
Setelah pagi yang menggairahkan selesai, tibalah di waktu siang hari.
Bangun tidur menggosok kedua mata melihat yang lainnya masih tertidur, dia keluar dengan melangkahi mereka, bergegas ke area pemandian.
Selesai pemandian teleport ke atas benteng untuk menghirup udara segar dan melihat langit yang sama, atau hutan yang sepenuhnya ditutupi oleh kabut.
"Hah? aneh sekali, bukankah kemarin hutannya tidak ditutupi kabut? apakah ini tanda monster baru respawn" bertanya dengan penasaran.
Takut ada apa-apa Chen mo membunyikan alarm perangnya, bunyi keras terompet terdengar, tidak lama dari suaranya mulai datang satu per satu pahlawan dengan pasukannya, mereka langsung menempati setiap pos.
Di belakang Chen mo beberapa gadis pahlawan sedang mengobrol dan berbisik dengan bahagia, dia tidak ikut obrolan mereka karena dari tadi dia memiliki firasat yang sangat buruk tentang kabut ini.
Karena firasatnya ini makin kuat dia menjadi semakin waspada dan benar saja di hutan kejauhan yang semula tadi hanya kabut tipis lama-lama menjadi kabut yang sangat tebal dan pekat, Chen mo yang melihat kejanggalannya menyuruh pasukan yang lain untuk waspada dengan area sekitar mereka.
Karena kabut yang sangat tebal dia tidak bisa melihat perkiraan jumlah monster dan tipe monsternya sama sekali, dia memutar otaknya sampai dalam pikirannya muncul ide skill yang menurutnya bisa membelah kabut ini yaitu skill [ Cahaya Surga ]
Ide ini di sampaikan ke pahlawan malaikat yang lain dan meminta salah satu relawan pahlawan malaikat untuk menggunakan skill terkuat mereka.
Tak butuh lama, ada salah satu pahlawan malaikat yang mengajukan diri karena skill ini akan menguras energi pemakainya, dan perlu istirahat beberapa jam untuk memulihkan kondisi puncaknya.
Berdiri di tengah benteng kami mundur memberi ruang untuknya, dia memegang erat pedang cahaya di depan dadanya sambil mengucapkan kalimat yang tidak di mengerti selain para malaikat.
Cahaya dari pedangnya yang semula redup menjadi semakin terang sampai cahaya tersebut menembus ke atas langit, dia mengangkat pedangnya dengan sangat tinggi dan mengayunkannya lurus ke depan.
Energi cahaya yang sangat terpancar ke langit jatuh secara lurus menghantam tanah menjadi hancur berantakan, kabut yang semulanya tebal menjadi terbelah dua dan dari serangan itu juga terbunuh ratusan monster yang tidak beruntung.
Chen mo terkejut karena di belahan kabut tersebut ada puluhan ribu monster terbang seperti capung yang sedang menuju arah benteng kami dengan lambat dan di belakangnya ada capung berukuran lebih dari 5 m yang dianggap itu sebagai pemimpinnya.
Karena terlihat jelas langsung ku aktifkan semua menaranya dan membiarkan pasukan yang lain bersiaga, sekalian membawa mundur malaikat yang sudah terbaring lemah.
"Kau sangat berani, aku sebagai tuan berterima kasih" sambil mengelus kepalanya
"Tidak tuan, ini tugas kami sebagai malaikat." katanya dengan lemah.
Setelah malaikat tersebut di bawa, terdengar tembakan pertama oleh menara cahaya dan di lanjut dengan menara yang lainnya, tembakan terus menerus semakin banyak, para monster capung berjatuhan dari langit seperti hujan.
Tapi itu hanya bisa menjadi penghalang saja karena monster yang terus mengisi kekosongan di depannya dan juga hanya warna ungu saja yang sekali tembakan bisa membunuh puluhan monster, untuk warna biru mereka hanya bisa membunuh satu monster saja.
Chen mo hanya menghela nafas berkata "Kapan lagi aku dapat warna ungu dan Caroline sampai mengeluh karena gak ada ruang penyimpanan yang besar untuk bisa mengkategorikan barang saking banyak aku dapat barang" .
Para monster semakin dekat ke arah kami, Chen langsung teleport ke depan musuh langsung, dia menggunakan skill membelah 5 dan menyebarnya di setiap benteng, setelahnya dia mengeluarkan skill lima elemen untuk membunuh semua capung yang berjarak 250m dari benteng.
