
Buka mataku sudah ada di hotel, keluar berjalan sampai ruang tamu, ada yang nyeletuk berkata
"Chen kau lama sekali, kami sudah menunggu di sini beberapa jam"
Terkejut dan menengok ke arah jam menunjukkan pukul 1 siang, "maaf aku tidak tahu, soalnya banyak sekali kerjaan di duniaku" dengan wajah sedih.
Keduanya tersenyum, Xuer bertanya "Bagaimana selanjutnya? apakah kita terus atau keluar?"
"Kita teruskan saja" kataku.
Mereka berdua mengangguk dan menyuruh agar para penatua untuk kembali, sementara penatua ingin nonanya keluar tapi keduanya menolak tetap kekeh ingin melanjutkan, mereka bujuk dan iming-iming tapi sayang tidak bisa, dengan berat hati akhirnya penatua menyerah menatap wajahku sebentar sebelum keluar hotel.
"Pengganggu sudah tidak ada lagi, mari lanjutkan perjalanan kita"
Mier memasukkan hotel ke dalam kartu, serta menyamarkan kami lagi mengunakan skillnya dan terbang melanjutkan perjalanan kembali,
Dalam perjalanan kita hanya menemukan puluhan monster pasir saja, berbeda dengan pertama kali kami masuk yang berjumlah hampir ribuan atau puluhan ribu.
Selang 3 jam perjalanan panas dan lelah "Chen lihat disitu?" kata Xuer menunjuk.
Dengan wajah berkeringat aku melihat ada oasis besar dan beberapa tenda milik penguasa yang ada di sana.
"Ayo kita kesana" kataku semangat "Baik"
Kami terbang sangat cepat dan turun,
kami berjalan ke mata air, saat kami ingin mengambil persediaan tiba-tiba,
"Hei, kalian bertiga berhenti" suara kuat dari 7 orang berotot yang mengepung kami.
"Ini adalah wilayah blackwolf, jika ingin minum kau harus bayar 5 batu roh" merentangkan tangannya.
Kami mengerutkan kening saling memandang, "Apakah tidak bisa kurang?" tanya Xuer.
Orang berotot itu marah sampai berteriak "Sampah, kau berani tawar menawar dengan Blackwolf, apakah otakmu sudah di tendang kedelai"
Banyak penguasa tertarik, melihatku mereka saling berbisik "Sepertinya ada korban lagi" "Korbannya kali ini nendang kaka Tiger" "Haha.. Mereka sepertinya lagi sial" "Apakah mereka menawar?" "Mereka yang tidak tahu ketinggian langit" "Adu... Penguasa akan mati jika modelan nya seperti ini" "Kasihan sekali."
Ocehan dari penonton membuat "Tiger" sangat semangat dan bangga sampai memandang rendah ke kami dengan rendah "Lebih baik serahkan sekarang"
Kami tidak hiraukan omongannya dan orang lain, malah kami asik berbisik "Chen, kau saja yang melawannya" "Engga ah cape abis berbenah base, kau saja Xuer" "Males"
Mendengar bisikanku, dengan suara lantang tertawa "Haha....! Kau mau membunuhku... Ini lucu sekali, kawan kawan dia ingin membunuhku..."
"Haha... kak tiger mereka hanya orang idiot" "Benar, mungkin lahir otaknya hanya setengah" "Bunuh mereka saja kak Tiger" salah seorang meludah yang hampir mengenaiku "Cuihh... Dasar sampah"
Dengan ekspresi bahagia mereka terus tertawa bahkan penonton juga pada ketawa melihatku, sampai [ Pernapasan Air : Langkah Zig Zag ]
Suara ayunan pedang memotong kepala 6 orang yang asyiknya tertawa sampai mereka tidak sadar akan kematiannya,
Kepala terbang, darah mengalir deras seperti air mancur, sementara Tiger dan penonton yang melihat aksiku sangat pucat dan ketakutan.
Melihatnya mati dengan sangat cepat, ketakutan dari lubuk hatinya keluar, dia menengok ke arahku dan mundur beberapa langkah ke belakang sampai air membasahi celananya, aku maju perlahan berkata dengan wajah jijik. "Apakah hanya segini? Bodoh sekali"
Dia terus mundur ke belakang sementara aku maju sampai dia terjatuh, dengan wajah ketakutan akan kematian dia berteriak
"Jangan kau membunuhku jika tidak tuan muda blackwolf akan membalas dendam dan membunuhmu"
Aku berhenti, melihat ancamannya berhasil dengan tawa gila dia berkata dengan percaya diri "Haha... Lebih baik kau lepaskan aku dan berlututlah biar aku bisa menyelamatkan mu dari tuan muda dan wanitamu di belakang menurutku itu sangat cantik. Hehe" menjilati bibirnya.
