
"Maaf Xiao yu, aku sudah ada janji sebelumnya dengan Lou li untuk belanja bersama, jadi aku dengan sangat berat hati untuk menolak mu" katanya meminta maaf.
Lou li langsung bersemangat dan bertepuk tangan, sementara Xiao yu hanya dengan ekspresi tenang karena dia tahu kalau dia baru kenal beberapa saat yang lalu jadi wajar untuk di tolak.
"Gak apa-apa kok, Chen aku maafkan" katanya dengan tenang, Tapi Chen mo tidak tenang karena dia melihat dalam matanya tersembunyi kekecewaan yang besar, tidak tahu ini firasat atau bukan, tapi sebagai lelaki sejati dia harus membuat solusi yang jelas yaitu
"Besok aku akan mengajakmu belanja, apa kau bisa?" ucap penasaran
"Bisa kok Chen, nanti pagi aku tunggu di depan gerbang ya.... dadah" sambil menjulurkan lidah ke arah Lou, berlari keluar sekolah dan melambaikan tangan ke arahku.
Lou li tidak terima "Chen kenapa kau malah besok mengajaknya belanja, apakah belanja bersamaku itu tidak cukup? dan liat, dia menjulurkan lidah ke arahku, dia mengejekku" wajah manja dan cemberut.
"Lou li sayang, aku baru keluar kemarin dari kekosongan dan aku tidak ada waktu untuk membuka kotak hadiahku, rencananya setelah selesai belanja denganmu, aku akan membuka semua kotak hadiah dan menjualnya besok ke kamar dagang matahari, ayah Xiao yu kan pemegang sahamnya jadi sekalian jalan sama dia" menjelaskan dengan sabar.
"Tapi kau tidak akan berbuat yang aneh-aneh kan?" ucap Lou li curiga
"Engga kok, tenang saja aku ini lelaki sejati mana mungkin aku sembarang ngambil orang" dengan wajah bangga.
"Iya..iya aku percaya kok sama kamu" jawab sinis
"Sayang apakah kau tidak percaya?" menatap Lou li dengan seksama.
Lou li menggelengkan kepala karena dia tidak percaya sama sekali, lantas Chen mo memegang wajah dan menciumnya selama beberapa detik setelahnya di lepaskan.
"Apakah dengan ini kau percaya sekarang?" katanya dengan senyum lucu.
Lou li yang di serang tiba-tiba bingung untuk beberapa saat, sampai Chen mo melambai-lambai tangan di depan mukanya tapi dia tidak berkedip, ingin melambai lagi tapi dia melihat warna merah dari lehernya menuju ke atas kepalanya dan Bushh..... keluarlah asap tebal bewarna putih di kepalanya.
Chen mo sangat panik, dia langsung menyodorkan tangan ke arah jidatnya, "Hah... gak panas kok, tapi kenapa keluar asap"
Dia melihat mukanya lagi yang agak panas dan berasap, ingin ku gunakan skill untuk menyembuhkan tapi tiba-tiba muncul ide dari dalam pikiranku "Hehe ku tambahin aja" di dalam hati.
Menyodorkan tangan lagi ke arah jidatnya, wajahku sangat berdekatan dengan wajahnya saat tangan sudah sampai di jidat, tiba-tiba mulutnya di dekatkan dan terjadi lagi.
"Nah dengan ini kan udah dingin jadinya" sambil menjauh darinya
Lou li yang terkena serangan lagi tambah merah dan asap di kepalanya keluar semakin tebal karena tidak tahan dengan serangan kedua, akhirnya diapun pingsan dengan mata kebingungan.
Refleks Chen mo menggendongnya karena melihat dia akan jatuh dan sudah tidak tahan lagi dengan serangannya,
"Hahh.. dasar Lou li serangan gitu saja udah pingsan gimana serangan yang lebih berat lagi" katanya mengejek.
Chen mo menggendongnya keluar dari sekolah dan berlari cepat pergi ke rumahnya, jika ketahuan dengan kakek kepala sekolah melihat kondisi Lou li yang seperti ini bisa kena jotos nanti.
