Entahlah

Entahlah
NYESEK


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu - tunggu datang. Clary dan Suri sampai dikota J sehari lebih awal dari hari H pernikahan kakak lelaki Clary , si Alan.


Pernikahan digelar secara sederhana direstoran milik Alan sendiri. Tamu undangan pun hanya sebatas kluarga dan teman dekat. Kedua pengantin baru itu terlihat sangat berbahagia setelah ijab-qabul selesai.


" Yah ayah.. Clary pamit sebentar ya mau ke nikahan Rudi. Gak lama kok, paling 2 jam doank udah sama otw-nya." Clary meminta ijin pada ayahnya.


" Kamu yakin mau kesana? Kabu baik - baik saja kan?" tanya ayah yang khawatir. Karena bagaimanapun juga pernikahan yang akan dihadiri putrinya adalah mantan suaminya sendiri.


" Wkwkwkwkahahaha.. Ayah ni lucu, ya jelas Clary gapapa lah. Ayah khawatir aku sedih ya? Tenang aja ayah. Kan ayah tau sendiri kami emang gak pernah saling cinta. Ngapain sedih. Malah Clary seneng bisa hadir di pernikahan sahabat Clair." senyum Clary mengembang sempurna mamancarkan kejujuran dari hatinya.


" Kamu naik apa kesana?" ayah bertanya lagi.


" Motor" jawab Clary santai.


" Suri ikut?" tanya ayah lagi.


" Heem" Clary mengangguk.


" Dasar!! Nih pake mobil ayah. Kamu enak pake celana. Noh liat Suri pake kebaya gimana tega kamu ngajak dia naik motor???" ayah memberikan kunci mobilnya kepada Clary.


Clary dan suri segera menuju area parkir dan segera meluncur ke tempat resepsi Rudi yang berada di hotel tidak jauh dari tempat resepsi Alan.


Kurang lebih 10 menit penjalanan yang ditempuh, mereka akhirnya sampai ditempat tujuan. Pesta terlihat sangat mewah dan banyak tamu yang hadir. Sebelum turun dari mobil Clary mengingatkan Suri lagi agar mengaku sebagai pacarnya.


" Ini serius kamu dateng ke nikahan mantan suami kamu?" Tanya Suri.


" Kalo gak serius gak sampe sini gek Suri..." jawab Clary sebal.


Akhirnya mereka berdua pun masuk dengan bergandengan tangan. Suri tampak anggun dengan kebayanya dan Clary terlihat cantik dengan aura menantang dengan setelan celana panjang biru gelap dan atasan berwarna putih bermotif tengkorak tapi elegan.


" Clarisa" seseorang memanggilnya.


Clarisa menoleh mencari dari mana arah suara itu berasal.


" Yaampun Dito. Tambah cakep aja lu." sapa Clarisa saat tau bahwa yang memanggil adalah salah satu teman kantorya dulu. " Kenalin ini Suri" sambung Clary.


" Dito. Salam kenal" Dito mengulurkan tangannya pada Suri


" Aku Suri. Senang berkenalan dengan anda. " jawab Suri sok sopan. Padahal kalau sama Clary gada sopan - sopannya


" Lu ngilang kemana selama ini? Kok dateng - dateng tambah exsotis aja lu." Jelas sekali yang dimaksud Dito adalah kulit gelap Clary.


" Bertapa gue digurun Sahara mangkanya jadi item" jawab Clary santai


Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama- sama dan menikmati pesta sambil sesekali menyapa teman - teman Clary lainnya. Maklum Clary lama tak bertemu mereka.


Disela - sela acara tiba - tiba MC mengumumkan sebuah berita. " Hadirin yang berbahagia mempelai berdua akan memberikan sedikit pesan dan kesan mereka. Untuk mempelai berdua silahkan" MCpun memberika mikrofon kepada Rudi.


" Whhemm.. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada semuanya karna menyempatka waktu untuk datang dipernikahan kami. Disini juga saya akan menyampaikan ucapan terima kasih kami berdua kepada seorang yang spesial yang sangat berperan besar dalam hubungan kami berdua. Kalau saja bukan dia, mungkin kami tidak akan bersama sakarang." Rudi menggenggam tangan Melisa dengan erat seakan tak ingin melepasnya.


Melisa tersenyum bahagia. Wajah cantiknya semakin memancarkan kebahagiaan hatinya. Melihat ini bahkan Clary pun tidak akan tega jika tidak melepaskan Rudi. Walaupun dia juga harus menerima kenyataan bahwa mahkotanya yang paling berharga telah direnggut oleh Rudi saat mereka masih menikah dulu.

