
Kami berbuat seperti itu hanya beberapa jam saja sebelum aku keluar dari kamar dengan wajah tersenyum mekar.
Sementara keduanya yang di dalam mereka tertidur dengan wajah yang aneh dan banyaknya kecupan di seluruh tubuhnya.
Mereka tertidur sampai waktu menunjukkan angka 9 malam, aku membangunkan mereka karena ini waktunya untuk pulang
Keduanya bangun dengan wajah bingung sambil memelototi ku dengan ganas, aku terkekeh dan mencium jidatnya sekalian membantu mereka rapih-rapih.
Selesai semuanya aku ingin memegang tangan keduanya, tapi ditepis oleh mereka, sepertinya masih marah karena perbuatanku yang memang agak berlebihan.
Jadi kuberikan sedikit gombalan atau godaan kepada mereka, yang membuat mukanya memerah dan suasana marah nya menjadi lebih tenang
Serasa sudah baikkan aku memegang tangannya lagi, mereka sudah tidak menolak, aku megang tangannya dengan sangat erat dan teleport mereka ke rumah masing-masing.
Tidak ada kejadian lagi sampai di rumah mereka jadi aku aman-aman saja, pulang sampai rumah aku masuk kamar duduk dan berkata
"Kembali"
Ku buka mata kembali aku sudah ada di kamar vila, berjalan ke ruang tamu, menyuruh assassin untuk memanggil Caroline sama Salia.
Menunggu beberapa saat mereka berdua datang bersama
"Caroline, ini token penguasa di jaga jangan sampai ada yang mengambilnya" sambil melempar tokennya.
"Salia, level malaikat yang tadi siang meningkat berapa level?" tanyaku.
Caroline mengambil tokennya sementara Salia menjawab dengan semangat "Tuan untuk malaikat yang tadi berperang mereka yang awalnya hanya level 16 sekarang naik jadi level 20"
Aku mengangguk "Ternyata di Kuil perang naik level itu sangat mudah" kataku semangat.
"Tapi tuan karena level mereka masih rendah jadi untuk naiknya, tapi untuk jika sudah di atas level 60, naiknya akan semakin susah"
"Baiklah kalau begitu kalian bisa bekerja kembali dan Salia untuk memanggil malaikat aku tunda dulu soalnya barang yang ingin kudapat itu belum ada"
Dia mengangguk ngerti, mereka berbalik kembali untuk melanjutkan aktivitas mereka, sementara aku kembali ke kamar dan tidur beberapa jam.
Jam 01.00 aku bangun melihat ke luar jendela cahaya bintang putih bersinar terang, aku berdiri sambil menguap, puas aku teleport ke pemandian.
Tapi saat sampai sana aku melihat tempatnya sangat ramai dengan malaikat mengantri
"Aku lupa harusnya aku perbesar ini pemandian" kataku memegang jidat.
Teleport ke gudang mengambil beberapa pemandian dari bentuk kartu, datang kembali ke pemandian terus membuka panelnya
"Pemandian air panas" (digabungkan)
Bentuk : rumah kayu
Luas : 30 hektare
Kedalam : 1 meter
Fungsi : Menyehatkan tubuh, merilekskan tubuh, dll.
Melihat panelnya aku mengangguk puas sementara aku menyuruh yang ngantri untuk memanggil yang di dalam untuk keluar dulu.
Melihat sudah pada keluar, aku terbang ke langit langsung menghancurkan pemandian diubah menjadi kartu dan ku gabungkan mereka dengan kartu lainnya.
Aku menunggu selama beberapa menit setelah berhasil di gabungkan, aku taruh kembali pemandiannya
Dilihat dari atas tempat nya seperti danau kecil di tengah dengan asapnya mengembul keluar, ada kolam-kolam kecil di setiap sudutnya, dengan rumah kayu yang mengelilingi seluruh danaunya.
"Danau Pemandian air panas"
Bentuk : Danau kecil
Luas : 500m²
Kedalam : 3 meter
Fungsi : Menyehatkan tubuh, merilekskan tubuh, dll
"Aduh, mumpung saja ku taruh [ pelindung pelapis ] jika tidak ada segel, ras lain yang akan menjadi pendudukku bisa tahu dan menjadi bahaya besar di kemudian hari" kataku memikirkannya merinding.
Aku masuk ke pemandian bersama dengan wanita lainnya melihat sekeliling penasaran, merasa tidak ada spesial aku langsung mandi.