Dia tidak kepikiran untuk menggunakan skill teleport karena di kepalanya hanya berpikir bagaimana caranya harus pergi dari sini.
Terus berlari dengan sangat cepat sampai tiba di depan apartemen, langsung masuk dan mengunci pintunya setelahnya dia menghela nafas karena tidak ada yang mengejar.
Berjalan ke kamar dan menaruhnya di atas kasur, melihat dia masih agak panas juga jadi Chen mo sembuhkan dengan skill [ penyembuh ] milik para malaikat, selang beberapa jam dia bangun dengan mata bingung, sementara Chen mo membawa semangkuk bubur panas ke arahnya.
"Aku dimana?" katanya
"Kau di rumahku sekarang" ucap sambil menjulurkan makanan bubur ke arahnya
"Sini buka mulutmu aa...."
Dia membuka mulutnya, tapi ada rona merah di pipinya,
__ADS_1
"Kau selalu malu di hadapanku, sini suapan lagi" Chen mo menyodorkan sendok lagi ke arah mulutnya, selang perkataan itu hening tidak ada yang berbicara kembali, sampai
"Apa kau ingat kejadian tadi siang?" menggodanya, Lou li yang tadinya hanya rona merah sekarang berubah menjadi merah jambu di wajahnya.
"Chen... jangan menggodaku" ucapnya dengan lemah
"Haha...! kau katanya tidak percaya denganku jadi aku kasih serangan kecil dan kau sudah mabuk dengan hal itu" kembali mengingatnya.
"Chen jangan di bahas lagi, memalukan." katanya dengan kepala di tutupi bantal
"Oke yasudah, tapi kita tidak jadi jalan, kau lihat jamnya sendiri" menunjuk ke arah jam.
"Hah?? jam 5 sore, jadi aku sudah pingsan lebih dari 6 jam?" katanya kaget
"Ya... Kau sudah tidur selama 6 jam, aku juga terkejut melihat dirimu tidur selama ini, ohh aku juga sempat membuat fotomu yang bergaya seperti ini"
Setelah melihatnya, Lou li teriak "Kyaaa.. Memalukan, Chen kau hapus cepat" tangannya ingin cepat mengambilnya
"Tidak ini artefak, kau lucu juga tidurnya Haha....." tertawa sambil menjauhi tangannya
"Ahh Chen kau harus hapus" marahnya
Kami saling kejar-kejaran sampai Chen mo melihatnya duduk ngos-ngosan ingin menghampirinya tapi saat mendekat, dia dengan cepat ingin mengambil dari tanganku sebuah foto karena punya refleks yang bagus Chen mo langsung menghindar, kita berdua lanjut lagi bermain sampai waktu sudah pukul 8 malam
"Li, apakah kau tidak pulang?" sambil memeluknya dari belakang
"Memang ini sudah malam dan waktuku main hanya sampai jam 7 jika kakek tahu, takutnya dia tidak akan mengizinkanku bermain lagi" ucapnya khawatir.
"Kalau begitu kau cepatlah pulang"
"Tapi aku tidak ada kendaraan" jawab Lou li
"Skil apa itu Chen?" penasaran
"Ini skill ungu teleportasi aku dapat dari membuka kotak" katanya dengan bangga
Lou li terkejut "Chen kau sudah dapat skill ungu?"
"Iya aku sudah dapat" mengangguk
"Eh bikin iri saja, aku di kekosongan hanya mendapat menara ungu, bukan skill" katanya dengan iri
"Wah itu sudah sangat bagus malahan, berarti keberuntungan mu selama ini di kekosongan melebihi orang lain"
"Tapi aku tidak bisa sepertimu" nada cemberut
"Kau tidak usah samakan denganku, aku memang sudah beruntung dari kecil, kau kan sendiri sudah lihat gimana keberuntunganku waktu kecil dulu"
"Iya aku lihat waktu kecil, tapi.."
"Udah kau tidak usah bahas soal ini lagi, kalau ada kesempatan aku akan memberimu skill ungu" katanya menyela
"Betul?"
