
" Sayang kamu pakai baju sendiri ya. Maaf bukan aku gak mau bantu kamu tapi aku gak tahan kalau harus melihat tubuhmu lagi. Aku takut hilang kendali dan melakukannya lagi." Rudi memberikan pakaian Clary dan dibalas anggukan oleh Clary. Dia masih enggan berbicara karena bingung dengan sikap Rudi yang tiba- tiba berubah dan bahkan berani memaksanya melakukan itu, walaupun semua sah saja karena mereka suami- istri.
Setelah berganti pakaian Clary keluar kamar menuju dapur hendak mengambil sesuatu untuk dia masak karena perutnya sangat lapar.
" Sayang sini makan, aku udah masakin makanan buat kamu." Rudi segera mengajak Clary ke meja makan.
Clary dengan cepat menyantap makanannya tanpa melihat ke arah Rudi sama sekali. Dia ingin segera bertanya apa yang sebenarnya yang Rudi lakukan padanya. Saat Clary hendak beranjak akan membereskan piring yang telah ia pakai untuk makan, tiba- tiba rudi melarangnya dan berkata kalau dialah yang akan melakukan pekerjaan rumah hari ini karena tidak tega dengan kondisinya yang masih lemah.
" Badanmu masih sakit sayang?" tanya rudi sembari duduk di sofa bersama Clary. " Aku buatin susu kurma madu ya biar seger lagi" Rudi hendak beranjak dari tempatnya duduk.
" Rudi, we need to talk" ucap Clary menghentikan langkah Rudi.
Rudi kembali duduk disamping Clary dan menatap lekat- lekat wajah wanita itu. " Mau ngomong apa?" tanya Rudi lembut.
" Plisss jangan bersikap seperti ini ke gue" nada bicara Clary penuh penekanan.
" Maksud kamu sikap yang gimana sayang?" Suara Rudi masih terdengar lembut walaupun tatapannya seakan ingin membunuh semua yang ada didepannya.
" Maksud lu apa ngelakuin semua itu ke gue?"
" Apa salah kalau kita ngelakuin itu? Kita udah nikah loh. Jangan lupa itu." ucapnya datar.
" Tapi lu taunkan alasan kita nikah untuk apa? Pliss Rud.. tolong jangan bikin semua tambah runyam. Pernikahan kita cuman tinggal hitungan bulan lalu semua selesai. "
" Apa jika pernikahan kita memang pura-pura kamu akan berani merawatku sampai memandikanku waktu aku sakit?"
" Itu aku hanya melakukan tugasku sebagai istri karena kamu butuh bantuanku"
" Dan sekarang aku juga sedang membutuhkan bantuanmu sebagai seorang istri untuk melakukan tugasmu dengan baik" Rudi menatap tajan pada Clary.
" Rudi tolong pikir dua kali sebelum kamu bertindak. Kamu lupa kalau kamu punya Melisa yang akan kamu nikahi nanti. Apa kamu gak mikir gimana perasaan dia?"
" Apa hanya perasaan Melisa yang kamu pedulikan? Okelah aku ngerti kalau kamu mungkin gak punya perasaan apa- apa ke aku. Tapi kamu pernah gak sekali aja mikir bagaimana dengan perasaanku selama hampir setengah tahun tiap hari sama kamu. Ngeliat sikap kamu yang biasa aja walaupun aku bermesraan sama Melisa."
" Gue gak ngerti maksud lu apa"
" Clarisa Atmaja liat mata gue!!" Rudi meninggikan suaranya. " Apapun alasan kita nikah gak akan mengubah status gue sebagai suami sah lu. Bisa gak sedikit aja lu menghormati gue dan bersikap layaknya istri beneran?"
" Gue selalu ngutamain lu, gue selalu mentingin perasaan lu Rud. Lu bahagia sama Melisa dan gue dukung itu. Trus lu mau gue bersikap seperti apa lagi?"
" Apa alasan lu ngorbanin kebahagiaan lu buat gue kalau bukan karna lu juga cinta sama gue?!"
" Rudi, apa yang selama ini gue lakuin itu tulus. Gue cuman pengen bantu lu bahagia dengan pilihan lu sendiri bukan dengan perjodohan."
" Dan gue milih lu buat jadi istri gue" jari telunjuk Rudi tepat didepan wajah Clari.
