Entahlah

Entahlah
GALAU


__ADS_3

Setelah acara lamaran selesai, rombongan Tuan Carlos dan Mike pergi menuju hotel yang telah disiapkan oleh Joan dan Kim untuk beristirahat. Sebenarnya Mike sangat enggan meninggalkan Clary,apa lagi disitu masih ada mantan suaminya yang belum juga mau pulang serta terus saja memamerkan keakraban mereka. Tapi apa daya perintah bos besarnya yang juga berperan sebagai kakak angkatnya harus selalu dipatuhi. Dengan wajah kesal Mike melangkah dengan berat meninggalkan kediaman kluarga Clary.


Iring-iringan mobil rombongan Tuan Carlos sudah mulai tak terlihat. Clary beserta kluarganyapun kembali kedalam rumah. Kim dan Joan sengaja tetap tinggal disana karena putri mereka yang baru berusia 2 tahun sedang asyik bermain dengan putri Alan dan putra Rudi yang sama-sama berusia 3 tahun.


Clary tampak tersenyum melihat ketiga balita lucu itu bermain dan sesekali berceloteh lucu. Diapun menghampiri mereka dan ikut bermain bersama seperti anak kecil.


"Mommy .. mommy.. look." Karine putri Joan menunjukan sebuahboneka barbie ditangannya kepada Clary. Entah kenapa putri Joan dan Kimberly selalu memanggilnya dengan sebutan 'mommy'seperti dia memanggil Kim. Padahal dulu semua orang termasuk Clary selalu menyuruhnya memanggil Clary dengan sebutan Ounty (tante). Sampai akhirnya para orang dewasa menyerah dan membiarkan seperti itu.


"Tante itu boneka dari aku loh. Cantik kan?" timpal Gendis anak Alan yang tak lain adalah keponakan Clary.


"Wah beneran..cantik banget kayak tante ya?" jawab Clary pada kedua balita itu.


"Hai Kai.. anak gamtengnya mama kenapa kok tiba-tiba diem? Kai marah sama mama?" tanya Clary pada satu-satunya balita laki-laki yaitu anak Rudi dan Melisa.


Hampir sama seperti putri Kim dan Joan, putra Rudi dan Melisa yang notabenya hanya bertemu melalui vidiocall saja dengan Clary juga selalu memanggilnya dengan sebutan mama, sedang Melisa dia panggil dengan sebutan 'bunda'.


"Kai kenapa sayang?" tanya Clary lagi sambil membawa belita itu dalam pangkuannya.


"Kai gak suka sama om yang mala-mala(marah-marah) deket-deket sama mama." balita itu mendengus kesal.


"Om yang mana sayang?" tanya Clary sembari menghadapkan balita itu padanya.


"Yang pake baju putih yang suka tayik-tayik mama." Clary dapat menyimpulkan bahwa Mike lah yang dimaksut bocah itu.


"Oh namanya om Mike. Dia baik kok sayang. Tadi dia gak marah sama mama. Om yang tadi tarik-tarik mama mau kasi uang. Nah ini uangnya bisa kita buat beli es cream sekarang." Clary membohongi Kai dengan mengeluarkan selembar uang dari kantong celananya.


"es keyimmmm (es krim)" ketiga bocah itu berteriak kegirangan mendengar nama makanan favorit mereka disebutkan.


Clary tersenyum mendapat pelukan yang bersamaan dari ketiga balita itu. Diapun segera mengajak mereka bertiga kewarung dekat rumah untuk membeli es krim.

__ADS_1


"Da cocok tu jadi babysiter." Celoteh Alan yang memang selalu senang menggoda adiknya.


"BODO AMAT!!" jawab Clary sambil terus melangkah bersama ketiga balita itu.


......


Malampun tiba, Kim dan Joan mencoba membujuk Katrine untuk kembali bersama mereka. Namun putri mereka menolak sampai menangis dengan kencang. Ia memeluk erat tubuh Clarisa yang kini sedang menggendongnya. Begitu pulan putra Rudi yang masih memeluk erat kaki Clary dan tak mau di ajak pulang orang tuanya.


"Sepertinya putrimu memahami perasaanmu yang enggan pergi dari Clary" sindir Rudi dengan berbisik diteliga Joan karena takut istri-istri mereka akan salah paham.


"Bukalah matamu dengan lebar. Kau lihat putramu juga memohon-mohon sambil memeluk kaki Clary persis seperti dirimu." bisik Joan yang tak mau kalah.


