Era Legenda Sang Penguasa

Era Legenda Sang Penguasa
Pertempuran Pertama di Kuil Perang


__ADS_3

"Goblin tempur, centaurus, kultivator, jumlah di angka puluhan ribu, rata-rata level sekitar 45-60 levelnya beda jauh dengan pasukanku yang hanya 1-43, tapi sayang mereka masih lemah" kataku berbisik sambil menggelengkan kepala.


"Milya, kau urus bawahan nya, prioritas kan pasukan kita yang levelnya masih rendah, aku akan mengalahkan ke 3 orang ini, mengerti" transmisi suara ke Milya.


"Siap tuan mengerti" katanya sambil mengatur pasukan.


Aku menghembuskan nafas panjang dan berkata "Gerbang Terbuka"


Saat terbuka, keluar ribuan pasukan berjubah hitam berjajar rapih dengan aura haus akan darah, semangat dan tekad yang kuat.


Dengan Human elf di bagian depan, di tengahnya pedang bercahaya dan bagian belakangnya pemanah yang dalam posisi siap menembak, serta di depan gerbang berjejer menara dengan ketinggian puluhan meter siap menembak juga, sementara


Musuh melihatnya ngeri dan hanya bisa pasrah berdoa perlindungan kepada tuannya, karena musuh yang dihadapi bukanlah daging segar yang dimaksud.


Di langit ketiganya juga kaget dan mereka saling memandang dengan wajah tidak percaya.


"Siapa yang akan mati? hehe samgat lucu, Semua pasukan serangggg"


"Hoo.Hoooo." Raungan kencang menggema, tembakan pertama dari puluhan menara, dengan disusul ribuan serangan pemanah dan formasi depan berbaris maju secara cepat.


Melihat serangan ku dari wajah ketiga nya mereka sudah tidak berhasrat lagi untuk berperang, tapi karena nasi udah jadi bubur mereka harus menggertakan gigi untuk melawannya.


Dengan mengeluarkan pidato semangat untuk umatnya, mereka maju dengan hanya bermodal semangat, senjata dan pengalaman mereka yang banyak.


Sebelum pertempuran terjadi, serangan menara pertama jatuh tepat mengenai mereka atau hujan panah yang membunuh banyak sekali kawan nya,


Tapi mereka masih terus berlari, karena demi kehormatan dan kemuliaan bangsa nya mereka harus tetap berperang walau musuh kuat sekalipun.


Dengan kecepatannya, akhirnya pertempuran terjadi dengan darah langsung tumpah ke langit dengan mayatnya berjatuhan atau teriakan histeris akan kematian.


Ketiga penguasa juga menuju ke arahku dengan semangat pantang menyerah dan tekad mereka,


Melihatnya darahku sangat mendidih, karena pengalaman pertamaku melawan langsung dari seorang penguasa,


Aku mengeluarkan pedang dari sarung, aku terbang dengan kecepatan tercepat menuju mereka.


Pertempuran terjadi dengan pasukanku terus menerus membobol formasi mereka, dan banyak sekali mayat yang jatuh atau darah yang membentuk sebuah sungai di bawahnya.


Aku juga bertarung dengan mereka bertiga secara seimbang walau hanya menggunakan seperempat kekuatan saja.


Karena kegigihan mereka bertahan dari serangan ku atau kekompakan mereka yang membuat tidak ada yang melarikan diri dari situasi tidak menguntungkan ini, sampai


Aku menusuk ketiganya dan melepaskan nya, mereka menjauh dengan luka di seluruh badan mereka, tapi masih bertahan dengan gigih.


Aku sangat respect kepada mereka walau tadi mereka menghinaku, karena penasaran lantas bertanya "Kenapa kalian tidak melarikan diri?"


Salah satu darinya tersenyum dan berkata "Kami triangle, kami akan selalu hidup mati bersama, melarikan diri? itu tidak ada di dalam kamus kami."


Aku terkejut mendengarnya, tertawa di depan mereka sebentar, sebelum aku memandang mereka dan berkata "Bagaimana kalian ingin mati?"


