
Sedang di belakang altar, Clary dan Alberto tersenyum melihat tingkah Mike.
"Kau akan mati ditangan maniak itu jika kau sampai tertangkap." kata Alberto sambil tersenyum mengejek.
"Tidak mungkin. Kau lihat betapa cintanya dia padaku." jawab Clary sombong.
"Karena cintanya padamu dia tidak akan segan-segan mengurungmu. Hahahaha.." Alberto tetawa puas. " Pastikan dia tidak merusak pesta adikku." imbuhnya.
Clary mengangguk lalu keluar untuk menemui Tuan Carlos dan Mike.
"Ayah." sapa Clary yang memakai gaun putih dan rambut serta wajah yang telah didandani sedemikian rupa tampak jauh berbeda dengan yang biasa mereka lihat.
Mike berdiri dari tempat duduknya hendak menarik Clary karena dia pikir Clarylah yang akan menikah. Tapi usahanya digagalkan Tuan Carlos yang segera memeluk Clary.
"Aku yakin bukan kau pengantinnya." bisik Tuan Carlos pada Clary. Clary hanya tersenyum seakan tau kalau ayah angkatnya sedang ingin mengerjai Mike.
Clary melepaskan pelukan ayah angkatnya lalu menoleh pada Mike dan menyalaminya. "How are you Mike?" Clary tersenyum manis. "Jangan mengacau disini atau aku yang akan membuatmu semakin menderita." Clary menatap tajam mengisyaratkan ancamannya.
Setelah itu Clarypun berpamitan kepada mereka karena acara akan segera dimulai. Clary akan menjadi pendamping pengantin wanita kali ini.
Tak lama setelah itu musik pengiring pengantin terdengar. Anak-anak kecil melangkah memasuki aula dengan menebarkan kelopak bunga dan diikuti kedua mempelai yang tersenyum bahagia.
Mike terkejut ketika melihat bahwa bukan Clary yang berada disamping Willyam tapi wanita lain. Sedangkan Clary berjalan bersama beberapa wanita lain dibelakang pengantin wanita.
Tuan Carlos tersenyum melihat ekspresi wajah Mike yang melihatnya curiga seakan pandangannya menyiratkan tuduhan persekongkolan Tuan Carlos dan Clary untuk membuatnya gila.
Sial kau pria tua brengsek. Dan kau Clary, setelah ini jangan harap kau bisa lari lagi dariku.
__ADS_1
Mike sangat sebal dengan lpasangan ayah dan anak angkat yang tidak lain adalah bos dan patnernya dalam misi.
Setelah acara selesai Tuan Carlos dan Mike tak langsung meninggalkan gedung itu. Dia menunggu Clary dan Alberto yang notabenya adalah musuhnya. Dia ingin membawa Clary kembali bersamanya.
"Silahkan ikut bersamaku. Tuan Alberto menunggu kalian diruangannya." seorang pengawal menunjukan jalan pada mereka berdua.
"Tuan mereka sudah tiba." kata pengawal tadi kepada Alberto yang duduk dikursi membelakangi mereka.
"Clarisa apa kau mau kembali bersama mereka atau tetap disini bersamaku?" tanya Alberto tanpa basa-basi.
"Aku akan kembali bersama mereka. Terima kasih sudah melepaskanku. Mungkin lain kali kita bertemu dalam keadaan yang berbeda. Aku masihlah orang Tuan Carlos." jawab Clary.
"Kau boleh minta bantuanku jika mereka menindasmu." tatapan tajam Alberto jelas dia tunjukan pada Mike yang berdiri disamping Tuan Carlos.
"Baiklah, kami permisi Al. Mungkin lain kali aku akan mengunjungimu." Clary melangkah mendekat pada Tuan Carlos.
Batin Mike meronta mendengar panggilan akrab Clary kepada musuh bebuyutannya. Ingin rasanya Mike menghajar habis laki-laki itu, kalau saja Tuan Carlos tak memperingatkannya terlebih dahulu.
Akhirnya mereka bertiga pun pergi meninggalkan aula tempat resepsi tadi menuju markas mereka. Apa lagi kalau bukan untuk menghukum Clary.
Tuan Carlos berjalan masuk menuju ruangan yang biasa digunakan rapat anggota geng sebelum melakukan misi. Diikuti Clarisa dan Mike yang masih saling diam.
Tuan Carlos segera duduk di singgahsananya sesampainya diruang yang mereka tuju. Dia hanya diam menatap tajam pada Clarisa menunggu penjelasannya.
"Maaf Tuan, aku siap menerima hukuman." kata Clarisa.
"Apa alasanmu pergi bersama Willyam?" Tanya tuan Carlos dengan aura membunuh.
__ADS_1
"Maaf, aku tau kalian sengaja menggunakanku sebagai umpan agar Alberto keluar. Begitupun Alberto menggunakan Will sebagai umpan. Kami hanya merasa bernasib sama, jadi kami mencoba keluar dari zona yang kalian buat." ujar Clary dwngan tenang.
"Haaaaahhh..." Tuan Carlos menghela nafas panjang. " Setidaknya tak ada pertikaian kali ini dan kau bebas dari incaran mereka. Bersyukurlah karna nasib baik berpihak padamu. Tapi entah kau bisa lepas dari Mike atau tidak aku tak bisa menjaminnya." Tuan Carlos pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua sambil menepuk bahu Clary. "Good luck sweety.."
Aura dingin segera menyelimuti ruangan tersebut setelah kepergian Tuan Carlos. Clarisa melihat Mike memberikan aba-aba pada semua pengawal untuk pergi dan menutup pintu rapat-rapat. Ingin rasanya dia berlari secepat kilat pergi dari ruangan itu.
Suara langkah kaki Mike terdengar semakin mendekat pada Clary. Bulukuduknya tiba-tiba berdiri seakan dihampiri hantu. Dia menelan ludah sulit. Tenggorokannya terasa tercekik. Dia paham betul apa yang bisa dilakukan Mike saat dia marah.
Semua trik yang dia lakukan akan sia-sia karena Mike sedang dalam mode es batu dalam kulkas dikutub utara. Aura membunuh semakin terlihat jelas dari wajah laki-laku itu.
Clary memejamkan mata seraya menarik nafas dalam untuk menenangkan pikirannya.
GRAABBBB
Mike memeluk erat tubuh Clarisa hingga dia kesulitan bernafas. Mike menghirup dalam-dalam wangi rambut Clarisa seakan mengidentifikasi seluruh aroma yang menempel pada tubuh wanita kesayangannya itu.
Clarisa berusaha melepaskan diri dari pelukan Mike. Mencoba sekuat tenaga mendorongnya. Nafasnya mulai sesak karna Mike semakin mengeratkan pelukannya.
"Mike.. Kau berniat menhancurkan tulangku?" Clarisa memberanikan diri berbicara.
CUP CUP CUP CUP
Mike mengendorkan pelukannya dan beralih menciumi wajah Clary hingga berakhir di dengan penyatuan bibir mereka.
"Katakan kau takkan pergi lagi." Mike menatam manik hitam Clarisa.
"Maaf aku tak bisa berjanji." Clary menundukan wajahnya.
__ADS_1
"Berarti aku harus memaksamu." Mike menyuntikan cairan di lengan Clary hingga wanita itupun jatuh pingsan.