
Hari ini adalah awal bulan. Seperti biasa setelah mendapat notifikasi transferan uang kuliah dan uang saku dari ayahnya, Clary segera pergi ke mesin ATM untuk mengambil uang yang akan dibayarkan besok. Tak lupa juga dia mampir ke toko sembako untuk membeli beras, mie instan dan juga telur ayam makanan khas anak kos yang hanya berbekal magickom sebagai alat masaknya.
Susah payah Clary membawa barang belanjaanya naik ke kamar kosnya.
"Sini aku bantuin" suara dan bau parfum yang familiar untuknya.
"Gak usah" jawabnya sia-sia karna Joan telah merebut barang bawaannya dan melangkah menuju kamar kos Clary.
"Thanks ya. Bentar aku ambilin minum." Clary menuju sebuah kulkas meja kecil yang berada disudut kamar kosnya.
Disisi lain Joan sengaja menutup pintu kamar kos dan menguncinya lalu menyambunyikan kunci didalam sakunya. Dia kembali duduk diatas karpet seperti semula.
"Sorry cuman tinggal teh pupus aja di kulkas. Loh pintunya kok ketutup." Clary menuju pintu hendak membukanya
Betapa terkejutnya dia saat mendapati pintu tak bisa dibuka dan kuncinya entah dimana. Sontak dia membalikan badan hendak memaki Joan. Tetapi sayangnya Joan sudah berdiri di belakangnya dan bersiap menghimpitnya di pintu.
"Pliss jangan menghindar lagi. Aku perlu ngomong sama kamu" Joan menatap sendu bola mata Clary.
"Jo lepasin kita bicara baik-baik sambil duduk, aku gak nyaman"
"Aku mau pacaran sama kamu" pernyataan cinta itu lolos membuat hati Clary tak karuan.
"Kamu harus jadi pacarku mau gak mau. Aku ingin kamu. Aku juga sudah tau semua tentang kamu dan kluarga kamu. Kita akan nikah setelah kuliahmu selesai." mata Joan seakan sangat berharap perserujuan dari gadis didepanya.
Clary hanya menundukan wajah dengan sedikit mendorong tubuh Joan yang menghimpitnya dengan pintu.
Joan segera meraih tangannya dan lagi-lagi hendak mencium paksa bibir Clary. Gadis itu segera memalingkan wajahnya agar tak terkena ciuman dari Joan. Alih-alih memaksa ciuman pada bibir Clary, Joan malah mengecup leher hadis itu dan menghembuskan nafas hangat ditelinganya hingga jantungnya seakan mau meledak karna desiran darah yang mulai memanas.
Bukan Clarisa namanya kalau logikanya tidak bekerja. Dengan sedikit mendorong tubuh Joan dia memberanikan diri menangkup kedua pipi laki-laki didepanya.
"Bentar-bentar.. Stop dulu. Kita ngomong baik-baik" berharap permintaanya dikabulkan.
"Bilang dulu kalo kamu mau jadi pacarku baru aku ngelepasin kamu"
"Gak bisa gitu dong. Kalo kamu gak ngelepasin aku teriak"
"Teriak aja malah bagus ntar kita diarak trus dinikahin" Joan tersenyum senang atas kemenangannya.
Dengan geram dan terpaksa Clary pun mengiyakan dan menyetujui untuk jadi pacar Joan.
"Yada minggir dulu, aku kan da setuju jd pacar kamu"
"Gak" Joan tetap tidak bergeming dari posisi awal.
"Kok gak si?!!" Clary sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Cium dulu baru aku lepasin"
CUPPP
Satu kecupan singkat mendarat dipipi kanan Joan yang membuat laki-laki itu terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Clary.
__ADS_1
"Udah. Minggir aku capek berdiri terus" kali ini Clary berhasil menyingkirkan tubuh Joan.
Merekapun sekarang duduk diam tanpa suara. Hening dan hanya suara jarum jam dinding yang terdengar. Suasana canggung mulai tercipta. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing. Hanya terlihat sesekali Joan menenggak minuman dingin yang di suguhkan Clary tadi.
