Era Legenda Sang Penguasa

Era Legenda Sang Penguasa
Banyak Tanda Tanya


__ADS_3

Membeku melihatnya selama beberapa detik, sebelum tersadar kembali dan melihat dia sudah tidak ada di sana.


"Awas tuan..." teriak Miera.


Refleks Chen mo langsung teleport, dia memandang tempatnya berdiri sudah ada garis panjang pedang, benteng dan menara pemanah sudah hancur berantakan.


Keringat dingin muncul di punggungnya, dia menatap waspada mahkluk aneh itu kalau ada serangan lainnya, melihat mangsa yang tidak kena dia menghilang dan muncul kembali di tempat dia berdiri.


"Kau merespon dengan bagus, nak" katanya dengan senyum kecil muncul.


Chen mo terkejut karena biasanya mahkluk Kekosongan mengandalkan insting dan tubuhnya saja untuk bertarung, dan kebanyakan yang bisa berbicara adalah mahkluk yang berlevel tinggi atau mereka yang punya kecerdasan tinggi.


Sebelum Chen mo bisa jawab, dia tertawa lantang,


"Haha... Apa kau kira mahkluk Kekosongan hanya mengandalkan insting dan tubuh saja? Apa kau kira mahkluk Kekosongan adalah mahkluk buangan? Atau kau kira kesadaran dunia berinisiatif masuk Kekosongan?


Haha..! Nak, dunia ini sangat besar sampai kau pun tidak tahu kau itu apa sebenarnya, kau kira penguasa itu apa? kau kira mahkluk Kekosongan itu apa?


SEMUANYA akan terungkap sebentar lagi kebenarannya, mereka yang menutupi suatu saat akan ada seseorang yang membongkarnya" dengan wajah semangat dan gila tawa melengking keras sampai mendengungkan kupingku.


Sementara dia tertawa, awan hitam di langit yang semula tenang, tiba-tiba bergerak seperti tentakel yang menggeliat, salah satu awan menjulurkan bayangan sebuah tangan yang sangat besar menghadap ke arah monster tinggi itu.


Melihatnya monster tinggi itu hanya tertawa, dia melompat kembali ke arah kabut yang tebal di belakangnya, tangan itu lantas berhenti, dan kembali berubah menjadi bentuk awan kembali.


Melihat kejadian itu Chen mo hanya bisa bengong dan mencerna informasi apa yang dikatakan olehnya, setelah menenangkan diri selang beberapa menit dia menghela nafas panjang, untuk episode tadi harus kuingat di dalam jiwa terdalam ini sebagai peringatan dan juga motivasi ku untuk menjadi lebih kuat lagi.


Selang beberapa menit Chen mo ingin melupakannya, tapi tidak bisa karena khawatir dengan perkataannya, jadi Chen mo menyuruh Miera untuk memimpin pasukan, sementara dia menenangkan diri, dan fokus untuk mengasah skillnya di belakang bukit.


Keesokan hari

__ADS_1


Menjelang pagi terdengar suara ledakan keras yang membuat tubuhnya refleks terbangun, dan teleport ke atas benteng, Chen mo melihat monster berkaki 4 sedang menyerang benteng dengan tombaknya, Chen mo buru-buru mengaktifkan menara pertahanan, dan selanjutnya terdengar ledakan-ledakan kencang yang memekakkan telinga.


"Tuan apakah ada musuh" kata Miera sambil terbang cepat ke arahnya.


"Sudah terbunuh, kalian kenapa tidak ada yang patroli? Bukankah aku bilang untuk selalu waspada dan hati-hati dari serangan monster" kata Chen mo dengan wajah marah.


"Maaf tuanku kami berdua lalai, kami kira monster akan respawn seperti biasa" kata malaikat yang berpatroli dengan wajah menunduk salah, melihat muka cantiknya yang menyedihkan, Chen mo tidan bisa marah dia hanya menegur mereka dan memberitahu yang lain untuk tidak mengulangi kesalahan fatal ini, dan juga memberitahu mereka akibatnya.


Setelah mendengar akibatnya, muka mereka menjadi pucat pasi, mereka berjanji dengan nyawanya untuk selalu waspada, dan berhati-hati dalam menghadapi gelombang monster berikutnya.


Setelahnya mereka kembali terbang, saat sudah menjauh Chen mo tersenyum kecil, karena melihat muka tekad di setiap wajah mereka, menatap langit hitam sebentar sebelum kembali ke vila dan memanggil salah satu shadow.


Chen mo menanyakan informasi apa yang di dapat, dia berbicara panjang lebar denganku sampai bintang bercahaya mencapai langit.


