
Mike semakin menyunggingkan senyumnya merasa sudah diatas awan. Dia semakin mendekati wanita yang sedang ketakutan itu dan segera menghimpitnya.
"Ternyata hanya sebatas ini nyalimu. Aku takkan segan-segan lagi untuk menghukumu. Kebetulan kau sudah membuatku 'kelaparan' " Mike berbisik ditelinga Clary dengan kata 'kelaparan' yang berbeda makna.
Jantung Clary berdegup kencang. Dia sudah salah perhitungan dengan membangunkan iblis mesum dalam diri Mike. Dia menundukan wajahnya dan memikirkan cara lepas dari Mike.
Ayo Clarisa pakai otakmu. Berpikirlah.. Kau sudah berjanji bahwa dia tidak akan bisa mengancammu lagi. Come on.. Kau adalah kelemahannya. Gunakan otakmu.
Clarisa masih terdiam memikirkan cara yang tepat untuk lepas dari Mike. Dia ingin berpura-pura pingsan tapi dia takut Mike akan mengambil kesempatan darinya. Berpura-pura menangis juga bukan keahliannya.
Clary mendongakan wajahnya saat mulai mendapatkan ide gila. Dia memberanikan diri menatap tajam mata pria yang sejak tadi menatapnya.
Clary mengalungkan kedua tangannya pada leher Mike. Dia berjinjit berusaha mendekatkan wajah mereka. Clary semakin menatap intens pada wajah Mike. Perlahan tangan Clari mulai menyentuh telinga Mike dengan lembut hingga pria itu mengelijang karna terkejut.
Clary semakin menatap tajam pada Mike dengan senyum devil terlukis diwajahnya. Dia semakin gencar melancarkan aksinya saat melihat ekspresi Mike yang mulai berubah. Clary mulai berbisik pada Mike dengan sedikit menggigit telinga pria itu. "Buka pintu atau kau akan menyesali yang akan kita berdua lakukan." Clary melepas gigitannya dan baralih menatap kedua bola mata Mike.
"Kau menang." ucap Mike sambil mengeluarkan kunci pintu dari saku celananya.
Clary tersenyum senang atas kemenangannya dan segera berlalu setelah berhasil membuka pintu kamarnya.
Mike yang hampir kehilangan akalnya karna godaan Clary hanya bisa merasa frustasi karena dia harus menahan libidonya yang terlanjur memuncak akibat ulah Clary.
Kau gadis kecil nakal. Aku takkan pernah melepaskanmu. Saat semua sudah berakhir, akan kupastikan kau takkan bisa lagi lepas dariku.
Mike tersenyum dengan aura devilnya dan bersumpah dalam hati.
Disisi lain Clary yang duduk diteras depan mendapatkan telpon dari seseorang yang mengajaknya bertemu di sebuah Resort yang jauh dari kota tersebut.
Aku rasa waktunya sudah tiba. Maafkan aku Mike. Aku berharap kau merasakan sakit yang aku rasakan saat kehilangan Jason.
Hari mulai petang. Mike memutuskan untuk kembali ke mansion Tuan Carlos. Dia hanya menyuruh anak buahya untuk menjaga Clary dari kejauhan.
Sedangkan didalam kamar, Clary mengemas beberapa pakaiannya disebuah tas kecil agar tak terlihat jika dia sengaja berencana untuk pergi.
Pagipun tiba. Clary segera mandi dan memakai baju yang dilapisi sweater. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.
__ADS_1
Dia pun pergi kepusat perbelanjaan yang cukup ramai agar bisa pergi menyelinap dan hilang dari pengawasan anak buah Tuan Carlos.
Setelah menggunakan beberapa trik dan siasat, Clarypun berhasil kabur dan segera sampai di resort tempat ia melakukan pertemuan dengan orang yang dia telpon kemarin.
"Nona Clarisa." seorang lelaki paruh baya menghampiri dan menyambut Clarisa. "Mari saya antar." imbuhnya lagi.
Clarisa berjalan mengikuti lelaki tadi menuju sebuah pekarangan dibelakang resort. Terlihat sesosok pria yang ia kenal berdiri membelakanginya.
"Kita sudah sampai. Saya permisi Nona." lelaki itu setengah membungkuk pada Clary lalu pergi meninggalkannya.
"Duduklah." kata pria dihadapan Clary. "Ambilah salah salu pistol itu." Willyam melirik ke arah meja yang terdapat 2 pistol disana.
"Maksudmu?" tanya Clary masih berusaha berpura-pura.
"Kau wanita cerdas. Kau tau aku mengincar nyawamu bukan." kata Will.
"Ya, dan aku juga tau mereka menggunakan kita berdua sebagai umpan." Clary meraih sebuah pistol dan menodongkannya pada Will, begutu juga Willyam dengan sigap meraih pistol lainnya dan menodongkannya pada Clary.
"Apa akan berakhir seperti ini?" tanya Clary.