Ledakan demi ledakan terjadi, para pahlawan yang melihat tuannya beraksi tidak mau kalah, mereka juga ikut menyerang dengan diikuti pasukan di belakangnya, melihat aksi pahlawan dana pasukannya beraksi Chen mo membelah lagi menjadi puluhan tubuh dan memancarnya untuk melindungi setiap pasukan.
__ADS_1
Pertempuran besar terjadi, kami menahan para monster sementara beberapa yang terluka kami bawa ke belakang dan diganti oleh orang yang baru, kami hanya membawa setengah pasukan, karena rencana kami itu dibagi menjadi 2 shift, agar bisa lebih bertahan lama untuk melawannya.
Perang yang masih terus berlanjut sampai menjelang tengah malam, untuk Chen mo dan yang lainnya ini perang paling melelahkan sepanjang ujian ini karena saking banyaknya monster terbang yang menyulitkan kami untuk membunuhnya.
Chen mo terus meledakkan kanan dan kirinya, dia tidak takut mananya habis, pahlawan dan pasukan dari kedua ras juga berjuang gigih menebas kanan kiri walau tangannya merasa pegal karena sepanjang hari terus bertempur sampai monster terakhir yang Gabriel bunuh dengan bantuan beberapa pahlawan lain.
Dari serangan ini level rata-rata pasukan yang awalnya hanya 27 sekarang sudah masuk ke 34, selesai Chen mo memanggil assassin di bawah caroline untuk mengambil seluruh kotak hadiahnya dan menginstruksikan beberapa hal lainnya, setelah selesai dia langsung pergi tidur.
Untuk dua hari kedepannya masih sama melawan monster zerg tapi lebih banyak lagi karena sudah mencapai angka ratusan ribu monster dan rata-rata monster level yang respawn bisa sampai level 30 ke atas.
Itu menurutnya sudah tidak masuk akal karena tidak mungkin kekosongan yang merespawn monster sebanyak ini, pasti ada orang lain di belakangnya
"Kenapa semakin banyak saja, memang ini bagus untukku tetapi jika terus seperti ini aku bakalan keteter." katanya dengan nada gelisah.
Karena Chen mo tidak tahu harus ngapain lagi, jadi dia kepikiran untuk membuat lebih banyak malaikat dan assassin lagi karena hanya dengan cara itu dia bisa mengimbanginya, tidak lupa juga memanggil beberapa pahlawan untuk menjadi pemimpinnya.
Pada saat lagi sibuk memanggil pasukan, tiba-tiba caroline datang dan berkata kalau gudang sudah tidak muat lagi, Chen mo terkejut dan melihat yang ternyata benar gudang itu sudah tidak muat lagi.
Jadi vila di naikkan sampai ke level 29 karena kalau di naikkan ke level 30 untuk meningkatkan bukan batu roh lagi tapi batu void, setelah selesai meningkatkan, lanjut memanggil para malaikat dan assassin, terus sampai dia tidak tahu berapa banyak pasukan yang di beli.
Hari ke 46 sampai ke 49 itu sama zerg yang menyerang tambahan beberapa monster Cthulhu, serangan kali ini tidak hanya di bagian depan, tapi di seluruh area wilayah di serang.
Chen mo semakin sibuk pindah sana-sini dan selama waktu ini dia tidak tidur karena serangan bertubi-tubi dari para monster.
Terjadi ledakan di segala arah dengan ribuan dan puluhan pahlawan mengomandoi dan base yang sedikit demi sedikit menyusut karena saking banyak monsternya yang maju.
Untuk tugas Chen mo hanya pindah-pindah melawan monster, mengasah skill, taruh menara, memanggil pasukan dan terus dia lanjutkan rutinitas ini, Chen mo bahagia dan senang karena uangnya semakin banyak, pasukan yang terus bertambah, dan warna ungu yang keluar satu demi satu dari kotak hadiah yang membuat matanya menjadi silau.
Chen juga merasakan kalau 2 bangunan di dalam tubuh ini belenggunya akan terlepas, tapi dia tidak tahu kapan, tapi hal ini juga membuat kebahagiaannya bertambah.
Semburan api dan sambaran petir menghanguskan seluruh tubuh dari ratusan monster di sekitarnya.
"Ha..ha.. ini yang terakhir" katanya dengan ngos-ngosan "Hah.... akhirnya berakhir juga"
Chen mo teleport kembali ke vila yang di depannya sudah banyak warna putih, dan hijau yang bertumpuk seperti gunung di beberapa jalan, dia terus melewatinya sampai tiba di depan vila.