Dengan wajah menahan emosi aku berkata "Hehe... Tuan muda blackwolf... Menarik"
Shringgg...
Kepala terbang dan darah bercucuran ke langit, aku hapus darahnya dari pedangku dan memasukkan lagi ke sarungnya.
"Kau lambat 5 menit, Chen" kata Mier.
"Bagaimana para penonton ini?" tanya Xuer dingin.
"Hehe... Mereka hanya sampah terendah biarkan saja" kataku tersenyum melihat penonton dengan wajah takut, ataupun pucat.
Aku mengambil ke 7 token mereka, berjalan ke mata air untuk minum dan mengisi persediaan air.
Sementara penonton pada teriak histeris dan berhamburan pergi meninggalkan lokasi pembunuhan, kami cuek saja karena itu hanya episode kecil, berjalan pergi meninggalkan lokasi.
Di salah satu pohon ada seorang dengan jubah hitam bertengger "Aku harus beritahu tuan muda soal ketiga orang ini" dia menghilang.
Aku melirik ke belakang, dan menengok kedua wanita "Kita malam berkemah saja dulu, ada mangsa"
__ADS_1
"Aduh... Benar saja, ini nasib menjadi penguasa biasa, kalau kau tidak menjadi penjilat, kau akan menjadi budak" Kata Mier
Kami mengangguk, jalan sebentar kita melihat ada tempat yang menurut kami sangat bagus,
"Di tebing itu saja, Chen" kata Mier menunjuk.
Datang, kami buka tenda, ngobrol bercanda sambil menunggu mangsa kami sampai jam menunjukkan angka 10.
Hutan di sekitar tebing yang semula tenang, tiba tiba ada suara siulan dan bayangan lewat membuat daun dan tanamannya di sekitarnya bergoyang,
Bayangan tersebut turun dari atas pohon berhenti melihat sekeliling dan melambai tangannya, dari dalam hutan keluar 36 penguasa berjubah hitam.
"Apakah benar ada di sana?" tanya pemimpin menunjuk ke arah tenda.
"Iya tuan, aku melihat mereka memasang tenda dan berdiam tidak ada gerakan sama sekali." mengangguk kepala.
"Kalau begitu kamu jalan terlebih dahulu, nanti saya menyusul" kata jubah itu, "Tapi tuan" ingin membantah, tapi "Sudah nurut saja, pergilah" katanya membenta.
Dengan wajah sedih dia berjalan sampai di depan tenda, saat akan dibuka tiba-tiba ayunan pedang mengenai kepalanya sampai terputus "Satu mati"
Aku keluar dengan wajah tenang dengan masih adanya darah dan kepala yang menggelinding jatuh ke tebing.
"Haha... Bodoh sekali orang ini, dia nurut saja haha...! Saya apresiasi perbuatanya karena telah berkorban untuk menampakkan mu, sebagai balasan jasanya aku akan membunuhmu" mengeluarkan dua celurit dengan cepat berlari ke arahku.
"Menarik... tapi apakah kamu bisa membunuhku" aku berdiam tegak dengan posisi siap, "Haha... Mati pengecut"
Dua tebasan silang mengarah ku, aku menunduk hindar dari lintasan celuritnya dengan posisi siap aku mengayunkan pedangku [ Pernapasan Air : tebasan air ]
Dia refleks menahan serangan dan menghindar jauh dariku, tapi wajah kanan bagian pipinya terpotong karena serangan yang tiba-tiba berbelok ke atas
Memegang pipi dia menengok belakang berteriak "Kalian orang bodoh, kenapa hanya menonton saja, cepat ikut serang"
Tapi, tiba-tiba dari mata dia melihat langit seperti berputar cepat dan saat berhenti dia terkejut karena melihat tubuh berdiri tanpa kepala, dalam pikiran dia terselibat kata "Apakah aku sudah mati?"
Bunyi suara tumpul terjatuh, aku tendang kapala tersebut sampai menggelinding ke bawah tebing.
"Pelajaran pertama jangan pernah teralihkan saat terjadi pertempuran" kataku melihat sisanya.
Aura penindas ku keluarkan untuk menekan mereka agar tidak melarikan diir, berjalan perlahan dengan pedangnya ku rentangkan
Suara tanah yang di injak, sunyi dan hening di malam hari, hujan deras tiba-tiba muncul dan tubuh mereka yang tidak bisa bergerak sama sekali membuat mental para pembunuh semakin ketakutan dan bahkan ada yang terjatuh pingsan.