Chen mo menyuruhnya berhenti dan melanjutkan ngobrol lagi nanti setelah semua urusannya di ujian tambahan ini selesai.


Hari-hari terus berlanjut, di setiap waktu jika Chen mo ingin tidur pasti ada saja bunyi-bunyi ledakan atau ratapan keras dari monster terbunuh.


Sampai suatu ketika, berbunyi ledakan di tengah malam, Chen mo refleks terbangun berkata,


"WTF.. bisakah kau serang pagi, siang, atau malam, kenapa harus tengah malam" keluar kamar sambil berceloteh.


Masuk hari ke 35


Di atas benteng Chen mo melihat monster yang di bantai oleh para malaikat, dia menatap kosong ke langit, duduk bersandar dengan wajah lelah, mata seperti panda, dan kaki yang gemetar ketika berdiri.


"Aku sudah mencapai ujungku, jika ada monster respawn beberapa menit lagi aku hanya bisa tepar di atas benteng dan menyuruh para malaikat untuk melakukannya sendiri"


Chen mo sudah tidak tidur selama 5 hari ini dan selalu monster respawn di tempat acak yang membuatnya harus tetap terjaga, dan waspada dengan serangannya.

__ADS_1


Memang yang menyerang hanya berjumlah kecil sekitar di bawah angka 300, tapi mereka lebih merepotkan daripada puluhan ribu kerangka karena mereka mempunyai skill kecepatan, dan skill gerilya yang sangat hebat.


Chen mo hampir kecolongan karena salah satu di bagian bukit sebelah kanan ada ruang kosong yang memungkinkan para monster masuk tanpa di serang, jadi Chen mo keteter dan harus selalu berhati-hati dengan mereka sampai sekarang ini.


"Ternyata seperti ini pengalamannya, awalnya tidak percaya dengan perkataan senior di sekolah dulu pada saat ada kumpul bersama, masa di hari ke 31 monster mulai pintar dan merepotkan, bukankah harusnya di hari terakhir seperti hari ke 70 atau 80.


Aku yang sudah mengalaminya hanya bisa menghela nafas menyesal karena tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat, dan juga membuat pasukan semakin banyak." katanya mendesah sambil menyesal.


"Lebih baik selesaikan ini dulu setelah itu tidur" katanya berdiri, dan teleport ke arah musuh sambil menebasnya, selama 5 hari ini Chen mo bukan hanya menjadi komandan pasukan, tapi juga ikut dalam pertempuran karena sudah ada perlindungan dan skill yang kuat.


Sekalian mengasah semua skill menjadi tingkat lanjut, dan mengembangkan bakat insting perang menjadi lebih tinggi, mendengar perkataan monster kaki tinggi itu membuatku ada rasa urgensi yang tinggi untuk cepat-cepat menjadi lebih kuat.


Akhirnya pertempuran berakhir dengan darah bewarna merah kehitaman yang menggenang seperti kolam, dan kotak hadiah yang berserakan, Chen mo ingin menyuruh para malaikat untuk mengambil kotak hadiahnya tapi melihat wajah mereka kelelahan, Chen mo langsung mengurung niatnya, dan membiarkan para assassin yang mengambilnya.


Setelah melihat semuanya selesai Chen mo menyuruh para malaikat bubar, dan lekas tidur untuk mengisi energi yang terpakai di pertarungan selama 5 hari ini, teleport ke vila dan tertidur pulas sampai tengah malam keesokan harinya


Hari ke 36


Bangun dari tidur pulas kemarin, duduk dan bengong menatap sekeliling sebentar untuk mengisi kembali nyawa, setelah sudah full Chen mo langsung berjalan keluar dengan wajah semangat, dan mencium bau udara yang segar, tapi lagi-lagi menatap langit sambil menghela nafas.


"Informasi monster tinggi itu akan mustahil dilupakan, karena banyaknya kata penting mengenai Kekosongan dan era Penguasa ini"


"Tapi aku hanya orang lemah, aku saja berdebar melihat bayangan tangan besar yang muncul di atas awan, apalagi mencari tahu Kekosongan" katanya dengan nada lemah.


Tapi yah karena Chen mo tidak mau berlarut-larut memikirkannya, dia langsung berjalan menuju samping rumahnya, masuk dan melihat tumpukan lagi kotak hadiah, tapi kali ini hanya bukit kecil saja, sebelumnya bisa mendapat 2 gunung besar kotak hadiah.


"Ternyata semakin sedikit saja yang ku dapat, apakah hari ke depan akan semakin dikit lagi yang kudapat?" tanyanya penasaran,


"Lihat hari selanjutnya saja dah kalau gitu" kataku tidak peduli

__ADS_1


__ADS_2