__ADS_1


Rudi dan Melisa turun bersama dari panggung kecilnya dan segera menghampiri Clary. Clary terkejut dan tidak menyangka kalau mereka menyadari kehadirannya, padahal dari tadi dia sibuk reuni dengan teman- teman yang lain sampai lupa tidak menyapa pengantinnya.


Kedua mempelai pengantin itu dengan kompak memeluk erat Clary. Wajah Clary memerah. Matanya membulat. Entah tiba- tiba ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya seakan mendorong air matanya untuk keluar.


Clary ikut memeluk mereka berdua. Clary dapat merasakan bahwa Melisa sedang menangis di bahunya. Clary pun sedikit mendorong Rudi agar melepaskan pelukannya lalu Clary berganti memeluk erat Melisa.


" Gue pikir lu gak dateng Clair.. Gue pikir lu marah ke gue." Melisa terisak sambil tetap memeluk Clary.


" Apaan si kak.. Ya gak mungkin lah aku gak dateng di nikahan kalian. Udah dong jangan nangis make upnya luntur loh, ntar cantiknya ilang." Clary melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi Melisa dan di balas anggukan olehnya.


" Untuk para tamu undangan, saya dan istri saya mohon maaf atas momen baper kami. Saya perkenalkan dia adalah Clarisa Atmadja. Dia sahabat saya dari kecil dan berkat perjuangan dan pengorbanan dialah kami bisa berbahagia disini." Ucap Rudi tak ingin membuat penonton bertanya - tanya.


" Terima kasih banyak Clair." pasangan pengantin itu kompak mengucapkan kalimat itu bersamaan. Lalu mereka bertiga berpelukan lagi seperti telletubies, tapi kurang 1.


Disisi lain Papi dan Mami Rudi tampak bertanya - tanya tentang yang terjadi. Pasalnya Clarisa yang notabenya adalah mantan istri Rudi bisa dengan tenang hadir disitu dan seakan menjadi pahlawan bagi anak dan menantunya itu.


" Clarisa kapan dateng nak?" tanya om Johan


" Kemaren siang pi. Papi sama mami apa kabar" Clary mencium tangan keduanya. Clary tetap memanggil mereka dengan sebutan 'mami dan papi' karena permintaan om Johan dan tante Rina.


" Kami sehat nak. Kamu sendiri gimana kok gak pernah kasi kabar. Mami sedih" tante Rina memeluk erat Clary.


" Clary dapat tawaran kerja ditempat yang Clair pingin dari dulu. Saking senengnya sampe lupa gak ngabari. Maaf ya mami. Clary janji abis ini bakal sering telp mami. " Clary menampakkan senyum bahagianya. Seakan semua beban dalam hatinya menguap habis.


" Emm.. Clair, mi.. pi.. Melisa permisi retouch make up dulu ya. Kayaknya ini rusak abis nangis." pamit Melisa. Dibalas anggukan oleh tante Rina dan om Johan. Setelah itu Melisa segera pergi keruang rias ditemani asisten MUA.


" Mi.. Pi.. Rudi minta waktu bentar buat ngobrol sama Clair" tanpa menunggu jawaban Rudi langsung menarik tangan Clary menjauh dari keramaian.


" Clair"


" Lu masi marah ke gue?" tanya Rudi.


" Ha? Apa? Gue marah?" Clary menoleh pada Rudi. " Bukannya lu yang marah ke gue dan terus menghidar. Gue pikir lu gak mau ketemu gue." sambung Clary.


Rudi menarik nafasnya berat. " Sebenernya gue juga bingung ama perasaan gue kemaren sampe gue nyakitin lu. Harusnya gue bisa jaga komitmen kita. Gue bener - bener minta maaf da ngambil paksa kehormatan lu." Rudi menundukan wajahnya.


" Nyesel lu?" Clary tersenyum miring seakan mengejek.


" Gue.." kalimat Rudi terpotong oleh Clary


" Jangan minta maaf. Itu kewajiban gue sebagai istri lu. Lu berhak atas gue dulu." Clary tersenyum lembut memandang Rudi seakan tak ada beban sama sekali di wajah Clary.


" Gue juga mau minta maaf ke lu karena pada kenyataannya ternyata hati gue sudah lu ambil tanpa sisa sekarang." Rudi mengusap kasar wajahnya.