"Ehm Jo kamu pulang dulu gih da jam 7 malem nih. Gak enak kalau kamu pulang kemaleman"
"Aku pulang pagi aja" dengan santainya dia menjawab usiran Clary.
"What???!!!! kamu gila apa"
"Ini bukan yang pertama kalinya. Aku udah pernah nginep juga kan sebelumnya"
"Itu masalah lain Joan. Yang kemaren itu gak sengaja."
" Yadah anggep aja sekarang gak sengaja juga"
"Ok kamu yang tidur disini aku keluar" Clary meraih jaket dan tas pinggang miliknya dan segera lari keluar area kosnya.
------
Clary menghentikan langkahnya disebuah taman dekat komplek. Banyak pedagang kaki lima disitu. Dia pun menuju sebuah warteg nasi goreng karna perutnya kroncongan.
Setelah selesai menikmati nasi goreng dan membayar dia pergi ke bangku yang ada ditaman. Lama dia melamun dan berkutat pada pikirannya. Entahlah dia bingung antara pulang ke kos dan tidur bersama Joan yang notabenya sekarang adalah pacar karena paksaan atau tetap berada ditaman.
Lama dia berpikir akhirnya dia memutuskan untuk pergi kerumah Dewi. Dewi adalah satu-satunya teman yang gak akan nolak dia saat butuh bantuan dan karena rumahnya juga berada di area komplek perumahan tersebut.
Dilangkahkanlah kakinya menyusuri komplek perumahan itu. Blok demi blok dia lewati dan kurang 2 blok lagi dia sampai dirumah dewi.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Yah benar saja dia Joan yang sedari tadi rupanya mengikutinya. Dengan sekuat tenaga Joan menarik tangannya lalu mendorong dan memaksanya masuk ke mobil.
"Joan buka pintunya!!!" Clari berteriak jengkel.
Tetapi Joan tidak menanggapinya dan terus saja melajukan mobilnya.
Mobilpun berhenti di sebuah pekarangan rumah yang terlihat tua tapi tetap bersih dan megah. Joan menarik paksa tangan Clary hingga masuk kedalam sebuah kamar didalam rumah itu. Joan pun pergi keluar kamar dan tidak lupa menguncinya. Sayup terdengar suara dari luar kamar.
" Tolong jaga dia jangan sampai kabur kang"
" Siap den. sekarang aden mau kemana?"
" Saya mau keluar sebentar"
-------
Dikamar yang lumayan luas terpajang foto-foto Joan kecil hingga dewasa. Clary menyusuri setiap sudut kamar berharap bisa kabur. Tapi nihil tak satupun jalan keluar buat kabur. Dia tak habis pikir lelaki macam apa yang baru pacaran aja udah berani menculik dan menyekapnya.
Kantuk pun mulai menyerang mata Clary. Tanpa sadar dia pun tertidur disofa yang ada dikamar itu. Kewaspadaanya benar-benar hilang. Seakan dia tidak pernah khawatir akan apa yang dilakukan Joan kepadanya.
CEKLEKK
Suara pintu yang terbuka tidak berhasil membuat Clary bangun dari tidur cantiknya. Dia menggeliat saat merasakan ada tangan lembut mengusap pipinya. Diapun mulai terbangun saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Aaaahhhhhh!!!!" teriaknya kencang sambil mendorong tubuh laki-laki yang berada didepanya.
"Apaan si berisik banget?!" Joan menggerutu sambil mengusap bibirnya.
" Kamu yang apaan nyolong ciuman aku"
" Aku gak pernah nyolong lagian kamu udah jadi pacarku jadi wajar kita ciuman"
"Sembarangan kamu kalo ngomong. Mana ada ciuman kalo yang kamu cium gak respon" celoteh Clary jengkel. " Lagian kamu itu pacar macem apa yang sukanya maksa trus pake acara penculikan kek gini?" imbuhnya lagi.
"Oh jadi menurut kamu aku suka maksa? Ok fine. Sekarang aku tunjukin apa arti pemaksaan sebenarnya" Joan pun berseringai.