Mereka saling memandang sebelum salah satu menghela nafas dan berteriak dengan suara terakhir nya


"Bunuh Mereka, kemuliaan untuk kita"


Suara sisa pasukan dengan suara terakhir mereka berteriak


"Bunuh mereka, kemuliaan milik kita"

__ADS_1


Dengan semangat api mereka menjadi tambah semangat dan gila walau teman mereka sudah meninggalkan mereka.


Tapi sayang karena perbedaan ras dan kekuatan bawaan, semangat mereka tidak mempengaruhi seluruh formasi pasukanku.


Aku tersenyum puas dengan sikapnya, dengan ancang ancang pedangku di lebarkan, teleport secara horizontal dan


[ Pernapasan Zona Air : Air Ketenangan ]


Ujung pedangnya membuat visual air laut yang tenang, waktu berhenti beberapa detik dengan ketiganya juga berhenti bergerak,


Aku langsung menghampiri mereka dan menebas kepala mereka sambil berkata


"Perjuangan kalian sangat hebat, tenang saja umatmu akan ku jaga dengan baik"


Kepala ketiganya sudah copot, tapi aku mendengar suara samar mereka berkata "Te..ri..ma, ka..si.h"


Beberapa detik kemudian waktu kembali normal lagi dengan kepala mereka terjatuh, sementara aku mengambil token ketiganya dalam diri mereka dengan lembut.


Sisa pasukan yang melihat tuan mereka sudah dipenggal, mereka tidak punya hasrat untuk berjuang lagi dan memilih menyerah atau tetap ingin berjuang tapi sayang akhirnya mereka mati juga.


Karena aku mendapat token nya, jadi aku paksa tutup ketiga gerbangnya agar tidak ada lavi yang keluar dan mengubur jasad ketiganya dengan penghormatan terakhir.


"Hahhh..... Benar saja apa kata Lou li hanya ada dua tipe penguasa di langit berbintang ini : Si Tangguh atau Si Pengecut."


Setelah penghormatan aku berkata kepada Milya selaku komandannya "Para tawanan ini kau jadikan mereka sebagai pekerja dulu, baru nanti kau cuci otak mereka, tapi ingat jangan sampai mereka melihat kalian satu inci pun." kataku dengan serius.


Dia bukannya menjawab serius malah menggoda "Apakah tuan cemburu, hi.hi.hi" sambil menutup mulutnya karena tertawa.


Dengan wajah tebal aku berkata "Ini untuk keselamatan kalian, aku hanya antisipasi saja, udah apakah mengerti dengan tugasmu?"


Aku hanya menghela nafas dengan tingkahnya, melihat token berpikir sebentar sebelum berkata "Untuk 3 token ini ku serang nanti saja setelah aku keluar dari hutan ini dan menetap di kota.


Aku ingin langsung pergi ketika aku merasakan di jarak lebih dari 4 km seseorang yang ke sini


"Hehe...Sepertinya ada mangsa lagi,


apakah orang serakah lagi? Lebih baik seperti itu dan juga menjadi lebih baik lagi jika orang itu pengecut" kataku teleport menjauh dari lokasi.


Sampai beberapa menit kemudian ada orang tua yang datang melihat sekeliling


"Sepertinya dia habis selesai bertarung, mengingat keadaan hutan yang sudah hancur seperti ini"


Orang tua ini berdiam diri sebentar memikirkan sesuatu sebelum berkata "Lebih baik tanya tuan muda saja dulu, dengan hasil yang kulihat ini sepertinya dia menang,


Dan juga apakah yang level 45 itu adalah seorang jenius?"


"Jika memang benar, Kata tuan ayah jangan sampai bertabrakan secara langsung dengan mereka, jika tidak katanya itu bisa sangat berbahaya" katanya merinding sambil melarikan diri.


Aku teleport kembali dan melihat nya terbang menjauh, aku menghela nafas karena mangsa melarikan diri,


Jadi karena tidak tahu harus ngapain lagi jadi aku melakukan perjalanan untuk keluar dari hutan ini.


