Era Legenda Sang Penguasa

Era Legenda Sang Penguasa
Perang dan Pengorbanan Besar


__ADS_3

Melihat provokasi ku ketiga monster dengan amarah mengaum terbang ke arahku.


Sambil tersenyum aku maju dan menahan serangan cakar dari para monster itu.


Shringg.. Shringg


Pedangku terus bertabrakan dengan cakarnya, saat aku melihat ada kesempatan dengan hembusan nafas [ Pernapasan Api : 3 Harimau api ], 3 tebasan berbentuk harimau bergegas menuju ke arah monster.


Mereka lengah dan hanya bisa menahan serangan dengan cakarnya, sayang karena gelombang kejut dia terpental jauh hampir mengenai kubah air,


Tapi dengan sedikit gerakan tangan pasir yang semula tenang mulai terangkat ke atas dan menjadi bantalan pelindungnya dari kubah air.


Aku tersenyum ke arah mereka sambil menengok ke kubah lain yang ternyata Xuer sedang menontonku dengan wajah ejekan dan di belakangnya monster sudah membeku.


Sementara Mier dia tersisa satu, tapi dia agak bermain main melawannya, dan untuk ku sama sekali belum selesai mengalahkan ketiga monster ini.


Memikirkan kalah dengan wanita, membuat wajahku sangat malu dan menengok ke arah monster, sampai teringat sesuatu.


"Hah...! Lupa kalau mereka adalah sama denganku, kenapa aku malah bertingkah meremehkan mereka seperti ini, Memalukan sekali" kataku menghela nafas.


Karena hanya kubah ku yang belum selesai, Xuer dari balik kubah dia menyemangati dengan ejekan dalam katanya dan juga Mier yang sudah selesai membunuh monsternya juga menyemangati dengan kata-kata yang membuatku sangat marah.


"Tahan, Chen suatu saat kau akan bisa menaklukan nya" dalam hati.


Karena kemarahan belum surut, aku menggunakan skill terkuat langsung, teleport dan hembusan nafas skill [ Pernapasan Zona Air : Air Ketenangan ]


Muncul visual air laut tenang dan monster yang berhenti bergerak, aku berjalan di atas air menuju mereka, ku tebas kepalanya sambil melewati mereka.


Beberapa detik waktu kembali normal dan kepala yang di tebas terbang dengan banyak darah bercucuran keluar seperti air mancur, sedangkan aku menancapkan pedang ke pasir dan berkata [ Elemen Campuran : Lepaskan ]


Ketiga kubah semuanya hancur dan kedua wanita datang menghampiriku sambil bertanya


"Chen, jurus apa itu? aku tidak bisa melihat serangannya" "Sama, memang nya itu jurus apa Chen?" "Kenapa saat mata kami berkedip ketiga monster udah terpotong kepalanya?"


Banyak pertanyaan dari kedua wanita itu sampai "Udah kita mendingan lari saja dulu, lihat sepertinya mereka terbang sangat cepat kesini" kataku nunjuk.


Menengok monster yang tadinya lambat sekarang terbang sangat cepat ke arah kami, keduanya mengangguk, mengurungkan niat untuk bertanya dan terbang menjauh dari kejaran monster.


Beberapa jam kita terus melarikan diri dari kejaran monster yang membuat kami sangat kesal dan jengkel.


Aku bertanya tentang pelindung kedua wanita, katanya mereka sedang berusaha masuk secara paksa ke


dungeon, Kami di suruh menunggu beberapa jam lagi.


Sampai di salah satu gurun, kami mendarat untuk beristirahat sejenak, karena panasnya gurun sabin yang menguras banyak sekali energi, berbeda dengan tempat lainnya yang bisa terbang selama berhari hari.


"Chen, kita tidak harus terus berlari seperti ini, kita bisa melawan mereka dengan cara memancing" kata Mier.


"Aku tahu, sebenarnya ide ini sudah ada di kepalaku beberapa jam yang lalu, tapi karena aku takut kalian kenapa-napa, jadinya ku pendam saja" jawabku.


Terkejut mendengarnya Xuer dan Mier saling memandang sebentar, sebelum mengambil tanganku dan menggigitnya.


"Aduh..Aduh....! Sakit sekali, kalian ini kenapa dah?" tanyaku menahan sakit.


"Chen, kau meremehkan kami?"


"Iya, kau meremehkan kami kah?"


Pertanyaan itu terngiang di kepala sebelum bisa menjawab, Xuer lanjut bicara "Kenapa kau takut kami ini kenapa-napa? Apakah kami wanita lemah yang harus di lindungi?"


Mendengarnya membuatku tersadar kembali, "Benar, mereka kan jenius kenapa aku harus melindungi?? Dan semenjak aku masuk dungeon kenapa sifatku menjadi pengecut seperti ini ??" dalam hati tanya bingung.


Aku merenungkan apa yang dikatakan keduanya, hening singkat antara kami sampai raungan monster terdengar dari kejauhan.


