
9.
Beberapa hari berlalu, farhan sudah 6 hari di italia. Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan lelaki itu, dia lebih memilih menatap orang berlalu lalang di area pandangan nya dan tidak memikirkan hal lain nya.
“nanti nanti sajalah urusan menikah itu” batin nya dalam diri
Berhenti memikirkan farhan sesaat, kita kembali pada jawaban syifa untuk permintaan pasha
“bismillah, aku menerima” ucapan itu keluar dari bibir syifa sendiri saat dia mengajak pasha untuk makan siang bersama di depan kampus nya dulu.
Dia memakai baju berwarna hijau muda, dan jilbab berwarna putih. Kulit putih nya tampak cocok dengan warna itu
Pasha sedikit terkejut, sempat dia berpikir yang lain, kalau tolakan dari syifa terulang. Tapi akhirnya tidak
“kau menjawab ya?” syok pasha hingga mengulang untuk mendengar
“aku menjawab ya…” ucap syifa dengan tegas, bersama dengan tangan yang terlipat di meja dan dengan tatapan lurus ke kening pasha
Lelaki itu hampir lupa bernafas dan bahkan wajah nya memerah mendengar itu…
Tok tok,,,
Syifa mengetuk meja guna menyadarkan pasha, dan lelaki itu kembali sadar…
“eh,,,alhamdulillah…. Terima kasih” ucap pasha memegang dada nya sambil tersenyum menunduk
“kau senang?” tanya syifa sambil tersenyum sedikit mengejek
Pasha mengangguk, dan segera mengeluarkan handphone miliknya…
“syifa mengatakan “YA” paman” ucap pasha, dan dibalik handphone itu ada ayah syifa yang senang kegirangan,,, bahkan di lihat aneh olah istrinya
Syifa yang menatap senyum pasha sekilas ikut tersenyum,,,
“jadi… apa alasan terbesar mu untuk jawaban YA ini?” tanya pasha,,,
“kau dan aku memiliki jawaban yang sama atas doa ku…” ucap syifa menunduk malu,, wajah nya sedikit merah namun dia masih bisa mengontrol nya
Pasha menahan nafas dan membuang nya kasar
“kau tau? Seberapa senang nya aku?” tanya pasha berdiri dari duduk nya,,, seperti orang kepanasan
“hei, stop it. Lalu selanjutnya apa?” tanya syifa to the point
“tentu saja melaksanakan pernikahan” jelas pasha kembali duduk
“melaksanakan pernikahan? Apa maksudmu?” tanya syifa sejenak
Pasha mengambil ransel kecil milik nya, kemudian mengeluarkan beberapa berkas
“surat cuti, tiket, passport, visa, dan beberapa kelengkapan lain nya sudah selesai ku urus… ayo menikah di tanggal yang sudah di pilih orangtua kita…” ucap pasha santai,,, kini giliran syifa yang lupa bernafas
__ADS_1
“you kidding!” jelas syifa
Namun pasha menggeleng dan tersenyum,,,
“kau tau aku benci berbohong… aku serius dengan ucapan ku syifa…” lanjut pasha bersuara lembut, sedang syifa kini menautkan alis nya
“kau bekerja sama dengan orangtua ku?” selidik syifa, dan jawaban nya hanya senyum
“cieeee” sahutan dari 1 meja di belakang syifa terdengar, itu emilia…
“good job kak!” tepuk emilia ke pundak syifa sambil tertawa, disamping nya ada seorang lelaki yang tak lain adalah gerry
“selamat brother,,, akhirnya setelah bertahun menunggu” ucap gerry sambil tersenyum menampakkan gigi rapinya
Sedang syifa hanya bisa terdiam tidak bisa berkata apa apa lagi menatap ke 2 orang dibelakang nya itu, dia hanya menepuk jidat kemudian terdiam.
