
Hari ke 50
Di pagi hari dengan sinar Cahaya bintang yang menerangi, salah satu tempat tandus dengan tanah bewarna putih suci, terlihat dari jauh banyak sekali wanita cantik yang tergeletak tertidur dengan wajah senyum mereka.
Di salah satu tempat ada banyak wanita yang mengerumuni, dengan tanahnya terdapat cairan putih yang berceceran berantakan, Chen mo terbangun dengan kepalanya yang masih pusing dan tangannya memegang seperti agar-agar, setelah bisa fokus dia melihat sekeliling dan juga tangan yang sedang memegang agar-agar ini.
"Hahh... mumpung aja aku masih kuat, jika tidak aku sudah mengering oleh mereka" Chen mo beranjak bangun dan langsung teleport ke pemandian, sampai di sana dia melihat 4 wanita bersandar kepalanya di atas batu.
"Kalian, kenapa bangun sepagi ini?" menghampiri mereka
"Kami hanya ingin berendam saja tuan" kata Miera.
Chen mo mengerutkan kening, dia memperhatikan raut wajah sedih dan tertekan, karena penasaran dia bertanya kembali "Kalian ini sebenernya kenapa?"
Mereka berempat memandang sebentar sebelum salah satu berbicara "Tuan, kami lihat anda sudah tidak butuh kami lagi"
"Loh.. siapa yang tidak ingin kalian?. tanya bingung
"Kami lihat karena banyak pahlawan yang tuan panggil, kami jadi ada rasa urgensi kalau mereka nanti akan menggantikan kami" kata Miera.
"Kalian masih sangat penting kok."
"Kami penting untuk saat ini, tapi ke depannya kami tidak akan layak lagi, karena potensi kami hanya mencapai level 90, kecuali kami di jadikan pahlawan atau promosi bersayap 4, baru kami bisa terus bersama tuan" kata Bella dengan lembut.
"Oh...Hahaha emangnya kalian ingin dipromosi menjadi malaikat bersayap 4?" tanyaku
"Iya tuan kami ingin terus berjuang bersama tuan" berempat berkata serempak.
"Berjuang bersamaku atau menjadi senioritas dari malaikat lain, karena kalian veteran disini" tanya menggoda, mereka terdiam sejenak dan mengangguk bersama.
"Hahaha... kalau gitu ajak 47 veteran lainnya, mereka akan ku naikkan juga menjadi malaikat bersayap 4, karena sudah banyak berkonstribusi untuk wilayah, oke untuk itu nanti saja di bicarakannya, ada hal yang penting" kataku dengan serius.
"Apa itu tuan?" tanya mereka bersemangat, Chen mo membuka handuknya dan mereka terkejut sesaat sebelum memandang satu sama lain dan suara nyeleneh terdengar di pemandian.
Selesai mandi dia memandang keempat yang tepar di tempat batu bersandar dengan cairan putih menetes di bawahnya, keluar dari pemandian dan teleport ke atas benteng.
Menjadi kebiasaan untuk selalu berada di atas benteng karena tempat ini sangat bagus melihat pemandangan dan menghirup udara segar di pagi hari, serta memantau monster dan kelainan yang terjadi di hutan kejauhan.
Duduk di kursi sekalian memandang hutan di kejauhan sesekali menyeruput teh herbal ke dalam mulutnya, "Ahh.... hidup memang harus seperti ini, tapi sayang hidup seperti ini tidak bertahan lama"
Selesai menyeruput teh, karena tidak tahu harus ngapain lagi, dia mengajak para gadis memainkan sebuah permainan, kami terus bermain atau mengasah pedang yang belum puas, sampai cahaya bintang sudah mulai perlahan turun.
Di waktu ingin memasukkan pedang besarku ke dalam lubang tiba-tiba dari jauh kami mendengar suara melolong keras seperti orang marah, pedang yang ingin kumasukan di tarik kembali dan kita semua melihat dari kejauhan ada monster dengan bentuk tubuh bulat dan ribuan wajah berlari dengan langkah besar menuju ke arah kami.
Melihat dia sebentar lagi akan sampai, Chen mo lantas berjalan dengan tubuh tegak dan wajah bangga, maju beberapa langkah dan memberikan 2 tangan jari tengah ke arahnya.
