
Saat kami bertiga terbang menuju mereka.
Sementara kedua saudara sedang lagi asyik bersantai dan ngobrol dengan yang anggota lainnya, tiba tiba sang kakak notice menengok ke belakang.
"Kalian semua kita mempunyai tamu yang istimewa, nanti lebih baik jaga sikap kita, mengerti?"
Adik dan anggota lainnya sangat bingung dengan perintahnya, tapi mereka tetap menjaga sikap dan saling waspada.
Sampai "Dia datang" kata kakak itu.
Semuanya notice melihat ada 1 pria dan 2 wanita terbang ke arah kami dengan kecepatan tinggi.
"Tuan muda, mereka hanya bertiga" "Itu hanya penguasa biasa, tidak ada yang spesial" "Benar, kakak mereka hanya penguasa biasa kenapa kami harus menjaga sikap?" "Tuan muda untuk apa menjaga sikap kepada mereka kalau kita bisa membunuhnya"
Banyak para bawahan sangat tidak puas dengan perintah tuan mudanya, karena hanya 3 orang penguasa biasa saja, tapi
"Aku tidak akan terpikirkan berbicara seperti itu, karena aku mungkin tidak bisa mengalahkan salah satu dari mereka" katanya serius.
Sampai ketiga orang itu sampai dan berucap "Salam satu bangsa" kata Xuer.
Mendengarnya semua penguasa akhirnya mengendur kewaspadaan dan kakak itu bertanya "Siapa anda sebenarnya? Dan mau apa anda mendatangi kami?"
Kami bertiga sedikit terkejut melihatnya bereaksi "Kami disini hanya penasaran saja, untuk identitas kami apakah ini cukup?" sambil menyodorkan sebuah plakat hitam.
Saudara kembar dengan penguasa yang melihatnya terkejut dan mereka saling memandang tidak percaya.
"Untuk apa tuan menghampiri kami?" tanya kakaknya dengan hormat.
"Santai saja tidak perlu kaku, kami disini hanya ingin melihat jenius superior saja dan ada pertanyaan yang ingin sekali ku tanya sekali ke sekte kalian "tersenyum.
"Bagaimana kalau kita berkemah terlebih dahulu agar ngobrolnya lebih enak?" inisiatif kakak itu.
Kami bertiga mengangguk setuju dan dari tangan sang adik keluar sebuah rumah 5 lantai dan menaruhnya di padang pasir.
Kami masuk dan memulai berbincang dengan mereka, aku menanyai namanya katanya dia adalah Simon Ragai dari suku dayak cabang dari nusantara, adiknya namanya Amalia Sari.
Mereka kembar dua adalah anak dari patriak keluarga dayak, dia juga di gadang sebagai jenius superior selanjut nya karena memiliki ras penyihir hitam tingkat tinggi, dengan ilmu hitam terkuat dan juga sihir yang memiliki kerusakan yang sangat besar, serta sihir santetnya yang akhirnya menjadi mereka sebagai kembar terbaik dari suku dayak.
Dia menanyaiku tapi hanya ku jawab secara samar dan menunjukkan plakat kekaisaran, mereka tertegun dan memandang kami bukan waspada lagi, tapi sebagai kawan.
Dia juga menanyai kedua wanita, tapi keduanya hanya tersenyum dan menghindar dari pertanyaan, karena tidak berhasil dia mengurungkan niatnya.
Kami terus berbincang sampai aku bertanya hal sensitif, dia memperingati ku untuk tidak menyebarkannya, aku mengangguk setuju dan bersumpah kontrak, setelahnya dia membeberkan semuanya mengenai nusantara.
Dia menceritakan kalau nusantara sebenarnya bukanlah sebuah sekte melainkan sebuah negara independen yang di berikan langsung oleh kaisar sendiri, sebagai mahar sang istri.
Dunia luar, kaisar hanya mengakui nusantara sebagai sekte bukan negara, karena jika ketahuan nanti akan ada kelompok tertentu yang tidak puas dan memilih berontak untuk menjadikan wilayahnya menjadi negara independen.
Dia memberitahuku kalau di nusantara bukan hanya ada suku dayak saja, tapi ada suku lain seperti suku batak, Badui minahasa, Betawi, dll, yang membuat penguasa asing sangat waspada dan menghormati sekte Nusantara ini yang bisa menyatukan banyak sekali suku.
