
"Hari lain lagi"
Berdiri, pergi mandi dan datang ke ruang makan, ke sana aku lihat sudah di siapkan banyak sekali makanan lezat, tapi tidak ada Lidia.
Karena tidak melihatnya jadi langsung aku makan saja, selesai makan aku langsung pergi ke kamar lagi dan berkata "kembali".
Kubuka mata masih ada di dalam goa gelap, keluar sedikit menikmati cahaya bintang dan menghirup panjang udara segar.
Merasa segar aku terbang kembali, selama 3 jam perjalanan yang aku temui hanya hutan saja, aku gak tahu sudah berapa puluh mil aku terbang,
Untuk menghilang kebosanan aku melakukan percobaan di pohon kesenangan dengan satu wanita druid, hasilnya setelah mengasah selama satu jam.
Aku kaget dengan peningkatan levelnya, karena yang tadinya hanya level 1 sekarang menjadi level 4, peningkatan yang menurutku sangat besar karena saking susahnya untuk para pemula naik level.
Penemuan itu membuatku bahagia dan di waktu senggang perjalanan aku akan mengasah pedangku kepada mereka.
"Hah... membosankan sekali, tidak terlihat kota atau tidak seorang yang bisa ku ajak bertarung."
Berjalan beberapa saat kemudian, aku berhenti terbang dan melihat dari jauh dengan skill pengamatan.
"Ada 6 orang, 2 wanita 4 pria, jika diingat mereka sepertinya salah satu tim yang aku tolak dari beberapa tim lainnya" Kataku sambil mengingat.
"Sepertinya dia juga lagi mencari ku, untuk konfirmasi aku kesana saja" terbang dengan kecepatan tertinggi ke arah mereka.
Mereka berenam yang sedang terbang tiba tiba berhenti secara mendadak dan si wanita berkata.
"Bukankah dia yang menolak undangan kami? si level rendah itu?"
Kelimanya penasaran dan melihat arah aku terbang.
"Benar itu dia" " Ayo kita membunuhnya karena telah menolak kami" "Aku setuju" "Daging segar lagi, Hehe"
Mereka mengangguk setuju dan terbang ke arahku, singkat cerita kita berdua saling berhadapan.
Tanpa basa-basi mereka membuka 6 gerbang dan 6 pasukan yang keluar dari gerbangnya.
Aku membuka skill deteksi ke arah mereka "Jika dilihat 2 gerbang kultivator ranah Master, 1 gerbang Grand Master, 2 gerbang penyihir level 55 dan gerbang pemanah level 57, serta..
Hah??? Apakah ini ras manusia?, kenapa bagian atas pria ini telanjang?juga dilihat dari tubuhnya ada rasa deja vu??" kataku memikirkan.
Karena tidak mau ambil pusing, jadi aku abaikan saja.
[ KULTIVATOR
-Tingkat Pendekar : 3, 2, 1, Ahli, Master, Grand Master, Raja, Kaisar, Suci, Bumi, Langit, Semesta, Kekosongan.
Ranah : Bawah, Menengah, Atas ( Tingkat 3 berarti level 10, tingkat 2 level 20 sampai level 99, untuk lanjutannya bisa ikuti lebih lanjut cerita ini ) ]
( 1 Gerbang Ranah Grand master, maksudnya rata-rata ranah tentara yang keluar dari gerbang penguasa. )
Mereka juga ingin melihat isi panelku, tapi tidak bisa karena Informasiku terkunci karena jubah ungu yang sedang kupakai ini, dia berfungsi untuk menghilangkan isi panel, menghilangkan hawa keberadaan dari jarak y ang sangat jauh dan lain lain.
Mereka mengerutkan kening karena tidak bisa terlihat panel Informasinya, saling memandang sebentar sampai salah satu pria berkata
"Jadi apakah kau yang menolak masuk tim kami?" Dengan suara setengah pria wanita.
Yang tadinya wajahku tersenyum berubah menjadi datar karena terpikirkan sesuatu yang membuatku jijik
"Ternyata ada orang seperti ini di era penguasa ini..." kataku dalam hati.
"Milya nanti kau langsung habisi yang berisi pria berotot itu, aku tidak suka melihatnya, mengerti?" kataku transmisi.
"Memangnya kenapa tuan?" tanya aneh.
"Lebih baik kau turuti perintahku, jangan memancing amarah ku, mengerti?" kataku serius.
Dia berbicara cepat untuk menenangkan ku, tapi aku tidak perduli dan melihat kembali ke arah mereka berenam.
__ADS_1
"Gerbang Terbuka" kataku acuh.
