Entahlah

Entahlah
FRUSTASI


__ADS_3

"Mike hentikan atau kau akan melakukannya lagi." ujar Clary dengan mata yang tetap terpejam saat Mike mulai mencumbui lehernya lagi.


"Diam dan nikmatilah. Biar aku yang bekerja." lagi-lagi Mike melancarkan aksinya hingga berulang-ulang hingga membuat Clary benar-benar tak dapat bergerak lagi karena kehabisan tenaga.


"I Love you honey. Thank you so much. You are mine now and forever." Mike mengecup kening Clary yang sudah tertidur pulas setelah Mike mengakhiri aktifitasnya.


Drrrrttt...drrrttt..drrttt..


Suara dering telp seolah sengaja membangunkan dua sejoli yang sedang tertidur pulas setelah pergulatan hot mereka, hanya Mike tepatnya. Clarisa mengerjapkan matanya dan membuka perlahan. Dia berusaha menyingkirkan tangan kekar Mike yang mendekapnya erat. Perlahan dia bangun dan meraih phoncell Mike yang berada di atas nakas disamping ranjang. Terlihat nama Tuan Carlos di layar HP Mike. Tanpa ijin sang pemilik Clary menggeser tanda hijau dilayar tersebut.


"Hallo..ayah." sapa Clarisa dengan suara khas orang bangun tidur.


"Bangunkan Mike." titah Tuan Carlos to the poin.


Clarisa pun mengguncang tubuh Mike agar dia segera bangun dari tidur pulasnya. Clarisa tiba-tiba menjerit saat Mike dengan tiba-tiba membalikkan tubuh dan menindihnya lagi.


"Ahhh.. Mike apa yang kau lakukan?" Clary setengah berteriak.


"Memanjakanmu.. ah tidak, menghukummu tepatnya karena sudah berani mengganggu tidurku." tatapan Mike seolah ingin memangsanya lagi.


"Tuan menelponmu." Clary menghadapkan layar benda pipih itu tepat didepan wajah Mike.


"Ah sial. Kenapa kau mengganggu kesenanganku? Dasar pria tua menjengkelkan." ucap Mike sebal saat meraih hpnya.


"Kau apakan anakku?" tanya Tuan Carlos dingin.


"Menghamilinya sesuai perintahmu." balas Mike ketus membuat Clary yang masih berada dibawah kungkunganya melotot tak percaya.


"Ayah!! Apa benar yang dikatakan Mike." Clary berteriak berharap ayah angkatnya mendengar dan memberi penjelasan padanya. Tapi Tuan Carlos menulikan telinganya dan malah membahas hal lain dengan Mike.


Clarisa yang kesal dengan percakapan kedua pria itu mendorong tubuh Mike yang masih menindihnya hingga hampir terjatuh dari ranjang. Dia lalu bergegas pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berencana untuk segera pergi dari jeratan Mike.

__ADS_1


BRAKKK..


Clarisa kaget saat mendapati pintu kamar mandi didobrak paksa oleh Mike. Dia segera meraih handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Keluar!" bentak Clarisa sembari mendorong tubuh Mike agar keluar dari kamar mandi. Tapi tak disangka Mike justru malah menariknya dan mendekapnya lagi dan menciumi wangi sabun pada tubuh Clarisa.


Mike mendorong tubuh wanita itu hingga masuk lagi kebathup, begitupun dia yang terikut masuk kedalamnya hingga membuatnya tak dapat menahan hasratnya lagi untuk menikmati tubuh wanitanya. Entah mengapa tubuh itu sangat menarik untuknya walaupun tak sedikit tubuh wanita yang sudah pernah ia nikmati sebelumnya.


"Ahhh... Mike hentikan. Kau bisa membunuhku." Clarisa berusaha sekuat tenaga berontak dari kungkungan tubuh Mike.


"Aku janji hanya melakukan sekali lagi dan sebentar. " Mike kembali melancarkan aksinya pada Clarisa.


"Mike aku lapar. Bahkan sejak aku bangun kau tak memberiku makan." Clarisa masi berusaha mendorong tubuh kekar yang mendekapnya. "Mike please. Kau sudah memilikiku. Tolong jangan menyiksaku lagi." Clarisa benar-benar memohon dengan tatapan lemah dan memelas.


"Ah.. maafkan aku. Aku terlalu senang bisa memilikimu. Ayo aku bantu kau membersihkan diri." Mike dengan telaten membasuh tubuh wanitanya lalu menggendongnya kekamar dan membentunya berpakaian serta mengeringkan rambit Clary.


Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu.


Setelah sampai di meja makan mereka makan dengan tenang bersama Tuan Carlos dan anggota geng yang lain. Hanya Tuan Carlos dan beberapa anggota yang sesekali melirik pada Mike yang tampak sangat perhatian dan memanjakan Clarisa dengan tingkah dan tatapan lembutnya. Sedangkan Clarisa merasa sangat risi dengan perlakuan Mike. Dia malu kepada anggota yang lain dan terutama ayah angkatnya yang pasti sudah tau apa yang telah terjadi pada mereka berdua.


