lelaki itu terjatuh.


Clary berlari menuju kamarnya diikuti oleh Joan. Lagi - lagi Joan berhasil menerobos masuk kekamar saat Clary hendak menutup pintu kamarnya. Joan segera menangkap Clary dan menjatuhkannya di tempat tidur tanpa ranjang yang tergeletak rapi di lantai kamarnya.


" Joan lepas. Jo sakit." tangan Clary dicengkram erat oleh Joan. Tubuhnya tak dapat bergerak karena ditindih oleh Joan.


" Jo lepp emmm emmmm ...." kata - kata Clary berakhir dengan ciuman Joan.


Clary tak dapat menolak ciuman itu. Dia hanya bisa terus berusaha mengatupkan rapat bibirnya. Joan yang merasa tidak mendapatkan respon semakin kasar ******* bibir Clary dengan rakusnya.


" Ah... Jo hentikan !!!" teriak Clari saat Joan mulai menjelajahi leher Clary dengan bibirnya. Tapi Joan sama sekali tidak menggubrisnya.


" Jo plisss hentika aku udah gak perawan" Clary spontan tanpa sadar mengucapkan pengakuan itu.


Joan menghentikan aktifitasnya, matanya membulat sempurna. Rahangnya mengeras. Diapun bangun dan melepaskan Clary dengan emosi yang meluap - luap dihatinya.


" Rudi?" tanya Joan penuh emosi dijawab anggukan oleh Clary.


" SHITTTTT!!! Harusnya gue bunuh dia dari dulu" Joan akan beranjak meninggalkan Clary.


" Jo tunggu aku jelasin" Clary menarik tangan Joan. " Plissss. Setelah ini terserah kamu mau ngapain" Clary sangat khawatir pada nasib Rudi nanti. Pasalnya dia juga belum begitu mengenal siapa Joan. Yang dia tahu Joan memiliki banyak uang dan dia takut Joan bisa menyakiti Rudi dengan uangnya.


" Joan plisss. Kali ini saja tolong dengerin aku" akhirnya Joan pun memilih duduk dan mendengarkan Clary dari awal pernikahannya dengan Rudi sampai tentang pembayaran hotel atas nama rudi dengan kartu debet yang Joan berikan pada Clary.


" Maaf aku udah pakai uang kamu. Harusnya aku gak pernah pake uang kamu." sesal Clary atas kebodohannya.


" Kamu gak perlu minta maaf. Uang itu milikmu. Lagian aku bukan marah karena kamu pakai uang itu. Tapi aku marah karena kamu selingkuh sama Rudi dibelakan aku. Kalau kamu gak pake kartu itu mungkin aku gak bisa nemuin kamu sekarang " Joan memegang kedua bahu Clary


" WHAAAAT??? SELINGKUH??? Kamu sendiri ngilang gitu aja gimana bisa kamu bilang aku selingkuh. Toh aku juga gak tau kamu masi idup apa da koit. Hp kamu juga gak bisa dihubungi. Berkali - kali aku kerumahmu juga kamu gak pernah ada." sekarang gantian Clary yang emosi.


Sebenarnya Clary juga tidak terlalu perduli apa Joan masih hidup atau sudah mati. Yang dia perdulikan hanyalah saat ini dia tidak mau terus disalahkan oleh joan karena memang faktanya itu bukan sepenuhnya kesalahan Clary.


" Aku minta maaf udah ninggalin kamu tanpa kabar. Aku beber- benar menyesal." Joan menundukan wajahnya.


" Yodah kosong - kosong ya sekarang. Udah gak ada yang salah ya sekarang. Awas kamu ngungkit masalahku sama Rudi" Clary tersenyum senang. " Udah hampir pagi. Kamu nginep disini dulu aja. Kamu bisa tidur disini. Aku dikamar satunya." Clary hendak beranjak namun ditahan oelh Joan.


" Aku masih cinta sama kamu" Joan menatap dalam manik hitam Clary.


" Aku udah gak perawan Jo. Kamu bisa cari cewek lain." Clary menatap Joan dengan intens untuk meyakinkan lelaki didepnnya.


" Aku tetep cinta sama kamu. Seenggaknya perawan kamu hilang karena suami kamu bukan orang lain dan dia juga hanya 3 kali kan nidurin kamu." senyum devil Joan mengembang.


" Serah !! Aku mo ti...emmm.. ah..Jo emmmmm" lagi - lagi Joan menutup mulut Clary dengan bibirnya, ********** dengan lembut.


Clary yang mendapatkan serangan mendadak membulatkan matanya. Clary yang awalnya terdiam mulai membalas ciuman Joan saat dirasakan ciuman itu mulai menuntut. Semakin lama ciuman itu semakin dalam .


Joan melepaskan ciumannya dan menatap intens pada clary.


" Boleh?" tanya Joan dengan suara parau yang dijawab gelengan kepala Clary. Padahal sebenarnya Clary juga sudah merasakan darahnya mulai memanas.


" Plisss... aku gak akan ngilang lagi. Aku mau nikahin kamu" Joan menangkup kedua pipi Clary.


Clary hanya terdiam tak dapat berkata apa - apa. Dia hanya mampu menatap mata Joan. Hatinya kini berada dalam dilema ketakutan yang sama. Ketakutan akan ditinggal seperti sebelumnya. Ketakuta akan melakukan hal itu lagi dengan orang yang salah. ' Orang yang salah' itulah yang tertanam dibenak Clary walaupun saat melakukan hubungan intim dengan Rudi adalah berstatus suami- istri.


Joan yang melihat Clary hanya terdiam segera menyatukan lagi bibirnya dengan bibir Clary. Dia ***** habis bibir wanita didepannya. Perlahan ciuman itu membangkitkan nafsu Joan.


Kini ciuman itu beralih ke leher Clary, meninggalkan beberapa tanda berwarna. Clary menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah. Badannya menegang. Ada perasaan aneh muncul menyelimuti tubuhnya.


Clary yang tiba - tiba tersadar spontan mendorong tubuh Joan hingga hampir terjatuh.


" Clair.." suara Joan berat dan memelas menahan nafsu yang sudah diujung kepala.


" Maaf Jo."


" Clair plis.. besok aku bawa kamu ke kluargaku kita segera menikah." Jonatan memeluk Clarisa dari belakang sambil menciumi leher dan bagian belakang wanita itu.


" JOAAANNN!!!" Clarisa berteriak saat Joan dengan kasar mendorongnya lagi ke tempat tidur. Untungnya Clary yang sedikit bisa bela diri segera mendorong lalu menendang perut Joan dengan keras hingga Joan tersungkur.


" Sorry Jo. Gue bukan cewek murahan" Clary pun pergi menuju kamar lain dan mengunci pintu kamar itu.


Sedangkan Joan keluar dari kamar dan membersihkan dirinya di kamar madi tamu hingga lebih dari setengah jam lamanya. Yah apa lagi yang bisa dia lakukan selain menyelesaikan misinya sendiri. Anggap saja lagi bersolo karir. Hahaha..


Joan: "puas lu thor?!"


*Author GJ: " puas pake banget wakakakakakakakacau" autor tertawa puas sambil berlari ninggalin Joan karena Joan sudah bersiap- siap nimpuk author pake gayungnya si nenek.

__ADS_1


Bentar ya. aku pengen ngakak dulu. ngebayangin kalo itu beneran pasti auto migren si Joan*.


__ADS_2