Terbuka gerbang dengan pasukan yang sama berjejer rapih tapi kali ini di formasi tengah ada tambahan yaitu tongkat kayu ( druid )
"Mereka lagi mengatur formasi, menara dan pemanah serang" kata wanita itu dengan perintah cepat.
Banyak menara dan pemanah yang menembak pada saat tentaraku keluar dari gerbang
Tapi sayang serangan nya ditahan oleh dinding cahaya dari skill pelindung cahaya malaikat.
Dilihat serangan jauh tidak berhasil, akhirnya dengan wajah percaya diri, ke 6 komandan penguasa menyerang tentara ku yang hanya berjumlah ribuan saja berbeda dengan mereka yang berjumlah hampir mendekati ratusan ribu.
"Sepertinya mereka percaya diri hehe Milya, waktunya menyerang" dengan terkekeh. Milya mengangguk dan
Suara Klakson perang berbunyi sangat nyaring, secara perlahan formasi bergerak ke depan dengan pemanah dan menara yang mensupport dari belakang.
Serangan menara di tembakan disusul oleh panah, melihat serangan, banyak tentara musuh yang mengeluarkan jimat hijau untuk membantuk sebuah barier pelindung berlapis.
Tapi naas serangan dari menara warna biru tidak bisa dikalahkan dengan jimat warna hijau ini walau jimat itu berlapis sekalipun
Akibatnya pelindung mereka hancur dan tembakan menara banyak membunuh pasukan mereka, juga disusul di serangan ribuan panah yang membunuh lebih banyak lagi dan merusak formasi tempur mereka.
Human elf yang barisan paling depan formasi bergerak sangat cepat, sebelum formasi musuh di atur kembali karena tembakan meriam
Mereka menghadapi gempuran lagi oleh human elf disusul pedang Cahaya dan tongkat kayu, serta serangan pemanah dari bagian belakang.
Mayat mereka terus berjatuhan, karena reaksi lambat dan juga perbedaan ras yang sangat jauh.
Formasi yang rusak serta pembantaian yang terjadi pada tentara nya membuat ke enamnya sangat shock dan kaget.
Sebelum keenamnya sadar kembali dari reaksi kagetnya, tiba tiba salah satu dari mereka kepalanya terputus tanpa mereka sadari.
"Satu pria hina menghilang, sisa 5 lagi" kataku dingin.
Kelimanya bereaksi dengan mengeluar kan senjatanya dan masih ada kejutan di wajahnya.
Cuacanya yang semula tadinya cerah langsung berubah mendung dan keluar hujan perlahan lahan turun semakin deras,
"Kau telah membuat mood ku rusak, karena pria ini mengingatkan ku akan masa lalu jadi... Hehe! Kalian harus mati untuk meredakan amarahku" dengan niat membunuh sambil menunjuk ke arah mayat pria setengah ini.
Mereka terkejut dengan alasanku, tapi hanya bisa waspada dan memegang senjatanya dengan erat, hening selama beberapa menit karena belum ada yang memulai serangan, sampai
"Ahhhh.... Matiiiiii" kelimanya berteriak putus asa menuju ke arahku.
Karena intimidasi dan niat membunuh yang kuat, di tambah dengan hujan yang deras membuat mereka akhirnya tidak tahan dengan tekanan nya dan langsung menyerang ku secara membabi-buta.
Aku tersenyum sambil menghindar kelima serangan mereka, karena dengan bantuan hujan aku jadi bisa melihat serangan mereka dalam adegan slow.
Aku ingin langsung menyelesaikannya tapu kata Milya untuk meminta sedikit ulur waktu, agar rata rata pasukan bisa memiliki level 30 ke atas, aku berpikir sejenak dan setuju atas sarannya.
Sambil mengulur waktu aku juga sesekali menyerang titik vital mereka, yang tadinya serangan nya membabi buta, sekarang mereka malah lebih berhati hati.
Pembantaian terus berlanjut dan hampir keseluruhan pasukanku terlibat, musuh hanya tersisa beberapa puluh ribu saja, karena ruan mereka harus waspada terhadap serangan ku, sampai
"Kau menganggap kami sebagai ladang?" tanya salah satu pria yang tersadar.
Mereka ber 4 kaget, sementara aku hanya tertawa dan berkata mengejek "Akhirnya ketahuan juga, Hahaha....!Tentara kalian terlalu lemah jadi aku berpikir untuk menjadikan mereka ladang tentara ku untuk naik level."
Mereka sangat marah dan terhina apa yang telah kulakukan, dengan mata merah mereka ber 5 mengambil sebuah kertas jimat dan setiap dari mereka berpencar untuk mengepungku.