"Iya betul
"Udah pegang tanganku dan kau akan melihat kehebatan skill ini" ucapnya bangga.
__ADS_1
Dia memegang tanganku dan kita menghilang dan muncul kembali di salah satu atap gedung tertinggi.
"Lihat pemandangannya indah kan?" tunjuk ke langit
"Iya sangat indah"
Kami berdua terkesima dengan bintang-bintang yang bertebaran di langit malam dan juga banyaknya planet-planet di angkasa yang ada di sekitarnya.
"Suatu hari kita akan kesana" sambil menunjuk ke langit
"Iya kita akan kesana bersama"
Kami saling memandang satu sama lain, perlahan kedua mata Lou li tertutup dan bibirnya perlahan terbuka sedikit, Chen mo melihat sinyalnya perlahan dia mendekat dan menyentuh bibirnya yang lembut dan berbau harum
Kami ciuman romantis di atas gedung tinggi dengan di temani bintang yang bersinar terang di langit dan malam gelap yang menyelimuti.
Selesai kami melepas ciuman kami dan memegang tangan Lou li lagi teleport sampai kami tiba di daerah dengan luas puluhan hektar tanah.
Chen mo melihat rumah dengan gaya bangsawan yang sangat estetik dan mewah, serta di sekelilingnya banyak sekali tanaman, bunga-bunga langka atau hal lainnya, ada juga rumah lain tapi sangat jauh di lihatnya.
"Oke kita sudah sampai" melepas tangannya
"Apakah kau besok akan pergi belanja dengannya" tanya Lou li
"Iya aku harus, sekalian jual barang barang di inventori yang tidak berguna" ucapnya menjelaskan
"Ohh jadi gitu" dengan nada lemah
Karena suasana agak sedikit sedih, jadi dia menambahkan, "Jika kau mau ikut belanja dengan kami juga tidak apa-apa, soalnya datang kesana aku hanya ingin belanja dan menjual barang saja bukan hal lain, jika kau tidak percaya kau bisa lihat tingkah lakuku dengannya"
"Baiklah aku akan ikut denganmu nanti kutunggu di depan gerbang sekolah" kata Lou li seperti orang pasrah
"Oke dah selamat malam" kataku sambil mencium jidatnya dan menghilang.
Lou li yang ingin mengucapkan kembali malah langsung stagnan dan hanya bisa dengan bengong memegang jidatnya yang dicium
"Uhuk...uhuk... Jadi selama ini kau bersama bocah itu" suara tua dari kejauhan.
Lou li yang awalnya bingung langsung kaget "Kenapa kakek ada disini?" tanya Lou li
"Oh... Aku disini ingin mencari mu keluar, tapi kakek melihat hal itu pada saat ingin keluar"
"Eh, apakah kakek sudah melihat kami?" tanyanya dengan aura dingin keluar.
Melihat cucunya akan marah kakek itu langsung berkata "Tidak..tidak, kakek tidak melihat kalian, mata kakek buram jadi kakek tidak melihat apa-apa"
"Hum itu bagus" Lou li mengendus masuk ke dalam rumah.
"Dasar cucu kecil, kau belajar mengancam juga kah?" kata kakek dengan menggeleng kepala.
Chen mo melihat dari jauh hanya bisa menghela nafas, sebelum dia ingin teleport lagi, tiba-tiba di depan ku muncul seorang lelaki tua
"Ehh, kepala sekolah kenapa anda ada disini, bukankah harusnya kau masuk dengan Lou li?" ngeles.
"Hum, bocah jadi semua ini ulahmu, ku ingatkan jika terjadi apa-apa sama cucu kesayanganku, kau pertama kali yang harus menanggung amarahku" katanya sambil menghilang.
Chen mo menghela nafas, dia ketakutan dengan ancamannya "Huh... Seram sekali, aku jadi takut berbuat yang lebih dengan Lou li" sambil teleport.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, dia langsung masuk, mengunci pintu, dan berkata
[ KEMBALI ]