
Hari berganti hari hingga tak terasa sudah lebih dari 2 minggu sejak kejadian perampokan itu. Willyam masih sama seperti sebelumnya, selalu menyempatkan diri menemani Clary menjelajahi kota.
Mike dan Tuan Carlos masih tetap memantaunya dari jauh untuk memastikan keamanan Clarisa. Tak jarang juga Tuan Carlos sedikit kerepotan untuk meredam emosi Mike yang cemburu saat mengetahui kedekatan Willyam dan Clarisa. Mike selalu memilih untuk mengawasi mereka sendiri dari pada menyuruh anak buahnya karena kebucinannya sudah naik jadi level dewa.
Disisi lain Clarisa mulai merasa nyaman berteman dengan Willyam walaupun dia tau bahwa mungkin teman barunya itu adalah seorang mata-mata yang sedang mengintainya. Dan dia juga tetep seperti biasanya, selalu mengabaikan perasaan Mike dan terkesan sengaja membuat Mike selalu marah kepadanya.
Faktanya Mike hampir setiap malam mengunjungi Clarisa jika dia lihat wanita pujaannya telah menghabiskan waktu dengan Willyam. Dan setiap kali Mike datang pastilah Clarisa tak luput dari amukan dari Mike yang cemburu buta.
PRANG..
Suara gelas yang pecah menghantam lantai karena dilempar oleh Mike yang tengah diselimuti kemarahan. Matanya memerah, tangannya mengepal kuat. Aura membunuh sangat jelas terlihat diwajahnya.
Clary hanya duduk terdiam dan menundukan wajahnya. Tak dipungkiri ada sedikit rasa takut dihatinya. Baru kali ini dia melihat kemarahan Mike yang begitu menyeramkan. Walaupun dia selalu tak peduli pada perasaan lelaki itu tapi entah mengapa kali ini Clary benar-benar ketakutan dan tak mampun meredam kemarahan Mike, bahkan hanya sekedar menatap wajah Mike pun dia tak mampu.
FLASH BACK ON
Sore tadi Willyan mengajak Clary jalan-jalan ke sebuah danau buatan di pinggir kota. Dia membawa sebuah bucket bunga yang indah untuk Clary.
Clary tersenyum senang menerima bunga itu. Sebenarnya bukan karena bunganya tapi ada 3 batang coklat yang terselip ditengah-tengah bucket bunga tersebut.
Will dan Clary pun duduk di bangku ditepi danau. Mereka bersantai sambil menikmati coklat panas yang mereka beli saat menuju danau tadi.
" Boleh aku bertanya?" kata Willyam sambil menatap Clary.
"Sepertinya ini serius." Clary balik memandnag Willyam.
"Apa kau memiliki kekasih?" tanya Willyam.
"Ya." jawab Clary singkat mengalihkan pandangannya dari Willyam.
__ADS_1
"Apa dia sangat mencintaimu?" tanyanya lagi
"Ya. Dia sangat mencintaiku hingga kehilangan nyawa demi mempertahankanku." Clary menatap jauh kearah danau.
"Maaf aku tak bermaksud membuka lukamu." kata Willyam yang merasa canggung.
"Sudahlah itu sudah lama. Dia juga orang dari negara ini. Dia sama sepertimu yang lembut dan perhatian. Bedanya dia selalu bersikap dingin dan tak banyak bicara. Tapi kami selalu paham apa yang kami rasakan walaupun tanpa mengungkapkannya." Clary tersenyum lembut.
"Ternyata cinta kalian begitu dalam. Apa sampai sekarang kau tak pernah mencoba mencintai orang lain?"
"Aku pernah membuka hatiku tapi percuma. Itu berakhir menyakitkan." jawab Clary acuh.
"Apa kau keberatan membuka hatimu lagi?" tanya Willyam sedikit ragu.
"Cobala kalau kau ingin membukanya untukku." Clary tersenyum penuh arti.