Dia berkata [ Kembali ].
Dalam kurun waktu 1 detik, cahaya menyelimuti seluruh wilayah dan menghilang, monster yang melihat wilayahku tiba-tiba menghilang sangat marah, tanah yang ku tempati mulai di hancurkan dengan lolongan keras keluar dari ribuan wajahnya.
__ADS_1
Di suatu tempat di langit kekosongan seorang pemuda dengan wajah tampan, dan aura yang tenang di sekelilingnya tersenyum, "Hehe... anak ini menarik, kita akan bertemu lain hari, semoga kau tidak mati" katanya sambil menghilang.
Dalam perjalanan pulang, Chen mo sekarang bisa melihat kekosongan dengan tak terhitung banyaknya planet dan di lihat ke bawah dia hanya tinggal di salah satu planet dari ribuan planet di dekatnya.
Melihat ada banyaknya dunia membuatnya sangat kagum dan menghela nafas "Pantas saja banyak sekali orang yang ingin membongkar kekosongan, karena di dalamnya ini sumber daya sangat melimpah sekali"
Semakin menjauh dari kekosongan, Chen mo merasakan getaran di badan dan ada tarikan yang kuat menariknya untuk keluar, dalam sekejap seluruh matanya hanya ada kegelapan sampai beberapa saat kegelapan berubah menjadi tempat yang familiar, tapi asing di mata.
"Ternyata sampai di rumah, agak asing karena terlalu lama di kekosongan" katanya, bingung mau melakukan apa, akhirnya membuka hp dan chat dengan Lou li.
"Lou li, apakah kau lulus ujian percobaan?" tidak menunggu beberapa saat pesan dibalas
"Aku sudah selesai dari tadi kok kamu kemana saja? lama sekali perasaan"
Chen yang mendengarnya terperangah dia melihat jam di hp sudah pukul 18.30, "Hah?? lebih dari 5 jam? padahal aku hanya sampai hari ke 50 doank loh kenapa sampai 5 jam" tidak percaya.
"Lou li kau selesai sampai hari ke berapa?" tanya penasaran
"Aku selesai di hari ke 30, emangnya kenapa?"
"Hahh?? bukankah ada waktu 90 hari untuk ujian di sana?" tambah penasaran
"Oh... Kalau itu memang kata banyak guru, sebenarnya yang sudah mencapai hari ke 90 itu tidak ada, apalagi 90 hari yang hari ke 45 ke atas saja hanya beberapa, kebanyakan para jenius hanya selesai di hari ke 40, itupun mereka katanya sudah keteter karena harus menghadapi puluhan ribu monster" kata lou li dengan detail.
Chen terkejut sekaligus heran, "Kukira mereka bisa sampai ke hari 90, ternyata itu hanya sebagai penyemangat saja dan level tertinggi jenius hanya sampai di level 40 dan sudah keteter dengan puluhan ribu monster"
Chen yang sudah melewati hari ke 49 ketawa kencang dan berpikir "Kalau mereka yang sudah sampai ke hari 40 sudah dianggap jenius? lalu aku ini apa?" berbisik dalam hati.
"Yasudah kalau begitu besok aku sekolah" kataku.
"Oke Chen, selamat malam"
"Malam juga"
Melempar hp ke kasur, berjalan keluar rumah melihat langit malam berbintang, menghembuskan nafas karena rasa kegembiraan menjadi di atas jenius, ingin sekali berteriak tapi takut akan menganggu tetangga yang lain jadi di tahan kegembiraannya.
Kembali masuk dan melihat token sistem yang menunjukkan angka 50, ingin sekali pamer kepada yang lainnya tapi kalau mereka tahu aku bisa sampai ke 50 hari, bisa-bisa aku akan di incar oleh banyak ras asing apalagi nanti di kekosongan.
Jadi niat untuk pamer ku urungkan, karena masih sayang nyawa dan juga Chen mo bukan protagonis jadi hidup harus berhati-hati.
Terlalu banyak hal dalam pikirannya sampai-sampai dia tertidur di atas kasur dengan wajah tersenyum.
Kring.....kring....
Mematikan alarm, beranjak bangun langsung pergi mandi dan setelah selesai siap-siap, keluar berjalan pergi ke sekolah dengan suasana yang sangat hangat, dalam perjalanan menuju sekolah Chen mo selalu ketemu dengan hal-hal baru yang membuatnya kagum dan selalu terngiang-ngiang melihat semua dan ingin mempunyai semua ini.
