
Rombonganpun berhenti disebuah lapangan kampung yang biasa digunakan untuk bermain bola oleh orang-orang dikampung tersebut. Mereka memarkirkan mobil disana lalu berjalan menuju rumah Clarisa karena akan kesulitan jika 5 mobil mereka parkirkan di gang dekat rumah Clarisa.
Clarisa tampak berjalan lebih cepat dari yang lainnya untuk memandu serta rasa rindunya kepada kluarganya. Sejenak raut wajahnya tampak bahagia. Tak hentinya dia tersenyum sambil sedikit menyapa kepada tetengga yang ditemuinya disepanjang jalan.
"Assalamualaikum." Clarisa setengah berlari masuk kehalaman rumah orangtuanya.
"Waalaikumsalam." jawab ibu sembari memeluk anak perempuan satu-satunya yang paling tengil.
"Loh kok ada Joan dan Kim. Trus itu si Rudi sama kak Mel kok jg dsini buk?" tanya Clarisa heran melihat mereka berkumpul.
Ibu menceritakan semua pada Clarisa bahwa beberapa hari lalu Joan meminta tolong pada Rudi untuk mengantarkan kerumah orang tua Clarisa dengan membawa perintah dari ayah mertuanya, Tuan Carlos memberi kabar pada mereka bahwa rombongan Tuan Carlos akan datang untuk melamar Clarisa.
Clarisa berpikir keras. Pasalnya rencana kepulangannya baru semalam dia katakan pada Mike tapi mengapa Tuan Carlos sudah menyuruh Joan datang beberapa hari yang lalu. Apakah mereka semua bersekongkol? Pikiran Clary mula menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah, apakah kau merencanakan semuanya bahkan jika Mike tidak melakukan itu padaku?" tanya Clarisa dengan tatapan tajam pada Tuan Carlos dengan setengah berbisik.
"Yes. Atau Jonatan masih akan terus memperhatikanmu dibelakang Kim." penjelasan ayah angkatnya itu sungguh sangat membuatnya membisu.
__ADS_1
Clary terdiam mendengar penjelasan Tuan Carlos. Walaupun dia menganggap Clary sebagai anaknya tapi dia tetaplah anak angkat dan pasti ayah angkatnya itu lebih memilih melindungi putri kandungnya. Clary selalu sadar akan hal itu.
"How are you mantan istriku? Akhirnya nikah juga loe setelah sekian lama. Jangan-jangan lu gak bisa move on dari gue ya?" goda Rudi yang tiba-tiba merangkul bahu Clary, namun segera ditepiskan oleh Mike yang langsung menarik tubuh Clary dalam dekapannya.
"Maaf Tuan tolong bersikap sopan kepada calon istri saya." Mike berbicara dengan logat yang terasa kaku dilidahnya namun tetap dengan tatapan seakan bersiap membunuh siapapun yang mendekati Clary.
Joan terkekeh melihat ekspresi kaget pada Rudi. Dia segera merangkul bahunya dan membisikan sesuatu "Rasain lu. Lu pikir gampang berinteraksi ama Clary kalau si beruang kutub lagi deket sama dia. Gue aja yang jelas-jelas menantu bosnya sering dia ancem kalo sedikit aja keliatan ngedeketin Clary."
Mike masih setia menyembunyikan Clary dalam dekapannya. Dia tidak menyadari bahwa banyak pasang mata sedang memperhatikan mereka dengan berbagai ekspresi.
Tapi seseorang dengan tanpa rasa sungkan apa lagi takut segera menarik paksa tubuh Clari keluar dari dekapan Mike. Ya siapa lagi kalau bukan bangnya Clary si musuh bebuyutan Clarisa karena menjadi kesayangan ibunya.
"Maaf anda siapanya calon istri saya?" tanya Mike yang menahan emosi.
"Saya kakaknya. Kenapa? Berani kamu sama saya? Enak aja main peluk-peluk anak janda orang." Alan mulai nyerocos dengan kalimat yang seakan membela Clary namun tetap menjatuhkan adiknya itu.
"Plissss deh mas, kata-kata 'janda' itu gak usah diikutkan ngapa si?" Clary pun dibuat kesal oleh abangya.
__ADS_1
"Maap dek keceplosan. Tapi kn bener, masak iya abang bilang gadis. Tersinggung ntar si Rudi." Rudi yang mendengar kalimay Alan hanya bisa melongo tak tau harus berkata apa karena Melisapun memelototinya.
"Gak usah bawa nama orang deh mas. Gak liat tuh istrinya da melototin dia. Kamu nih ntar malah bikin mereka salah paham trus berantem." ujar Clary yang tak enak hati pada Melisa karena dia dan Rudi sepakat merahasiakan apa yang sebenarnya pernah terjadi pada mereka.
"Tapi kan kamu emang jan.." kalimat Alah segera disela oleh Clary.
"Iya aku janda. Puas kamu." Clary yang kesal secepat kilat melangkahkan kakinya masuk ke kamar kesayangannya. Kakak lelakinya itu memang seneng banget ngajakin dia berantem.
Sedangkan kini diruang tamu, orang tua Clary sedang melakukan pembicaraan serius tentang pernikahan Clary dan Mike bersama Tuan Carlos, Mike dan saudara-saudara orang tua Clary. Mereka sepakat melaksanakan pernikahan di negara asal Mike karena pernikahan beda agama agak sulit dilakukan di negara Clary.
Mereka sepakat berangakat ke negara asal Mike seminggu lagi setelah anak buah Tuan Carlos selesai membuat paspor dan semua dokumen untuk kluarga besar Clary walaupun tak semua bisa hadir yang penting kluarga inti Clary ada di acara pernikahan nanti. mungkin hanya 17 orang yang ikut bersama mereka nanti termasuk kluarga inti Clary dan tak lupa Rudi, Melisa dan abak mereka.
Clary nampak keluar dari kamarnya menuju ruang tamu untuk bergabung bersama yang lainnya. Mike yang sengaja hendak menyuruh Clary duduk didekatnya dihalangi oleh Alan dan Jonas adik Clary. Mereka berdua segera mengapit Clary agar duduk ditengah-tengah mereka.
Alan tersenyum senang melihat ekspresi Mike yang menahan emosi padanya sejak datang. Dia menikmati rautwajah calon adik iparnya yg sedang kesal karena tak bisa membalasnya. Walaupun umur Mik3 juga lebih tuq dari pada Alan tapi karena adat disini harus menghormati kakak ipar jadi Mike mengikuti aturan di kampung Clary. Kalau tidak, mungkin sekatang Alan sudah babak belur dia hajar habis-habisan.
"Bagaimana rasanya tak bisa berbuat apa-apa?" Sindir Joan yang duduk disebelah Mike. "Welcome to my country bro.." Joan juga menikmati kekesalan Mike. Setidaknya ada orang yang bisa membalaskan dendamnya karena selama ini selalu dihalangi oleh Mike saat akan bertemu dengan Clary.
__ADS_1
Mike melirik Joan sekilas dengan sinis. Kali ini dia benar-benar dibuat kesal setengah mati karena semua menghalanginya berdekatan dengan Clary. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Padahal saat dinegaranya juga dia jarang berdekatan dengan Clary tapi hatinya tidak segalau sekarang. Ditambah lagi sikap Clary yang berubah menjadi dingin lagi seperti semula. Berbagai macam spekulasi muncul dalam pikiram Mike membuatnya harus menahan emosinya sendiri.