Aku membuka mata dan melihat ke kejauhan.


"Semenjak jadi penguasa sifatku seperti nya berubah total, yang tadinya orang sembrono tiba-tiba menjadi orang yang sangat berhati-hati dan protektif" dalam hati


Menghela nafas, "Hah...! Mumpung kalian membuatku sadar kembali, jika tidak sifat ini akan menjadi boomerang nanti kedepannya" kataku sambil memeluk keduanya.


Mereka tersenyum dengan muka merah melihat reaksiku dan Xuer bertanya "Chen, berarti kau ingin melawan monster ini?"


"Hahaha... Jangan di katakan lagi, ayo berperang" kataku dengan percaya diri terbang,


Keduanya mengikuti dan saat di langit kita melihat dalam setiap pandangan kami ke depan hanya ada monster serangga, mau di darat ataupun udara.


Tak terhitung banyaknya monster sampai ruang space, langit dan pasir pun tidak kelihatan sama sekali, saking banyaknya.

__ADS_1


"Perkiraan jumlah ada sekitar jutaan monster, Aduh... Banyak sekali, baiklah Xuer dan Mier lebih baik kalian berikan kepada orang terpercaya sistem peningkatan agar mereka nanti bisa menaikkan base, atau menara, mengerti?"


"mengerti" keduanya mengangguk.


Kami mulai mentransmisikan suara, kalau aku ke Caroline sekalian menyuruhnya menggunakan skill bayangan biru agar lebih mempermudah soalnya Caroline juga harus membuka kotak hadiah


Sementara Mier berikan ke pahlawan naga lima warna, dan Xuer ke kepala sekte.


Setelahnya kami buka gerbang dari dalam, keluar tentara yang berjajar rapih dengan aura bertarung dan membunuh yang sangat ganas.


Kekayaan kami juga sepenuhnya di keluarkan seperti menara, domain, jimat dll untuk pasukan.


Kami bertiga bersatu membentuk pasukan yang langsung di komandoi oleh aku, ahli strategi Mier dan ahli distribusi Xuer.


Suara dengung terdengar di telinga kami "Jejeje...Apakah kau capek berlari"


Kami tidak hiraukan ejekannya dan fokus merumuskan strategi, serta tentara yang sibuk melakukan persiapan, sampai


Dari bagian paling belakang ada suara berseru.


"Jejejeje..


Serang mangsa kita"


"Mengaum"


Jutaan monster meraung menggema langit, seperti mesin mereka bergerak perlahan menuju arah kami, sementara strategi dan persiapan kami sudah selesai saat mereka bergerak.


Terbang ke langit aku melihat kejauhan.


"Formasi satu, masuk ke posisi"


Suaraku menyebar ke seluruh tentara, dalam posisi aba-aba seluruh tentara bergerak.


"Target Terkunci" teriak tentara.


"Tembak"


Ratusan tembakan dari seluruh menara di susul jutaan panah dengan skill ribuan panah dari para elf, menyerang hampir bagian depan para monster.


Boom... Boom... Boom...


ledakan terjadi besar, banyak sayap kumbang tidak bisa menahan gempuran serangan dari menara apalagi dengan serangan menara warna ungu, semua monster hancur berantakan tidak tersisa sama sekali.


Karena tidak adanya pelindung lagi dari kumbang, monster yang di darat maupun udara, jadi makanan empuk untuk jutaan panah yang menghampiri mereka.


Shut... Shut... Shut


Panah menembus dari tubuh monster di langit, hujan darah turun sementara di tanah menjadi sungai darah dan tumpukan mayat dari puluhan ribu monster.


Kotak hadiah berhamburan ke langit dan berceceran di setiap mayat monster, melihatnya aku sampai meneteskan air liur dari mulutku.


Aku fokus kembali dan berkata


"Formasi 2 dalam persiapan, pemanah dan menara persiapan serangan di bagian belakang mereka."


Monster masih terus maju tanpa ada rasa takut karena yang mati tidak signifikan dibandingkan jumlahnya.


"Tuan kami siap" kata tentara.


"Bagus, formasi dua serang, pemanah menara menyerang juga"


"Mengaum"


Raungan naga mengguncang langit, mengepakkan sayap yang sangat besar terbang setingginya ke awan membuka mulut yang lebar dan menghembuskan lahar api panas ke pasukan monster.


Setiap monster terbang mengaum ke langit terbang ke arah setiap naga, tapi sayang karena jarak serangan yang terlalu jauh, monster jenis terbang tidak bisa menyerang dan hanya di lecehkan oleh setiap nafas naga.


Serangan pertama dan kedua berhasil aku puas dengan hasilnya dan juga kerjaan pemanah dan menara juga sama, tapi aku mengerutkan kening, karena serangan ku benar-benar hanya memberikan kerugian kecil saja ke mereka.


"Hahh... Benar saja ini memang bukan ranah kami" kataku dalan hati.


