Era Legenda Sang Penguasa

Era Legenda Sang Penguasa
Kekhawatiran Miera


__ADS_3

Di luar pemandian air panas dengan sekelilingnya para wanita bersayap tanpa busana sedang bermain air dengan gembira, di salah satu sudut di pemandian ada seorang pemuda sedang bersandar di sebuah batu, dia memiliki wajah yang tampan dan tubuh seperti pahatan roti, melamun menatap langit.


"Hah... sekarang sudah hari ke 19, dan besok sudah masuk ke hari 20 rasanya hari itu cepat sekali" kata dalam hati, diam menatap langit dengan moodnya yang buruk, dia menghela nafas dan memandang ke depan dengan senyuman muncul di bibirnya.


Wanita cantik dengan rambut pirang cerah, muka agak kebaratan, tubuh langsing, dengan kulit mulus sampai seluruh tubuhnya tidak ada rambut menutupi badannya, dengan pipi kemerahan, dan 2 sayap yang sangat indah di punggungnya yang membuat semuanya menjadi sempurna.


Suasana buruk yang ada di dalam diriku tiba-tiba menghilang melihat kearah para malaikat bermain dengan wajah gembira, sesekali mereka melambai ke arahku untuk mengajak bermain bersama, tapi Chen mo hanya tersenyum menolaknya, setelah merasa tubuh sudah rileks dan mood sudah menjadi baikkan dia berdiri dan keluar dari pemandian.


Dalam perjalanan menuju benteng Chen mo mengingat kembali pengalamannya dalam memimpin pertempuran selama hampir 8 hari ini, tehnik pancing hanya berhasil setelah hari ke 15, setelahnya kita harus menghadapi langsung para monster jiwa dari jarak dekat karena jarak rasa para monster dosa menjadi semakin jauh.


Chen mo terus mengkomandoi para malaikat sampai 3 dari malaikat terkena ilusi, dan membunuh menyerang sampingnya, malaikat lain cepat bereaksi tapi sayang harus kehilangan 2 malaikat lagi karena telah dibunuh oleh malaikat yang terkena ilusi.


Chen mo sangat marah sekaligus sedih karena ini pertama kalinya melihat pasukannya mati di depan matanya sendiri, linglung selama beberapa menit sebelum tersadar kembali, dia tahu jika terus simpatik dan tidak menerima kematian dari 5 malaikat itu nanti ke depannya akan buruk untuknya, makanya Chen mo sebagai komandan harus menerima kematian mereka dan terus memberi arahan serta menyemangati para malaikat dari jarak jauh walau hati masih tidak tenang.


Adanya korban Chen mo sangat marah, dia ingin sekali berperang bersama juga tapi Miera menghentikannya karena menurutnya jika malaikat yang mati mereka bisa kembali ke kolam malaikat dan menunggu di hidupkan kembali, tapi seorang penguasa jika mati mereka tidak akan bisa kembali kecuali mengambil jiwanya dari sungai waktu, mendengar penjelasanya Chen mo hanya bisa mengundur niatnya untuk ikut bertempur.


Dari mulai hari ke 16 jumlah monster jiwa yang respawn sudah mencapai angka ribuan, semakin banyak monster yang respawn, membuat Chen mo khawatir makanya dia menambah 55 malaikat lagi, dan 25 menara laser cahaya menaikkannya ke level 15.


Untuk gubuk sudah upgrade ke level 15 di hari ke 13, setelahnya menghabiskan sepanjang waktu untuk membuka kotak hadiah, menaruh di cincin jika di pakai atau menyimpan di gudang jika tidak terpakai.


Chen mo terus mengarahkan malaikat sampai dia tepar di hari ke 18.


Di hari 16 Chen mo mendapat barang yang menarik berupa menara elemen, atau mirip seperti menara mage dengan bara apung api di atas menara.


( Menara memiliki banyak jenis seperti menara pemanah, menara elemen, menara mahkluk, dll.


Untuk menara mahkluk dicirikan sama sepeti menara mage tapi atasnya berbentuk datar dan memiliki sebuah patung besar hidup yang menyerang dengan skill andalan mereka seperti napas api naga, dll)


"Untuk upgrade aku harus fokus di menara pertahanan, setelahnya baru yang lain, dan dari dalam diriku juga merasakan kalau setiap beberapa hari akan ada suara retakan yang membuatku senang karena salah satu barak akan pecah" katanya gembira.

__ADS_1


Chen mo sampai di atas benteng pagar dia naik untuk memantau situasi menara atau menunggu monster respawn


Biasanya selama menunggu di benteng Chen mo akan selalu berbicara atau menggoda para penjaga malaikat untuk menghilangkan kebosanan.


Saat asik-asiknya bercanda tiba-tiba dari ujung hutan kami melihat puluhan ribu jiwa berdosa berkerumun ke arah kami, Chen mo berdiri dan berkata ke malaikat penjaga memanggil malaikat lain untuk segera tiba di benteng.


Melihatnya mereka pergi Chen mo berbisik dengan suara pelan "Semoga di kotak hadiah nanti bisa mendapatkan sebuah klakson perang agar malaikat bisa mendengar perintah bertahan atau menyerang walau dari kejauhan"


Untuk saat ini klakson perang akan di kesampingkan dulu, fokus sekarang adalah melawan monster merepotkan ini dulu, setelah selesai berkumpul Chen mo memberi perintah untuk bersembunyi di tempat yang di rencanakan.


Jarak monster jiwa sudah mendekati 800m dari arah benteng, 50 menara laser cahaya mengunci target dan menembak secara bersamaan, 50 ledakan terjadi yang menghanguskan puluhan dari monster jiwa tersebut, tak kenal takut monster jiwa terus maju sampai sampai jarak sudah mendekati 500m dari arah benteng sekarang menara elemen yang menyerang, tembakan bola api atau benda lancip besar keluar dari menaranya.


