
Pagi pun tiba, seperti rencana awal bahwa Mike dan Clary harus pulang ke negara asal Clary untuk menemui kluarga besarnya. Mereka akan terbang menggunakan jet pribadi milik Tuan Carlos karena nyatanya Tuan Carlos yang akan menemani Mike sebagai walinya.
Clary nampak manis denga celana jeans dan kemeja kotak-kotaknya. Tak lupa sepatu cets dan kacamata hitam bertengger menutup matanya untuk menyembunyikan rasa sedihnya yang nampak jelas dari kelopak matanya yang membengkak setelah menangis.
Faktanya walaupun semalam ia terlihat tenang saat bersama Mike dan cenderung bersikap dominan pada lelaki itu tapi tetap tak dipungkiri bahwa dia sangat kecewa dengan keputusannya untuk menikah dengan Mike.
Semalam setelah dia keluar meninggalkan Mike sendiri dikamar itu, Clary sengaja pergi dari markas dan menginap d sebuah hotel. Dia berharap esok takkan pernah datang. Dia menangis mengutuki dirinya karena merasa bersalah pada Jason. Tak dipungkiri bahwa sebenarnya ia sangat membenci Mike. Walaupun mungkin ada sedikit rasa iba saat melihat lelaki itu terpuruk dan menggila karenanya.
Dia menutup wajanya degan bantal, kalimat Tuan Carlos masih terus terngiang di telinganya. "Aku tak ingin melihat Mike gila karenamu. Jason juga sudah pasti sependapat denganku. Bukankah kau telah menerima pesan terakhir dari Jason?" kalimat itu membuat Clary teringat pesan Jason yang menyuruhnya menikah dengan Mike jika dia mati.
Haaaahhh...
Sejenak Clary menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar sebelum melangkahkan kaki masu ke dalam jet pribadi. Dia berusaha menetralkan emosinya, bersikap seolah tenang dan wajar. Tapi rupanya usaha Clary ditanggapi lain oleh Mike dan Tuan Carlos. Mereka melihat wanita itu mulai membeku kembali dengan kediamannya sejak berangkat dari mamsion tadi pagi.
Clary datang di pagi buta ke mansion Tuan Carlos untuk mengambil beberapa barang dan berangkat bersama dengan Mike dan Tuan Carlos ke bandara. Dia tidak banyak bicara mulai sejak dia datang. Semua pertanyaan hanya di jawab dengan kalimat singkat.
Seperti tebakan kalian, lagi-lagi Clary mengabaikan Mike seperti sebelumnya. Dia bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Jangankan berbicara, menatap pria itu saja sangat malas ia lakukan.
"Kid.." Tuan Carlos menepuk bahu Clary membuat lamunanya buyar.
"Ya ayah." Clary tersenyum lembut pada ayah angkatnya tanpa melepas kacamata hitamnya.
"Belum terlambat untuk membatalkannya." suara Tuan Carlos terdengar berat dan seakan penuh kesedihan.
"I'm fine dad." lagi-lagi Clary tersenyum sambil memegang tangan ayah angkatnya berusaha meyakinkannya.
Huh..kenapa kedua pernikahaknu terjadi bukan atas kemauanku? Clary menggerutu dalam hati.
Apa kau bahagia disana Jass? Sudahkah kau tenang melihatku memenuhi keinginan konyolmu? Andai hari ini adalah milik kita akankah kau juaga masih rela memberikanku pada sahabat yang telah membunuhmu hanya demi wanita? Sialnya wanita itu adalah aku.
Clary tersenyum kecut menatap foto Jason yang ia keluarkan dari saku kemejanya.
Kau tampak sangat manis dengan kemeja ini. Apa aku terlihat cocok memakainya?
Lagi-lagi Clary bergumam dalam hati seraya mengusap foto Jason yang menggunaka kemeja senada dengan yang dipakai Clary saat ini. Karena kenyataannya tanpa sepengetahuan semua orang, Clary menyimpan pakaian Jason dan menjahitnya ulang agar pas untuk ia pakai. Mungkin itu bisa menghilangkan sedikit rasa rindu terhadap Jason dan memudarkan kesepian dihatinya.
__ADS_1
Clary mulai merasa lelah dengan hatinya. Dia memejamkan matanya setelah jet pribadi yang mereka tumpangi lepas landas dan akhirnya tertidur.
Disisi lain Mike yang sedari tadi diabaikan oleh Clary diam-diam memperhatikan gerak-gerik wanita yang akan dinikahinya. Dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Clary hingga sikapnya berubah lagi.
Mike melihat sesuatu terjatuh perlaahan dari tangan Clary. Dia bangkit dari duduknya dan mendekat kepada Clary lalu membungkuk meraih lembaran yang terjatuh itu. Mike tersenyum kecut menyadari bahwa sedari tadi ternyata Clary menggenggam foto Jason.
Mike membawa foto tersebut dan kembali duduk berhadapan dengan Tuan Carlos. Dia meletakkan foto tersebut pada meja dihadapan bosnya itu.
"Kau memang tak pernah bisa menang darinya." cibir Tuan Carlos pada Mike.
"Setidaknya aku mendapatkan wanitanya." jawab Mike bangga.
"Itu hanya keberuntunganmu karena Jason meninggal."
"Jangan lupa bahwa akulah yang membuatnya pergi selama-lamanya." Mike menenggak wine didalam gelasnya.
"Pantaslah jika Clary sangat membencimu hingga saat ini." ujar Tuan Carlos.
