
"C berhenti menggodaku!!!" Mike pun meninggikan suaranya dan mendorong tubuh Clary hingga sekarang Clary berada dibawah tubuhnya. "Kau tau aku takkan bisa menahannya." Mike menatap tajam pada Clary.
Clary berteriak karna terkejut dengan perlakuan Mike. Dia menatap sebal ke arah Mike yang kini sedang menindihnya. Tapi naas di menit berikutnya matanya kembali terpejam dan nafasnya mulai teratur. Rupanya Clary benar-benar kembali tertidur. Mike menyunggingkan senyumnya. Dia tau kebiasaan Clary yang akan cepat tertidur setelah semalaman menangis.
"Tak ada yang berubah dari kebiasaanmu walaupun perasaanmu sekarang tak seperti dulu." Mike beranjak dari tempat tidur dan meraih Hp milik Clary.
Dia mencari nama Willyam disana lalu mengirim pesan atas nama Clary.
"Will hari ini aku akan jalan-jalan sendiri. Kau bisa bekerja dengan tenang. Sampai jumpa besok." itulah pesan yang dikirim Mike untuk Willyam.
Setelah itu dia meletakkan phonecell Clary dan berganti meraih phoncell miliknya sendiri.
Tuuut tuuutt tuutttt...
Suara sambungan telpon terdengar dari Hp Mike.
"Ya" kata orang disebrang telpon.
"Tuan Carlos aku meminta ijin hari ini." dengan sedikit ragu Mike memberanikan diri mengucapkan kalimat itu pada bosnya.
"Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Tuan Carlos.
"Mungkin. Semoga saja. Entahlah." jawab Mike ragu.
"Kau memaksanya?" tanya tuan Carlos datar.
"Tidak. Kau tau aku tidak bisa melakukan itu tanpa ijinnya." jawab Mike yang mengerti arah pembicaraan bosnya itu.
"Baiklah terserah padamu. Asal kau tak menghancurkan rencanaku." kali ini kalimat Tuan Carlos terdengar seperti ancaman.
"Baik aku mengerti." jawab Mike lalu sambungan telponpun terputus.
Mike beranjak masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan mulai membersihkan dirinya. Dia menatap hampa pada tembok didepannya. Berusaha berpikir logis dengan kejadian yang mereka lalui semalam.
Apa kau mulai membuka hatimu? Atau kau bermain trik lagi denganku? Clarisa..haruskah aku menuruti saran Tuan agar bisa membuatmu tetap disisihku? Tapi aku tak ingin kau semakin membenciku.
Mike berpikir keras. Saran Tuan Carlos selalu terbayang di otaknya. Apalagi saat dia sedang terbakar cemburu.
"Kau bisa menghamilinya jika kau ingin memilikinya. Aku yakin dia masihlah gadis baik yang tak mungkin melakukan aborsi atau sengaja memisahkan anak dari ayah kandungnya."
Kalimat Tuan Carlos selalu sukses membuat Mike berada dalam dilema. Satu sisi dia ingin memiliki Clary tapi disisi lain ditk ingin membuat wanita itu semakin membencinya.
__ADS_1
Sementara itu Clary mulai terbangun dari tidur nyenyaknya yang hanya beberapa saat. Matanya menyusuri ruangan itu mencari keberadaan Mike. Mungkin dia di kamar mandi, pikir Clary saat dia mendengar gemercik air.
"Mike?? Apa kau masih lama?" tanya Clary dengan setengah berteriak.
CKLEK
Pintu kamar mandipun terbuka. Tampak Mike keluar hanya berbalut handuk dipinggangnya. Dengan rambut dan tubuh atletisnya yang masih basah karna bekas air setelah mandi.
GLEKK
Clary menelan silvanya saat menatap Mike. Sial kali ini batin Clary yang selalu khilaf saat melihat cogan seketika meronta. Ingin rasanya dia menyentuh otot-otot ditubuh Pria itu.
Clary segera memalingkan wajahnya tak ingin sesuatu yang dia inginkan terjadi. Dia segera beranjak dari ranjang untuk berlari keluar dari ruangan itu.
"Aw..." Clary tersandung selimut kerana terburu-buru ingin kabur dari situasi canggung itu.
SREKKK.....GLEKKK..
Clary menelan silvanya lagi dengan sulit saat mendapatkan pemandangan yang tak biasa tepat dihadapannya. Pemandangan Mike dengan handuk yang terlepas dari pinggangnya.
Clary tanpa sengaja menarik handuk Mike saat dia terjatuh tadi. Itu membuat Mike sekarang benar-benar manjadi obyek pemandangan langka untuknya.
"Maaf." Clary segera bangun dan berlari secepat kilat keluar dari kamar tanpa mempedulikan lututnya yang sakit.
"Sial. Ini sangat memalukan." Clary meletakkan gelasnya dengan kasar.
"Hai." suara Mike tepat ditelinga Clary dan tiba-tiba berda dibelakang punggungnya, membuat jantung wanita yang hampir stabil berubah menjadi tak beraturan lagi.