Penguasa asing juga telah beberapa kali menghasut kepala suku dari sekte nusantara, tapi sayang usaha mereka semuanya gagal karena keteguhan hati dan mereka di cap sebagai musuh paling berbahaya dari sekte Nusantara.
Kami terus berbincang-bincang sampai waktu menjelang tengah malam, kamj berhenti, sedikit minum dan kembali ke kamar masing-masing.
Keesokan harinya aku pun pamit pergi karena masih ada urusan yang belum di selesaikan,
"Jarak 3km, ada hadiah untuk kalian, jangan lupa membuang barang berjenis pasir dan sampai ketemu lagi, kawan" kataku terbang menjauh.
Saudara kembar dan penguasa dari sekte nusantara kebingungan, tapi karena penasaran mereka terbang ke arah yang di tunjuk olehku.
Setelah sampai mereka mengeluarkan apa yang aku perintahkan dan melemparnya.
Beberapa saat terjadi goncangan di pasir yang semulanya tenang, tiba tiba keluar mahkluk dengan tubuh tinggi 5m dengan ekornya memanjang ke atas langit dan tubuhnya kuat seperti bongkahan besi.
"Ternyata hadiah seperti ini. Aduh...!" dalam hati.
"Kalian semua bentuk formasi"
"Baik tuan muda" mereka berpencar dan membuat lingkaran dengan di tengah nya sebagai saudara kembar.
"Sari jangan jauh-jauh dari kakak, soalnya kakak punya firasat buruk"
Sari mengangguk dan pindah ke belakangnya.
Firasatnya benar terjadi, keluar dari dalam pasir puluhan ribu monster yang sama, mereka semua mengaum ke arah langit.
Melihatnya membuat penguasa lain merinding dan waspada, "Kawan kita sepertinya memberi hadiah yang terlalu bahayakan kak?" kata Amelia.
"Benar, tapi ini juga pengalaman untuk menghadapi gerombolan monster seperti ini" kata Simon membuka gerbang dan yang lainnya juga membuka gerbang.
Serangan sengit dimulai antar keduanya, karena gerakan formasi yang kompak dan kerja sama yang tinggi membuat mereka yang tadinya agak keteter menjadi lebih mudah melawannya.
__ADS_1
Sampai pertempuran berakhir dan banyak kotak hadiah berserakan, mayat monster dan mayat tentara yang gugur, mereka memberi penghormatan kepada yang mati, dan melakukan pembersihan secara total,
Sampai salah satu anggota dari kejauhan berteriak keras.
"Kalian semua lihatlah kesini" katanya dengan wajah ngeri.
"Ada apa memangnya?" "Kenapa wajahmu sangat takut sekali?" "Benar jangan membuat kami takut" "Bicaralah, ada apa"
Mereka terus bertanya sampai seorang berkata "Ada keributan apa ini?"
"Ahh... Tuan muda kau bisa mengikuti ku"
"Memangnya ada apa?" tanya bingung.
"Sudah tuan kamu ikut saja, soalnya ini menyangkut dengan tuan yang kemarin"
Mereka terbang beberapa kilometer dan menemukan tempat yang membuat mereka sangat ketakutan dan ngeri.
Mereka melihat tempat yang sudah hancur porak poranda dengan 3 tempat yang berubah menjadi gurun es, gurun api, gurun mayat dan darah, serta tumpukan dari para mayat monster.
Semua anggota sangat ketakutan dan ngeri melihatnya sampai ada yang pingsan karena saking tidak kuat.
Saudara kembar mengerutkan kening dengan penemuan ini dan hanya bisa memikirkan 3 Penguasa itu,
Karena jarak yang lumayan dekat kami bertemu dan tidak mungkin penguasa lain yang bisa menghancurkan ratusan ribu monster ini.
Apalagi dengan kerusakan dan kehancuran yang dilihatnya pasti akan terdengar dan tidak mungkin ada orang lain yang bisa melakukannya kecuali ketiga orang itu.
"Hah.... Sepertinya kita beruntung mempunyai kawan seperti mereka" kata Simon tersenyum.
"Benar kakak, kita juga harus memberitahu suku mengenai ketiga orang ini" kata Sari.
"Baiklah nanti saja setelah kita keluar, lebih baik fokus mengurus bawahan kita saja dulu"
"Benar kak"
Mereka membantu bawahan yang pingsan dan pergi meninggalkan tempat kejadian.