"Cih.. setidaknya dia lebih dulu mencintaiku dari pada Jason.." kalimat Mike terhenti karna Tuan Carlos menyelanya dengan cepat.
"Tapi kau tak pernah menghargainya." jawab tuan Carlos cepat dengan nada sedikit meninggi. "Pernahkan kau bersikap lembut padanya? Bahkan dia sangat menyukaimu walaupun kau sering kasar padanya untuk menutupi perasaanmu padanya."
"Dulu dia hanya gadis kecil dengan perasaan normal yang membutuhkan perhatian dan pernyataan cinta dari seorang pria yang ia sukai. Tapi kau malah menghancurkan hatinya dengan selalu bersikap kasar. Disaat yang bersamaan ada Jason yang selalu membelanya saat kau menindasnya. Jadi berterimakasihlah pada Jason yang melarangnya membalas dendam padamu atau sudah sejak lama kau bertemu dengan Jason diakhirat. Nikmatilah istri dinginmu disisa umurmu, sebagai pertanggungjawaban atas luka yang dia rasakan." Tuan Carlos menatap tajam pada Mike.
**********
Hampir 9 jam penerbangan yang mereka lakukan. Sekarang jet mereka telah mendarat sempurna di bandara internasional di negara asal Clary.
Mike membangunkan Clary yang sejak awal tetap tertidur karena dia merasa kelelahan akibat beradu dengan perasaan dan otak rasionalnya.
"Sayang bangunlah. Kita sudah sampai." Mike mengecup lembut kening Clary.
Emmmm...
Clary setengah menggeliatkan tubuhnya. Lalu membuka perlahan matanya.
__ADS_1
"Mmmm Mike.. ada apa?" tanya Clary yang masih setengah sadar.
"Kita sudah sampai. Apa kau tidak merindukan kluargamu?" Mike tersenyum selembut mungkin untuk menutupi perasaannya.
Clary segera beranjak keluar dari jet tanpa menjawab pertanyaan Mike.
"Kau menjatuhkan ini." Mike mengembalikan foto Jason yang sempat ia simpan tadi.
"Thanks." jawab Clary singkat dan segera berlalu dari hadapan pria itu.
Udara panas segera menyambut kehadiran mereka setelah turun dari pesawat. Perbedaan waktu dan iklim dari kedua negara membuat mereka sampai disana pada siang hari saat panas yang benar-benar menyengat.
"Aku sangat merindukannya." Clary berlari mengejar Tuan Carlos yang turun lebih dulu darinya. Dia melingkarkan tangannya di lengan ayah angkatnya sambil tersenyum lebar dan bebas.
"Kau senang?" Tuan Carlos mengusap lembut kepala Clary. Dijawab anggukan olehnya.
Diluar bandara beberapa buah mobil mewah sudah terparkir rapi lengkap dengan supir dan beberapa pengawal. Bersiap mengantarkan ketiga orang tersebut dengan beberapa pengawal terbaiknya menuju rumah Clary.
Pemandangan tersebut membuat heboh sebagian orang yang berada di bandara. Walaupun mereka semua berpakaian casual namun pesona ketampanan para pria bule yang berpostur tinggi ini mampu menarik perhatian setiap mata yang melihat. Apa lagi terdapat seorang wanita lokal yang tak hentinya bergelayut pada seorang pria bule paruh baya namun masih terlihat sangat tampan.
Sayup-sayup terdengar bisik-bisik dari sebagian orang yang melihatnya nampak mencibir. Simpenan bule tuh cewek. Pasti "dipake" gantian tuh. Liat aja cowoknya banyak tapi dia doang cewek lokal. Pe****k kali dia.
Clary hanya tersenyum mendengar hal itu. Dia tak ingin menanggapi ocehan yang meurutnya sangat tidak penting.
Clary memilih duduk disamping ayah angkatnya setelah masuk kedalam mobil dan duduk berhadapan dengan Mike. Clary masih setia merangkul tangan Tuan Carlos dan tak segan-segan bersandar pada bahu ayah angkatnya itu.
"Hai nak, kau akan membuat calon pengantinmu salah faham terhadapku." Tuan Carlos mulai memecah keheningan.
"Bunuh saja dia jika berani meragukanmu ayah." jawab Clary dengan mata terpejam.
"Rupanya kau ingin menjadi janda sebelum kita menikah?" emosi Mike mulai terpancing.
"Hei jangan lupa Tuan Mike, aku memang seorang janda. Tapi aku sangat mempesona hingga menantu ayah juga pernah tertarik padaku." jawaban Clary membuat alis Tuan Carlos terangkat satu menandakan dia ingin penjelasan.
"Apa ayah lupa jika Joan adalah mantan kekasihku." jawab Clary santai.
__ADS_1
"Ya aku akui kau memang mempesona gadis kecilku. Bahkan jika aku tidak pernah berjanji untuk tidak menikah lagi setelah kematian Jesica mungkin aku yang terlebih dulu akan menikahimu. Dan jika kau terus saja menempel padaku seperti ini, akan kupastikan akulah yang melamarmu pada ayahmu." Tuan Carlos menatap tajam pada Clary hingga membuatnya sedikit ketakutan.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita bunuh saja Mike lalu kita menikah hahaha." akhirnya Clary dan Tuan Carlos tertawa terbahak-bahak karena berhasil melihat ekspresi jengkel dari Mike atas keusilan mereka berdua.