Selesai aku keluar dari pemandian, terbang ke langit untuk mencari Salia
__ADS_1
Ketemu dengan orangnya, aku langsung turun dan berkata
"Salia, siap-siap bawa beberapa malaikat yang levelnya masih rendah, kalian akan memasuki dunia dari token hitam yang kudapat, nanti kita bertemu di kolam malaikat"
Dai mengangguk terbang, aku teleport ke gudang dan menyuruh assassin memanggil Caroline untuk pergi ke kolam malaikat, setelah diberi perintah dia menghilang.
Aku teleport menunggu mereka datang setelah beberapa menit, Caroline datang pertama dengan token yang diberikan kepadaku.
Aku mengambilnya dan menunggu yang lain, beberapa menit berlalu dari kejauhan ada 30 malaikat yang terbang mendekat, mereka datang menghampiri ku sambil berkata "Salam tuan"
Aku mengangguk dan memberikan sedikit arahan
"Gerbang masuk aku akan taruh disini, nanti gerbang keluarnya aku taruh agak jauh di luar benteng,
Tugas kalian yaitu membunuh semua pembangkang dan mencuci otak mereka yang nurut, jangan lupa mengambil semuanya dan ingat keselamatan kalian nomor satu, Mengerti?"
"Kami mengerti" kata 30 orang serempak.
Karena penasaran Salia bertanya
"Tuan kau kenapa tidak ikut masuk?"
Aku menengoknya dan menjawab remeh
"Mereka hanya orang lemah, jadi aku tidak tertarik untuk memasukinya"
Melihat pada siap, aku menyalurkan sedikit mana ke arah token.
Token yang semula diam tiba-tiba bergetar dengan sangat cepat dan di ujungnya keluar cahaya putih melesat keluar dan membentuk sebuah portal.
"Semoga kalian selamat" kataku lembut.
( Token ini berbentuk segi 5 dengan ujungnya lancip sebagai penghubung antar gerbang dan untuk sisi lainnya nanti akan di jelasi sepanjang cerita)
Mereka mengangguk tersenyum dan terbang masuk ke dalam portal, melihat semuanya sudah pada masuk, aku menghentikan mananya yang secara otomatis portal tersebut hilang secara perlahan.
Setelah selesai tokennya ku lempar kepada Salia
"Salia jika token ini menunjukkan tanda retak berarti semuanya berhasil, ingat kau harus pantau ini dan buka portal agak jauh, mengerti" sambil melempar.
"Baik tuan, tapi jika token ini masih baik-baik saja gimana?" tanya bingung.
Selang hening singkat lantas aku berkata
"Salia, dari pertanyaanmu ini apakah kau tidak percaya dengan mereka yang masuk?"
Dari matanya menunjukkan ras bersalah dan berbicara sambil menunduk "Maaf tuan, aku percaya kepada mereka tapi aku agak khawatir"
"Khawatir boleh saja tapi jangan berlebihan, mengerti?" Kataku dengan berat.
Salia hanya menunduk dan menjawab pelan "Saya mengerti tuan"
"Caroline, panggil Milya dan Miera sekarang" perintahku dingin.
Caroline yang mendengar perintahku langsung lari dengan sangat cepat, sementara Salia hanya bisa menunduk dengan wajah sedih.
Diantara kami berdua hening tidak ada yang berbicara sampai Caroline dan keduanya datang dengan kepala tertunduk.
Aku menghampirinya "Miera kau minta token yang ada di tangan Salia, setelah tokennya retak kau tinggal salurkan sedikit mana untuk membukanya,
Milya kau akan menjadi komandan tertinggi menggantikan Salia, dia masih belum sanggup memimpin.
Dan kau Salia lebih baik menenangkan diri dulu nanti aku kasih jabatan yang lain untukmu, karena kulihat untuk posisi ini tidak cocok untukmu, dari omongan ini apakah kalian paham?" kataku tajam.
"Kami paham tuan" kata Miera dan Milla yang semangat, beda halnya dengan Salia yang hanya bisa tertunduk sedih.
Aku mengangguk dan menengok arah Caroline" Nanti bilang saudaramu pesta akan di undur sampai jam 3, aku ada urusan"
"Jangan lupa minta yang lain untuk tenangkan Salia mengerti" Kataku berbisik.
"Baik tuan" jawabnya.
Melihat sudah beres sebelum teleport aku bernisik sedikit dengan Caroline setelahnya aku teleport ke salah satu hutan dan bermeditasi disana, sementara
Caroline yang melihatku menghilang langsung datang menghampiri Milya dan berbisik kepadanya.
Dia mengangguk dan berjalan ke Salia yang masih menunduk sedih.
__ADS_1
"Salia, apa yang kau perbuat sampai tuan marah?" kata Milya lembut.