"Kalian temui aku setelah makan." titah Tuan Carlos pada Mike dan Clarisa dijawab anggukan oleh keduanya.


"Duduklah." Petintah Tuan Carlos saat Clary dan Mike masuk keruangannya.


"Kapan kau akan menemui kluarganya dan menikahinya?" tanya Tuan Carlos to the poin pada Mike.


"Secepatnya. Besok atau lusa kami berangkat." jawab Mike tenang seolah semua sudah terencana dengan matang.


"Apa maksud kalian?" tanya Clary heran.


"Aku tau dinegaramu harus melakukan pernikahan sebelum melakukan hal intim dan Mike harus bertanggung jawab karena telah menodaimu. Benar?" jelas Tuan Carlos panjang lebar.

__ADS_1


"Iya tapi aku tidak ingin menikah dengannya. Itu semua terjadi karena dia memaksaku dengan menyuntikan obat padaku." Clarisa tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Bagaimana kalau kau hamil?" tanya Tuan Carlos yang menanti jawaban pada anak angkatnya.


DEG..


Hati Clary mulai resah, dia tak mungkin menggugurkan kandungannya jika memang dia hamil. Tapi disisi lain dia juga masih belum bisa menerima Mike menjadi suaminya.


"Aku akan jujur pada kluargamu kalau aku memaksamu melakukan itu." kata Mike dengan sangat tenang sembari mengusap lembut rambut hitam Clarisa.


Clarisaa menatap kosong kesembarang arah. Hatinya bergemuruh seolah ingin berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Jason. Ya, dia masih belum bisa move on dari pria yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Dia tak menyangka akan berakhir dengan menikahi pembunuh kekasihnya itu. Walaupun dulu atau sekarang mungkin dia masih menyimpan perasaannya terhadap Mike. Tapi ego dan dendamnya lebih dalam hingga menutupi perasaannya.


Tubuh Clary mulai merasa lemas. Dia menundukan wajah,menenggelamkannya pada kedua telapak tangannya. Dia bingung dengan apa yang terjadi. Ingin rasanya dia pergi menghilang dari hadapan kedua pria itu selamanya. Akan tetapi akalnya yang masih waras melarangnya, mengingatkannya kemungkinan jika dia akan hamil anak Mike setelah kejadian itu.


Sejenak hening tercipta diruangan itu. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing. Clary tampak semakin menundukan wajahnya. Dia sangat enggan menatap kedua pria tersebut.


Tuan Carlos beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri Clary dan memberikan sebuah botol berisi beberapa pil kontrasepsi pencegah kehamilan. Tatapannya tajam seakan mengisyaratkan sesuatu.


"Bawalah. Mungkin kau memerlukannya." kata tuan Carlos seraya menyodorkan botol itu pada Clarisa namun dengan secepat kilat diraih oleh Mike lalu dilemperkannya ke tempat sampah.


"Ikut aku!" Mike menarik tangan Clarisa keluar dari ruangan tersebut.


Dia terus saja menarik kasar tangan Clary hingga sampai dikamar ruang penyekapan Clary. Dihempaskannya tubuh wanita itu kelantai dengan kasar. Lalu di tariknya kembali dan melemparkannya ke ranjang. Ditindihlah wanita itu seraya mencekik lehernya dengan satu tangan.


Wajak Mike merah padam. Dia tak bisa lagi mengontrol emosinya karena mendapati Clarisa terang-terangan menerima pil kontrasepsi yang Tuan Carlos berikan. Dia merasa diabaikan dan tak dihargai sama sekali. Membuat ego lelakinya muncul dan meledak-ledak.


Clarisa meringis kesakitan. Ia mencoba melepaskan cekikan Mike dengan satu tangannya karena tangan yang lain ditahan oleh Mike. Nafas Clary mulai tersengal. Dia mulai kehabisan tenaga sedangkan cengkraman Mike pada lehernya semakin menguat. Perlahan Clary mulai memejamkan matanya. Dia mulai pasrah jika memang dia juga haru mati ditangan Mike seperti yang Jason rasakan dulu.


Uhuk uhuk uhuk uhuk..


Clarisa terbatuk-batuk saat Mike melepaskan tangannya dari lehernya. Mike mulai terduduk dilantai dengan lemas dan nafas yang tak beraturan. Dia mengacak-acak rambutnya sembari berteriak meluapkan emosinya.

__ADS_1


Clarisa mulai bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dia menatap hampa pada lelaki didepannya. Ada rasa kasihan, iba, benci , kecewa semua menjadi satu. Semakin dia tatap lelaki itu semakin membuat hatinya seakan tersayat. Nampak dia sangat lemah dan frustasi. Terlihat sangat kasihan dan menyedihkan. Seakan-akan dia telah kehilangan hidupnya.


__ADS_2