Aku yang terus terbang tersenyum "Sepertinya hadiah kita ke mereka sudah sampai"
"Hehe... Ide mu jahat sekali, tapi aku suka" kata Mier." terbang menjauh.
Selama sebulan ini kami terus mencari jalan keluar dari gurun sabin ini, menggunakan kompas atau cara lainnya, tapi tidak berhasil kami tidak terlalu putus asa dan terus mencari cara jalan keluar.
Kami juga melakukan aktivitas lain seperti, berburu monster, ngobrol dan menggoda para wanita, menghitung hadiah, melakukan banyak trik formasi, lain-lain.
Aku juga mengobrol dengan tentara dari kedua wanita, seperti naga pemalas yang hanya bertengger tertidur di atas benda berkilau, ada juga 2 mahkluk besar yang kutanya ras mereka apa ke Xuer membuatku sangat kaget.
Karena rasnya adalah Yeti salju dan genderuwo salju, juga ada kultivator wanita berbasis es.
Seringnya berhubungan membuat kami yang semula hanya menjalin kerja sama berubah menjadi pasangan hidup, karena mereka mau membeberkan rahasia mereka dan setiap tentara juga sudah saling mengenal dan akrab dengan pasukan dari tuan lain.
"Xuer, apakah masih jauh lagi" palaku bertengger malas di lututnya.
"Chen kau selama seminggu ini manja sekali" katanya sambil mengelus kepalaku.
"Benar, selama seminggu ini hanya kami berdua sepertinya yang bekerja" kata Mier menghampiri.
"Membosankan, karena tidak ada musuh dan dengan kalian disini aku jadi nyaman, hehe" kataku manja.
Keduanya tersenyum melihat tingkahku.
Kami lanjut bercanda gurau, sampai tiba tiba aku refleks berdiri dari pangkuan dan terbang cepat keluar, di langit melihat ke bagian utara, kedua wanita juga menghampiriku dan bertanya.
"Apa yang kamu rasakan,Chen?"
"Rasanya ada yang memanggilku dari ujung sana" menunjuk ke Utara.
"Kompas menunjukkan arah mana?" tanyaku lagi.
"Ke arah Selatan, Chen"
Aku berpikir sebentar sebelum bertanya
"Apakah kalian masih mau mengikuti ku? Soalnya aku ingin ke Utara untuk memastikan sesuatu."
Keduanya tanpa pikir panjang berkata "Chen, kami ini akan selalu bersamamu"
"Hmm. Kalau kau tidak ada, kami jadi terasa hampa." kata Xuer
"Terasa hampa atau karena pahaku yang tebal?" tanya menggoda.
__ADS_1
Keduanya tertawa cekikikan sambil melihat arahku dengan mata dollar.
"Baiklah karena setuju ayo kita ke Utara"
"Ohhhh" raungan imut keduanya.
Dalam penerbangan menuju ke Utara, ada yang aneh, karena hampir di setiap kami terbang pasti akan ada saja monster terbang atau yang muncul dari padang pasir menyerang.
Jika itu sesekali kami masih toleran tapi, semakin dekat kami ke Utara semakin banyak monster yang harus kami hadapi sampai kami bertiga terpaksa membuka gerbang
Dan juga suara memanggilku makin besar serta rasa deg-degan atau firasat makin membuatku tambah semangat dan terbang semakin cepat.
Monster terus saja bermunculan menghalangi jalan kami sampai dalam setiap penerbangan, kita hampir tidak menutup kembali gerbang karena saking banyaknya monster yang bermunculan.
Dan semakin banyak monster datang semakin kaya kami, karena dari hadiah yang di dapat totalnya bisa sampai milyaran batu roh.
Rata-rata level monster saat kami bertemu gerombolan hanya sekitar level 30-75, berbeda dengan hampir seluruh jenis monster yang pernah kami temui disini, ada kepiting, kelabang, kaki seribu, kalajengking dan monster lainnya.
Rata-rata level mereka mencapai level 50-85, mumpung saja level hampir tentara kami bertiga rata-rata sudah level 55-80 keatas, kalau tidak kami sudah keteter dengan segitu banyak monster ini.
Pertempuran terus terjadi dengan mayat monster dan tentara yang berjatuhan, hujan kotak hadiah, gurun yang hancur tidak terbentuk, sampai kami tiba di tempat yang membuat kami semua terkejut dan ketakutan.