Salia mengangkat kepalanya dan menangis di pundak Milya, dia nangis sebentar sebelum menjawab dengan terisak
"Tuan memarahiku karena aku hanya bilang jika token nya baik-baik saja....."
Salia terus berbicara sampai Milya dan Miera kaget dengan perkataannya.
Mereka berdua memandang sebelum bisa menjawab dia di sela lagi oleh Salia.
"Bukankah aku hanya berkata seperti itu? kenapa tuan sampai marah?"
Miera menjawab "Dari kami semua di panggil sampai hari ini, setiap dalam pertempuran atau hal lain kami tidak pernah berbicara sepertimu, Salia ya kan Caroline?"
"Benar kami tidak pernah berkata khawatir atau kata buruk lainnya, karena jika kita bicara seperti itu,
Kita berdua tidak akan berdiri di depan kalian lagi dan juga kalian belum tentu bisa terpanggil atau mendapat tuan yang baik lagi" Caroline
"Jadi apa kata tuan memang benar, kau harus menenangkan diri dulu agar kau tidak menjadi duri nanti di saat peperangan" Sambung Miera.
Salia hanya mengangguk sedih dan pergi terbang, sementara kami bertiga hanya menggeleng kepala sambil mengikuti Salia, sisanya Miera yang di tinggal sendiri untuk memantau token nya.
Setelah Salia kembali dia mengunci kamarnya dan untuk Caroline dia memberitahu kakaknya tentang pengunduran jadwal.
Tengah malam itu tidak tahu kenapa tapi rasanya sangat sunyi sekali untuk semua para wanita sampai jam mengadakan pukul 3 pagi.
Aku membuka mata dengan tubuhku yang agak sedikit kaku karena tidak terbiasa.
"Hah... Ternyata meditasi itu enak juga, apakah Salia sudah sadar diri? jika dia mengaku bersalah masih ku maafkan, tapi jika tidak... aku harus memulangkan nya" kataku menghela nafas.
Saat aku teleport dan sampai sana aku melihat api unggun yang sangat besar dengan sudah di datangi puluhan ribu pasukan.
Aku datang dengan wajah senyum dan menyuruh seseorang memanggil Caroline.
Dia datang dengan gaun yang sangat cantik menghadap ke arahku "Ada apa tuan?"
Aku memandangi tubuhnya yang montok dan bertanya
"Apakah yang di dalam gerbang sudah keluar? terus bagaimana rampasannya"
"Kata Miera sudah tuan dan rampasan yang kami dapat hanya sekitar 3ribu lebih manusia segala usia, untuk barang-barang lain tidak ada yang bagus tuan" katanya detail.
"Bagaimana persediaannya apakah cukup? dan juga apakah kesetiannya terjamin?" tanyaku khawatir.
"Tuan katanya mereka sudah membantai pembangkang dan yang dipindahkan itu hanya wanita saja" kata Caroline.
Aku yang mendengarnya kaget dan bertanya
"Bukankah harusnya ada pria? kenapa wanita semua?"
"Katanya sih hampir semua pria disana bermuka cabul pada saat melihat kami, jadi mereka bantai." kata Caroline polos.
Aku bingung harus jawab apa, karena memang benar jika aku pindahkan mereka ke duniaku mereka akan menjadi bom waktu untukku, tapi jika tidak ada pria selain aku bagaimana nanti untuk kerja beratnya.
Aku berpikir untuk menemukan solusi yang jelas yaitu menggunakan kontrak, tapi menurutku itu kemahalan untuk satu pria satu kontrak.
Aku terus berpikir sampai Caroline berbicara
"Tuan acara sudah mulai, sekarang tuan naik panggung"
Aku tersadar kembali dan berjalan ke atas podium untuk memberikan sedikit pidato semangat setelahnya ku turun dan kupikirkan kembali, sampai
"Tuan" kata wanita dengan lembut.
Aku tersadar dari pikiranku lagi, melihat wanita dengan pakaian cantiknya berwajah sedih dengan rok yang di jepit tangannya.
"Ya, ada apa?" tanyaku kesal.
"Apakah tuan mau memaafkan ku?" tanyanya.
"Memaafkan mu untuk apa?" tersenyum
"Maaf karena telah mengecewakan tuan aku khawatir dengan keadaan mereka, karena aku telah banyak kehilangan saudariku dan........" dia bercerita panjang lebar mengenai masa lalunya
Sedangkan aku hanya mendengar dengan beberapa malaikat dan assassin veteran yang ada di belakangku memperhatikan.
Sampai dia selesai bercerita, aku bertepuk tangan menatapnya dengan senyum lucu sambil berkata
__ADS_1
"Cerita mu itu sangat menyentuh dan indah, ya Salia?"