
Chen mo berjalan kembali ke gubuk dan membuka panel wilayahnya
[ Wilayah ] : Tanpa Nama
Nama : Chen Mo
Level : 10
Luas : 10.000m²
Populasi : 110
Malaikat : 110
Menara cahaya : 30
Bangunan sendiri : gubuk (Level 10), pagar (Level 10), kolam malaikat
Karakteristik wilayah : The seven colors of the rainbow
Persediaan:
Batu void 4.700
Batu roh 10.000
menara pemanah warna biru 53
Skill warna biru 42
Senjata warna biru 51
Senjata warna ungu 1
Skill warna ungu 1
Pemandian air panas, perumahan, rumah, restoran, rumah sakit, sawah,dll
(Untuk senjata, skill putih dan hijau sangat banyak jadi saya tidak masukkan list karena merepotkan dan bikin pusing)
"Banyak sekali, apalagi jika ditambahkan dengan warna hijau dan putih, aduh bisa meledak otak ini"
"Ayo Chen.. mulai fokus kembali" sambil menepuk-nepuk kedua pipinya
"Yang pertama untuk bagian depan akan di ganti semua dengan menara laser cahaya dan beberapa pemanah biru yang bagus, selebihnya seperti sisa pemanah warna biru, hijau dan putih akan ditaruh di 3 bukit dan di sebarkannya agar tidak ada ruang menyelinap bagi para monster menyusup, untuk jebakan, atau segel akan ditaruh di benteng depan"
Setelahnya Chen mo memanggil Miera untuk menerbangkannya ke langit agar semua wilayah bisa terlihat jelas.
Dia terbang sampai bisa melihat semua wilayahnya, saat di atas Chen mo terkejut awalnya tanah tandus yang semula berbentuk bulat sekarang berubah menjadi bentuk persegi dengan bagian depan sedikit agak lonjong.
Chen mo bingung sesaat, dia melihat wilayah kembali dan memikirkan bagaimana untuk menatanya lagi, berpikir sejenak sebelum tiba-tiba terbesit sebuah rencana yang menurut Chen mo aman, yaitu
Bagian depan akan dijadikan sebagai pertahanan seperti menara laser dan jebakan.
bagian tengah sebagai perumahan seperti rumah sakit, restoran, sawah, Dan
bagian belakang akan menjadi tempat untuk menaruh bangunan tentara dan gubuk dan bagian bukit di taruh menara yang tidak di pakai.
__ADS_1
"Ini ide brilian, tapi kelemahannya terlalu fatal karena fokus hanya di satu sisi saja, tapi 3 sisi bagian lainnya kosong, tapi gak apa-apalah setelah kuat nanti kan bisa merubahnya kembali" Chen mo ingin mulai menata bangunan kembali tapi melihat hari sudah gelap dia memutuskan untuk mengerjakannya besok.
Chen mo kembali ke gubuk dengan di temani beberapa malaikat untuk bermalam dengannya, karena godaan mereka membuat pedangnya sudah kepanasan.
Esok pagi hari
Chen mo bangun dengan mata hitam seperti panda, dia memandang beberapa malaikat yang tergeletak di lantai dengan sayap-sayap sebagai bantalnya.
"Aduh.. Aku harus menahan diri, kalau tidak bisa bahaya nanti kedepannya." katanya dengan wajah lelah.
Chen mo ingin tidur lagi, tapi ke ingat rencana untuk menata bangunan kembali dan tidak adanya komando di garis depan untuk melawan gelombang monster, jadi Chen mo terpaksa bangun menyuruh para malaikat untuk membersihkan kekacauan ini.
Keluar dari kamar, Chen mo melihat di depan pintu sudah ada Miera dengan wajah merah menunggu.
Chen mo tersenyum kearahnya sedikit menggoda setelah itu dia terbangkan ku kembali ke langit, sampai Chen mo membuka panel wilayah grafik dan langsung menata seluruh wilayah yang sudah di rencanakan kemarin sampai waktu menjelang siang.