" Rudi plisss jangan bercanda lagi"
" Bercanda hah?!! Lu pikir gue bercanda???!!!!" Rudi melemparkan asbak didepannya hingga pecah berkeping-keping.
" Rudi lu apaan si??"
" Ikut gue sekarang" Rudi mencengkram lengan Clary dan menariknya kasar menuju kamarnya. " Sebercanda apa gue sampai foto nikahan kita ada didalam kamar gue??"
" Lepasin tangan gue Rud. Sakit!!" Clary meringis menahan sakit.
Rudi yang sudah tersulut emosinya menghempaskan kasar tubuh Clary ke ranjang. Lalu mengurungnya dengan mendindihnya. Ditatapnya lagi manik hitam Clary dengen penuh emosi.
" Sejak kapan Rud? Sejak kapan lu jatuh cinta ke gue?"
__ADS_1
" Sejak lu setia ngerawat gue di rumah sakit. Sejak lu menggunakan jari-jari lu buat nyentuh tubuh gue. Sejak gue nyaman dalam pelukan lu saat Melisa gak ada disamping gue" Rudi menempelkan keningnya pada kening Clary.
" Ini salah !" Clary mendorong kasar tubuh Rudi agar menyingkir darinya. " Kita ngomong baik-baik". Clary pun duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Rudi. " Lu mau gue ngelakuin kewajiban gue sebagai istri kan?" tanya Clary dan dijawab anggukan oleh Rudi.
Clary menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
" Apa lu yakin?" tanya Clary lagi
" Gue yakin" jawab Rudi tanpa pikir panjang.
" Ku udah ngomong sama kak Mel?"
" Kenapa Mel lagi si?"Rudi kembali jengkel
" Rudi dengerin gue.. Nantinya yang bakal jadi istri lu itu Melisa bukan Clarisa. Sekarang gue cuman sementara sama lu. Gue gak masalah walaupun lu mau ngelakuin apapun ke gue. Tapi lu inget ada hati yang harus lu jaga." Clary masih terus berusaha menyadarkan Rudi.
" Apa hanya pesasaan Melisa yang lu pikirin?"
" Gue juga mikirin perasaan lu kedepannya. Gue gk mau natinya lu bingung kalau harus milih gue atau Melisa. Karena apa yang lu lakuin ke gue pasti akan ada akibatnya. Lu tau jelas itu."
----
FLASH BACK
" Ah sial banget si ni hari bos nyuruh gue gantiin Niko. Mana tempatnya jauh" Rudi berjalan ke parkiran dengan wajah ditekuk.
" Woy Rud.. mo kemana lu ?" tanya Clary yang tak sengaja berpapasan dengannya.
" Ke green palace gantiin Niko" Rudi memjawab dengan muka sebal.
" Hwahahahaha.. rasain lu" Clary tertawa mengejek Rudi. " Selamat menikmati perjalanan anda Tuan "ejeknya lagi
Rudi memukul bahu Clary yang senang diatas penderitaannya. Benar saja Rudi sangat jengkel karena tempat yang akan dia observasi berada dipelosok desa yang akses jalannya masih belum tersentuh aspal sama sekali.
Rudipun segera meninggalkan sahabatnya yang sudah sah menjadi istrinya. Dia memacu motornya dengan perlahan walaupun jalanan terbilang sedang sepi. Mungkin karena dia juga malas untuk pergi ketempat yang akan dia tuju. Rudi menghentikan sejenak motornya karena lampu merah lalu lintas sedang menyala. 30 detik berlalu lampupun mulai hijau. Rudi segera melajukan lagi motornya. Tapi tanpa diduga sebuah mini bus melaju kencang dari arah kanan yang seharusnya lampu lalu lintasnya menyala merah.
BRAKKKK
Tabrakanpun tak terhindarkan. Rudi terpental dari atas motornya. Sebagian tubuhnya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dengan tenaga dan kesadaran yang masih tersisa dia meraih ponselnya dan menelpon seseorang. Siapa lagi kalau bukan Melisa yang dia telpon.
" Aku kecelakaan di perempatan Batu Bar.." Rudi tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat tiba- tiba dia pingsan.
" Halo.. yang.. yang.. halo" suara masih terdengar dari phonecell milik Rudi.
" Halo .. iya mbak. Maaf pemilik hp ini kecelakaan dan pingsan." seseorang yang menolong Rudi mejelaskan dimana lokasi kecelakaan itu terjadi.