Sampai malam pun tiba, tapi aku tidak keluar keluar dari hutan, karena kesal aku turun mencari goa, duduk dan kembali ke duniaku.


Kubuka mata sudah ada di rumah, aku pergi ke ruang tamu dan menyuruh Lidia yang sedang makan untuk memanggil Milya.


Di awalnya ingin marah karena menganggu makan nya, tapi melihat muka kesal tuan nya, dia langsung aktifkan skillnya pergi mencari Milya.

__ADS_1


Tidak selang waktu yang lama Lidia bawa Milya menghadap ke arahku, lantas aku bertanya


"Bagaimana para tawanan? apakah mereka sudah di tugaskan?"


"Sudah tuan, para assassin mengatur mereka untuk membajak, menebang, atau hal lainnya yang bermanfaat untuk wilayah kita" katanya serius.


Aku mengangguk puas "Bagaimana kalau korban? apakah ada?" tanyaku berat.


"Tuan tidak ada yang mati, kebanyakan hanya luka ringan saja, karena lawan mereka masih terlalu lemah,


Dan juga sekarang banyak level saudari kita yang tadinya di dominasi Level 1, sekarang hampir kebanyakan di atas level 15."


Aku terkejut dengan jawabannya "Apakah begitu banyak?"


"Iya tuan, jika di lihat dari statistik membunuh kami di perkirakan ada sekitar 65.000 korban yang telah kita bunuh"


"Waduh.. ternyata banyak sekali?"


"Apakah tuan tidak sadar? kalau ketiganya yang tuan tantang mereka ada di level 60 ke atas" Kata Milya.


Aku menggeleng kepalaku karena tidak sadar, lantas aku bertanya


"Bagaimana kau bisa tahu kalau mereka ada di level 60 keatas? Bukankah kau tidak mempunyai alat deteksi?"


"Tuan dari pengetahuan yang kami dapat dari kekosongan, kalau ditentukan level seseorang itu bisa dilihat dari lebar gerbangnya, jika 10 m itu level 10, jika level 20 itu 50 m, dan seterusnya."


Aku terkejut dengan jawaban Milya, tapi jika di ingat-ingat lagi, memang seperti nya para guru pernah memberitahu aku soal ini, dengan muka menahan malu, aku bertanya


"Apakah kau sudah mendapatkan peta?"


"Tuan, kita kan belum menyerang dunia ketiganya, bagaimana kita bisa mendapatkan peta dari mereka"


Mendengarnya aku tambah malu dan teleport ke salah satu rumah untuk meredakan rasa malu ku.


Melihat aku menghilang dengan cekikikan Lidia berkata "Sepertinya kau membuat tuan menjadi sangat malu"


Dia mengendus jawab "Huh... Rasain aja sendiri, dia membuatku marah "


Lidia penasaran dengan marah nya Milya dan bertanya "Marah kenapa?"


Milya tidak berbicara, tapi menyuruh Lidia untuk mendekat, setelah dekat dia berbisik ke telinga Lidia


Dia terkejut dan bertanya penasaran "Apakah itu benar?"


Milya mengangguk setuju, mereka berdua terdiam sejenak sebelum ketawa pelan, saling memandang seperti rencana yang sudah terbentuk di kepala mereka.


"Sepertinya tuan akan populer, hehe"


"Benar sekali, pohon kesenangan sepertinya akan sibuk, hehehe"


Aku yang di kamar tidak tahu kehebohan apa yang akan terjadi dengan kelakuan mereka berdua, tapi itu untuk nanti, sekarang


"Aduh... bagaimana caranya keluar dari hutan sialan ini kalau tidak ada peta" kataku kesal.


Aku mondar-mandir di kamar tidak jelas, sebelum berhenti dan berkata


"Hah... dipikirkan saja nanti, lebih baik aku tidur dulu" menghela nafas panjang, naik ke kasur dan tertidur

__ADS_1


__ADS_2