(Biasanya monster respawn pada saat menjelang siang hampir ke sore, jika di jam kita itu jam 14.00, kenapa bisa jam segitu??... Aku gak tau)
Selama siang ini Chen mo hanya berjalan-jalan dengan para malaikat di atas benteng pagar, melihat pemandangan indah hutan lebat sambil meningkatkan menara laser cahaya ke level 10, karena masih ada waktu sebelum monster respawn Chen mo membuka cincin penyimpanan dan mengambil skill warna ungu yang di dapat pertama kali.
[ buka segel ] keluar cahaya warna ungu yang perlahan-lahan redup, penasaran dia membuka panelnya
[ Teleportasi ]
Kualitas : Warna ungu
level 1
Jarak 100m
Petunjuk : hal yang lebih penting adalah melarikan diri
( Jika mendapat warna ungu atau emas, biasanya mereka dapat senjata, skill atau barak secara acak jadi jangan senang dulu jika mendapat warna ungu karena belum tentu itu berguna untuk skill atau senjata atau barak tentara).
Chen mo terkejut dengan apa yang di dapat, karena mendapatkan barang bagus apalagi warna ungu di kekosongan itu mustahil kecuali memang dia memiliki keberuntungan yang bagus.
Jika Chen mo memberikan perbandingan sekitar 1 banding 100.000 orang, biasanya mereka yang mendapat skill, senjata maupun barak tentara warna ungu di kekosongan mereka akan menjual atau melakukan barter dengan penguasa lain, karena adanya ketidakcocokan dari penggunaan barang warna ungu tersebut.
Mengklik [ mempelajari ] dan menutup mata merasakan banyak aliran informasi masuk ke dalam pikirannya, membuka mata mencerna semua aliran informasi yang di dapat, Chen mo sangat sangat bersemangat dan ingin mencobanya,
Tetapi dari ujung hutan lebat keluar sekelompok jiwa berbentuk seperti bola api dengan8 hanya ada mulut tidak dengan anggota badan yang lain, Chen mo memeriksa panelnya
[ Monster dosa keserakahan ]
level 17
skill : memberikan ilusi kepada pengguna dengan gambaran harta yang ditumpuk segunung langit
"WTH... bukankah ini salah satu 7 dosa manusia? kenapa mereka bisa jadi entitas di kekosongan? dan lagian bukankah mereka hanya rumor belaka" katanya sambil mengingat-ingat.
Selama liburan 2 bulan ini, Chen mo selalu mencari di internet tentang ras yang respawn di kekosongan, dan juga melihat rumor yang di internet seperti ini, tetapi banyak rumor tentang ras berbeda yang menurutnya itu mustahil jika menggunakan pikiran secara logis, jadi Chen mo pikir rumor ini hanya sebagai halu bagi para penguasa saja, tapi setelah melihatnya.
Chen mo harus mempercayai apa yang dilihatnya ini, tunggu... Kalau dipikir-pikir bukankah semua rumor para penguasa saat menjelajah kekosongan itu juga benar adanya?
"Ugh.... Terima saja tidak usah di pikirkan lebih baik jalani aja seperti air mengalir, biasakan dengan hal-hal aneh seperti ini yang menurutku jika di ceritakan oleh orang lain mereka hanya bilang halu" Menenangkan hati, setelahnya Chen mo mengingat-ingat kembali bagaimana cara membunuhnya
"Menurut rumor yang ku baca, untuk menghilangkan entitas yang berbentuk jiwa seperti ini hanya bisa dikalahkan dengan pengguna kekuatan berbentuk cahaya atau pengguna kekuatan jiwa seperti seorang pengguna ilusi, mimpi, dll.
__ADS_1
"Apakah malaikat sebagai pengguna cahaya bisa membunuh mereka?" Chen mo berbisik sambil melihat Miera
"Tanya saja lah" Chen mo menghampiri salah satu malaikat.
"Miera, apa kau bisa membunuh entitas jiwa seperti mereka?" sambil menunjuk ke arah bentuk seperti bola terbang,
"Saya kurang tahu tuan, karena saya juga baru pertama kali melihat hal ini."