Disisi lain Melisa yang sedang sibuk menyiapkan presentasi untuk meeting tiba - tiba berlari keluar dari ruanggannya untuk mencari Clarisa.
" Clair Rudi kecelakaan." sangat jelas terlihat wajah Melisa begitu cemas.
" What?!! Dia dimana sekarang kak?!" Clary dan sebagian karyawan lain ikut kaget mendengar kejadian yang menimpa Rudi.
Melisapun menceritakan apa yang didengar di telpon tadi. " Terus gimana ini Clair bentar lagi aku ada presentasi sama Bos?" Melisa bingung harus segera pergi karena khawatir pada Rudi atau tetap melanjutkan presentasinya.
" Kak Mel lanjut aja biar aku yang kelokasi. Aku mau ijin pimpinan dulu. Kak Mel tenang ya."
---
Rudi membuka matanya perlahan. Sakit dikepala dan tubuhnya masih sangat terasa. Tangannya bergerak perlahan saat merasakan sesuatu. Matanya mengerjap lagi karna masih sedikit kabur. Dia menoleh arah sesuatu tersebut. Dilihatnya Clari tertidur dengan posisi duduk sedangkan kepalanya bersandar di ranjang tempat Rudi dirawat.
__ADS_1
" Clair, Clarisa.." suaranya lemah.
" Emmm.. ah.. Rudi.. Syukurlah kamu sadar. Bentar aku panggil dokter"
Setelah itu dokter datang dan memeriksa Rudi. Dokter menjelaskan bahwa Rudi mengalami patah tulang di tangannya hingga harus menggunakan penyangga untuk sementara. Terlihat jelas aura kesedihan diwajahnya. Tapi dia merasa sangat beruntung karena sahabatnya ada bersamanya.
Dokterpun pergi meninggalkan ruanga Rudi. Sedangkan Rudi masih meratapi kesialannya hari ini. Dia terus saja bergelut kalut dengan pikirannya sendiri tanpa dia sadari sepasang mata memandangnya dengan penuh iba. Kehangatan tiba- tiba dia rasakan saat tubuh kurus sahabatnya memeluknya.
" Hei pucundang. Lu sedih cuman gara- gara patah tangan lu? Dokter bilang kan bisa sembuh tapi butuh waktu. Lagian patahnya gak parah dan udah di oprasi juga tadi " Clary berusaha menenangkan sahabatnya/ suaminya.
Rud hanya terdiam dalam pelukan Clary yang masih setia berdiri disamping ranjang. Rudi semakin membenamkan kepalanya di dada Clary. Ada perasaan yang tidak dia mengerti muncul dihatinya. Dia merasa damai dan nyaman. Dia memeluk pinggang Clary dengan salah satu tangannya yang masih sehat walaupun ada jarum infur melekat disana.
" Rudi tanganmu jangan gini nanti jarumnya lepas." suara Clary terdengar lebih lembut dari biasanya ditelinga Rudi.
" Clair, jangan tinggalin aku." punggung Rudi bergetar hebat karena menahan tangisannya.
"Iya aku gak kemana- mana. Lagian kamu cengen banget luka gini aja nangis" cletuk Clary yang menyadari bahwa Rudi mati - matian menahan tangisnya.
Kenapa aku ini? Kenapa aku pengen nangis dipelukan mak lampir ini. Hahhh jadi turun derajatku. Lagian kenapa yang dateng si lampir ini bukannya Melisa. Kenapa pelukan lampir ini beda sama Melisa ya. Aku ngerasa tenang sama dia. Rudi bergumam dalam hati karena dia merasakan sensasi lain dihatinya.
" Rudi ?!" teriak Melisa saat masuk keruang rawat Rudi dan mendapati adegan yang penuh drama itu.
" Tuh yayangmu da dateng, jagan nangis lagi" Clary melepas pelukannya sambil mengejek Rudi. Tapi Rudi sangat tidak rela Clary melepaskannya. Padahal Melisa sang pacar sudah berada disana.
" Clair aku bawain makanan. Pasti dari tadi kamu belum makan." Melisa memberikan nasi bungkus kepada Clary lalu segera mendekati Rudi.
Entah mengapa kali ini Rudi merasa tidak senang akan kedatangan cintanya itu. Dia merebahkan dirinya lagi dan memejamkan matanya.