" Hadeeehhh.. gue maafin lu dan gue kembaliin hati lu yang gue bawa trus kasikan hati itu ke kak Mel. Dia sangat mencitai lu dengan tulus. Lagian gue juga gak mungkin cinta sama lu. hahaha"


" Lu masih nunggu dia ( Joan/ Jonatan)?" tanya Rudi


" Lu kok inget terus ama dia? Gue da punya pacar kali Rud. Cuman gak mungkin nikah aja si." Rudi hanya mengernyit heran dengan penjelasan Clary.


" Yuk gue kenalin ama pacar gue" Clary mengajak Rudi menemui Suri.

__ADS_1


" Hun.." panggil Clary lembut kepada Suri.


"Kamu dari mana aja yang?" Suri langsung bergelayut manja dilengan Clary.


" WHAT??? Clair jangan bilang kalo lu.." Rudi menutup mulutnya. " SHIT!!!! Pantesan lu gak pernah ngerespon gue" bisik Rudi karena takut ada yang mendengarnya.


" Gak usah seneng gtu. Cakep kan cewek gue" Clary menaik turunkan alisnya.


Rudi hanya bisa menepok jidat dan mengelus dadanya. Dia hanya membisu tak tau lagi apa yang harus dia ucapkan. Dia tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Perasaannya yang tadi penuh emosi karena menahan rasa cintanya pada Clary langsung berubah jadi kekagetan yang sukses membuatnya hilang akal.


"Sayang" Panggilan Melisa menyadarkan Rudi.


" I..iya sayang" jawab Rudi yang masih setengah sadar.


" Kau kenapa?" tanya Melisa. Setelah itu mata melisa terlihat membulat sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


" CLARY!!" nada melisa setengah membentak.


" Apa si kak. Gak malu lu teriak - teriak?" sindir Clary


" Lu kok? Lu kok bisa si Clair?" Melisa tak sanggup melanjutkan kalimatnya takut menyinggung Suri.


" Sebelum ketemu lu juga gue da kek gini. Si Rudi aja yang gak nyadar kalo gue gak suka cowok. hahaha.." Calry merangkul Suri.


" Speachless gue.. ampun gue nyera" Rudi mengangkat kedua tangannya sudah kehabisan kata - kata. Dia tak menyangka jika sahabat yang dicintainya itu adalah seorang l***bi.


" Udah - udah gue pamit dulu mo balik ke acara kakak gue. "


" Oh iya mas Alan nikah sekarng kan" jawab Rudi.


"Heem.. Yada gue mo pamit ke mapi sama papi dulu." Clary dan Suri pun berpamitan pada om Johan dan tante Rina lalu segera pergi menuju acara Alan.


....


Didalam mobil selama perjalanan menuju tempat resepsi Alan, Suri dan Clary tak henti - hentinya tertawa membahas keterkejutan Rudi dan Melisa tadi.


" Sumpah aktingmu keren Sur. Makasih banyak" kata Clary.


" Clary aku mau tanya tapi gak perlu kamu jawab kalau kamu gak mau jawab" ekspresi Suri berubah serius. " Kamu cinta sama Rudi?"


" Hah???" Clary menoleh sejenak pada Suri. " Gak lah. Aku dari dulu susah cinta ama cowok." sambung Clary.


" Trus kenapa kamu ngajak aku dan pura - pura jadi sepasang kekasih?" Suri mulai kepo


" Aku cuman gak pengen mereka menanggung beban rasa bersalah ke aku. Aku cuma mau bereka tenang dan bahagia. Terutama Rudi, aku gak mau dia nyimpan perasaannya buat aku sedangkan Melisa setia disisihnya." Wajah Clary berubah sendu. Lalu dia menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya kasar seakan melepaskan semua beban di hatinya.


" Clary...hiks..hiks..hiks... kamu kok gitu si?" Suri menggenggam lengan kiri Clary yang sedang memegan kemudi.


" Kamu ngapain nangis?" tanya Clary ketus


" Aku nangisin kamu" jawab Suri polos. Dia tak bisa membayangkan jika dia berada diposisi Clary saat ini.

__ADS_1


" Aku belom mati ditangisin. Gak jelas kamu ah." jawab Clary yang juga sedang menenangkan hatinya.


" *H*emmmm.. perasaan apa ini? Kenapa seperti ada yang ganjel ya. Tapi apa? Bukannya sekarang semua sudah sesuai dengan yang seharusnya. Tapi kenapa rasanya sesek banget ini dada." gumam Clary dalam hati.


__ADS_2