Ledakan terjadi, serangan menara semakin menambah korban dari para monster jiwa, sejak awal kotak hadiah sudah berhamburan seperti air mancur dan bertebaran di setiap tanah.


Monster jiwa terus maju sampai mendekati jarak 200m dari benteng, para malaikat yang bersembunyi di setiap sisi gunung yang langsung keluar mengejutkan para monster, mereka menebas yang ada di depan mereka setelahnya mereka terbang dan di gantikan oleh malaikat di belakangnya.


Para malaikat berusaha sekuat tenaga untuk menahannya tapi para monster masih terus maju sampai 100 meter jarak di dekat benteng, melihatnya semakin dekat Chen mo khawatir, dan gugup jika benteng ini akan di tembus.


"Aku harus mengambil tindakan, jika tidak semua menara ini akan hancur di serang oleh gelombang suara mereka" kata Chen mo merenung, karena tidak ada cara lain Chen mo harus melanggar apa yang dikatakan oleh Miera, mengeluarkan pedang yang belum pernah Chen mo gunakan sebelumnya.


Karena dulu sangat ingin mencobanya tapi tidak bisa, sekarang Chen mo langsung menggunakan skill teleport untuk secara instan pindah ke posisi depan monster jiwa, menebasnya sebelum monster jiwa bisa beraksi, dan teleport lagi, menebas lagi, Chen mo terus mengulang perbuatan ini sampai monster jiwa tertarik, dan meninggalkan malaikat sedikit ruang.


Dengan ketertarikan monster melawan Chen mo, pekerjaan malaikat sekarang menjadi lebih mudah dari sebelumnya, para malaikat yang melihat lantas kaget dan seorang malaikat dengan aura dingin menghampiri Miera, berkata


"Tuan ternyata sangat hebat, kenapa kau melarangnya, pemimpin Miera" tanyanya.


"Karena aku tahu kegunaan dari pedang yang tuan pakai karena aku membunuh mereka dengan pedang yang di pakai tuan sekarang, aku melarangnya setiap ada pertempuran karena berpikir kita harus yang membela dan melindungi tuan, bukan tuan yang harus membela kami


Jadi aku berbohong kepadanya untuk tidak ikut dalam Pertempuran selama ini" kata Miera dengan wajah sedih, malaikat yang bertanya itu kaget, dan menasehati Miera

__ADS_1


"Setelah Pertempuran ini lebih baik pemimpin langsung meminta maaf kepada tuan dan mengaku salah dengan perbuatanmu, tuan orang yang baik jadi pasti pemimpin akan dimaafkan" katanya


"Baiklah, setelah ini aku akan minta maaf" kata Miera dengan kepala tertunduk.


Pertempuran berlanjut sampai cahaya bintang sudah mulai terbenam, tebasan terakhir, dia memandang medan perang yang berantakan dan hanya sedikit monster dosa yang tersisa, teleport kembali ke benteng biarkan para malaikat yang mengurus sisanya dan yang mengambil kotak hadiahnya.


Setelah menginjakkan kaki di atas benteng, Chen mo melihat Miera dengan tangan menjepit di roknya, dan muka sedih menunduk, melihat ada yang salah dengannya lantas dia bertanya "Miera kamu ini kenapa?"


Hening beberapa menit sebelum Miera berkata "Apa tuan akan marah padaku jika aku memberi tahu hal ini" tanyanya


"Hah? Hal ini apa? terus marah untuk apa?" Chen mo kebingungan.


"Aku melarang tuan untuk tidak ikut di medan perang, karena.... dan....." kata Miera menjelaskan lebih lanjut dengan kepala tertunduk, setelah mendengar dan mencerna apa yang dikatakan Miera.


Sontak Chen mo tertawa terbahak-bahak yang membuat kepala Miera tumbuh asap di sekelilingnya, melihat hal itu dia maju beberapa langkah, dan memeluk sambil berbisik di telinganya


"Gadis bodoh, aku tahu kok sebagai penguasa harus selalu di belakang untuk menjamin keselamatanku, aku juga gak marah dengan perkataanmu dan pengekangan mu, tapi aku merasa bersyukur karena selain kakek kepsek, Lou li dan Lin fan, kalian mau memberikan perhatian lebih dan khawatir denganku.


Dan mendengar penjelasanmu tadi aku semakin yakin untuk selalu menjaga kalian semua untuk tumbuh menjadi lebih kuat, menambah saudari lain untuk kalian, dan juga menjelajahi kekosongan dengan kalian semua di sisiku" sambil menatap matanya yang terlihat mendung.


Chen mo yang melihatnya lantas menciumnya di atas benteng yang di lihat oleh para malaikat yang berlalu lalang dan adanya sunset yang semakin memperindah pemandangan di sekitarku.


Setelah memisahkan kedua bibir kami langsung mendengar teriakan para malaikat yang bersemangat sambil berbisik mendiskusikan sesuatu di antara mereka, karena sudah mencapai level 15 dan indra pendengarku makin tajam, aku jadi bisa menangkap apa yang mereka bicarakan.


Chen mo terbatuk untuk menyadarkan mereka, setelah terdengar batuk para malaikat tersadar mereka terbang sambil menjulurkan lidahnya ke arahku karena merusak tontonan yang sangat romantis ini.


Chen mo menggeleng kepala melihat kelakuan mereka, Miera yang tersipu karena telah melakukan hal yang memalukan dan di lihat oleh para saudari malaikat yang lain.


Melihatnya Chen mo langsung mengambil tangannya, dan teleport kembali ke kamar sekalian mengambil beberapa malaikat yang lain sampai hari keesokannya pun tiba.

__ADS_1


__ADS_2