"Formasi ketiga persiapan serangan, pemanah fokus support dari belakang dan lanjut formasi keempat assassin"


Jarak antara kami dengan monster hanya sekitar 700m lagi, itu sudah mulai mendekati pasukan.


"Tuan semua siap"

__ADS_1


"Bagus, kalian semua bekerja samalah, lawan kalian ini terlalu berat dan satu pesan untuk kalian " Jangan mati" "


Suara kesedihanku menyebar dan tentara hanya diam, menunggu perinrah lanjutan


"Formasi serang"


Ohh...Ohhh..


Bunyi terompet perang menggempur semangat dari setiap tentara, dengan gerakan kaki tercepat mereka.


Mereka berlari dan menghadapi langsung jutaan monster dengan hanya lebih dari 100.000 ribu pasukan saja.


Pertempuran dimulai.


Shring... Shring...


Suara pedang, suara rintihan, teriakan, darah mencucur ke langit dan nyawa seperti tidak berharga, tapi tidak mematahkan semangat tentara, mereka dengan berani maju menghadapi para monster.


Kami 3 tuan penguasa juga mulai maju, dengan hanya bermodalkan pedang dan skill kami bisa meringankan tentara walau hanya sedikit.


Dalam strategi kami sebenarnya bukan bertarung hidup mati dengan para monster, tapi strategi yaitu mengulur waktu agar nanti para pelindung keduanya bisa sampai dan pasukan akan berjalan mundur agar korban tidak sangat berat.


Pertempuran masih terus terjadi sampai beberapa jam berlalu


Terus kami menahan gempuran serangan para monster, dari jarak kami semula, kita bertiga sudah berjalan mundur lebih dari 10km, tapi para pelindung belum sampai-sampai juga.


Dalam perang tidak seimbang ini banyak pasukan kami yang tewas atau beberapa veteran yang tewas, hampir setiap gerbang akan selalu keluar tentara level 1 untuk mengisi kekosongan posisi.


Kami banyak sekali kehilangan, para monster juga banyak yang mati, tapi kami melihat seperti parit yang tak berujung mereka selalu akan keluar dari portal itu dan monsternya akan selalu seperri itu juga.


Sampai Xuer dan Mier khawatir dan berkata "Chen, akumulasi kita berdua hampir habis gimana nih, kalau kita terus lanjutkan bisa-bisa tentara kami semuanya akan musnah."


Aku memikirkan sesuatu dan teringat "Ahh.. aku masih punya ini, tapi jika kugunakan akan butuh sepuluh tahun untuk bisa membukanya" dalam hati.


Yang digunakan adalah token pemberian para malaikat, tapi karena waktu sudah kepepet, di hadapan mereka berdua yang cemas aku mengeluarkan sebuah token malaikat bersayap 24.


Keduanya terkejut, tapi aku cueki ekspresi mereka dan aku pecahkan token tersebut.


Dari pecahnya token tersebut, para monster tiba-tiba berhenti menyerang dengan wajah ketakutan menatap langit.


Kedua wanita penasaran dan melihat cahaya hampir menyinari seluruh padang pasir dan menyilaukan mata.


Yang tadinya padang pasir berawan gelap dan aura ganas dan menakutkan dari para monster, dalam sekejap berubah menjadi putih bersih dan sinar cahaya bintang masuk untuk menyinari semuanya.


Dari langit seorang wanita yang sangat cantik bersayap 16, aura sucinya membuat hati nyaman dan paksaan yang keluar dari dalam dirinya.


Dia membuka mata dan melihat ku ke bawah tersenyum "Tuan Chen, lama tidak bertemu"


Aku terpesona sebentar dan tersadar kembali dan berkata "Berapa lama kamu akan di sini?"


"Sepertinya 24 jam aku masih bisa di sini" katanya mengangkat dagu.


Aku sangat gembira, sementara kedua wanita hanya bisa bengong melihatnya.


"C..he.n, Ch..en itu siapa?" kata Xuer terbata.


"Ohh aku lupa perkenalkan kalian, dia adalah angel ratu dari para malaikat" kataku tersenyum.


"Halo, teman tuan Chen" kata Angel.


"Ha..lo" kata Xuer dengan wajah panik.


"Sama ha...lo j..uga" Mier menutup muka memerah, dan sedikit membungkuk kan badan.


Melihatnya aku tertawa dan berkata "Baiklah kalian jangan pasang wajah menegangkan dan hormat seperti itu"


Mereka mengendurkan tapi masih ada rasa hormat.


"Sudah biarkan saja, jadi Chen kau memanggilku untuk apa memangnya?" tanya Angel penasaran


"Ohh, itu di belakangmu" kataku menunjuk.


Dia berbalik dan melihat di bawahnya tak terhitung banyaknya monster, serta dari jauh melihat ada sebuah portal yang di area sekitarnya aura hitam merah yang sangat ganas dan menakutkan, di langitnya juga terbentuk sebuah pusaran hitam pekat.


"Apakah kau bisa mengalahkannya?" tanyaku tersenyum.


"Hal mudah"

__ADS_1


__ADS_2