( Setiap tentara yang dipanggil mereka sudah diberi dasar informasi mengenai dunianya, siapa tuannya, dan beberapa informasi ras umum di kekosongan)
"Tuan aku bisa mencobanya jika tuan mau" katanya sambil menghunus pedang yang ku lupa minta kembali,
"Ternyata dia sangat cocok dengan pedangnya, biarlah pedang itu untuk dia" bicara dalam hati.
"Cobalah tapi waspada dengan yang lainnya" Chen mo memperingati.
Miera terbang dengan cepat menuju arah bola terbang itu, para monster yang sedang mondar-mandir seperti orang kebingungan merasakan seseorang dengan mulutnya, kalau ada entitas lain selain mereka.
Membuka mulut sampai mulut itu melebihi dari jiwa mereka sendiri, dari dalamnya keluar secara berurut cincin bulat mengarah ke Miera.
Jika hanya satu entitas itu tidak akan terasa, tapi jika gerombolan? ya Miera terasa tubuhnya bergetar dan selama beberapa detik Miera seperti orang kebingungan sebelum tersadar kembali dan melarikan diri ke benteng.
Chen mo langsung menghampirinya dan bertanya dengan khawatir "Bagaimana keadaanmu?"
"Saya baik-baik saja tuan, untuk monster mereka mengeluarkan gelombang suara yang memberikan getaran juga ilusi ke diriku, jika jiwa itu sendiri aku bisa membunuhnya, tapi jika saat mereka bergerombol aku hanya bisa menggunakan skill terkuat ku yaitu [ Cahaya Surga ], untuk memusnahkan mereka" kata Miera sambil menghela nafas berat.
"Apa tidak ada cara lain?" Chen mo bertanya dengan bingung. "Ada tuan, kita bisa pancing mereka per batch karena mereka melihat musuh hanya dari hawa panas tubuh musuh saja dan jarak untuk di rasakan tidak terlalu jauh jadi aman" kata Miera.
"Kalo gitu laksanakan tapi prioritaskan saudarimu yang levelnya masih rendah agar bisa setara nanti kalian semua" perintahku.
"Baik tuan, saya akan bilang ke saudari yang lain" Dia terbang memanggil malaikat lain.
Melihat Miera sedang mendiskusikan dengan saudari lainnya, Chen mo malah penasaran isi dari kotak hadiah mereka "tidak sabar menunggu" kata Chen mo sambil menggosok kedua tangannya
Para malaikat memancing beberapa dari monster dosa secara diam-diam dan membunuhnya, setelah itu mereka mengambil kotak hadiahnya dan melarikan diri sebelum monster yang lainnya sadar, sampai benteng malaikat memberikan Chen mo kotaknya dia langsung membukanya dan mendapatkan.
" Ding dapatkan 7 batu roh, 1 batu dosa keserakahan"
" Ding dapatkan 3 batu roh,7 batu dosa keserakahan"
.....
"28 batu roh sama 43 batu dosa keserakahan, hmmm lumayan bagus juga, tapi apa kegunaannya ini batu?"
Membuka panel dengan penasaran.
"Batu Dosa Keserakahan"
fungsi : memberikan ilusi bagi para penggunanya untuk menjalani kehidupan bagaimana mereka menjadi orang kaya dan kuat. ( Hanya berfungsi untuk manusia biasa )
durasi: 30 hari
"Apa hanya itu? kukira ada yang istimewa" katanya dengan kecewa.
"Tapi jika batu yang kupegang ini di jual dengan harga bagus pasti ada beberapa manusia biasa yang akan membelinya.
Karena banyak mereka yang gagal menjadi penguasa, dan hidup mereka akan menjadi biasa saja walaupun memiliki harta yang berlimpah, karena obsesi setiap manusia biasa di dunia ini ingin menjadi kuat dan terkenal di seluruh langit berbintang"
__ADS_1
"Heh... Batu ini bisa dijual ke mereka dengan harga puluhan ribu bahkan jutaan koin emas" katanya dengan licik.
Chen mo bukanlah orang suci atau orang baik jika itu bermanfaat untukku akan kuambil walau harus harus membunuh banyak nyawa, aku bahkan tidak berkedip dan kasihan dengan kematian mereka karena filosofi ku hidup di dunia ini yaitu "YANG KUAT SELALU MAKAN YANG LEMAH."