"Di kehidupan selanjutnya jadilah baik" sambil mengangkat pedang.
Setelah sampai akhir aku bersihkan, dan masukkan kembali pedangku secara perlahan ke sarungnya.
Menengok ke arah belakang hutan tapi aku palingkan lagi, mengambil tokennya dan berjalan ke dalam tenda.
"Huh... Seram sekali, mumpung saja aku percaya dengan instingku kalau tidak aku sudah menjadi bagian dari mereka
lebih baik serahkan saja mereka ini kepada tuan muda, kali saja bisa beres, aduh si Tiger itu dia berbuat apa dengan mereka ini" berbisik pelan dia menghilang, sementara dari tempat dia hilang aku muncul bersama kedua wanita.
"Rencanaku jenius bukan? Hehe... seperti kata pepatah dua burung satu batu" dengan wajah bangga menengok keduanya.
Melihat wajah banggaku Mier berkata "Ini bukan jenius,tapi penguntit, iyakan Xuer?"
"Iya, rencana jenius itu jika kita tidak melakukan penyamaran dan mengungkapkan langsung nama kita, kalau seperti ini kan masalahnya jadi lebih merepotkan" kata Xuer.
"Hmm... Semua ini salah Chen, dia penghasut kami harus menyamar" kata Mier kompor.
"Tapi kan, Mier bukankah kau mau?" tanyaku membela.
"Darimana aku mau? aku tidak pernah berkata" ngelesnya.
"Aku menden... " mulutku di tutup oleh tangan Xuer.
"Sudah Chen, tidak usah berdebat kau yang salah, jadi kau harus bertanggung jawab." "Benar, kata Xuer kenapa kamu malah ngajak aku salah juga. Humm" Mier mengendus dingin.
Aku terdiam dengan alasan absurd mereka, ingin sekali berkata-kata kotor, tapi aku tahan dan menghela nafas panjang untuk meredakannya, setelah tenang aku tersenyum kaku mengakui.
"Baiklah, aku salah karena mengajak kalian menyamar, dan aku juga yabg akan bertanggung jawab."
"Hehe.. gitu dong ngalah sama cewe" "Benar, akui saja kesalahan mu jangan banyak alasan" kata Mier dengan wajah bangga.
"Dasar bukankah kamu yang juga mau?" berbisik sinis.
"Chen, kau ngomong apa?" kata Xuer dengan nada tinggi.
"Tidak, tidak aku hanya ngomong kalian sangat cantik, kuat dan aku sangat beruntung mendapatkan kalian" mulutku keluar kata kata pujian dan manis.
__ADS_1
"Hmm, agak mencurigakan, tapi tak apalah kau sudah memuji kami" dengan rentangkan tangan dia berkata
"Mier, mari kita jalan bersama" "Baik saudari Xuer" Berjalan keduanya bergandengan tangan dengan senyum bahagia terlukis di wajah mereka.
Aku yang di tinggalkan sendiri hanya menggeleng kepala "Dasar wanita... tidak mau salah"
"Mumpung saat debat mereka belum datang bulan jika datang bulan.... Huhuhu ngeri kalau aku pikirkan" dalam hati membayangkan gambar mengerikan.
"Pantas banyak pria bermimpi punya empat, tapi hanya bisa satu" aku berlari menghampiri mereka berdua.
Dari kedalaman hutan suara cepat dari hembusan angin, terlihat seorang berjubah berlari dengan tergesa gesa, wajahnya ketakutan dan keringat terus bercucuran dari dalam jubahnya.
Dia berlari sampai sangat cepat sampai tiba di depan benteng kayu dengan 2 penjaga berwajah garang mendatanginya.
"Kau siapa?" tanyanya waspada.
"Aku pembunuh yang dikirim tuan muda untuk membunuh ketiga orang tadi siang, ternyata kita salah informasi pria yang membunuh tiger sangat kuat, dia membunuh kami semua sendirian aku beruntung lolos dari tangannya" wajah panik terlihat.
"Baiklah kawan, kamu tenang dulu aku akan masuk dan memberitahu tuan muda" satu penjaga menenangkan yang panik tersebut, sementara satu lagi berlari tergesa-gesa ke dalam tenda paling besar.
Di dalam tenda besar duduk seorang pemuda dengan keangkuhan dari sikapnya, di pangkuan nya ada 2 wanita sedang duduk menggoda dengan berbusana minim, tangan pemuda tersebut berkeliaran di tubuh montok mereka dengan wajah cabul, sampai seseorang merusak suasana baiknya
"Tuan muda, ada laporan tim pembunuh gagal mengambil nyawa dari 3 orang yang membunuh tiger" katanya menunduk.
