
21
Esok harinya, emilia penuh dengan ke badmood an. Ucapan rifa semalam masih saja membekas di kepala nya
“dek…” panggil farhan, namun emi tidak mendengar
“dek” panggil farhan lagi,
“emilia annisa” panggilan dengan nama addalah yang paling tepat, emi langsung menatap ke arah farhan
“kenapa?” tanya farhan menanyakan emi dengan makanan yang masih di main kan
“eh, ga kenapa kenapa kak. Sorry” ucap emi tersenyum kemudian memayunan bibirnya lagi setelah menatap rifa
“ihhhhh, kok kesel amat sih sama ucapan dia semalam!” emi marah dengan dirinya sendiri
“ok emi, stop it dan makan aja makanan kamu. Who cares dengan ucapan dia” batin emi menyemangati diri nya sendiri
“kak, aku ke atas bentar ya” ucap emi tiba tiba menghentikan makan nya, tidak menunggu jawaban, emi langsung pergi
“kenapa dengan nya?” tanya farhan pada rifa yang lahap makan, sedang rifa hanya mengangkatbahu merasa tidak bersalah
Setelah farhan dan rifa selesai sarapan, dan membereskan makanan mereka, emi turun kebawah untuk selanjut nya sarapan.
Farhan mengangkat telepon tiba tiba dari kantor, sedang rifa berada di kamar mandi
Emi yang tidak sadar langsung mengambil makanan nya dan membawa nya kekamar, terhenti ketika rifa menghentikan langkah emi
“kau kesal dengan ku?” tanya rifa
Emi yang kesal tidak menjawab
“kau kesal dengan ku?” tanya rifa lagi, kini emi sedikit terhenyak akan pernyataan nya semalam
“minggir ah!” jelas emi tidak terlalu keras
“kau marah karena ucapan ku semalam?” tanya rifa
Deg, mata emi langsung berkaca kaca
“whats wrong with her?: btin rifa merasa bersalah kini
“IA! AKU MARAH SAMA UCAPAN KAMU! NYAKITIN DAN GA BERPERASAAN!” emi marah dan pergi, namun baru kali ini emi blak blak an soal rasa nya yang disakiti
Emi pergi dan melap air mata nya.
__ADS_1
Namun tenang saja, emi kalau sudah reda amarah nya, akan sangat friendly lagi…
“kalian kenapa?” farhan tiba tiba datang dibelakang rifa, dan rifa hanya menggeleng lalu pergi dari sana
“whats wrong with them?” lanjut nya lalu masa bodoh
** **
Selepas sarapan, sesuai pernyataan emi kemaren, dia akan membawa kakak nya dan rifa berjalan jalan di area Big Ben London.
Jam dengan 4 sisi terbesar di dunia, dan bahkan hanya orang berlependudukan inggris saja yang bisa masuk langsung untuk melihat jam itu.
Jam dan area yang banyak dimasukkan ke dalam arena perfilm an, dan bahkan merupakan salah satu warisan unesco.
“kami juga tahu tempat ini…” farhan mengomentari,
“hehehe,,, aku sedang malas membawa kalian kemana mana, yang terdekat saja” jawab emilia simple,
Emilia membawa tas samping berwarna abu abu, dan menutup nya dengan rek sleting. Namun entah bagaimana, sebuah buku tentang kehidupan becky ada di tangan nya…
Emilia ingat betul kalau buku itu tadi berada di tas nya, namun sekarang ada pada rifa
“bagaimana bisa buku itu padamu?” tanya emilia curiga
Emi ingin mengambil buku itu, namun rifa tidak memberikan nya,
“aku mau membaca ini, bisa?” tanya rifa terus terang. Emi diam tidak menjawab, tampak masih berpikir. Itu buku mengenai percintaan becky, buku berwarna coklat yang kebetulan adalah warna mendominan rifa. Warna yang cantik,namun misterius…
“kau tidak mengizinkan nya?” tanya rifa lagi, dan emi sedikit terkejut kemudian memberikan nya
“jangan lupa mengembalikan nya….” Pesan emi kemudian mendekati farhan di depan sana.