"Ini balasan karena kau telah menghina kami" Kata kelimanya sambil merobek kertas jimatnya yang bewarna hitam.
"Ahhhh.....!" Dari lolongan mereka keluar sebuah penghalang formasi yang jika ku mendekat akan ada tentakel yang menghalang nya.
Aku menunggu aksi mereka sambil transmisi suara ke Milya.
Dengan lolongan yang semakin kuat, aku melihat di langit sebuah pusaran bewarna hitam dengan banyak tentakel menggeliat keluar dan menyerang ke arahku secara acak, sampai
__ADS_1
"Tuan, semuanya sudah selesai" suara Milya.
Aku tersenyum sambil melihat langit, mereka berlima tertawa bangga dan mengoceh tentang kehebatannya,
Sampai serangan hampir mengenai kepalaku, adegan slow terjadi dengan rintikan dari hujan deras yang terlihat.
"Teleport"
Bum..Bum...
Dari dalan formasi terdengar suara yang memekakkan telinga, kelimanya sudah sangat bahagia sampai muncul suara di salah satu belakang mereka.
"Main nya, cukup disini."
[ Pernapasan Air : 5 Tebasan ] dengan teleport aku menebas kelimanya dengan sangat cepat, sampai mereka tidak tahu apa yang terjadi sebelum kepalanya terlepas dan mengeluarkan darah seperti air mancur.
Aku mengambil token dari ke 5 nya yang satu sudah aku ambil saat kepalanya sudah terlepas.
"Ternyata dengan skill hujan ini di tambah Ki, aku jadi bisa melihat hampir seluruh serangan mereka" kataku senang cara baru lagi
Tapi mana yang keluar banyak sekali, aku harus pintar pintar untuk menggunakannya" kataku sambil menyentuh dagu.
"Oh ya apakah di dalam diri mereka ada cincin penyimpanan?"
Tanpa menunggu lama, aku mengecek di sekujur tubuh mereka yang sudah bersimbah darah, tapi aku tidak memperdulikan nya dan lanjut mencari, sampai
"Haha...! Akhirnya ketemu, kulihat dulu isi dalamnya"
Setelah di periksa ternyata banyak sekali senjata, skill atau jimat warna putih dan banyak sekali darah yang tertinggal,
Membuat berpikir sepertinya mereka habis membantai penguasa juga.
Setelah di cari akhirnya di sudut cincin aku melihat sebuah gulungan yang aku perkirakan kalau itu peta, setelah di buka.
Aku tertawa kencang dan keluar membawanya sambil menari dengan beberapa tentara wanita yang sedang membersihkan mayatnya.
Aku bahagia sebentar dengan mereka sebelum melepas dan mencium jidat mereka satu per satu.
"Baiklah aku lihat aku ada dimana" setelah di buka aku terkejut
"Ini adalah hutan leuweung, jika dilihat... Apa??? Hanya butuh 7 jam sampai ke kota mengarah ke utara,
Seingatku aku terbang ke utara tapi aku tetap tidak menemukan kota? Apakah aku tersesat??
"Tidak mungkin jika aku tersesat, tapi jika..."
Karena penasaran aku membuka skill mata batin dan melihat di hampir sekelilingku banyak sekali hantu gentayangan yang tertawa dari reaksi kagetku
"Haha... Penguasa ini bodoh sekali" "Iya benar, kita sesatkan dia tapi tidak menyadari nya" "Benar jika dilihat muka putus asanya kemarin sanga lucu"
Hantu gentayangan berbicara tentang kebodohanku, karena dirasa aku masih terpengaruh oleh mereka, jadi dengan kepercayaan diri mereka berjoget-joget yang membuatku sangat kesal.
Dengan hembusan nafas panjang aku berikan suara transmisi kepada Milya
"Milya, kau suruh para malaikat-malaikat membuka mata batin kalian dan lihat jika ada yang konyol di depan kalian langsung bunuh saja, mengerti"
Milya bingung, tapi dia tetap patuh dan melihat apa yang sedang kulihat,
Karena tempramen kelamin nya dia langsung menyuruh malaikat lain membuka mata batin dan membunuh semuanya yang di lihatnya.
Jeritan terdengar dengan sangat keras sampai yang menari di depanku tubuh nya menjadi kaku, dan melihat ke mataku.
"Sepertinya kau sudah sadar ya, setan" mengeluarkan pedang dengan wajah marah
Aku langsung menghabisi mereka untuk meredakan amarahku, aku dan malaikat lakukan sampai matahari terbenam.
Setelah merasa sudah tidak ada hantu itu, aku cepat-cepat memasuki tentaraku ke dalam gerbang dan terbang cepat menuju arah kota.
__ADS_1