Dia mengerutkan kening menjatuhkan kedua wanita sambil berteriak marah "Apakah pembunuh itu Babi? masa tidak bisa membunuh tiga penguasa biasa?"
"Tuan muda jangan marah, informasi yang kami dapat ternyata salah besar, musuh sangat kuat" katanya menjelaskan dengan sangat cepat.
"Kalau kuat bukankah bisa lari? apakah mereka tidak ada skill? jika kalah tapi hidup setengah ini masih ku maklumi dan ini.... Babi semua mereka" pria itu mengambil gelas dan melemparnya ke dinding dengan teriakan wanita di belakangnya.
Dia menengok ke arah wanita dengan dingin sambil melambai tangannya
"Kau berisik sekali penjaga bawa dia"
"Tidak... Tidak, jangan tuan muda... Aku sangat cantik.. kenapa tuan tidak pakai saja, kenapa harus di bawa kesana.... Tuan muda... Tuan muda.... Tidak... Tidak...Tidakkk...."
Teriakan histeris wanita tersebut dibawa oleh dua mahkluk berkepala manusia badan kekar seperti banteng masuk ke sebuah ruangan.
Keduanya yang melihat kejadian sangat ketakutan dan hanya bisa menutup mulut sambil menunduk saja, pemuda itu terdiam sebentar, dia tiba tiba mengangkat tangan kanannya seraya berkata
"Besok subuh aku ingin dengar kabar kematian dari 3 orang tersebut, mengerti? Selesai keluarlah"
"Mengerti, kami mengerti tuan muda" penjaga menjawab tegas dan keluar dengan langkah cepat,
Pria itu menatap wanita yang mulutnya tertutup, seringai dari pemuda tersebut, dia mengambil pedang di sebelah bangku dan menebas wanita tersebut secara cepat.
"Ahh... Sayang sekali aku harus mencari wanita biasa yang mukanya mirip dengan idolaku lagi, tapi kenapa ya? Ada yang berbeda? Kau melihat dari dari ini seperti ada sesuatu yang spesial" katanya mengeluarkan sebuah foto.
"Ohh kamu sayang Xiao Mei, aku sangat mencintaimu" dia membuka kelaminnya dan melakukan hal yang biasa pria kesepian lakukan.
Sementara aku yang melihat di atas langit sangat kaget dan menengok kedua wanita dengan tangan menutupi wajah malu mereka
"Wow.. Mier fans beratmu sangat laki laki sekali" kataku aneh
Mendengarnya dia mencubit pinggang ku sangat kencang "Aduh.. Aduh sakit".
"Chen, kau harus membunuh orang ini nanti, mengerti?" tanyanya mengancam.
Aku mengelus pinggangku, tersenyum mendatangi keduanya yang masih menutup muka, mengambil tangannya dan menghilang.
"Sudah kalian sekarang bisa buka" kataku.
Buka mata sekarang mereka berada di dalam hutan "Huft... Fansmu bahaya sekali Mier, aku jadi takut dengan fans ku juga" "Benar Xuer, aku saja baru pertama kali melihat itu dan kenapa yang di bawahnya sangat kecil sekali" "Iya, beda dengan Chen" kdialog mereka berbisik.
Mendengarnya aku notice bertanya "Apakah kalian sudah melihat punyaku?"
Keduanya memerah dan berkata cepat "Chen lebih baik fokus merencanakan bagaimana kita pembagian tugas" "Iya, jangan pedulikan apa yang kami omongi" "Jadi, Chen bagaimana rencananya?"
Aku ingin bertanya tapi mereka menghalangi dan selalu mengganti topik, karena tidak dapat jadi dengan berat hati aku akhirnya memulai rencana penyerangan.
Rencananya sederhana Xuer dan Mier menyerang tenda lain, sementara aku menyerang yang terbesar, setelah setuju aku memberi mereka sebuah jubah dan topeng badut.
"Aksi kita mulai saat jam 24, kalian bersiaplah"
Kami prepare barang atau pasukan, saat waktu sudah menunjukkan angka 24, di dalam tembok kayu ada sekitar puluhan tenda kecil berjajar melingkar ke tenda besar.
Dari atas langit, aku bertanya keduanya "Apakah semuanya sudah kalian taruh?"
"Sudahlah Chen" "Hehe.. Kita akan berpesta darah" kata Mier.
__ADS_1
Aku tertawa melihat ocehan absurd keduanya, melihat ke bawah tenda besar berkata "Ya...! kita pesta darah"
Aku pencet remote yang ku pegang dan terjadilah......