Merekapun tersenyum senang tanpa Willyam sadari jika ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka.
Mike, pria itu sengaja mengawasi mereka secara langsung karena kebucinannya pada Clary. Tatapannya penuh kebencian saat melihat Clary tertawa lepas dengan Willyam.
Disisi lain Clary yang menyadari keberadaan Mike selalu sengaja membuat pria itu semakin cemburu. Walaupun dia tau konsekuensi kemarahan Mike padanya akan sangat berakibat fatal.
"Clarisa.." Willyam menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Clary karna tertiup angin.
"Ya" jawab Clarisa sambil menoleh pada Willyam.
Tatapan merekapun saling bertemu. Willyam terlihat gugup dan canggung.
"Ada apa Will?"
__ADS_1
"Cantik." gumam Willyam pelan dan tak mendengar pertanyaan Clarisa.
Willyam semakin menatap wajah Clary dengan intens. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah wanita itu. Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya mengikis jarak diantara mereka.
Clary yang menyadari bahwa pengintai kali ini adalah Mike dan bukan anak buah Tuan Carlos yang lain, segera memainkan triknya.
Clary menutup kedua matanya saat Willyam mendekatkan wajahnya. Dan benar dugaan Clary bahwa Will pasti akan menciumnya.
Willyam merasakan hangat dan lembut bibir Clary. Hingga Willyam mulai tak tahan untuk memperdalam ci**** mereka.
Mike yang melihat langsung adegan tersebut mengepalkan tangannya menahan emosi. Ingin rasanya dia keluar dari tempat persembunyian dan membunuh pria yang telah berani mencium wanitanya.
FLAS BACK OFF
Clary tiba-tiba merintih kesakitan saat dia merasakan tangan Mike mencengkram dan mencekik lehernya dengan kuat. Pikirannya seketika kosong tak seperti biasanya yang selalu bisa berpikir logis untuk melawan Mike.
Mike melepaska cengkraman tangannya dari leher Clary lalu menariknya masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower lalu mengguyur seluruh tubuh Clary dengan air dingin.
"Kau tau aku sangat membenci semua pria yang berada didekatmu. Kau tau aku sangat benci aroma pria lain menempel ditubuhmu." Mike terus mengguyur tubuh Clary dengan air dingin tanpa mempedulikan apa yang dirasakan Clary.
Baru kali ini Clary tak berani melawan kepada Mike. Dia hanya membiarkan semua perlakuan kasar Mike padanya. Hingga hampir setengah jam mereka berada dikamar mandi dengan Mike yang masih terus mengguyur tubuhnya yang masih berpakaian lengkap hinggah Clary menggigil kedinginan dan akhirnya pingsan.
Mike yang melihat itu segera menghentikan aktifitas kejamnya dan membalut tubuh Clary dengan handuk. Mimik mukanya berubah dari aura kemarahan menjadi kekhawatiran. Dia bawa Clary keluar dari kamar mandi dan dengan telaten mengganti semua baju Clary lalu menyelimutinya. Lalu meninggalkannya ke dapur untuk membuat minuman hangat.
"Mike.. Mike hentika. Mike..." Mike mendengar suara Clary sedang merintih segera berlari menuju kamar.
Dilihatnya mata wanita itu masih terpejam tapi mulutnya terus mengigau menyebut namanya. Mike meletakkan punggung tangannya di dahi Clary. Dia merasakan sedikit panas saat bersentuhan dengan kulit Clary. Tampak penyesalan tergambar jelas diwajah Mike.
"Ternyata kau benar Jason, cintaku padanya pada akhirnya akan selalu membuatnya menderita. Seharusnya kau yang sekarang bersamanya menjaganya dan menyayanginya dengan kelembutanmu. Pantas saja kau sangat yakin saat kau bilang aku takkan pernah bisa menggantikanmu. Haruskah aku melepasnya sekarang Jason?"
__ADS_1