"Gini aja deh. Mereka viar nginep disini tidur sama gue. Besok boleh kalian jemput. Lumayan kan nih malem kalian bisa bikin adek buat mereka." Clary yang mulai pusing mendengar rengekan para balita dan drama orang tua pun segera ingin menyelesaikan pertikaian tersebut.


"Jangan Clary, kamu capek entar." kata Melisa


"Come on sweety.. Your mommy is tired." Kim juga tak kalah masih membujuk putrinya.


Dan setelah perdebatan panjang akhirnya Clary menang dan membawa para balita yang sudah lelah karena menangis itu pergi untuk tidur dikamarnya.


Rudi sempat sedikit melihat kedalam kamar Clary. Ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Dia tersenyum miris mengingat malam pertama sebagai pengantin di kamar Clary. Ya, mereka hanya menghabiskan waktu bermain game lalu tidur tanpa melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.


Kamarmu tetap tak berubah. Begitupun hubungan kita. Hanya bisa menjadi sahabat tak bisa lebih, walaupun kita sudah pernah melewati masa-masa itu. Rudi bergumam dalam hati.


Tak berbeda jauh dengan Joan. Sepanjang perjalanannya kembali ke hotel hanya diam sambil fokus dibelakang kemudi. Kim tak menyadari apa-apa karena dia tertidur dimobil.


Joan merasa sangat kehilangan dan ada sedikit sakit di yang dia rasakan kini.


*Ses*akit inikah yang kamu rasakan waktu aku menikahi wanita lain? Ah, bahkan mungkin lebih sakit dari yang aku rasakan. Maafkan aku Clarisa karena berkali-kali mengecewakanmu. Semoga kau berbahagia dengan Mike. Setidaknya dia lelaki setia yang hanya mencintaimu.

__ADS_1


Joan mengusap cairan bening yang tanpa permisi membasahi pipinya. Dia tidak ingin Kim melihat itu dan bersedih karena mendapati kenyataan bahwa masih ada wanita lain dihati suaminya.


Diatas ranjang ditempat yang berbeda, Mike masih uring-uringan lantaran harus terpisah dari Clary. Juga rasa cemburunya yang tak jelas pada kedua mantan Clary yang masih berkeliaran disekitar calon pengantinnya itu.


Sedangkan Clarisa masih setia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya masih menerawang jauh. Wajah Jason terus terbayang dikepalannya. Dia turun perlahan dari ranjang agar tak membangunkan kedua balita yang kini sedang tertidur pulas.


Clary berjalan gontai menuju teras rumahnya untuk menenangkan pikirannya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa inilah yang akan membuat Jason bahagia dan tenang dialamnya. Diapun duduk dikursi sambil.menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.


"Kalau gak sreg gak usah dipaksain dek." suara barito yang lembut mengagetkan Clary hingga membuka lebar matanya.


"Paan si mas." jawab Clary sambil memejamkan matanya lagi.


"Kamu gk cinta kan sama dia?" tanya Alan to the point.


"Cinta lah." jawab Clary malas dan tak ingin orang mengetahui perasaannya.


"Kamu belum bisa lupain pacar kamu yang meninggal itu kan?" tanya Alan lagi. Walaupun mereka sering bertengkar tapi tak bisa dipungkiri kalau hanya Alan yang mengerti semua perasaan adiknya luar dalam.


Clary memang pernah bercerita tentang hubungannya dengan Jason dan Mike walaupun dia tak menceritakan siapa dan apa pekerjaan mereka sebenarnya. Begitupun alasan meninggalnya Jason. Karena menurutnya Alanlah yang paling bisa mengerti dirinya dan situasi yang dia hadapi.


"Belum mas." jawab Clary yang kini menaikan kakinya diatas kursi dan bersila untuk menghalau dingin.


"Trus ngapain kamu nerima dia?"


"Gak tau." Clary menyandarkan kepalanya lagi.


"Kalian udah ngelakuin itu atau jangan-jangan kamu sudah hamil?" Alan memperhatikan raut wajah Clary mencoba mencari kebenaran dalam dirinya.


"Dehhhh... mulai dah resek. Mau tes kehamilan sekarang?" Clary bersikap tenang dan malah menantang kakaknya.

__ADS_1


"Hwahahahaa.... yada kalo gitu ntar pas udah sah layanin tuh suami kamu biar cepet hamil. Jangan kayak nikahan yang sama Rudi." sindir Alan yang tahu situasi pernikahan Rudi dan Clary yang hanya setingan.


"Au ah mas. mo tidur aku. Capek." Clary pun beranjak meninggalkan Alan sendiri.


__ADS_2