Terus berjalan sampai tiba di depan gerbang sekolah, saat ingin masuk ke gerbang tiba-tiba Chen mo melihat di samping kanan gerbang banyak sekali orang yang mengelilingi sesosok wanita cantik dengan kulit seputih salju, badan montok dengan aura yang sangat dingin di sekeliling, dan berpakaian ketat.
Orang-orang di sekitar hanya bisa melihat dan mengagumi saja, karena jika ada hal-hal aneh terjadi dia akan langsung berurusan dengan kepala sekolah.
__ADS_1
"Itu bukankah Lou li" kata orang lewat
"Iya betul, dia lagi nunggu siapa ya? saya penasaran banget"
"Sama saya juga, saya ingin melihat orang yang di tunggu Peri Lou itu siapa"
Mereka berbisik-bisik sampai ada seorang yang sangat tampan melewati mereka dan menghampiri Lou li.
"Tuan putri apa kau sudah menunggu lama?" kata pria tampan itu
"Chen jangan menggodaku, ayo kita masuk" Lou li memeluk salah satu tangannya dan mengajaknya masuk.
Para penonton yang melihat kami bergandengan tangan, langsung ada suara retak di hati mereka, dewi yang mereka idamkan selama ini ternyata telah mempunyai pasangan, tangisan bersama terjadi di depan gerbang.
Sementara keduanya tidak tahu kejadian di gerbang dan jika mereka tahu mereka tidak akan perduli, lanjut jalan sampai tiba di depan pintu masuk kelas, membuka pintu dan otomatis semua orang melihat kami berdua, Chen mo berjalan ke arah bangku belakang dengan suara bisikan di setiap jalannya
"Hei kau lihat Chen mo dengan Lou li, romantis sekali"
"Aku juga ingin pacaran dengan Chen"
"Kau terlalu ngarep, Chen hanya mau orang yang sebanding dengannya"
"Iya kudengar dia dan Lou li sama-sama bakat S buat iri saja"
"Iya membuat iri, tapi pasangan ini cocok karena bakat mereka"
Duduk di belakang dengan Lou li sambil ngobrol sebentar, beberapa menit kemudian masuk seorang guru dengan tampang garang dan suram masuk, dia berdiri di podium berkata dengan dingin
"Kalian yang sudah keluar dari kekosongan selamat, kalian sekarang menjadi Penguasa"
"Tapi guru ada beberapa orang yang tidak hadir disini, kemana ya mereka? tanya seorang siswa penasara
"Oh mereka mati" kata dingin.
Kami semua yang mendengar hal itu langsung merinding dan suasana yang tadinya baik-baik saja menjadi suram.
Guru yang melihat itu berbicara sinis "Kalau kau tidak mau mati tidak perlu menjadi penguasa, lebih baik kalian menjadi orang biasa saja"
Lanjutnya "Aku tidak punya banyak waktu lebih baik kau pergi ke aula untuk daftar berapa lama kalian bertahan di kekosongan"
"Tapi guru emangnya itu perlu?" tanya seorang siswa.
"Itu sangat perlu, karena dengan semakin lama bertahan seorang penguasa di kekosongan berarti ke depannya resiko kecelakaan akan semakin mengecil, karena di kekosongan tidak ada yang namanya teman dan kematian untuk orang yang ceroboh"
"Sudah jangan banyak nanya datang saja ke aula." kata guru dengan tidak sabar, beberapa siswa berjalan secara berurutan sampai Chen mo dan Lou li di bagian paling belakang, sebelum kami keluar guru menghadang kami
"Aku optimis dengan kalian, jadi bawalah nama baik sekolah" katanya tersenyum, kami hanya mengangguk ke arahnya, setelah itu kami keluar dari kelas dengan berpegangan tangan.
Guru yang melihat kami berdua bergandengan tangan hanya menghela nafas "Anak muda jaman sekarang, tapi mereka pasangan surga, jika mereka selamat" kata guru itu dengan nada misterius.
__ADS_1
Kami berjalan sampai kami melihat aula akrab dan di sekitarnya ada ratusan siswa yang mengantri.