“tanggal berapa?” tanya syifa
“22 Oktober” ucap pasha dengan senyum manis, kini bukan senyum kaku lagi (eceknya aja 22 oktober)
“kau yakin?!” kini ucapan itu diucapkan syifa
“aku ini selalu menepati ucapan ku syifa…” ucap pasha dengan wajah begitu cerah
“jangan bercanda! Ini sudah tanggal 20! Kau mengada ngada!” kini dia tampak terkejut, namun pasha hanya tersenyum
“mengapa menunda kalau pada akhirnya akan jatuh pada orang yang sama?” ucapan itu kembali terulang dari mulut pasha, dan syifa hanya bisa menghela nafas panjang,bersiap dan kembali ke rumah mama papa nya
“this is crazy!” batin syifa terus tidak menyangka akan kejadian ini.
Pernikahan dilangsung kan di london,
Alasan mengapa alif, asyam dan azmi ke london adalah karena panggilan paman nya. Sebenarnya kia dan rangga yang di ajak, namun pasangan tua itu menyuruh anak anak mereka yang pergi, sekalian mereka ingin menambah keharmonisan pasangan yang sudah lama terlupakan…
Sebenarnya ada, namun tidak terlalu muncul ke permukaan.
“saya terima nikahnya, syifa aulia handani binti fahri dengan mahar yang tersebut, di bayar tunai!” ucapan itu terucap tepat setelah 2 hari berlangsung jawaban dari syifa…
Siapa yang menyangka, kalau syifa memiliki kisah cinta yang seperti ini, tidak pernah terpikir olehnya untuk menikah dengan rentang waktu lamaran dan akad begini,,,
Yang pasti ini adalah rancangan terbaik dari allah.
“kak farhan apa kabarnya ya?” batin alif menatap sepupunya itu bersanding dengan lelaki pilihan nya
“kalau kak farhan menikah, pasti bakal rame juga!”batin nya lanjut, sedang emilia tampak menjadi dayang dayang disamping syifa, sedang asyam disamping pasha
Prang,,,
Sebuah nampan terjatuh, membuat beberapa orang disana mengalihkan pandangan nya,,,
Tak terkecuali alif dan azmi yang duduk bersampingan saat itu
__ADS_1
“hanya seorang pelayan wanita saja” batin alif dan azmi, mereka tidak bangkit dari duduk nya, namun azmi memperhatikan sesuatu dari wanita itu
Tuk tuk, azmi mengetuk meja yang diduduki nya, meminta perhatian alif
Lirikan mata azmi mengajak alif untuk ikut menatap apa yang di dapat azmi
“itu sebuah alat perekam” ucap alif pelan kemudian membuat azmi bangkit dari duduknya
“hati hati” pesan alif, dan azmi mengangguk.
Azmi mengikuti pelayan itu menuju dapur, dan mendapati wanita itu sedikit panik dan berjalan terburu
“hei…” panggil azmi, dan perempuan itu berhenti. Berbalik dan menunduk… rambut sebahu dan poni itu menutup wajah nya
“kau menjatuhkan sesuatu disebelah sana,” ucap azmi memberikan sebuah sapu tangan
“maaf tuan, tapi itu bukan milik saya” jawab nya terbata
“namun jatuh dari saku mu, berarti itu milikmu” tegas azmi, namun wnaita itu tampak ketakutan
Azmi memperhatikan sambil merasa aneh
“apa ada yang salah dengan ku? kau tampak ketakutan” ucap azmi memberikan sapu tangan itu, namun si pelayan itu mundur
“saya harus kembali ke pekerjaan saya tuan, saya membutuhkan pekerjaan ini!” ucap pelayan itu sedikit tergugup
namun azmi memasukkan sapu tangan itu secara cepat, dan mengambil alat perekam itu dari wanita itu
“jangan!” teriak si perempuan membuat azmi sedikit terbuat, wanita itu nafas nya memburu,
Azmi yang melihat itu hanya bisa terdiam dan terpampang wajah terkejut nya
“hei, ada apa dengan mu?” tanya azmi kemudian wanita itu lari dari sana
Ia berhasil mendapatkan alat perekam itu, kemudian berhenti mencari perempuan itu. Namun sapu tangan milik azmi tertinggal di saku wanita itu
“ada yang salah dengan nya… dia, ketakutan?” tanya azmi pada dirinya sendiri
Entahlah, yang pasti
Awalan untuk cerita ini pasti membuat sebagian dari kalian bingung.
**
**
**
Salam hangat
Ismi hana rizky
__ADS_1