"MIKE!!!!!" Clary berteriak kesal padanya dan hendak melayangkan tinjunya.
HAP...CUP..
Mike menangkap tangan Clary lalu mengecupnya sekilas.
"Mike.." mulut Clary tertutup oleh telunjuk Mike.
"Duduklah. Aku akan masak untukmu." Mike segera mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas dan segera berkutat dengan pisau dan alat masak lainnya.
Clary beranjak pergi meninggalkan Mike dan memilih berendam di bathtubnya dengan air hangat untuk merilekskan dirinya yang masih terkejut dengan kejadian tadi.
Clary mulai mengutak atik Hp yang sengaja ia bawa ke kamar mandi. Dia melihat sebuah pesan dari Wiilyam yang mengucapkan selamat bersenang-senang. Jarinya mulai mengscroll pesan dari atas. Matanya membulat sempurna melihat pesan yang sebelumnya yang ia yakin dikirim oleh Mike.
__ADS_1
"Sial, ternyata dia sengaja. Apa aku terlalu berlebihan semalam? Tidak boleh. Aku harus menjelaskannya. Dia tak boleh salah paham padaku." Clary menyesali perbuatannya semalam.
"Menjelaskan apa?" tanya Mike yang sudah berdiri diambang pitu kamar mandi yang lupa dikunci oleh Clary.
Clary terkejut mengetahui kedatangan Mike. Dia segera berusaha meraih handuk yang tergantung didinding kamar mandi untuk menutupi dirinya.
"Kau gugup? Come on.. Kau tau aku sudah sering melihatnya." kata Mike dengan santainya dan semakin berjalan mendekati bathtub.
"Mike tutup matamu." perintah Clary hanya dijawab senyuman oleh Mike.
"Bagian mana yang akan kau sembunyikan dariku? Kau tau aku yang selalu merawatmu saat terluka. Dan hanya aku yang boleh menyentuhnya." benar saja semua perkataan Mike. Pria itu tak pernah membiarkan dokter atau siapapun dari organisasi merawat Clary saat dia terluka dalam misi.
Sikap posesive dan rasa kepemilikan yang besar terhadap Clary membuat Mike sangat tidak rela jika ada orang lain yang melihat bahkan sampai menyentuh tubuh Clary. Setiap luka yang wanita itu derita pastilah Mike yang dengan telaten merawatnya, bahkan sampai mengganti bajunya saat Cary pingsan.
"Mike pergilah. Atau aku akan sangat membencimu." teriak Clary lagi.
"Hal itu juga bukan yang pertama kalinya." smirk terukir diwajah Mike.
"Mike pergilah atau aku tak segan-segan membuatmu semakin bertekuk lutut padaku." kini Clary memberanikan diri menatap tajam penuh ancaman kepada Mike.
"Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh polosmu itu?" Mike menarik salah satu sudut bibirnya menampakkan senyum mengejek.
Dia tau jika Clary tak akan berani keluar dari dalam bathtub yang penuh dengan busa. Karena jika dia keluar maka tubuhnya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tumpukan busa sabun akan terlihat jelas didepan Mike.
Walaupun dia tau kalu Mike sudah sering melihatnya saat pingsan atau terluka, tapi Clary tetap saja malu jika terlihat seperti itu dalam keadaan sehat dan dengan kesadaran penuh.
Kali ini Mike sudah berdiri tepat disamping bathtub dengan bersendekap. Dia menatap tajam pada Clary seakan menyiratkan tantangan dan pertanyaan apa yang bisa wanita itu lakukan jika keadaannya seperti ini.
Lagi-lagi Clary membuang muka malas bersitatap dengan Mike yang sedang berada di atas awan. "Mike pergilah." ujar Clary sebal.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk mengusirku?" senyum Mike meremehkan.
Haaaahhh..
Clary membuang nafasnya kesal dengan tingkah Mike yang mulai berulah setelah mendapatkan sedikit kebaikannya.
Clary tetap memalingkan muka tak mau menatap Mike. Sampai Mike menyodorkan handuk padanya. Tapi sayang saat Clary hendak meraih handuk dari tangan Mike dengan cepat pria itu membuang handuknya menjauh dari Clary.
"Apa Kau sedang mengujiku?" tanya Clary yang berubah mimik wajahnya dari sebal menjadi aura membunuh.
Ditatapnya Mike dengan tajam tanpa sedikitpun bergeming dari dalam busa sabun itu. Mikepun tak mau kalah balas menatapnya dengan aura menantang seakan ingin mengajak wanita itu berkelahi.
__ADS_1
Tepat didetik berikutnya , byurrrr suara gemercik air bejatuhan. Clary tampak berdiri tegak dihadapan Mike dengan tubuh polosnya yang masih dipenuhi busa sabun.
Clary menyunggingkan senyumnya dengan menarik salah satu sudut bibirnya lalu dengan berjinjit dia mendekatkan wajahnya ketelinga Mike dan berbisik. "Apa kau masih berpikir akan menang melawanku Tuan Michael Durrant?"