Clary yang merasakan ancaman dari Joan segera memundurkan badannya dan menjauh dari Joan. Tapi apa yang bisa diperbuat Clary dengan tubuh kurusnya saat tangan kekar Joan menarik dan mendekap tubuhnya. Merontapun hanya akan menghabiskan tenaganya.
Tangan kekar Joan mendekap tubuh kurusnya sangat kencang seperti tak ingin memberikan ruang untuknya bergerak. Clary hanya terdiam tak mampu melakukan perlawanan. Sebenarnya bukan karna dia gadis lemah atau bodoh. Tapi dia sedang menyusun rencana kabur dari pacarnya itu.
"Kenapa diam gak ngelawan?" Joan masih tak merenggangkan dekapanya.
" Percuma ngelawan yang ada tenagaku kebuang percuma"
"Kamu mulai sekarang yang nurut sama aku. Aku bisa bahagiain kamu. Kamu gak perlu lagi kerja parttime"
"Bisa gak lepasin aku dulu. Da sesak ni dadaku hampir gak bisa nafas"
"Biarkan sesaat seperti ini. Aku gak bisa bayangin kalau kamu sampai lepas dari tanganku"
"So sweet banget kalimatmu bikin aku meleleh, tapi sayang kelakuan kamu bikin aku pengen pergi dan cepat kabur dari si.. ah.. sakit ******" kalimatnya terhenti. Clary mengaduh kesakitan saat dirasakan gigi-gigi Joan menggigit bahunya keras.
"Berani kabur mati lu!!" ucapnya sarkas penuh ancaman.
"Arrrhggg... Jo sakit.. Jo udah sakit Jo." Clary mengaduh kesakitan saat Joan kembali menggigit dipangkal lehernya.
Sangat terasa nafas Joan ditelinga Clary seakan menahan suatu gejolak atu mungkin kemarahan yang mendalam. Clary tidak mampu berkata apapun lagi. Dia kini hanya merasakan saikit sambil mencoba meronta untuk melepaskan diri dari dekapan Joan.
Setelah dirasa tak ada lagi gerakan memberontak dari Clary, Joan melepaskan gigitanya. Sekarang pangkal leher dan bahunya suda terdapat bekas gigitan Joan. Dia hanya mampu diam karna lelah menahan sakit yang di berikan Joan.
"Duduklah aku ambilkan obat" Joan pergi meninggalkan Clary yang sekarang duduk di tepi tempat tidur.
Tak butuh waktu lama Joan datang membawa kompres dan kotak P3k. Dengan telaten dia mengompres dan mengobati bekas gigitannya. Dia terlihat sangat lembut tidak seperti beberapa menit lalu yang seakan ingin memakan semua tubuh Clary.
"Uh....." Clary menahan sakit di bahunya.
" Apa sakit?" tanyanya seakan menyesal.
" Maaf aku seharusnya bisa menahan diri" imbuhnya lagi dengan raut muka sedih.
" *W*hat??? apa apaan kamu masang wajah bersalah. Tipuan kuno. Tapi mukamu lumayan meyakinkan kalau kamu beneran menyesal. But sorry aja aku gak akan ketipu" Clary bergumam dalam hati sambil sesekali memperhatikan wajah Joan.
" Aku janji gak bakal ngelakuin itu lagi ke kamu" suaranya terdengar sangat lembut. Sejenak Joan terdiam dan menundukan wajahnya. " Tapi ingat untuk menurut dan jangan pernah membangkang" suara Joan tiba-tiba bergetar sarat akan ancaman.
Joan mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada Clary yang sedang bingung dengan perubahan raut wajah Joan yang secepat kilat itu. Tanpa aba-aba dan rasa takut, spontan Clary tiba-tiba menangkupkan kedua telapak tanganya ke pipi Joan. Mata mereka saling memandang seakan mengatakan banyak kata tanpa harus berbicara. Seakan mereka saling memahami kilasan dan arti dari pandangan itu.
__ADS_1