" Sayang maaf aku baru dateng. Tadi aku ada presentasi. Sebenarnya aku tadi mau langsung dateng tapi aku senang karena ada Clarisa yang merelakan waktunya buat pergi gantiin aku" Melisa berusaha mengungkapkan penyesalannya. Rudi hanya membalasnya dengan fake smile saja.
Keesokan paginya Clary segera membangunkan paksa Rudi karena dia juga harus segera pergi ke kantor. Clary memang tidak menghubungi keluarga karena permintaan Rudi yang khawatir akan kesehatan papinya jika bliau tau keadaannya sekarang. Sedangkan Melisa semalam pulang kerumahnya juga atas permintaan Rudi.
" Sini gue bantu lap badan lu biar gak bau " Clary meletakkan baskom yang berisi lap dan air hangat yang ia dapat dari perawat tadi.
" Gak usah. Aku bisa sendiri " jawab Rudi yang merasa risih membayangkan Clary menyentuh bagian- bagian tubuhnya.
Clary tidak memperdulikan ucapan Rudi. Dia dengan telaten dan sangat lembut membuka pakaian Rudi lalu mengelap seluruh badan rudi.
Rudi merasakan getaran - getaran aneh saat jemari Clary menyenth kulitnya. Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan saat ia sedang bercumbu dengan Melisa.
Aisshhh.. kenapa ini. Kenapa tiba - tiba pikiranku sekotor ini ama lu. Pikiran Rudi kacau tak terkontrol.
Tiba saatnya Clary melepaskan celana Rudi dan hanya menyisakan boxerna. Rudi semakin bingung harus berbuat apa. Terlintas pikiran - pikiran kotor diotaknya sampai membuat miliknya bangun dan mengeras.
" Heh lu udah sekarat masih sempet mikir mesum!!!" bentak Clary saat dia menyadari milik Rudi yang sudah siap kemedan perang.
Rudi kaget mendengar bentakan Clary. Tapi entah kenapa dia masih tidak bisa mengontrol miliknya agar terlelap kembali.
Sial ketahuan. Si boy gk mau nurut buat tidur lagi. Bener- bener jatuh harga diriku kali ini. Tapi kok Clary biasa aja ya. Kok dia gak kaget dan gak gugup juga. Malah dengan santainya di terusin ngelapnya.
" Udah beres bagian gue. Nih ambil. bagian itu lu lap sendiri tapi gk pake ngayal." Clary memberikan lapnya pada Rudi. " Oh iya ni juga lu pake sendiri. Kalau udah entar gue yang makein pakaian lu." Clary meletakkan 'CD' disebelah Rudi.
Kalau kalian tanya gimana perasaan Clary. Tentu saja dia sangat malu dan jantungnya seakan melompat- lompat dalam dadanya. Apa lagi saat melihat milik Rudi yang tiba- tiba menonjol dibalik boxernya. Tapi dia berusaha setenang mungkin agar tidak tercipta suasana canggung disana. Sebenarnya dia sangat enggan melakukan semua itu. Tapi dia ingat kewajibanya sebagai seorang istri walaupun hanya pura- pura. Karena kesepakatan mereka dulu hanyalah tidak boleh melakukan hubungan suami istri.
Setiap hari selama dirumah sakit Clarisa selalu menemani Rudi dan hanya meninggalkannya saat dia kekantor. Setiap hari itu pula Clary dengan telaten merawat Rudi dari makan sampai membantunya membersihkan diri.
Clair.. apa lu beneran gak ada perasaan apa- apa ke gue? Lu baik banget sama gue. Lu rela ngorbanin kebahagiaan lu demi kesembuhan papi.Sekarang lu juga ngerawat gue seperti layaknya seorang istri. Tau gak lu kalau gue sepertinya mulai jatuh hati ke lu? Tapi gue takut. Gue gak tau apa yang lu lakuin kalau lu tau gue mulai cinta ke lu. Tapi apa mungkin lu cinta ke gue kalau lu aja gak pernah marah saat gue sama Melisa dan sengaja mencumbunya didepan lu malah lu selalu kasi ruang dan waktu kami.
Rudi terus saja bertanya - tanya dalam hati. Dia juga bingung tentang perasaanya dan Clarisa. Karena rasa cintanya kepada Melisa juga sangat dalam.
__ADS_1
FLASH BACK OFF.