Chen mo menyuruh assassin yang menjaga rumahnya untuk memanggil seluruh pasukan agar mereka datang ke vila terlebih dahulu, assassin itu menghilang dan selang beberapa menit tiba satu per satu malaikat atau assassin yang berjumlah lebih dari ribuan dan juga ratusan pahlawan yang hadir.
"Aku memanggil kalian kesini karena ini hari terakhir kita di dalam kekosongan, firasatku memberitahu kalau besok akan menjadi hari pembantaian untuk kita, karena kita terlalu melanggar dan melebihi batas dari ujian itu sendiri, jika kita terus melanjutkan kita akan menghadapi resiko yang jauh lebih berat daripada sekarang.
Jadi, tengah malam nanti kita akan mengadakan pesta api unggun kalian jangan sampai ke tinggallan, mengerti?" katanya dengan wajah gembira
"Baik tuan, kami mengerti" kata mereka menggema, semuanya perlahan kembali ke rumah masing-masing dan tertidur.
__ADS_1
Di tengah malam wilayah tandus tapi tanahnya bewarna putih, di salah satu tempat ada api yang sangat besar membumbung tinggi ke langit dan sekelilingnya ada ribuan malaikat dan assassin yang hadir.
Mereka berbicara, mengobrol dan membahas monster yang telah dibunuh, Chen mo melihat semua hal ini hanya tersenyum dia berjalan ke podium yang sudah di siapkan.
Melihatnya berjalan para malaikat dan assassin yang lagi mengobrol terdiam, Chen mo berjalan sampai tiba di atas podium.
"Kita sudah bersama selama hampir 49 hari dan saya juga berterima kasih karena kalian sudah mau menuruti perintahku dan juga mau bekerja lembur melawan para monster" berkata dengan tulus sambil sedikit menundukkan kepala.
"Tidak perlu seperti itu tuan, kami sangat senang kok"
"Iya tuan jangan kau sampai menundukkan kepalamu kepada kami"
"Tuan kami senang disini, karena kami tidak perlu ada intrik dan juga hal lain yang membahayakan kami"
"Kami disini bersenang-senang, walau ada hal mendebarkan tapi kami juga melewati ini dengan mudah, dan juga kami mendapat saudari yang baik..."
Mereka mulai berbicara tentang kebahagiaan mereka disini, Chen mo senang dan merasakan perasaan yang muncul kembali "Aku rasa Ini seperti keluarga" berbisik dalam hati.
Karena agak terlalu kemana-mana bagian pembicaraan Chen mo bertepuk tangan untuk mendiamkan mereka, setelah diam dia lanjut berbicara
"Karena kita sudah berjuang sampai sini, kita juga sudah menghadapi perjalanan hidup dan mati dan aku juga memberitahu kalian kalau ini bukanlah perjalanan akhir kita,
Kita akan terus bertarung, berjuang dan bekerja keras untuk sampai kita mencapai kultivasi tertinggi dan pergi ke langit banyak impian orang lain yaitu langit berbintang." berpidato dengan semangat.
Para malaikat dan assassin yang mendengar hal itu menjadi sangat bersemangat sampai darah mereka menjadi mendidih mendengar hal itu, kulihat suasana yang sudah sampai ******* diapun melanjutkan
"Kita akan terus berjuang dan kami akan melawan mereka yang menghalangi kami, jadi apakah kalian semua ikut aku dalam perjalanan ini?" tanya dengan keras, "Kami ingin tuan" kata mereka sambil berteriak.
"Hahaha...kalau begitu janjimu, dan harapanmu ini akan ku persembahkan menjadi nama wilayah kita yaitu
" Bintang Cahaya "
Karena wilayah ini akan selalu menyinari kami dengan harapan dan ambisi kami yang sangat besar, cahaya ini juga sebagai yang menyinari kami di dalam kegelapan sekalipun" berkata dengan khidmat.
Mengangkat gelasnya setinggi mungkin dan berkata
"Untuk kita, dan untuk keluarga"
"Untuk kita dan untuk keluarga" gema suara kedua ras.
Setelah pidato selesai di lanjut dengan pesta-pesta dan juga ada pesta khusus untukku karena pedangku sudah sangat gatal karena belum di asah selama beberapa hari ini.
Kami terus berpesta sampai sinar cahaya timbul di sisi lainnya
__ADS_1