Selesai bermain main di luar rumah dan sampai dirumah, kini rifa penasaran dengan isi buku yang didapat nya tadi
“becky`s Love” begitu tulisan awal di lembar pertama, rifa masih biasa biasa saja. Membaca satu persatu, kalimat demi kalimat dan bahkan mulai mual dengan percintaan remaja saat ini.
“aku jatuh cinta dengan alasan mencintai nya” kalimat bodoh bagi rifa, dan ya memang sedikit bodoh
“kalau cinta yang memang mencintai,,, tapi alasan mu belum ada!” rifa menggumam dalam hati, kemudian membaca kelanjutan nya
“jatuh cinta memang indah, namun kadang cinta bisa menyakiti saat cinta hadir disaat yang salah” kalimat itu menjadi kalimat pertama yang tertulis,
“meski ken dan aku saling cinta, dan aku sudah berkorban banyak untuknya, namun semua orang tampak nya tidak tahu bahwa ken cinta bukan karena balas budi,,, itu nyata.” Sambung nya
“holy sering memperingati aku agar berhentii berhubungan dengan ken, namun aku tidak mau. Meski sering di bully didalam dan luar sekolah, aku dan ken masih saling menguatkan. Aku benci dengan diriku yang menyukai ken dengan sangat dalam, namun pada akhirnya semua perjuangan ku sia sia… ken meninggalkan aku.” Sambung tulisan becky
__ADS_1
“selepas kematian ken, perbuatan yang kudapat melebihi saat ken hidup, lihat lah dibuku berwarna biru dan hijau itu. Itu lebih meakili diriku untuk menjelaskan. Dan karena pada dasarnya, cinta bisa menjadi madu, namun juga racun. Saat waktu nya tidak tepat, atau bahkan orang tidak tepat, maka bisa berubah menjadi racun,menyakitkan” sambung nya dan menjadi kalimat terakhir
“kisah yang tragis” ucap rifa namun dia penasaran.
Rifa langsung menemui emilia tanpa babibu. Dia menemui perempuan yang sedang membaca itu di taman, kakak nya farhan sedang istirahat. Biarlah…
“siapa becky ini?” tanya rifa tiba tiba membuat emi sangat terkejut, hampir melempar buku ditangan nya
“astaghfirullah! Rifa!” tegas emi kesal,,,
“eh, sorry,,,” jawab rifa kalem, tenang dan tidak merasa bersalah
“berjalan lah dengan bersuara, seperti sedang mengintai saja!” kesal ami menyuruh rifa duduk
“apa kau penasaran dengan perempuan itu?” tanya emilia sambil meletakkan permen di meja, rifa mengangguk dan mengambil sebuah permen.
Emilia menceritakan kejadian di rumah sakit dan mengatakan apa yang tertulis di buku yang lalu itu dibaca nya
Rifa mendengar dengan seksama, tanpa memotong dan memberikan intruksi pada emilia, dan emi suka tipe orang yang mau mendengar kan orang lain saat berbicara.. selain sopan, itu namanya mengerti adab dalam berbicara.
Raut wajah lelaki itu sangat mendominan, saat serius, emilia sesekali menatap wajah rifa. Dia sangat menyukai sikap seperti itu, dan rifa hanya menatap lurus sambil terus mendengar kan. Maklum saja, seorang psikiater akan sering menatap mimik orang lain meski itu tidak di sengaja
“biarkan aku membantumu menyelesaikan masalah ini” ucap rifa tiba tiba mengajukan diri
“memang nya kau paham dengan hal seperti ini? Aku yang pengamat psikologi sedikit kewalahan…” ucap emi bercanda, meski sebenarnya tidak begitu
“aku tahu kau orang yang seperti apa” ucap rifa pasti membuat alis emilia naik
“oh ya? Bagaimana?” tanya emilia,,, ngomong ngomong, emi sudah lupa masalah semalam. Tenang saja, dia tidak dendam tapi masih mengingat ucapan rifa waktu lalu
“aku malas mengatakan nya… kembali kesini saja. Cari tahu saja, siapa holy ini sebenarnya, bagaimana kehidupan si ken itu dan latar belakang kematian becky” ucap rifa simple,,,
Emi pun memikirkan hal yang sama,
“bantu aku” itu saja yang di ucapkan emi, namun kemudian rifa mengambil buku berwarna biru.
**
**
**
Salam hangat
Ismi hana rizky
__ADS_1