"Kau mencintaiku?" tanya Clary lagi.
"Mungkin. Tapi untuk saat ini aku senang menikmati permainan kita." Willyam tertawa renyah.
"Bermain ya? Apa kau tak ingin melakukan permainan yang lebih seru?" Clary mencoba bernegosiasi dengan Willyam.
Willyam menaikan salah satu alisnya penasaran dengan rencana wanita yg masih menodongkan pistol padanya.
"Kau tau kita berdua sama-sama sebagai umpan. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana jika kedua umpan tiba-tiba menghilang?" Clary mulai menurunkan pistolnya dan mendekat ke arah Willyam seraya berbisik. "Kita kabur, mari berpetualang mencoba menjadi manusia normal."
Will memelototkan matanya tak percaya dengan ide gila wanita didepannya. Bisa-bisanya dia menantang kedua kubu gengster yang sama-sama berbahaya dan sedang dalam masa genting.
"Kau.. Kau gila." jawab Will.
"Kau takut?" Clary bersendekap meremehkan.
__ADS_1
"Kau wanita gila. Tapi aku suka idemu. Kita lihat seberapa kalang-kabutnya mereka jika kita menghilang. Hahahaha.. Aku sudah lama ingin mengerjai kakakku. Aku ingin melihat caranya sebagai ketua geng mencariku jika aku menghilang."
Setelah itu mereka bergegas menyusun rencana agar tak seorangpun dapat mengendus keberadaan mereka. Mereka membuang Hp dan semua barang mereka di tempat sampah umum. Mereka juga membeli pakaian baru yang sangat murah dan membuang pakaian lama mereka karena mereka takut terdapat GPS atau alat penyadap lain yang melekat pada barang yang mereka kenakan.
Clary sempat mencatat semua nomor kluarganya terlebih dahulu tapi tetap tak menghubungi mereka karena masih takut akan ancaman yang sedang mengintainya.
Clary dan Willyam pun pergi menaiki transportasi umum untuk pergi ke sebuah pedesaan terpencil untuk bersembunyi. Sesampainya disana mereka menyewa sebuah rumah untuk tinggal sementara waktu karena mereka harus sering berpindah tempat agar tak dapat ditemukan.
Disisi lain, tepatnya di markas Tuan Carlos, terlihat Mike sedang menghajar anak buahnya yang gagal saat bertugas menjaga Clary hingga kehilangan jejak wanita itu. Mike sangat marah dan juga khawatir dengan keadaan wanita yang baru saja mau berbaikan dengannya.
Tuan Carlos pun terlihan begitu geram dan khawatir. Tak henti-hentinya dia memijit keningnya. Pikirannya lari kemana-mana memikirkan anak angkatnya. Tuan Carlos mendongak sejenak kearah pintu saat seorang anak buahnya datang dengan tergesa-gesa.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Tuan Carlos dingin.
"Maaf kami belum bisa menemukannya tapi kami mendapatkan informasi bahwa Willyam, adik tersayang dari musuh anda yang mengintai nona Clary juga menghilang. Kini seluruh anggota geng mereka sibuk mencari keberadaannya." jelas anak buah Tuan Carlos.
"Baik. Teruskan pencarian." mimik muka Tuan Carlos seketika berubah. Dia paham apa yang ada didalam pikiran Clary dan semua rencana busuk anak angkatnya itu.
"Mike hentikan memukulinya." titah Tuan Carlos. "Wanitamu kabur bersama Willyam."
Kalimat Tuan Carlos membuat Mike semakin emosi. Dia pikir Clary sengaja mempermainkannya dengan bersikap baik padanya lalu sekarang pergi begitu saja.
"Sudah kubilang buat dia hamil agar dia tak bisa meninggalkanmu. Hahahaha." Tuan Carlos tertawa diatas penderitaan dan kebodohan tangan kanannya itu.
"Akan kupastikan dia membayar semua yang dia lakukan saat kutemukan dia. Kita lihat seberapa jauh dia bisa lari dariku." Mike mengertakan giginya.
Tuan Carlos hanya tersenyum prihatin melihat pria yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu sangat terobsesi pada anak angkatnya. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?"
"Menikahinya atau membuatnya terpaksa harus menikah denganku." Mike tersenyum penuh arti.
"Bagaimana jika saat kau temukan ternyata dia sudah jatuh cinta pada Willyam. Kau tau dia suka pria muda yang hangat seperti Jason, dan itu ada pada Willyam." Tuan Carlos kini tak ubahnya seperti tabung gas LPG 3kg yang bisa menghasilkan api yang memanaskan suasana.
"Mengikatnya dan mengurungnya agar dia tak bisa pergi." jawab Mike sambil mengepalkan tangannya.
"Cobalah kalau kau bisa. Hahaha." Tuan Carlos semakin menertawakan Mike yang berjibaku dengan obsesinya.
__ADS_1