Karena di depan mata kami terpampang jelas sebuah altar kuno dengan luas bisa mencapai 5km, berbentuk seperti mangkuk, dan aku tidak tahu bahan apa yang digunakan karena warnanya yang bisa berubah-ubah.
Di sekeliling mangkuk besar itu tak terhitung banyak gigi roda kecil berputar dengan kecepatan yang lambat, juga ada jutaan segel, jimat atau bahan lainnya yan beroperasi secara mandiri.
Dan bagian tengah ada sebuah portal sangat besar, hampir setiap monster akan keluar dari dalamnya dan mereka mulai berpencar mencari tempat semayam mereka.
Aku sangat kecil sekali jika dilihat dari kejauhan, sampai menengok keduanya yang masih bingung dan berkata pelan.
"Ini bukan lagi ranah kita, lebih baik kalian hubungi pelindungmu, masuki langsung pasukan dan kita terbang menjauh dari sini secara perlahan mengerti?"
Mereka mengangguk diam, dan mulai memanggil dengan jimat khusus sambil terbang secara perlahan ke belakang, tapi
"Kau sudah berkunjung kesini, kenapa tidak kita sapa sapa dulu, Ha.ha.ha.!" suara berat keluar.
Tanpa pikir panjang kami langsung terbang secepat mungkin melarikan diri dari suara monster itu.
Saat terbang dari kejauhan kami melihat puluhan ribu monster terbang mengarah ke kami, dan di bagian belakang ada mahkluk setinggi 10m, membawa pedang, bulunya menutupi seluruh tubuh dan mulutnya terbuka sangat lebar dengan giginya yang tajam di dalamnya.
Melihat sudah di kepung aku refleks memegang tangan keduanya, teleport secara terus menerus sampai kami sudah menjauh dari kawanan monster terbang maupun monster aneh itu.
"Huh... Akhirnya sudah terhindar dari mereka" kataku menghela nafas.
"Maaf, aku melibatkan kalian tentsbg masalah ini" dengan wajah sedih.
Keduanya menggeleng kepala "Tidak,
Chen ini keputusan kami" kata Xuer
"Iya, jadi jangan menyalahkan diri, dan juga kami mendapat banyak hadiah bantuan dari anda" Mier.
Karena mereka tidak mempermasalah, akhirnya aku kembali ke wajah manjaku sambil terbang menjauh dari tempat itu.
Tapi, tiba tiba di bawah kami keluar dari dalam pasir monster itu tersenyum dengan robekan yang jelas di pipinya
"Kau mau kemana lagi, makanan" sambil menjilat.
Kami di kepung 9 monster level 95, dan di ujungnya ada jutaan monster berjalan lambat ke arah kami dengan perkasa
Menengok aku bertanya "Kalian telah memberitahu yang melindungi kalian bukan?"
Keduanya mengangguk sambil waspada "Bagus, kita akan melawan mereka sambil perlahan mundur menjauh dan mengulur waktu sampai orang yang melindungi kalian sampai, mengerti?"
Mengangguk mengerti, kami bertiga menguarkan pedang dari cincin kami, monster itu dengan raungan bahagia mereka terbang menyerang kami secara bersamaan.
Sebelum sampai ke arah kami pedang ku tancapkan ke dalam pasir dan berkata [ Domain Campuran : Kubah 3 elemen ] menyebar dari bawah pedang ketiga elemen yaitu api, es dan air memisahkan ketiga dan para mosnter membentuk sebuah kubah.
Monster ataupun kedua wanita terkejut tapi saat melihat kubah yang menutupi adalah elemen sendiri para wanita bersemangat.
"Terima kasih Chen, akhirnya tidak perlu bertabrakan elemen lagi" kata Xuer
"Ahhh.. Api ini nyaman sekali, hehe" dengan raut wajah senang.
Sebaliknya para monster sangat marah karena di pisahkan dan juga elemen mereka yang tidak cocok.
"Kalian jangan sampai bertarung terlalu lama"
"Baik Chen tenang saja" "Jika hanya 3 orang tidak perlu waktu lama" mereka bernicara dengan kepercayaan diri yang kuat membuat darahku mendidih, memasang ancang ancang sambil berkata
"Waktunya bersenang senang."
__ADS_1